
Mohon maaf lahir dan batin teman-teman, selama bulan puasa autor akan update malam hari agar teman-teman yang menjalankan ibadah puasa bisa konsentrasi dengan ibadahnya dulu. Terima kasih.
Happy Reading.
Mobil sport kini telah berhenti di parkiran depan mall, dengan cepat Dean segera berjalan keluar dengan memanggil Mikayla melalui sambungan telfonnya.
“Kakak sudah sampai di Mall, kamu di mana?”
“Kakak datang saja di food court lantai tiga, kakak akan melihatku duduk di luar ruko.”
Segera Dean berlari menuju escalator, dia bejalan dengan cepat sesekali menyela orang yang berdiri di depannya dengann sopan. Hingga pandangannya teralih pada sosok gadis yang tengah melambaikan tangan kearahnya dengan wajah ceria.
Dean segera berlari kearah Mikayla yang benar saja memang duduk di luar ruko food court tersebut, “Kamu sudah lama?” Tanya Dean degan nafas memburu.
Mikayla menepuk kursi di sampingnya menandakan agar Dean duduk, dengan cepat Dean duduk di samping Mikayla. “Minum dulu.” Ucapnya menyodorkan air putih kemasan.
Dean dengan cepat meneguknya hingga tandas, “Kenapa kamu di mall hanya sendiri, di mana Kinan?” Tanya Dean setelah nafasnya kembali teratur.
“Kinan di rumahnya, aku tidak tahu jika kelas sepuluh dan sebelas libur. Daripada aku hanya sendirian di apartemen lebih baik aku pergi jalan-jalan saja.” Jawab Mikayla dengan sedikit megerucutkan bibirnya.
“Bibir jelek tidak pelu di maju-majukan.” Ucap Dean dengan mncapit bibir Mikayla meskipun di dalam harinnya bertolak belakang dengan hatinya.
Mika hanya berdecak kesal dengan mencubit lengann Dean, “Kakak ingin makan apa, Mika juga belum memesan makanan.” Kata Mikayla lembut.
“Nasi, aku butuh nasi.” Jawab Dean dengan cepat.
Kekehan lembut hanya dapat Dean dengar dari Mika, sedangkan gadis itu segera bangkit dari kursi dan mendekat kearah pelayan untuk memesan makan siang mereka.
Di sisi lain, Nathan dan Laura baru saja sampai di mall yang sama di mana Mikayla dan Dean tengah berbincang ringan di sebuah food court.
“Sayang aku lapar.” Rengek Laura dengan manja.
“Aku sudah kenyang,” jawab Nathan singkat.
__ADS_1
Laura menatap penuh selidik kearah Nathan, “Kamu di bawakan bekal lagi oleh Mika?” Tanya Laura dengan nada tidak suka.
Nathan hanya menganggukka kepalanya saja, “Aku sudah bilag jika aku tidak suka kamu memakan masakan dari wanita lain.” Ucap Laura dengan nada marah.
“Dia istriku.” Jawab Nathan dingin.
Deg
Hati Laura seperti di sayat sembilu, baru pertama kali Nathan mengakui jika Mikayla adalah istrinya secara tegas. Terakir kali dia hanya berkata jika Mika juga korban dari perjodohan.
“Nath, jangan katakana jika kamu mencintai Mikayla.” Ucap Laura dengan mata berkaca-kaca.
Nathan hanya menghela nafasnya panjang, dia sendiri juga tidak tahu apakah benar dia sudah jatuh cinta kepada istrinya atau hanya bersikap baik saja.
“Aku tidak tahu,” jawab Nathan jujur dengan membuat pandanngannya ke sembarang arah.
Setetes air mata turun dari mata cantik Laura, sungguh sakit sekali hatinya saat ini. Pria yang berstatus kekasihnya sekaligus suami orang lain dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada wanita lain meskipun itu istrinya sendiri.
Laura mengepalkan kedua tangannya, dia tidak akan tinggal diam jika Mikayla terus berusaha terlihat di depan Nathan.
Dengan langkah lebar Nathan berjalan menaiki escalator mennuju suatu tempat yang membuat hatinya merasa gerah. Siapa lagi jika bukan Mikayla dan Dean, Nathan yang melihat dari lantai satu sangat yakin jika itu adalah mereka.
“Oh, iya Mika. Terima kasih untuk snacknya.” Ucap Dean tulus.
“Syukurlah jika sncaknya sampai, aku kira hanya berhenti di kantor pos satpam.” Jawab Mika dengan guyonannya.
Dean sontak tertawa mengingat snack yang di bawakan Mika sanngat cukup untuk dua sampai tiga kelas.
“Aku rasa, satpam sekolah saat berangkat bekerja seragamnya sudah tidak muat.” Timpal Dean yang Mika tertawa membayagkan satpam sekolah menjadi gemuk.
“Kasian pak satpam, dia tidak akan kuat naik ke lantai tiga jika kelebihan berat badan.” Kata Mika yang masih tertawa hingga sudut matanya berair.
Tangan kanan Dean terulur untuk menghapus air mata yang ada di sudut mata Mika, tetapi dia keget saat sebuah tangan mencekal pegelangan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Mika juga kaget karena jujur saja dia tidak tahu jika Dean akan menyentuhnya, keduanya menoleh kearah samping. Tampak Nathan dengan pandangan datar terkesan dingin.
Dengan kasar, Nathan menghempaskan pergelangan tangan Dean. “Sudah aku katakan, jauhi Mikayla.” Ucapnya dingin pennuh penekanan.
Dean yang mendengarnya lantas tertawa hambar, “Apa salahnya aku mendekati Mika, Mika saja tidak masalah. Dan terlebih Mika tidak memiliki kekasih.” Jawab Dean dengan tersenyum miring.
“Tidak punya kekasih bukan berarti tidak memiliki s-“
“Sayang, sudah cukup. Biarkan Mika bersama Dean, ayo kita pergi.” Potong Laura dengan cepat.
Nathan hanya pasrah saat Laura menyeretnya pergi menjauh dari keduanya, sedangkan Mika menatap pedih kearah Nathan.
Mika dan Dean bahkan sudah sama-sama menanti Nathan mengakui status hubungan pernikahannya bersama Mika, tapi semua hanyalah tinggal angan-angan saja.
“Kamu baik-baik saja, Mika?” Tanya Dean lembut.
Mika hanya menundukkan kepala dengan mencengkram kedua tangannya yang berada di atas paha, air matanya sudah menetes tanpa suara.
“Kak, aku harus ke toilet sebentar.” Mikayla segera beranjak dari kursi meninggalkan Dean seorang diri.
Dean hanya mampu menatap punggung Mikayla dengan pandangan yang sulit di artikan, Mika yang sudah masuk ke dalam bilik kamar mandi dengan cepat mengunnci pintu dari dalam.
Dia menumpahkan perasaan sesak di dalam dadanya, menangis sesuka hatinya. Melihat Nathan yang selalu berada di samping Laura sudah menjadi pemandangan sehari-hari waktu di sekolahan, entah kenapa hari ini pemandangan itu jauh lebih membuatnya sakit hati.
“Apa yang kamu lakukan, Laura!” Sentak Nathan dengan kasar.
“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Nath! Apa kamu sadar apa yang ingin kamu katakan kepada Dean!” Seru Laura dengan penuh emosi.
Nathan mendengus kesal membuang pandangannya ke sembarang arah, hal itu tentu saja membuat Laura sangat marah kepada Nathan karena pria itu tidak pernah tau kesalahan dan perasaannya sediri.
“Kamu ingin berkata jika kamu suaminya Mika bukan, bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu. Apa kamu tidak pernah berfikir bagaimana pandangan Dean akan berubah kepadamu dan juga aku. Aku akan di anggap wanita tidak benar karena masih menjalin hubungan denganmu, dan kamu. Kamu juga akan mendapatkan cap suami kejam karena terang-terangan berselingkuh di depan Mikayla.” Ucap Laura dengan panjang lebar.
Nathan mendengar ucapan Laura seketika terdiam, apa yang di katakana oleh Laura memang tidak semuanya salah.
__ADS_1
“Maaf.” Ucap Nathan lirih.
Laura segera memeluk tubuh Nathan dengan erat, “Tolong jaga perasaanku, Nath. Aku sudah banyak mengalah untukmu dan juga Mikayla.” Kata Laura pelan dengan di tepuk pelan punggungnya oleh Nathan.