
Happy Reading 🌹🌹
Nathan dan Laura kini tengah berjalan menuju ruangan Mikayla, Laura terperangah karena ruang rawat istri dari kekasihnya adalah salah satu bangsal VVIP.
"Apa masih jauh?" Tanya Laura yang berjalan beriringan dengan kekasihnya.
"Tidak." Jawab Nathan singkat.
Benar saja, setelah keluar dari lift hanya melewati empat kamar, kini Nathan dan Laura telah sampai di depan pintu.
Terdengar suara tawa nyaring dari dalam kamar Mikayla yang membuat Nathan sangat tidak menyukainya.
Dengan cepat dia membuka pintu kamar hingga membuat suara tawa itu terhenti, terlihat dengan jelas Dean duduk di kursi samping tempat tidur Mikayla.
Nathan menatap sinis kearah pria yang seakan menjadi rivalnya.
"Kakak sudah sampai, kenapa lama se...ka...li." Tanya Mikayla dengan perlahan kalimat terakhir bersuara lirih.
Laura yang baru saja masuk tersenyum manis kearah Mikayla yang tengah menatapnya kaget.
"Hallo, Mika!" Sapa Laura yang berjalan menghampirinya.
Laura segera memeluk tubuh Mika tetapi Mikayla langsung mendorong tubuh Laura hingga Laura terjatuh di atas lantai.
"Kenapa kamu kesini." Ucap Mikayla dengan datar tapi penuh penekanan.
"Laura," Nathan langsung menghampiri Laura dan menaruh paper bag di lantai.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Nathan khawatir.
"Aku baik-baik saja." Jawab Laura lembut.
Nathan membantu Laura untuk berdiri, "Aw ... Sepertinya kakiku terkilir." Ucap Laura yang jatuh dalam pelukan Nathan.
"Benarkah, akan aku panggilkan dokter." Jawab Nathan yang memapah Laura berjalan menuju sofa.
Laura tidak sepenuhnya berbohong karena di bagian pergelangan kakinya sedikit nyeri, hanya di buat oleh Laura menjadi hiperbola untuk menarik simpati Nathan.
Nathan segera berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter, sedangkan Mikayla menatap sengit kearah rivalnya.
Dengan santai Laura duduk di sofa dengan bersedekap dada. Dia menatap Mikayla dengan congkak karena Nathan lebih perhatian padanya.
"Kamu lihat sendiri kan, suamimu ups! Bukan, tetapi kekasihku lebih perhatian denganku." Ucap Laura dengan dagu yang dinaikkan.
"Dih, hanya akting murahan seperti itu. Kamu kira dapat membodohiku yang pintar ini, hanya Kak Nathan saja yang memang bodoh." Jawab Mikayla tak kalah sombong.
Laura ingin sekali membekap mulut gadis yang ada di depannya tersebut, tetapi dia urungkan karena Nathan sudah masuk bersama dengan dokter.
"Nath, Aw ... Sakit banget." Laura mencoba berdiri dan kembali terduduk lagi.
__ADS_1
"Jangan berdiri, dok tolong periksa pergelangan kakinya. Tadi tidak sengaja terjatuh." Ucap Nathan yang berdiri tidak jauh dari Laura.
Dokter segera memeriksa pergelangan kaki Laura, "Ini hanya sedikit terkilir, dengan meminum obat nyerinya akan hilang. Untuk 3 hari kedepan jangan beraktivitas terlebih dahulu agar tidak membuatnya semakin parah." Jelas dokter kepada Nathan yang masih dapat di dengar oleh Mikayla dan Dean.
"3 hari dok? Bagaimana saya bisa sekolah, kelas saya berada di lantai tiga." Ucap Laura dengan raut wajah sedih dia tidak menyangka jika memang cidera.
"Untuk sementara waktu memang tidak bisa beraktivitas seperti biasanya." Jawab sang dokter lagi.
"Baik dok, terima kasih." Nathan mendahului Laura sebelum berkata lagi.
"Untuk obatnya bisa anda tebus," ucap dokter kepada Nathan.
"Baik." Jawab Nathan.
Dokter dan satu orang perawat segera berjalan keluar dari ruangan, Mikayla dan Dean hanya menatap datar keadaan di ruangannya.
Nathan berjalan mengambil dua paper bag yang sempat dia ambil dan di taruh di atas nakas, dia berjalan mendekat kearah Mikayla untuk menyiapkan makan siang.
Mika hanya menatap datar apa yang sedang di lakukan Nathan, sama halnya Nathan yang tidak berkata apapun kepada istrinya tetapi tangannya bergerak menyiapkan semuanya.
Dia menaruh roti, salad, dan jus buah di atas meja kecil yang terdapat di brangkar Mikayla.
"Makanlah, setelah itu minum obatmu." Ucap Nathan dengan menatap Mikayla datar.
"Mika, tadi aku membawakan makanan kesukaanmu." Potong Dean dengan mengeluarkan satu sterofom dan di taruh berdampingan dengan salad Nathan.
"Wah! Gado-gado kantin sekolahan, kakak kenapa bisa tahu apa yang sedang Mika pikirkan." Seru Mikayla dengan bertepuk tangan pelan.
Nathan hanya berdehem sehingga membuat Mikayla menatap sebal kearah suaminya, "Apa!" Ucap Mikayla dari tatapannya.
Nathan hanya melotot saja sebagai jawaban, "Awas!"
"Sayang, cepat ke sini." Seru Laura yang membuat Mikayla tersenyum miring kearah Nathan.
"Cepat makan dan jangan memakan makanan aneh itu lagi." Ucap Nathan sebelum berjalan meninggalkan Mikayla.
Laura tersenyum cantik kearah Nathan, hingga Nathan menjatuhkan bobot tubuhnya di sampingnya dan membukakan makan siang mereka hari ini.
Keduanya mulai makan siang, Laura sesekali menyuapi Nathan dengan terang-terangan di depan Mikayla.
Nathan yang awalnya enggan akhirnya menerima suapan Laura karena dia merasa bersalah, akibat Mikayla mendorong Laura membuat kaki gadis itu terkilir.
"Bagaimana, jauh lebih enakkan jika aku suapi sayang" Tanya Laura dengan menggoda.
Nathan hanya mengangguk, tetapi pandangannya menatap kearah Mikayla yang duduk menatap dirinya dengan gerakan seakan muntah.
Dean yang melihat keadaan semakin menambah panas suasa di dalam ruangan, dia mulai mencampurkan sedikit sambal gado-gado dan menyuapkan sedikit kearah Mikayla.
Mikayla yang kaget hanya berkedip cepatt, melihat pergerakan alis Dean dengan mengulum senyum dia mulai membuka mulut untuk menerima suapan dari kakak kelasnya tersebut.
__ADS_1
"Emm ... Enak kak, kakak juga harus coba." Ucap Mikayla dengan mulut yang mengunyah.
Mikayla mengambil sendok dari tangan Dean dan mulai mengambilkan gado-gado dan di sodorkan kearah Dean.
Dengan senang hati Dean membuka mulutnya, sebelum sendok itu masuk sudah ada tangan yang mencekal pergelangan tangan Mikayla.
Di gerakkannya tangan Mikayla kearah orang tersebut dan sekali suapan gado-gado sudah lenyap.
"Sudah aku katakan jangan makan yang aneh-aneh, dan cepat berikan sendok itu kepada Dean." Ucap Nathan dengan tatapan tajam.
Mikayla hanya menekuk wajahnya, Dean menyendokkan gado-gado dan di siapkan kedalam mulutnya. Mengambilnya sedikit dan di suapkan kepada Mika.
Sekali lagi, bukan Mika yang memakannya tetapi Nathan. Hingga pada akhirnya kedua pria tersebut saling menyuapi satu sama lain hingga gado-gado itu tandas.
"Kalian menyebalkan!" Seru Mikayla dengan kesal.
Membuat Dean dan Nathan barulah sadar akan keberadaan Mikayla di dekatnya, mereka menatap sterofom gado-gado yang sudah tandas tak tersisa.
"Mika." Panggil keduanya bersama.
"Apa! Sudah kenyang kalian? Jika sudah segera pergi dari sini." Jawab Mikayla dengan kesal sembari mengusir keduanya.
"Kau cepat pergi dari sini." Ucap Nathan kepada Dean.
"Kamu saja yang pergi kenapa harus aku." Jawab Dean tidak terima.
"Kenapa harus aku? Jelaslah akukan...."
"Aku apa?" Tanya Dean dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Benar kata Kak Dean, Kak Nathan yang pergi dan ajak itu pemandangan yang membuat mataku sakit." Timpal Mikayla dengan cepat.
Nathan menatap tidak percaya kearah istrinya, terlihat Mikayla membuang pandangannya kearah lain.
"Kak Dean, buang semua makanan ini. Mikayla tidak suka," Ucap Mikayla lagi yang membuat Nathan sakit hati.
Dengan gerakan kasar, Nathan mengambil semua makanan di atas meja kecil itu dan membuangnya di dalam tong sampah dalam ruangan.
"Puas kamu!" Ucap Nathan yang langsung keluar dari dalam kamar.
Brak!
Pintu ruangan tertutup keras hingga membuat Mikayla hanya mampu memejamkan kedua matanya saja.
"Sa-sayang! Tunggu aku," Seru Laura yang kaget karena Nathan tiba-tiba bersikap seperti itu.
Dengan susah payah dia berdiri dan berjalan, "Awas ya kamu!" Ucapnya yang kemudian keluar dari ruangan Mika.
Ruangan tersebut tampak hening seketika menyisakan Mikayla dan Dean saja, sedangkan Kinan sudah pergi makan siang sejak satu jam lalu bergiliran karena ada Dean.
__ADS_1