
Happy Reading
Mikayla dan keluarganya mengeluarkan koper-koper dari dalam bagasi mobil dengan bantuan sopir, mereka datang ke bandara lebih awal karena mengingat keribetan sebelum bisa memasuki pesawat terbang.
"Wah, bagaimana jika kita pindah saja ke Amerika agar dapat berkumpul dengan Luis." Ucap Dad Jackson dengan menatap koper-koper besar yang ada di depan mereka.
"Setelah selesai acara Gabriel kita bisa tolak ke Amerika, Hon." Jawab Mom Bintang.
"Mika tidak bisa ikut." Timpal Mika yang di angguki oleh Mom Bintang.
Kini seluruh keluarga Anderson tengah berjalan memasuki bandara, terlihat banyak orang berlalu lalang dengan membawa koper, antri tiket pesawat, dan sebagainya.
Mereka melakukan prosedur sebelum menaiki pesawat seperti pada penumpang lainnya, Dad Jackson tidak menggunakan pesawat pribadi karena dia menuruti permintaan sang istri yang ingin seperti keluarga normal lainnya.
"Bagaimana dengan Paman Sky dan Bibi Putri, kenapa mereka belum sampai di bandara?" Tanya Mikayla yang melihat waktu penerbangan hampir tiba.
"Pamanmu akan menyusul nanti, dia sedang ada pekerjaan yang mendesak." Jawab Dad Jackson yang di angguki Mikayla.
Terdengar suara pengeras suara yang mengumumkan jika Korean Air Lines akan terbang, sehingga seluruh penumpang diharapkan masuk agar tidak tertinggal pesawat.
"Ayo, kita masuk!" Ajak Dad Jackson kepada kedua wanita yang dia cintai.
Ketiganya berjalan masuk dan mengantri di bagian scanning, mereka harus melewati bagian keamanan karena tidak boleh membawa barang terlarang seperti senjata tajam ataupun obat-obatan terlarang. Mereka berjjalan dan berbaur dengan penumpang lainnya, terlihat lapangan yang begitu luas dan bebas dariapapun.
Banyak pesawat terbang terparkir di sana, salah satunya pesawat yang akan mereka naiki sudah terdapat tangga untuk membantu para penumpang masuk. Terpaan angin begitu terasa saat mereka sudah berjalan menuju pesawat.
Keluarga Anderson mulai menaiki anak tangga dan berjalan menuju kelas eksklusif di dalam pesawat. Mikayla duduk sesuai nomor pada tiket begitu juga orang tuanya. Tidak membutuhkan waktu lama, seorang pramugari mengumumkan jika pesawat akan lepas landar.
Seluruh penumpang harus mengenakan sabuk pengaman, perlahan pesawat bergerak dan mulai melaju cepat. Terasa tubuh Mika terdorong kebelakang karena pesawat sudah mulai naik untuk menembus awan. Mikayla dan keluarganya harus menempuh perjalanan panjang agar sampai di Korea.
Yang di lakukan Mikayla selama di dalam pesawat hanya, makan, tidur, menonton film, mendengarkan musik, dan sesekali ikut bercengkrama dengan teman-teman barunya di sebuah obrolan grup. Mika mengikuti saran Kinan untuk berbaur dan mempercayai orang lain, jika dulu Mika hanya cukup dengan Kinan tapi nyatanya dia tidak bisa hidup sendiri setelah kepergiannya ke Amerika selama lima tahun. Dia tetap membutuhkan orang lain, manusia memang makhluk sosial meski kita menyangkal kita masih bisa tetap hidup meski sebatangkara nyatanya sulit.
__ADS_1
Waktu yang di tunggu telah tiba, Mika tengah bersiap di dalam kamar hotel yang sudah di sewa oleh keluarga Kristoff.
"Sayang, dress mu sudah Mom siapkan di dalam lemari." Ucap Mom Bintang sedikit berteriak karena Mika tengah berada di dalam kamar mandi.
"Ya, Mom." Jawab Mika sembari membuka pintu kamar mandi.
"Mom, balik dulu. Daddymu pasti mencari Mom karena tadi Mom tidak berpamitan dengannya." Kata Mom Bintang yang di angguki Mika.
Mika kembali duduk di kursi dan MUA kembali merias wajahnya, para perias sangat senang merias wajah Mika karena sedikit kebulean, chines, dan juga melokal. Sangat unik bagi mereka, terlebih kulit wajah Mika yang tampak sangat terawat sehingga membuat produk kecantikan yang mereka kenakan sangat apik diwajah Mika.
"Ingin lipstik warna apa, Non?" Tanya MUA setelah selesai merias wajah Mika.
"Hem, yang tidak terlalu mencolok. Buat saja elegant dan selaras dengan riasannya." Jawab Mika lembut.
"Baiklah," Mua segera mengambil lipstik berwarna pink dan di oleskan tipis bagian luar sedangkan bagian dalam bibir di beri warna pink lebih tua. Jika orang bilang lipstik ombre, terakir MUA memberikan lipgross bening sehingga membuat bibir Mika tampak basah.
"Sudah selesain, Nona. Coba lihat di cemin, apa ada yang ingin di perbaiki?" Tanya sang MUA.
Mika membuka kedua matanya, dia menatap penampilannya hari ini. "Cantik, tidak ada yang perlu di perbaiki. Anda sangat berbakat." Jawab Mika tersenyum.
"Tidak, Anda memang berbakat. Tidak semua orang dapat merias wajah orang meskipun dia pandai memakai make up." Jelas Mikayla.
"Terima kasih, jika begitu saya undur diri untuk merias yang lain. Akan ada penata rambut setelah ini." jawab MUA dengan sopan.
MUA tersebut tidak membereskan perlengkapan make upnya, dia hanya pergi membawa tubuhnya untuk pindah tempat merias. Sedangkan Mikayla kini hanya duduk di sofa sembari menunggu penata rambutnya, dia perlu bantuan orang lain untuk mengenakan gaun yang sudah di sediakan oleh Tante Rose.
Suara pintu terdengar membuat Mika menoleh, tapi pandangan yang biasa berubah menjadi sebuah kerinduan. Ternyata yang masuk ke dalam kamarnya adalah Nathan, "Kenapa kakak bisa tahu Mika di sini?" Tanya Mika denngan cepat.
"Tidak susah untuk seorang Nathan mencari istrinya." Jawab Nathan sombong.
Mikayla berdecih, "Nyatanya lima tahun tidak bisa menemukan, Mika." Ejeknya.
"Hahaha, sengaja." Jawab Nathan menyangkal rasa malu.
Mikayla memutar bolanya malas, "Kakak datang bersama siapa?" Tanya Mika yang melihat Nathan berjalan dan menjatuhkan bobot tubuhnya di pinggir kasur dengan memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.
"Mama dan Ayah," Jawabnya.
"Kinan?" Tanya Mikayla kembali.
__ADS_1
Nathan menghendikkan kedua bahunya saja, Mikayla hanya menghela nafas. Percuma bertanya kepada Nathan karena dia tidak akan mendapatkan jawabannya.
Suara ketukan pintu terdengar, perlahan pintu terdorong. Tampak dua orang wanita mengenakan sragam serba hitam dengan rambuut yang di sanggul.
"Permisi, kami penata rambut." Ucapnya sopan.
"Iya, silahkan masuk." Jawab Mikayla yang sudah berdiri dari duduknya.
Penata rambut berjalan masuk dan membuka koper kecil yang mereka bawa, Mika sendiri sudah duduk di kursi untuk siap di rias rambutnya. Mikayla dengan tenang di rapikan rambutnya, dari mulai di beri vitamin rambut, dicatok, dan dibuat rambutnya bergelombang.
Sesekali Mika melirik kearah cermin, tampak Nathan sibuk bermain dengan gawainya. Nathan duduk di atas kasur dengan kakinya berselonjor, tidak berselang lama suara pintu di ketuk. Mikayla masih tetap melihat pergerakan Nathan yang bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu kamar.
Kening Mikayla berkerut dalam, dia menatap tangan Nathan yang membawa paper bag exsclusive berwarna hitam. Nathan meletakkan paper bag tersebut di taruh diatas sofa.
"Sudah selesai, Nona." Ucap penata rambut.
"Oh, ya. Bisa bantu Saya mengenakan gaun." Tanya Mikayla kepada kedua penata rambut.
Sang penata rambut yang akan menjawab di urungkan karena Nathan sudah terlebih dahulu yang menjawab, "Saya bisa bantu istri saya, kalian bisa lanjutkan pekerjaan." Ucap Nathan dengan cepat.
"Kami permisi." Ucap kedua penata rambut undur diri.
Setelah memastikan pintu tertutup, Nathan berjalan dan memeluk Mikayla yang masih setia duduk tetapi menghadap kearahnya.
"Kak."
"Sebentar, aku ingin mengecas tenangaku." Jawab Nathan dengan memejamkan kedua matanya.
Kedua tangan Mikayla terulur memeluk tubuh Nathan, dia sendiri sangat rindu kepada pria yang sejak awal menikah begitu dia cintai. Hingga pelukan itu Nathan lerai terlebih dahulu,
"Ayo, aku bantu. Kita sudah sangat terlambat turun di ballroom." Ucap Nathan lembut.
Mikayla mengangguk, "Sebentar, Mika ke kamar mandi dulu." Jawab Mikayla yang berjalan menuju lemari hotel dan mengambil dress yang sudah Mom Bintang taruh.
Mikayla segera masuk ke dalam kamar mandi, tak berselang lama dia keluar. "Kak bantu Mika untuk menaikkan kaitan dress." Ucapnya kepada Nathan yang tengah mengenakan jas.
Nathan berjalan kebelakang tubuh istrinya, tampak punggung Mikayla yang begitu mulus. Jemari Nathan msegera menaikkan kaitan dress hingga punggung istrinya yang putih tersebut mulai tertutup. Sebelum tertutup sempurna, Nathan menciumnya membuat tubuh Mikayla meremang akibatnya.
"Kakak!" Ucap Mikayla dengan memukul kearah belakang mebuat Nathan terkekeh pelan.
"Hanya sedikit, sepertinya kamu sangat merindukanku sayang." Jawab Nathan dengan menjawil dagu istrinya.
Mikayla langsung mengigit jemari suaminya hingga membuat Nathan menjerit keras, "Dasar mesum!" Sungut Mika.
__ADS_1