Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
ITU BUKAN MIKAYLAKU


__ADS_3

Happy Reading


Suara gemericik air terdengar dari sebuah kamar yang cukup luas, hingga suara air terhenti. Tidak berselang lama pintu kamar mandi terbuka menampakkan pemandangan yang membuat para wanita berteriak histeris. Bagaimana tidak, Nathan keluar hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah sedangkan bagian atas di biarkan begitu saja terekspos hingga menampakkan otot perut six pack miliknya.


Dengan langkah lebarnya, Nathan berjalan menuju lemari pakaian yang sejak dulu dia pakai. Ya, setelah kepergian Mikayla. Nathan tidak merubah apapun di seluruh apartemen ini, Nathan berencana membuat walk in closed tetapi dia urungkan karena tidak ada gunanya juga jika hanya berisi pakaian miliknya.


Nathan mengambil kaos rumah dengan celana pendek, karena setiap pulang dari makam sang istri. Dia tidak pernah pergi kemanapun, bahkan di mansion utama dapat dihitung dengan jari.


Semenjak meninggalnya Mikayla, keluarganya begitu dingin dan acuh kepada Nathan. Bahkan keluarga dari mendiang sang istri juga tidak pernah memperbolehkan Nathan untuk menyimpan barang-barang pribadi Mikayla. Semua barang sudah di angkut kecuali botol-botol obat yang tersusuk dan tersimpan dengan rapat di laci nakas samping tempat tidur.


Setelah selesai berganti pakaian, Nathan segera keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Dapur tampak sangat bersih, setelah kepergian Mikayla kehidupan Nathan berubah total. Yang awalnya tidak bisa memasak kini dia sudah bisa memasak terutama telur mata sapi, dia sangat ingat moment di mana saat mencoba memasakkan Mikayla tetapi gagal namun sang istri tetap memakan masakannya itu.


Nathan segera mengenakan apron berwarna abu-abu, dia mengambil dua telur dari dalam kulkas. Terlihat banyak telur dan air putih saja yang memenuhi isi lemari pendingin tersebut. Segera Nathan mengambil penggorengan dan menyalakan kompor. Di tuang sedikit minyak goreng dengan api sedang, dia ingat apa yang di ajari oleh Mikayla dulu.


Nathan menggoreng telur dengan melamun setiap teringat mendiang istrinya membuat Nathan masuk kedalam lorong waktu yang begitu gelap tak berujung. Hingga bunyi alarm membuat Nathan segera tersadar, asap sudah mengepul sehingga membuat alarm yang dia pasang berbunyi dengan nyaring.


Dengan kasar Nathan meraup wajahnya setelah mematikan kompor, dia menatap telur yang kini berwarna hitam di atas penggorengan. Nathan yang ingin membuang telur gosong tersebut menghentikan gerakannya, dia mengurungkan niatannya untuk menyia-nyiakan telur mata sapi tersebut.


Nathan mengambil piring dengan sedikit nasi putih seperti biasanya dan telur mata sapi hitam di sampingnya lengkap dengan kecap manis. Dia mulai memasukkan makanannya yang terasa pahit tersebut, meskipun sudah memakai kecap manis rasa pahit menyeruak sangat pekat di dalam mulut bahkan dengan susah payah dia menelan setiap suapan demi suapan makan malamnya hari ini.


Kini Nathan tengah duduk dengan membawa sebotol minuman keras di samping nakas, di mana obat-obatan Mikayla di simpan. Setiap dia merasakan penyesalan dan kesedihan mengingat Mikayla yang Nathan lakukan hanyalah menyalahkan dirinya sendiri dan melupakan semua dengan meminum minuman keras.


Dengan kepedihan dan penyesalan di dalam hidupnya selama ini, Nathan terus meneguk minuman yang terasa membakar kerongkongannya itu dengan terus menerus. Dia menatap dengan pedih botol-botol obat yang sudah kadaluarsa di dalam laci nakas.


"Seandainya waktu dapat aku putar kembali, aku pasti tidak akan menyia-nyiakanmu Mika. A-Aku pasti akan menjadi suami yang baik untukmu." Racau Nathan yang sudah mulai mabuk.

__ADS_1


"Seandainya aku lebih mempercayaimu, seandainya aku mengikuti semua perkataanmu, seandainya ... seandainya aku lebih cepat menyadari tentang kebohongan Laura pasti kita saat ini masih hidup dengan bahagia." Ucap Nathan yang terus meracau dengan menangis dan sesekali tertawa.


"Benar apa katamu, aku sangat menyesal Mika. Aku merindukanmu sayang sangat, aku mencintaimu." Ucap Nathan lagi sebelum hilang kesadarannya.


Nathan tertidur dalam keadaan mabuk tetapi kesedihan hatinya tergambar jelas dari guratan wajahnya, terlebih air mata yang sering menetes setiap malam mengiringi tidurnya. Nathan selalu berharap jika Mika sudi menemuinya meski hanya di dalam mimpi.


*


*


*


Suara dering ponsel terdengar nyaring memekakkan telinga, tampak pria bertubuh kekar masih tergolek lemah tak berdaya di atas lantai yang dingin. Tubuhnya hanya menggeliat tetapi kedua matanya masih erat terpejam.


Kembali bunyi telfon membuatnya terpaksa bangun dari tidurnya, tampak nama Zaki teman SMA tengah memanggil. Nathan meletakkan kembali ponselnya yang terus berdering, rasanya pagi ini seluruh tubuhnya remuk redam dan juga perutnya yang mual.


Tampak wajah Nathan yang pucat pasi dengan bercucuran keringat, dia merosot duduk dengan bersandar di dinding kamar mandi dekat wastafel. Suara dering ponsel kembali berbunyi, Nathan hanya bersandar lemas di sana.


Setelah mengumpulkan sisa tenaga dan cuci muka, Nathan melangkah pelan menuju kasur dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas lantai. Zaki sudah menghubungi Nathan hampir sepuluh kali, membuat Nathan heran karena Zaki sangat jarang mengulangi panggilannya jika tidak penting.


Nathan yang hampir menghubungi Zaki kembali mengurungkan niatannya karena panggilan masuk dari Zaki sudah terlebih dahulu, segera Natha mengangkatnya.


"Halo, ada apa Za?" Tanya Nathan cepat.


"Astaga, Nathan! Kamu dari mana saja, aku sudah menghubungimu hingga puluhan kali tetapi tidak ada jawaban." Cecar Zaki dari sebrang telfon.

__ADS_1


"Maaf, aku-"


"Sudah ... sudah ... apa kamu sudah membuka pesanku kemarin?" Tanya Zaki memotong.


"Pesan? Belum." Jawab Nathan jujur.


"Woilah, cepat buka pesanku dulu. Pantas saja kamu tidak langsung terbang kerumahku." Kata Zaki dengan terkekeh pelan.


Nathan hanya menaikkan sebelah alisnya saja, dia sendiri tidak begitu excaited untuk membuka pesan Zaki yang biasanya perkara materi kuliah ataupun bisnis. "Kenapa? Kamu kesulitan mengerjakan tesismu?" Tanya Nathan dengan malas.


"Woi, bukan begitu! Kemarin aku bertemu gadis spek bidadari, kamu menyesal jika tidak melihatnya." Bantah Zaki yang masih terkekeh karena malu.


Nathan hanya menaikkan kedua bola matanya jengah, "Sebentar." Jawabnya.


Nathan segera mematikan panggilan Zaki dan mulai membuka kontak pesan singkat di ponselnya, terlihat Zaki mengirimkan sebuah gambar kepada Nathan. Dengan cepat Nathan membulatkan kedua matanya saat membaca pesan Zaki dan juga melihat foto seorang gadis dari belakang.


"Tidak, tidak mungkin. Mikaylaku sudah tenang di surga," Ucap Nathan yang di iringi air mata.


Dengan cepat Nathan menghapus air mata yang keluar begitu saja, "Aku hanya terlalu merindukannya, Mikaylaku sudah tenang." Ucap Nathan lagi.


Ponsel Nathan kembali berdering, Zaki kembali menelfon dengan cepat dia mengangkatnya.


"Bagaimana, apa kamu percaya dengan apa yang aku katakan?" Tanya Zaki cepat.


"Tidak mungkin, Zak. Sangat jelas tubuh Mikayla di masukkan ke dalam peti di depan mata dan kepalaku sendiri. Itu bukan Mikaylaku." Jawab Nathan dengan menahan sesak di dalam dada.

__ADS_1


"ITU MIKAYLA ANDERSON, Nathan! Bahkan aku memeluknya dan menanyakannya secara langsung, jika kamu tidak percaya datang saja kerumah istrimu eh apa mantan istrimu." Kata Zaki dengan meyakinkan Nathan.


__ADS_2