Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
MENARIK PERHATIAN


__ADS_3

Happy Reading


Pelajaran jam terakir tersisa lima menit, terdengar guru mulai menutup pembelajaran, dan mengintruksi para siswa untuk bersiap-siap pulang.


Bel berbunyi nyaring, segera siswa keluar kelas saat guru sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang kelas. Mikayla tampak masih berkemas, rasanya dia sangat lelah hari ini padahal dia tidak melakukan banyak aktivitas seperti biasanya.


Ponsel Mikayla bergetar, pada layar ponsel muncul icon pesan yang baru saja masuk. Segera dia membuka pesan tersebut terlihat pesan dari Nathan.


“Pulahlah lebih dulu, aku ada tambahan kelas sampai sore.”


Mika hanya menghela nafasnya panjang, dia tidak membalas pesan Nathan tetapi mengacuhkannya. Seperti tekad Mikayla sejak awal dia akan menciptakan setiap moment menjadi kenangan, entah kenangan yang buruk maupun indah dalam pernikahannya.


Segera Mika beranjak dari duduknya dan mulai melangkah meninggalkan kelas, dia menuruni anak tangga dengan memainkan ponselnya. Beberapa pesan singkat masuk dari teman-temannya.


Nathan yang berada di dalam kelas merasa kesal dan jengkel karena pesannya tidak segera di balas oleh sang istri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja dengan bibir bawah yang di gigit-gigit gemas.


“Kenapa dia tidak membalas pesanku, apa dia masih pelajaran? Tidak mungkin, sekarang sudah waktunya kelas sebelas pulang.” Gumam Nathan dengan dengan bersedekap dada.


Ponsel Nathan menyala, dengan wajah menahan bahagia dia membuka pesan penuh semangat. Tetapi semua nihil ternyata pesan tersebut dari Laura.


“Sayang, bisa anta raku pulang nanti? Aku ingin mampir sekalian beli make up.”


“Iya.”


Nathan hanya membalas pesan Laura singkat, entahlah semakin hari Nathan seakan biasa saja kepada Laura. Namun, mengingat Laura diam-diam menyembunyikan penyakitnya membuat Nathan merasa bersalah.

__ADS_1


Dengan bersandar Nathan menatap kearah pintu gerbang, keingnya berkerut dalam karena melihat Mikayla berjalan dengan memainkan ponselnya. Dia menyipitkan matanya memastikan tidak salah melihat.


“Dia bisa bermain ponsel tetapi tidak bisa membalas pesanku,” Gerutu Nathan pelan dengan menekuk wajahnya.


Suara tawa terdengar nyaring di kelas Nathan , tampak Dean terbahak-bahak dengan bermain ponselnya. Nathan yang melihatnya hanya melirik saja, dia tidak ingin kehilanngan Mikayla.


“Lihatlah ….” Ucap Dean yang tiba-tiba datang di meja Nathan.


Nathan yang awalnya tidak ingin tahu hal apa yang membuat Dean tertawa, kini membuka kedua matanya denga lebar. Tampak di layar ponsel Dean sebuah video singkat dari Mikayla yang mengenakan filter kucing sehingga membuat pipinya tampak chubby, semburat merah di bawah matanya, tidak lupa juga kumis, dan telinga kucing.


“Kak Dean, Mikayla mau es krim coklat … miaw miaw.”


Begitulah kiranya isi video singkat itu, Dean menarik ponselnya dan mulai membalas pesan video untuk Mikayla.


Mikayla dan Dean sama-sama tertawa meskipun di tempat yang berbeda, Nathan yang mendengarkannya merasa gerah.


“Dean, apa hubunganmu dengan Mika?” Taya Nathan dengan suara dinginnya.


“Hah, sebentar pipiku kram dan perutku lelah.” Jawab Dean yang di iringi tawanya.


“De-“


Ucapan Natha terputus karena Laura tiba-tiba masuk menghampirinya, semua siswa di kelas Nathan tahu jika mereka sepasang kekasih sehingga tidak aneh lagi jika Laura ataupun Nathan saling berkujung di kelas masing-masing.


“Sayang.” Sapa Laura pelan tapi begitu dekat dengan wajah Nathan.

__ADS_1


Sontak saja Nathan reflek menjauh dari Laura karena dia tidak pernah sedekat itu dengan wanita lain kecuali Mikayla, bahkan bibir cherry itu sudah membuat Nathan tercandu-candu.


“Ada apa?” Tanya Nathan yang masih dingin seperti saat dia bertanya kepada Dean.


Laura menatap heran, dia menaikkan alisnya satu. “Aku hanya merindukanmu, Nath. Akh, sepertinya obat jantungku belum bekerja dengan baik. Padahal aku sudah minum obat sepuluh menit yang lalu.” Ucap Laura dengan duduk di kursi memegangi dadanya.


Sontak saja hal itu menjadi pusat perhatian teman-teman satu kelas Nathan, mereka menatap penuh tanda tanya.


“Kamu sakit jantung?” Tanya Zaki yang tidak sengaja mendengar ucapan Laura.


Laura hanya menundukkan kepalanya dalam, Zaki menatap Nathan dan Dean secara bergantian.


“Lekas sembuh ya, Nathan kamu harus menjaga Laura agar tidak kelelahan.” Ucap Zaki kepada keduannya.


“Te-terima kasih, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya, Nath.” Jawab Laura yang langsung keluar dari kelas Nathan.


Laura keluar dengan senyum yang mulai terangkat sempurna, “Kamu hanya milikku Nath, tidak ada yang mendukungku maka aku akan mencari dukungan sendiri.” Ucap Laura dalam hati.


Laura lantas berjalan menuju kelasnya karena terdengar sayup-sayup suara beberapa guru yang mulai naik ke lantai tiga. Susi yang melihat Laura hanya menatapnya dalam diam, tidak lama kemudian guru masuk dan memulai pelajaran tambahan hari ini.


Dean yang telah mematikan ponselnya lantas menoleh ke arah Nathan, "Nath, tadi kamu mau tanya apa?"


Karena melihar guru masuk di kelas membuat Nathan mengurungkan pertanyannya kepada Dean, "Lain waktu saja, tidak penting juga." Jawabnya yang acuh kepada Dean.


Dean hanya memberikann kedua jempolnya saja, mereka segera mengeluarkan buku, dan memulai pembelajaran tambahan sore ini dengan segala pikiran yang ada.

__ADS_1


__ADS_2