
Happy Reading 🌹🌹
Nathan dan Mika kinintengah serius mengerjakan soal-soal yang berada di atas meja.
Karena keduanya terlambat sehingga mendapatkan peringatan dan harus mengerjakan soal ujian di ruang kepala sekolah bersamaan.
Tampak Nathan dan Mikayla sangat fokus, bahkan saat kepala sekolah keluar - masuk ruangan tidak mereka pedulikan.
Suara kertas yang di balik dan suara pena yang digoreskan di atas kertas terdengar memenuhi ruangan yang sepi.
Hingga seorang guru masuk menghampiri keduanya, "Waktu sudah habis, silahkan di kumpulkan." Ucapnya.
Mikayla dengan tergesa-gesa mengerjakan dua soal terakhir sedangkan Nathan dengan santai menyerahkan lembar jawaban miliknya dan membereskan soal serta alat tulis yang berserakan.
"Waktu sudah habis, Mikayla." Ucap guru mengingatkan.
"Dikit lagi, Pak. Sebentar!" Jawab Mika dengan fokus menggoreskan penanya cepat.
Sret!
Gerakan tangan Mika terhenti karena lembar jawab di ambil paksa oleh Natha.
Tampak Nathan menyerahkan lembar jawaban Mika kepada guru BK (Bimbingan Konseling).
"Kalian boleh keluar dan beristirahat." Ucap sang guru yang di angguki oleh Nathan.
"Terima kasih, Pak." Jawabnya sopan.
Nathan langsung bangkit dari duduknya, berjalan keluar meninggalkan Mikayla tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sedangkan Mikayla tampak masih tercengang dengan perbuatan Nathan, mendengar suara pintu tertutup membuat kesadaran Mika kembali.
"Nathan!" Seru Mika tertahan.
Dengan cepat Mika berdiri dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari ruangan kepala sekolah.
Tampak punggung suaminya yang berjalan menjauh dari ruangan, Mika yang semenjak kecil tidak bisa berlari-lari. Tanpa sadar melangkahkan kakinya cepat menghampiri Nathan.
Hap!
Mika langsung meloncat ke punggung suaminya dan mengigit telingan Nathan dengan kesal.
Nathan yang tidak siap lantas berteriak kesakitan, Mika tidak melepaskannya begitu saja. Dia semakin erat mengapit tubuh dan leher Nathan.
"Aaaaa ... Sakit, Mika!" Teriak Nathan dengan reflek memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar Mika turun dari punggungnya.
__ADS_1
"Rasakan!" Ucap Mika yang masih mengigit telinga Nathan.
Perbuatan mereka tengah di saksikan oleh banyak siswa, tampak wajah terkejut, dan juga tertawa karena merasa lucu melihatnya.
Baik Nathan dan Mikayla terkenal siswa pendiam. Bahkan sulit untuk di dekati.
"Nathan!" Seru Laura yang menatap keduanya dengan tatapan horor.
Nathan dan Mikayla langsung berhenti, Mika melepaskan gigitannya, dan perlahan merosot turun dari punggung sang suami. Dia menatap dengan datar dan dalam ke arah Laura.
"Apa yang kalian lakukan! Dan Mika, Nathan itu kekasihku. Apa kamu tidak bisa menjaga perilakumu." Seru Laura dengan mengepalkan kedua tangannya.
Mika hanya tersenyum tipis, "Cih, aku istrinya sedangkan kamu selingkuhannya." Gumamnya dalam hati.
"Kak Natha, lihat aku." Ucap Mika yang menoleh ke arah Nathan.
Spontan saja Nathan menoleh ke arah Mika, kedua tangan lembut dengan jemari lentik memegang lembut pipi Nathan. Kedua kakinya sedikit berjinjit karena tinggi hampir menyamai Nathan dan wajahnya mendekat perlahan hingga benda kenyal nan lembut saling bersentuhan.
Cup!
Ciuman singkat yang langsung di akhiri oleh Mikayla, para siswa bersorak karena melihat aksi yang uwu bagi mereka. Cinta segitiga di sajikan secara live bahkan sang wanita terang-terangan mencium kekasih dari wanita lain.
"Aku pergi dulu sayang, makasih." Ucap Mika memberikan satu kedipan mata ke arah suaminya.
Mika yang mendengarnya hanya memberikan jari tengah dengan mengangkat tangan kirinya tinggi tanpa menoleh ke belakang, membuat Laura ingin menjambaknya. Sedangkan Nathan tercengang dengan tindakan yang dilakukan oleh Mikayla.
Jujur saja, ini adalah ciuman pertamanya. Meskipun dia pernah berpacaran dan saat ini bersama Laura, dia tidak pernah mencium wanita lain meskipun hanya sekedar pipi.
Laura berjalan mendekat dan menyeret Nathan dengan kasar, Laura bertambah kesal karena Nathan hanya diam saja tidak menunjukkan respon kesal maupun marah seperti yang selalu Nathan tunjukkan kepadanya dengan terang-terangan.
Para siswa segera membubarkan diri karena tontonan mereka telah pergi, kecuali satu siswa yang berhenti di tengah koridor sekolah dengan bersedekap dada. Memandang arah di mana Mikayla berjalan dan sedikit menoleh kearah Nathan yang masih tampak di kedua matanya.
Kinanti yang melihat kedatangan sahabatnya segera berhambur menghampirinya, tapi langkahnya terhenti saat Mikayla hanya melewatinya begitu saja. Kinan menoleh dengan menatap heran karena Mika langsung duduk dan merebahkan kepalanya di atas meja belajar.
“Ada apa?” Tanya Kinan yang sudah duduk di depan Mika.
“Aku hanya mengantuk.” Jawab Mika singkat.
Kinan ikut merebahkan kepalanya sehingga dapat melihat dengan jelas wajah cantik sang sahabat, “Kamu bertengkar dengan Kak Nathan?” Tanya Kinan lagi.
Mika membuka kedua matanya seingga tatapannya bersibobrok dengan mata kecoklatan milik Kinan, “Tidak.” Jawab Mika singkat yang langsung merubah arah kepalanya.
Namun, kaget bukan main karena hanya dengan jarak beberapa inci pria yang sangat dia kenal sudah tersenyum manis di depannya.
“Astaga! Kak Dean!” Seru Mikayla yang langsung menegapkan duduknya.
__ADS_1
“Hey, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu.” Ucapnya yang bangkit dari posisi jongkok.
“Belum genap sebulan kita tidak bertemu, Kak.” Jawab Mikayla dengan wajah malas.
“Ya … ya … kenapa Nona Elsa tidak masuk sekolah?” Tanyanya dengan memanggil salah satu karakter dalam kartun frozen.
“Apa kakak begitu ingin tahu?” Tanya Mika dengan menggoda.
Dean menggangguk dengan cepat, “Katakan kepadaku?” Ucapnya.
Mika mendekat di dekat telinga Dean bukan jawaban yang ingin dia dengar melainkan tiupan yang begitu kuat di lubang telinganya. Membuat Kinan tertawa mengejek sedangkan Mikayla hanya tersenyum tipis.
“Makanya jangan kepo jadi pria, ayo kita ke kantin saja Mika.” Ucap Kinan yang langsung bangkit dari kursi.
Mika mengiyakan ajakan sahabatnya tersebut dan keluar dari kelas meninggalkan Dean , “Hey! Kalian bocil tunggu aku.” Serunya yang masih mengusap telinganya.
Di sisi lain, Nathan tengah berdebat dengan Laura di belakang gedung sekolah. Karena Laura menyeret Nathan dengan paksa tidak ingin dia menjadi bahan tontonan dan ledekan para siswa di sekolahan.
“Kamu kenapa sih?” Tanya Nathan kesal.
“Kamu yang kenapa, Nathan! Kenapa kamu bisa bersama Mika dan apa yang aku lihat tadi, kamu bergitu akrab denganya.” Laura meledakkan amarahnya kepada Nathan.
“Apa salahnya jika aku bersama Mika?” Tanya Nathan kembali.
“Tentu salah! Aku ini kekasihmu Nath, sedangkan gadis itu adalah orang ketiga di hubungan kita!” Jerit Laura dengan nafas memburu.
Nathan melihat wajah Laura yang ada di depannya datar, dia menarik Laura ke dalam pelukannya. Laura memberontak dalam pelukan Nathan, “Kamu jahat Nath, kamu jahat … hiks!”
“Maaf.” Jawab Nathan singkat.
“Aku cemburu Nath, aku sakit melihatmu bersama wanita lain. Seharusnya di posisi dia adalah aku, aku seharusnya yang saat ini menikah denganmu bukan wanita lain … hiks.” Laura berkata dengan suara lirih nan serak.
Nathan hanya diam seribu bahasa, dia menepuk pundak Laura pelan seakan memberikan ketenangan. Nathan melerai pelukannya karena merasa Laura sudah tenang, tampak jejak air mata yang berada di wajah sang kekasih.
Dengan lembut dan perhatian, Nathan mengusap sisa air mata Laura dengan lembut. Laura begitu senang karena Nathan masih dapat luluh dengannya.
“Tolong hargai aku sebagai kekasihmu,” Ucap Laura kembali.
Nathan hanya mengangguk saja, Laura senang bukan kepalang. Dia kembali memeluk tubuh Nathan yang harum dan selalu nyaman untuknya.
Dari kejauhan Mikayla melihat semua adegan tersebut meski tidak dapat mendengar apa yang tengah mereka ucapkan, tubuh Nathan seolah kaku karena menyadari keberadaan Mika sang istri. Tampak sorot mata gadis yang terluka dan marah.
Nathan tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya masih di peluk oleh Laura sedangkan Mikayla pergi bersama adik dan Dean kearah kantin. Kinan menggenggam erat tangan Mika seolah memberikan semangat untuk gadis tersebut, Mika hanya biasa saja tanpa membalas genggaman tangan sahabatnya.
__ADS_1