
Happy Reading
"Sayang, setelah pulang sekolah kita main yuk!" Ajak Laura kepada Nathan yang kini tengah berjalan menuju parkiran sekolah.
"Tidak bisa, Mikayla sedang sakit. Aku harus segera pulang." Tolak Nathan apa adanya.
Laura dengan kesal melepas rangkulan tangannya kepada Nathan, "Mikayla sakit apa? Apa aku boleh menjenguknya, kita bisa pergi ke toko buah sebentar." Tanya Laura perhatian.
Nathan tampak terdiam, "Hanya demam biasa, tidak perlu. Aku belum meminta izin kepada Mikayla. Lain kali saja," jawan Nathan yang tidak ingin melakukan kesalahan seperti tempo lalu.
"Oh begitu, baiklah. Mungkin Mikayla juga masih marah padaku karena kemarin mengajakmu pergi begitu saja saat di mall." Ucap Laura lembut.
"Ayo aku antar pulang."
Nathan segera melanjutkan langkahnya menuju mobil dengan di ikuti Laura yang tengah menatap punggung kekasihnya dengan kesal, "Aku harus memberikan pelajaran pada gadis ingusan itu." Gumamnya dalam hati.
Seperti biasa Nathan mengantarkan hanya sampai di depan rumah Laura dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat menyisakan Laura yang masih mematung di depan gerbang,seorang penjaga rumah yang selalu memperhatikan Laura lantas saja merasa penasaran.
"Neng, perasaan beberapa kali saya lihat kamu berhenti di depan sini dengan di antarkan laki-laki. Apa Neng, open BO?" Tanyanya dengan memandang Laura dari atas ke bawah dan begitu juga sebaliknya.
"Hati-hati, Pak kalo ngomong! Memang ada tampang saya ini cewek mura*han?" Jawab Laura dengan nada kesal.
__ADS_1
"Habis Neng selalu turun di sini," kata penjaga rumah.
"Ya terserah saya to, lagipula ini juga jalan umum." Ucap Laura dengan sewot dan langsung berlalu dari depan rumah Dean.
Penjaga yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Kan cuma tanya, kalau kekasih Den Dean juga tidak mungkin." Kata penjaga pelan dan kembali menyetel radio.
Sedangkan Laura berjalan dengan kesal, hingga ponselnya berdering dan segera mengambilnya. Tertera di dalam layar adalah nomor Ibunya.
"Ada apa?" Tanya Laura yang masih dengan nada yang sama.
"Laura, kamu kenapa?" Tanya sang Ibu di sebrang telfon.
Sang Ibu yang berada di sebrang telfon hanya mengelus dadanya pelan, "Laura, minggu ini kamu pulang ya. Bapak sakitnya semakin parah, Ibu harus bekerja sampai sore tidak ada yang menjaga Bapak." Ucap sang Ibu lembut.
"Buk, Laura sebentar lagi mau ujian. Tidak mungkin tiap pekan harus pulang pergi dari rumah ke kos. Memangnya Ibu mau nambahin uang jajan Laura." Jawab Laura dengan satu tangan yang bersedekap dada.
"Naik bis tidak sampai sepuluh ribu Laura, bukankah uang jajanmu sudah sangat cukup. SPP kamu gratis, kos juga yang membayar majikan Ibu, uang jajanmu sendiri dua juta tiap bulan." Kata sang Ibu yang menjabarkan pengeluaran untuk Laura.
"Buk, dua juta mana cukup di kota besar. Di sini es teh saja lima ribu, belum kuota, dan yang lainnya. Satu lagi, Ibuk sebentar lagi harus risen saja deh, Laura akan menikah dengan orang kaya jadi Ibuk bisa mengurus Bapak di rumah." Ucap Laura dengan nada sombong.
"Me-menikah? Laura, kamu masih muda. Apa kamu tidak ingin bekerja dulu dan siapa calonmu itu kenapa tidak kamu kenalkan kepada kami?" Cecar sang Ibu yang shock di sebrang telfon.
__ADS_1
"Sudahlah, dia tidak perlu tahu saat ini. Jika dia tahu pekerjaan Ibu hanya membuat Laura malu, dan Laura gak bisa pulang pekan ini. Bapak juga bisa menunggu sampai Ibu pulang. Sudah Laura sibuk hari ini," jawab Laura yang langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Halo, Laura! Laura!" Panggil sang Ibu beberapa kali di sana.
"Kenapa buk, Laura?" Tanya seorang pria dengan lemah sesekali batuk.
"Laura sedang berangkat berangkat belajar kelompok, Pak. Makanya Ibu khawatir, takut Laura belum makan." Jawab sang Ibu berbohong.
"Oh begitu, tapi Laura bisakan buk minggu ini pulang?" Tanya sang bapak.
"Kemungkinan belum bisa, Pak. Minggu depan sudah ujian mungkin dia akan pulang setelah selesai ujian," Jawab sang Ibu kembali berbohong karena belum pasti.
"Tidak apa-apa, Buk. Maafin bapak ya," Ucap Bapak.
"Maafin, ibu juga ya pak." jawab sang Ibu.
Keduanya tampak saling menguatan, mengingat perangai Laura yang tidak pernah berubah sejak SMP. Mungkin karena Laura anak tunggal sehingga apapun yang dia inginkan selalu di berikan begitu saja oleh kedua orang tuanya, niatan orang tua memanglah mulai agar sang anak tidak hidup susah seperti mereka.
Tetapi seakan mereka lupa, jika apa yang sudah kita tanam makan akan kita tuai. Hanya tersisa penyesalan dan do'a agar sang anak dapat berubah, hanya mampu meminta kepada pemilik semesta agar buah hati yang di titipkan-Nya menjadi pribadi atau manusia yang baik.
__ADS_1