Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
AKU AKAN MENYINGKIRKANNYA SENDIRI


__ADS_3

Happy Reading


Waktu berputar begitu cepat, pertengkaran terakhir antara Mikayla dan Nathan tidak membuahkan jawaban. Keduanya tetap menjalani rumah tangga dengan rasa dingin, keduanya sama-sama tidak pernah terjadi apapun.


Bahkan kini keduanya sudah tidur satu ranjang meskipun tidak pernah melakukan hal yang lebih sekedar memeluk, baik Mikayla dan Nathan tidak pernah mempermasalahkannya.


Hari ini adalah hari terakir ujian sekolah, Mikayla tetap mempersiapkan bekal untuk Nathan seperti biasanya. "Selamat jadi penghubi toilet." Ucap Mikayla dengan senyum devilnya.


Mikayla membuatkan mie goreng super pedas untuk Nathan, anggap saja ini adalah salah satu ajang balas dendam darinya. Mikayla memasukkan mie goreng level pedas mampus di kotak bekal Nathan dan tidak lupa menyiapkan air minum untuknya.


"Apa sudah selesai?" Tanya Nathan dengan berjalan membawa kaos kaki di tangan kanannya.


"Sudah, nanti kakak langsung pulang atau latihan basket?" Jawab Mikayla dengan meletakkan tas bekal makan siang di atas meja.


"Nanti aku akan pergi bersama teman-teman kelas, tidak perlu menungguku. Aku akan pulang larut malam." Ucap Nathan dengan memakai sepatunya.


"GR banget, kakak tidak pulangpun aku tidak akan menunggu." Kata Mikayla mencebik kesal,


"Benarkah?" Tanya Nathan menggoda.


"Apa Laura akan ikut?" Tanya Mikayla dengan suara datar.


Nathan tterdiam sesaat, " Tidak tahu, karena kelas kami berbeda. Mungkin dia memiliki acara dengan teman-teman kelasnya sendiri." Jawab Nathan sedikit ragu.


Mikayla hanya memutar bolanya malas, "Aku berani taruhan, cacing kremi itu pasti akan ikut." Umpat Mika dalam hati.


"Aku berangkat dulu, baik-baik di apartemen jika bosan panggil sana Kinan." Nathan berpamitan kepada Mikayla.


Dia mengecup kening Mika dan langsung pergi keluar apartemen dengan membawa bekal makan siang serta tas punggungnya, sedangkan Mika terpaku di tempatnya. Dia memegang kening yang baru saja Nathan cium, meskipun ini bukan pertama kalinya tetapi baru kali ini Nathan mencium keningnya tanpa berkata apapun.


"Cih, dasar pria plin plan. Kenapa juga aku bisa jatuh cinta dengan pria seperti itu, apa mungkin orang tuaku punya dosa besar di masa lalu." Gumam Mika pelan.






__ADS_1





Di sekolah.


Nathan dan teman-teman kelas dua belas yang lainnya kini tengah serius mengerjakan ujian sekolah di hari terakir. Semua siswa di kelas hanya di temani keheningan serta goresan-goresan pena yang di hasilkan oleh para siswa yang tengah menjawab pertanyaan.


Ada siswa yang santai mengerjalannya, ada pula yang menghitung kancing seragam, bahkan siswa yang hanya merebahkan kepalanya saja juga tidak luput. Tetapi berbeda dengan Nathan dan Dean yang tampak sangat kompetitif di saat ujian.


Keduanya terkenal siswa yang pintar di sekolahnya karena nilai keduanya saling beriringan, posisi pertama jika tidak di duduki Nathan maka Dean dan di peringkat tiga selalu Laura. Ketiga siswa tersebut sudah di kenal seantero sekolah karena akademin dan juga prestasi lainnya.


Pandai dalam akademik tidak selalu pandai dalam kehidupan sosialnya, contohnya seperti Nathan. Dia tidak pandai membedakan mana orang yang tulus dan yang memikirkan fulus.


Selama sembilan puluh menit mereka mengerjakan ujian sekolah, hingga kini bel berbunyi. Setiap satu hari sekali ada dua mata pelajaran sehingga pukul satu siang baru selesai, segera para siswa bersiap untuk pergi bersenang-senang karena telah selesai menyelesaikan satu rintangan terakir di bangku SMA.


Guru penjaga segera keluar ruangan setelah memberikan sedikit wejangan kepada peserta didiknya, "Ayo kita berkumpul di parkiran!" Seru Zaki sang ketua kelas.


"Biarkan kami istirahat sebentar setelah berfikir keras," jawab salah seorang siswa.


"Baiklan, sepuluh menit ya. Aku akan menunggu di parkiran." Ucap Zaki yang lebih dulu keluar dengan beberapa teman kelasnya termasuk Dean.


Nampak mie goreng seperti biasanya, tapi kening Nathan berkerut dalam karena mencium sesuatu yang sangat dia hindari. Dia mendekatkan bekal makan siangnya ke indra penciumannya, tapi dia merasa tidak yakin hingga mengambil sedikit bumbu mie goreng tersebut.


Benar saja, lidahnya seperti terbakar. Dengan tergesa dia membuka air minumnya dan meneguknya hingga tandas. Terlihat bulir-bulir bening di dahu Nathan, dia menyeka perlahan, dan membuka satu kancing seragamnya.


Nathan sangat sama persis seperti Kenan yang tidak kuat dengan makanan pedas, segera Nathan kembali menyimpan bekal makan siangnya. Dia segera beranjak dari duduknya untuk turun menuju parkiran karena teman-temannya sudah mengajaknya berkumpul.


Dia meneguk air minumnya sambil berjalan, "Astaga, pedas sekali. Apa dia ingin membunuhku," Gumam Nathan pelan sambil berkumur air putih.


Kini semua siswa tengah berkumpul di parkiran, "Kemana Dean?" Tanya Zaki yang tengah menghitung teman kelasnya.


Tampak semuanya saling memandang, "Tidak tahu," jawab rekannya.


Zaki segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dean, dalam satu deringan langsung di angkat. "Kamu di mana Dean? Semua sudah berkumpul di parkiran." Tanya Zaki langsung.


"Aku ada keperluan sebentar, kalian duluan saja aku akan menyusul." Jawab Dean di sebrang telfon.


"Baiklah." Kata Zaki yang langsung mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


"Ayo kita duluan, Dean akan menyusul." Ucap Zaki pada rekan-rekannya.


Akhirnya mereka semua segera masuk ke dalam mobil, satu mobil di isi empat sampai lima orang. Nathan sedikit heran karena tidak ada Laura juga, "Nath, ayo!" Ucap rekannya dengan memukul pundak Nathan.


"O-oh, ayo." Jawab Nathan terbata.


Segera satu persatu mobil mewah keluar dari sekolah elit tersebut, termasuk mobil Nathan. Dari lantai atas terlihat dua orang tengah menatap kearah lapangan. Ya, mereka adalah Dean dan Laura.


"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Tanya Dean datar.


"Apa yang kamu katakan kepada, Mika?" Tanya Laura dengan wajah datar.


"Aku tidak tahu apa yang kamu makhsud," jawab Dean jujur.


"Tidak perlu pura-pura bodoh, pasti kamu mengatakan semuanya kepada Mika bukan. Kamu membongkar semua kebohonganku di depannya sehingga dia bisa menghinaku!" Ucap Laura dengan nada tertahan.


Dean tertawa sumbang, "Hey, apa kamu pikir Mikayla orang miskin sepertimu? Dia bisa menggunakan kekuasaan dan kekayaan keluarga besarnya saja bisa. Hanya menjentikkan satu jari dia mampu mengobrak-abrik kehidupanmu." Kata Dean dengan sengit.


Laura mengigit bibir bawahnya dengan keras, dia merasa terhina karena ucapan Dean. "Apa kalian pikir karena orang kaya dapat menghina orang sepertiku!" Sentak Laura.


"Kami tidak menghinamu, hanya saja. Orang sepertimu seharusnya juga tahu diri, jika miskin harta tidak masalah asalkan jangan miskin akhlaq. Coba saja kamu tanyakan kepada seribu perempuan atau perempuan satu dunia ini, apakah perilakumu dapat di benarkan? Tidak Laura! Jika kamu mencintai Nathan seharusnya kamu tidak pernah membohonginya, jika kamu mencintai Nathan seharusnya kamu dengan lapang hati menerima kenyataan jika dia bukan jodohmu dan tidak pernah mencintaimu!" Ucap Dean dengan menatap tajam kepada Laura.


"Tidak! Nathan hanya mencintaiku, kamu yang tidak tahu apapun tentang cinta Dean! Aku melakukan semuanya demi cintaku kepada Nathan." Jawab Laura yang tidak terima dengan ucapan Dean.


"Itu bukan cinta tapi obsesi Laura, obsesimu membuat orang lain menderita tidak hanya Mikayla tetapi juga Nathan." Kata Dean tidak kalah tegas.


"Kamu terus membela Mika karena kamu menyukainyakan?" Tanya Laura dengan sengit.


"Jika iya kenapa? Aku mencintainya tetapi berbeda dengan tindakanmu Laura. Aku emncintainya sehingga aku menjaganya bukan membuatnya menderita seperti yang kamu lakukan kepada Nathan." Jawab Dean tegas tanpa keraguan sedikitpun.


"Jika kamu mencintainya seharusnya kamu perjuangkan Mika, kamu rebut dia dari Nathan. Bantu aku Dean, aku tidak ingin kehilangan Nathan." Ucap Laura dengan wajah memohon dan memelas di depan Dean.


"Tidak mungkin Laura, Mika begitu mencintai Nathan begitu juga sebaliknya. Karena kebohonganmu membuat Nathan menjadi bimbang dan selalu menomor duakan Mikayla." Tolak Dean dengan tegas.


"Nathan hanya mencintaiku Dean!" Seru Laura yang benar-benar tidak terima.


"Sadarlah, Laura. Mereka saling mencintai hanya kamu yang membuat Nathan bimbang!" Jawab Dean yang tidak bisa terbantahkan.


"Sudahi dramamu Laura atau kamu akan menyesal." Lanjuta Dean yang langsung melangkah meninggalkan Laura seorang diri di atas roftop.


Laura mengepalkan kedua tangannya, dia menatap punggung Dean dengan penuh amarah. Kedua matanya sudah berkaca-kaca "Jika kamu tiidak tega menyingkirkan Mikayla dari sisi Nathan, makan aku yang akan menyingkirkannya sendiri Dean." Ucap Laura pelan.

__ADS_1


Tanpa di sadari Laura dan Dean, ada seseorang yang tengah meringkuk di beberapa tumpukan kursi dan meja bekas. Terlihat tangannya gemetar hebat dengan memegang ponselnya sekuat mungkin agar tidak terjatuh.


__ADS_2