Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
BEKAL MAKAN SIANG


__ADS_3

Happy Reading


Nathan berjalan masuk ke apartemen dengan langkah gontai, hari ini semua orang melewati kelelahan mereka masing-masing. Dia menekan tombol sandi pintu apartemen dengan pelan hingga terbuka, menatap sejenak rak sepatu yang ternyata Mikayla telah pulang.


Meghela nafas panjang dan mulai melepas sepatunya secara serampangan, tercium bau harum di area dapur. Tetapi saat dia menoleh tidak ada siapapun "Ini bau masakann, bukan bau sesuatu yang tidak terlihat." Gumamnya pelan dengan mengelus tengkuk lehernya.


Nathan berjalan mendekat kearah daput, ternyata sudah tersaji beberapa sayur dan juga lauk di atas meja. Nathan melihat ada tumis brokoli dan juga ikan salmon goreng mentega, di dalam hati Nathan merasa sangat menyesal.


Karena emosinya sesaat sudah membuat Mikayla marah dan akhirnya pergi dari cafe tanpa memakan apapun, "Apa dia sudah makan?" Ucapnya pelan.


Nathan akhirnya berjalan menuju kamar utama, terlihat Mikayla sudah tidur nyenyak dibalik selimut biru tua. Dia berjalann menndekat kearah gadis yang baru beberapa jam lalu dia hina, ternyata mental Mikayla tidak seperti gadis pada umumnya bahkan Nathan terlampau sering dibuat jantunngan dengan ucapan dari Mika.


Akhirnya Nathan memutuskan untuk membersihkan diri, dia ingin berenndam untuk melepaskan penat meski hnya sesaat. Pikiran dan hatinya terlalu kacau, dia dengan mudah meluncurkan kalimat yang bertolak belakang dengan hatinya seakan setiap membicarakan Mikayla hati dan pikirannya berperang hebat.


Sleang tigapuluh menit, akhinya Nathan keluar dengan rambut basah dan badan segar. Dia mengambil piyama untuk bersiap tidur. Merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan kedua matanya, Namun, perutnya tidak dapat di ajak kompromi.


Padahal Nathan masih kesal dengan ucapan Mika dann berakir tidak mau memakan masakannya, "Astaga, apa tidak bisa kamu jual mahal sedikit." Gerutu Nathan kesal.


Dengan kasar dia menyibak selimutnya dan kedua kakinya menjuntai di lantai, beranjak dari sofa keluar kamar menuju meja makan. Dari tampilannya memannglah kurang menarik tetapi dari bau harum masakan itu cukup menggugah selera.


Suara dentingan sendok dan garpu saling beradu di atas piring, awalnya Nathann ragu karena penampakan masakan dari Mikayla yang tidak menarik. Setelah di rasakan tidak begitu buruk, tapi kenapa berbeda jika masakan yang tempo hari sedikit hambar kali ini terasa sangat pas rasannya.


Sejenak Nathan merenunng, sudah beberapa kali dia melihat Mikayla hanya memakan masakan hambar bahkan ingatannya berputar saat di cafe bagaimana Dean begitu deal dan rinci memesan makanan Mika.


"Hanya perasaanku saja." Ucapnnya pelan yang kembali melanjutkan kegiatannya.


__ADS_1









Mentari pagi datang menembus kaca jendela yang tidak tertutup rapat tirai, Mika kini terbangun dari mimpi indahnya. Dia mendudukkan didinya meski kedua matanya masih sesekali terpejam, tapi dia tidak boleh meleratkan rencananya satupun.


"Hari ini aku harus membuat kebiasaan baru yang belum pernah, Kak Nathan alami." Gumam Mikayla pelan.


Mikayla lantas keluar dari kamar utama menuju dapur. Tampak senyum melengkung sempurna menghiasi wajah cantikya, dia senang karen makasakannya telah habis tanpa tersisa.


Sejenak dia menoleh ke arah kamar utama dan berjalan menuju wastafel untuk cuci piring, setelah selesai dia segera mengecek apakah nasinya cukup untuk dibuat sarapan.


"Untunglah masih cukup, aku akan membuat nasi goreng telur." Ucapnya dengan riang.


Mikayla mengambil nasi putih di dalam ricecooker secukupnya dan di angin-anginkan. Sembari mennunggu nasi dingin, dia mengambil dua butir telur ayam dari dalam kulkas dan juga bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tidak lupa bumbu penyedap rasa agar masakannya enak.


Setelah selesai mengupas bawang-bawangan, dia segera mengirisnya tipis dan kecil agar dapat merata. Setelah selesai semua dia segera memanaskan sedikit minyal di dalam wajah dan menggoreng sebentar telur yang sebelumnya sudah dia aduh dalam mangkuk kecil hingga setengah matang.

__ADS_1


Barulah dia menambah sedikit minyak dan mulai menumis berbagai bumbu nasi goreng hingga harum barulah nasi di masukkan ke dalam wajan dan di aduk hingga rata. Di taburi sedikit garam dan penyedap rasa agar lebih terasa, Mika merasakannya sedikit karena lidahnya jarang memakan masakan asin sehingga kadar keasinan baginya dan orang lain berbeda.


Nathan yang berada di dalam kamar menyerengitkan dahinya dalam karena indra penciumannya menangkap bau harum yang menyeruak masuk ke dalam kamar. Dengan berat dia membuka kedua matanya "Apa Mika memasak?" Ucapnya dengan suara khas orang bangun tidur.


Dia mendudukkan tubuhnya dan mulai bangit dari sofa dengan sedikit oleng karena nyawanya belum terkumpul, ternyata benar jika Mika tengah memasak pantas saja bau harumnya sampai masuk ke dalam kamar utama karena pintu kamar sedikit terbuka.


Nathan memandang sejenak gadis yang tengah konsentrasi dengan masakannya, terlihat mencicipi dikit demi sedikit dan memberikan beberapa bumbu tambahan. Nathan sedikit tercengang karena melihat Mika yang begitu saja memasukkan penyedap rasa tanpa takaran manusiawi.


"Sabar, Nathan." Ucappnya dengan mengelus dada.


Mikayla tidak tahu jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian Nathan, dia dengan cepat memasukkan nasi goreng yang masih panas ke dalam kotak bekal makan siang. Menambahkan satu telur mata sapi di atasnya dan di beri sedikit taburan rumpt laut kering yang diremukkan oleh Mika sendiri.


Segera dia melangkah masuk ke dalam kamar utama, terdengar suara gemericik air. Mikayla memutuskan untuk membereskan tempat tidurnya juga Nathan sembari meunggu Nathan selesai mandi.


Tiga puluh menit sudah kedua remaja itu bersiap untuk sekolah hari ini, Mikayla memasukkan kotak makan ke dalam tas yang tahan panas dan dingin. Nathan menaikkan sebelah alisnya karena Mika tidak membawakan untuknya "Milikku mana?" Tanya Nathan polos seperti anak kecil.


Mika menoleh ke arah sang suami, "Apa?" Tanya Mikayla kembali.


Natahan menggerakkan dagunya menunjuk tas berisik kotak makan siang yang berisi nnasi goreng, Mika melihat ke arah bekalnya. "Kakak mau?" Tawarnya lagi.


Secara spontan Nathan mengangguk, di dalam hari Mikayla bersorak senang. "Baiklah perlahan-lahan Mikayla." Gumamnya dalam hati. Mika berdehem untuk menetralkan rasa gembiranya, "Aku kira kakak tidak akan mau jadi aku hanya membuatnya satu, jika begitu ini untuk kakak. Tapi, harus di habiskannya jangan di buang." Jawab Mikayla dengan menyodorkan tas bekal makan siang.


Nathan mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan Mikayla, kini keduanya sudah berada di dalam mobil untuk menuju sekolah. Selama di perjalanan hanya ada keheningan, "Oh iya nanti pulang sekolah kita harus mampir ke mansion utama, Mama merindukanmu." Ucap Nathan memulai obrolan.


"Baik." Jawab Mikayla singkat.


Nathan melirik sejenak gadis yang tengah sibuk bermain dengan ponselnya, "Apa dia masih marah padaku? Tetapi tidak mungkin, bukankah semalam dia memasakkanku, dan hari ini juga meskipun sebenarnya bukan untukku." Gumam Nathan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2