
Happy Reading
Susi melihat Nathan yang baru saja keluar dari dalam mobil, segera Susi melambaikan tangannya agar Nathan mengetahui keberadaan mereka.
“Nathan sudah sampai, aku pulang ya.” Ucap Susi.
“Tunggu! Kamu pulang saat menjelaskan keadaanku kepada Nathan.” Cegah Laura dengan cepat.
“Baiklah, tapi hanya singkat saja aku tidak ingin ikut campur lebih jauh lagi.” Jawab Susi dengan cepat.
“Aku akan membayar SPP mu dua bulan.” Ucap Laura yang membuat Susi terdiam.
Nathan berlari agar segera sampai di tempat Laura berada dengan tergesa-gesa, Laura memasang wajah lemah, dan sakit di depan Nathan.
“Sayang.” Panggilnya dengan suara lirih.
Nathan segera berjongkok di depan Laura, dia melihat fisik Laura apakah ada yang terluka karena dia ingat jika Laura telah didorong dan diseret paksa oleh Mikayla.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Nathan khawatir.
Laura menggeleng lemah, “Aku baik-baik saja, untung bertemu Susi tadi saat keluar dari apartemenmu.” Jawab Laura dengan menoleh kearah Susi.
Susi hanya mengangguk kaku, “Karena kamu sudah ada di sini, aku pamit pulang ya masih ada keperluan lain.” Pamit Susi pada keduanya.
Nathan dan Laura mengangguk, “Terima kasih, Sus.” Ucap Laura ramah.
Susi hanya mengangguk kembali dan berjalan meninggalkan dua orang tersebut, dari kejauhan Susi mengambil foto candid posisi Nathan masih berjongkok di depan Laura dengan memegang wajahnya.
Mengirimkan foto tersebut kepada Mikayla tanpa diberi caption apapun. “Astaga, maafkan aku Tuhan!” Ucap Susi dengan wajah cemas.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak mau dirawat, hem? Akan aku temani.” Tanya Nathan kepada kekasihnya.
“Aku tidak suka rumah sakit, sayang. Aku sudah bosan berada di rumah sakit setiap kambuh. Aku hanya kaget saja tadi karena mendapatkan perlakuan kasar dari Mikayla.” Jawab Laura dengan wajah bersedih.
“Maafkan Mikayla, aku sudah menjelaskan kepadanya” Ucap Nathan jujur.
“Kenapa harus menjelaskan kepadanya, seharusnya aku yang marah Nath karena kamu sejak awal kekasihku sedangkan dia hanya wanita yang baru hadir langsung menggeser posisi yang seharusnya itu untukku!”
“Maaf,”
Nathan hanya mampu menghela nafas panjang karena disaat seperti ini Laura akan selalu mengungkit hal yang sama, entahlah Nathan merasa jengah mendengarnya. Padahal dia sudah menjelaskan jika Mikayla juga adalah korban dari perjodohan ini bukan hanya mereka berdua.
Laura yang mendapati Nathan berubah langsung memegang tangannya, “Maaf sayang, aku tidak sengaja. Mungkin aku hanya kesal saja dengan perilaku Mikayla tadi.” Laura berkata dengan nada lirih nan halus.
“Ayo aku antar pulang, hari semakin sore. Aku tadi meninggalkan Mikayla seorang diri jika tahu kamu baik-baik saja maka kita bisa piknik bertiga di taman. Mikayla sudah menyiapkan snack ringan dan beberapa minuman untuk piknik.” Ucap Nathan yang tidak sengaja membicarakan Mikayla dihadapan Laura.
Laura mengepalkan kedua tangannya tetapi wajahnya tersenyum lebar, “Sayang sekali, lain waktu kita bisa piknik bersama sayang.” Ucap Laura lembut.
Selama di perjalanan, Laura lebih banyak bercerita tentang masa depan mereka. Sedangkan Nathan hanya mengangguk dan mendengarkan, pikirannya kacau karena memikirkan Mikayla di dalam apartemen.
Hingga tidak terasa, mobil Nathan telah sampai di depan komplek perumahan mewah, seperti biasa mobil Nathan akan berhenti. “Rumahmu yang mana, kali ini biarkan aku mengantar sampai di depan rumah.” Tanya Nathan dengan memandang kearah perumahan.
“Ti-tidak usah sayang, takut jika tetangga berfikir yang tidak-tidak.” Tolak Laura dengan wajah bingung.
Nathan menoleh kearah kekasihnya dan segera Laura memasang wajah tersenyum. “Kenapa memikirkan tetangga, lagipula aku tidak akan masuk. Aku hanya ingiin mengantarmu sampai di depan gerbang rumah karena penyakitmu baru saja kambuh aku takut jika kamu kelelahan akan kembali kambuh.” Jelas Nathan kepada Laura.
Laura merem*at seat belt yang masih menyilang di depan tubuhnya, dia tampak berfikir sesaat. Nathan yang tahu jika Laura tidak berkenan hanya mampu menerimanya saja.
“Jika tida-“
__ADS_1
“Baiklah, antarkan aku sampai di depan rumah. Kita masuk ke dalam dulu.” Laura memotong ucapan Nathan dengan cepat.
Nathan akhirnya menyalakan kembali mesin mobil dan berjalan memasuki area perumahan mewah tersebut, dia mengendarai sesuai petunjuk dan arahan dari Laura. Hingga mobilnya berhenti disebuah bangunan mewah.
Segera Laura membuka seatbeltnya dan membuka pintu mobil, “Terima kasih, sayang. Hati-hati pulangnya.” Ucap Laura dengan cepat.
Nathan juga keluar dari dalam mobil membuat Laura cukup panik, “Kenapa kamu keluar juga, Nath?” Tanya Laura lagi.
“Aku hanya ingin memastikan kamu masuk ke dalam rumah, cepat masuklah.” Jawab Nathan yang membuat Laura panik.
“Iya aku akan masuk nanti, pergilah dulu tidak enak dilihat tetangga.” Ucap Laura celingak-celinguk.
Nathan melihat kearah kanan dan kiri tetapi sepi tidak ada orang disekitar rumah Laura, “Sepi kok, cepat masuklah atau mau aku antar masuk kedalam?” Tawar Nathan yang makin membuat Laura jantungan.
“Ti-tidak, iya aku akan masuk. Hati-hati di jalan sayang.” Jawab Laura kikuk.
Laura memutar tubuhnya dan mulai memasukkan kedua tangannya di balik gerbang untuk membuka pengait gerbang, Nathan tampak menunggu untuk Laura benar-benar masuk. Laura menoleh ke belakang dengan tersenyum kaku.
Beruntung gerbang tidak di kunci sehingga pintu gerbang yang kecil terbuka, Laura dengan cepat masuk ke dalam “Pulanglah, aku akan masuk kerumah.” Ucapnya dengan menyembulkan kepalanya.
“Aku pulang dulu,” pamit Nathan yang langsung masuk ke dalam mobil.
Laura melambaikan tangannya saat mesin mobil menyala, perlahan mobil Nathan bergerak meninggalkan depan rumah Laura. Laura mengintip hingga mobil Nathan benar-benar tidak terlihat lagi.
“Syukurlah. Hampir saja aku terkena serangan jantung beneran.” Ucap Laura pelan dengan mengelus dadanya lega.
Tanpa Laura dan Nathan sadari, sejak mobil Nathan berhenti di depan rumah mewah itu. Dari jendela lantai dua tampak seorang pria menatap dengan tatapan datar, tidak ada ekspresi apapun darinya.
Dia berdiri dengan tegak, memasukkan kedua tangannya di kantong celana pendek, dan tersenyum tipis terkesan sinis menatap dua orang yang tengah berada di depan gerbang rumahnya.
__ADS_1
Dia tidak melepaskan pandangannya dari Laura yang membuka gerbang rumahnya dan menutupnya pelan, terlihat dia menoleh ke beberapa arah memastikan tidak ada orang, dan berlari terbirit-birit setelah keluar dari gerbang rumahnya, “Permainan apa yang sedang kau mainkan, Laura.” Ucapnnya pelan di dalam hati.