Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KEBAHAGIAAN MIKAYLA


__ADS_3

Happy Reading


Mika terlihat begitu bahagia dengan semua perubahan yang terjadi pada diri Nathan, suaminya. Sangat terbukti bahwa lelaki itu sangat sempurna menyandang status sebagai suami siaga.


"Nah, sudah siap untuk minum asi. Yuukk kita menuju bunda kamu, Sayang!" ucap Nathan.


Nathan pun membawa putranya itu pada Mika untuk memberikan asi ekslusifnya. Mika yang sudah siap segera menerima bayinya dan memandang lembut.


"Hemm, harumnya putra bunda!" puji Mika.


Lalu pandangannya tertuju pada dua pria yang masih berdiri di tempatnya masing-masing dengan gaya khas mereka. Tatapan tajam Mika masih belum mereka artikan hingga suara Mika keluar untuk mengusir keduanya keluar dari ruangan.


"Jangan usir aku, Sayang! Sudah kamu suruh puasa, masih tidak bolehkah untuk sekedar melihatnya?" decih Nathan.


"Sudah turuti saja apa yang Mika katakan, Nathan!" tegas Luis.


Nathan mendengus kesal. Lelaki itu pun akhirnya mengikuti langkah kakak iparnya yang mulai berjalan keluar dari ruangan itu setelah mendapat tatapan tajam dari istrinya. Kedua lelaki itu pun berjalan beriringan. Namun, tiba-tiba Luis berbalik badan menghadap pada adiknya.


"Sebaiknya aku pamit pulang saja, Mika. Nanti setelah semua beres baru aku kembali untuk menunggui kalian," ucap Luis.


"Tidak kembali pun juga tidak apa, Kak. Tetapi jangan lupa, datanglah besok untuk menjemput dan mengantar kami ke apartement!" pinta Mika pelan.


Luis tersenyum, lalu mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda setuju. Sedangkan Nathan mengernyitkan dahinya atas kalimat Mika tersebut. Bagaimana begitu yakinnya sang istri bahwa besok dia bisa pulang? Dari mana dia dapat info itu, sedangkan tidak ada suster satu pun yang datang ke ruang rawat.


"Tetapi Sayang, 'kan belum ada keputusan dari dokter mengenai jam kamu pulang, Lho?!" kata Nathan.


Namun, Luis tidak memedulikan jawaban dari pertanyaan Nathan tersebut. Luis segera menepuk bahu Nathan dan menarik tangannya agar segera mengikuti dia keluar dari ruangan tersebut. Nathan terpaksa mengikuti langkah Luis dari belakang.


"Aku pulang dulu, jaga adikku dengan baik!" pesan Luis.

__ADS_1


"Siap, Kak," jawab Nathan.


Kemudian Luis segera melangkah meninggalkan Nathan yang berdiri termangu melihat punggung Luis hingga menghilang di antara para pengunjung pasien yang sedang lalu lalang. Nathan akhirnya memilih duduk di depan kamar rawat istrinya. Dia terbayang akan masa lalu saat awal pernikahannya dengan Mika. Lama Nathan melamun hingga ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Ah ternyata dari Mika," gumam Nathan.


Lelaki itu tidak mengangkat panggilan itu, dia justru langsung masuk ke dalam kamar inap sang istri. Pintu terbuka, Nathan langsung memasang senyumnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nathan lembut.


"Bisakah kamu membelikan aku nasi padang, Nath?" tanya Mika.


"Baik, mau lauk apa?"


"Udang," jawab Mika.


Nathan pun segera berbalik badan dan berjalan keluar kamar menuju kantin rumah sakit. Senyum manis tercetak di bibir Nathan membuat para suster yang melihatnya menjadi ikut tersenyum. Saat langkahnya sudah sampai di kantin, segera Nathan mencari stand nasi padang.


Dengan langkah panjang, Nathan segera ikut dalam antrian. Peminat nasi padang ternyata lumayan banyak hingga antrian juga lumayan panjang. Nathan pun maju sesuai urutannya hingga dia sampai di depan kasir. Di sana tempat memesan makanan dan langsung membayar, kemudian berpindah ke bagian meracik. Selembar tiket untuk mengambil pesanan.


Pelayanan stand nasi padang sangat cepat dan akurat. Semua pengunjung sangat puas oleh pelayanan mereka. Hal itu terbukti dengan bejibunnya pembeli hingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Meski panjang, jalannya antrian sangat lancar.


"Ini, Pak, pesanan Anda. Nasi padang lauk udang," kata pelayan bagian meracik pesanan.


Nathan segera menerima pesanan tersebut, kemudian meninggalkan tempat itu menuju ke kamar rawat Mika. Dengan langkah paniang, Nathan menuju ke tujuannya. Begitu sampai Nathan langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu dan langsung menyiapkan menu yang dipesan istrinya itu.


Mika terlihat sangat menikmati nasi pesanannya tersebut. Wanita itu begitu lahab menyendok nasi, satu suap, dua suap hingga semua habis masuk ke perut. Mika begitu menikmati menunya dengan semangat. Waktu terus berjalan, sore berganti malam. Nathan selalu siap melayani keperluan anak dan istrinya tanpa mengeluh sedikitpun. Hingga tanpa sadar lelaki itu tertidur di sofa akibat kelelahan.


"Sungguh lelahnya kamu, Nath. Maafkan aku selalu meminta bantuan padamu, istirahatlah!" lirih Mika sambil melihat suaminya yang tidur lelap.

__ADS_1


Mika yang tiba-tiba merasa ingin buang air kecil akhirnya memberanikan diri untuk berdiri dari posisi tidurnya. Pelan dan sangat berhati-hati. Akhirnya wanita itu bisa berdiri sempurna dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian buang airnya sudah selesai, Mika pun kembali masuk ke kamarnya.


Senyumnya mengembang kala melihat Nathan menatapnya tajam. Wanita itu sama sekali tidak merasa telah membuat suaminya khawatir.


"Mika, bukankah aku sudah berpesan padamu untuk mambangunkan aku jika kamu butuh bantuan. Mengapa bandel sih?!" dengus Nathan.


"Aku sudah tidak apa, Nath. Lihatlah!" kata Mika tegas.


"Lain kali jangan lagi seperti ini ya, Sayang! Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ucap Nathan dengan nada khawatir.


Mika mengangguk dan tidak lupa tersenyum. Wanita itu begitu terharu dengan segala perhatian dan perubahan yang terjadi pada suaminya. Semua itu tidak instan bisa didapatkan oleh Mika, wanita itu butuh waktu hingga sampai ditahap itu.


Nathan pun kembali ke sofa, lelaki itu bersiap untuk tidur kembali. Begitu juga dengan Mika. Bayi mereka sudah diambil oleh perawat untuk diletakkan di ruang perawatan khusus bayi. Besok pagi setelah mandi dan segar barulah bayi itu diserahkan kembali pada ibunya. Nathan dan mika sudah tertidur di tempatnya masing-masing.


"Selamat pagi, Bunda dan Ayah! Ini jagoannya sudah datang dan tampan," kata perawat sambil mendorong box bayi.


Mika yang baru saja selesai mandi sudah siap di tepian ranjang. Wanita itu menyajikan senyum terbaiknya untuk kedatangan dua petugas kesehatan bersama putranya yang ada di dalam box bayi.


"Diberi asi dulu ya, Bun!" kata perawat itu.


Mika tersenyum dan langsung menggendong putranya yang diangsurkan oleh suster. Kemudian wanita itu bersiap untuk memberikan asinya pada si buah hati. Nathan hanya memandang cara putranya menghisap asi, lelaki itu merasa heran dengan prosesnya.


"Bagaimana bisa dia sudah tahu tempatnya, Sus?" tanya Nathan.


"Itu sudah nalurinya, Tuan. Seorang bayi sudah memiliki naluri yang kuat sejak dalam kandungan," jawab Suster.


"Baiklah, Bunda dan Ayah, kami pamit undur diri!"


"Baik, silahkan dan terima kasih!" balas Mika dan Nathan hampir bersamaan.

__ADS_1


Kedua petugas kesehatan itu pun segera memberesi apa saja yang perlu dibawa keluar untuk diserahkan kebagian kebersihan. Sebelum keduanya melangkah jauh, Nathan menghentikan langkah mereka.


"Kapan anak dan istri saya boleh pulang, Sus?" tanya Natha.


__ADS_2