Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KESEPAKATAN


__ADS_3

Happy Reading


Laura yang kesal dengan Nathan lantas pergi menuju kamar mandi, karena dia menyusul Nathan tapi tidak ada di dalam kelas. Membuat Laura enggan untuk mencari kekasih hatinya itu.


Namunn, langkah Laura terhenti saat mendengar suara yang familiar di telinganya, dia mengintip ternyata Kinan yang tengah berhadapan dengan seorang gadis. Awalnya Laura ingin masuk saja tetapi dia urungkan saat mendengar nama Mikayla dan Nathan di sebutkan.


Membuat Laura seperti penguntit, dia memasang telinganya dengan benar-benar. Senyum liciknya muncul saat mendapatkan rahasia yang di sembunyikan oleh Mikayla di belakang Nathan, lebih parahya Kinan dan semua orang tahu.


"Apa kamu akan terus seperti itu." Ucap Kinan dengan dingin tetapi kedua matanya berkaca-kaca memandang Mika dengan intens.


Mika hanya memasang wajah datar, "Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menanngis agar kamu mengasihaniku, agak Kak Nat- ekhm agar dia berada di sisiku karena hal sepele itu?" Jawab Mikayla tegas.


Kinan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat-kuat, "Apa kamu akan terus bersandiwara seperti ini, apa kamu tidak kasihan kepada Kak Nathan!" Seru Kinan dengan air mata yang sudah meleleh.


Sontak saja ucapan Kinan yang keras membuat Mika reflek menutup mulut sahabat sekaligus adik iparnya tersebut, dia melihat sekeliling beruntung kamar mandi perempuan kosong.


"Jaga ucapanmu, Kinan." Tegas Mikayla.


Kinan melepaskan bekapan tangan Mikayla, "Tidak! Aku akan mengatakan sejujurnya kepada Kak Natha, dia berhak tau kondisimu Mikayla." Jawab Kinan dingin seperti Alice ketika marah.


"Jika dia tahu lantas apa dapat merubah keadaan, huh! Dia akan tetap bersamaku tanpa adanya cinta, dia akan tetap di sisiku hanya karena rasa kasihan! Itu yang kamu mau? Aku harus hidup dalam cinta yang semu dari dia!" Ucap Mikayla tak kalah dingin dan tegas kepada Kinan.


Melihat sahabatnya menangis membuat hati Kinan sakit, "Setidaknya biarkan dia tahu, kita terlalu kejam kepadanya Mika. Bagaimana bisa semua keluarga tahu kecuali dia, bagaimana perasaannya kelak Mika. Dia akan menjadi orang paling menderita saat semuannya sudah terlambat." Jawab Kinan dengan menneteskan air mata.

__ADS_1


Baik Kinan dan Mikayla terdiam, mereka sama-sama menyayangi Nathan hanya cara mereka yang berbeda. Kinan tidak ingin Nathan akan hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah sedangkan Mikayla tidak ingin membuat kehidupan Nathan merasa terbebani karena penyakitnya.


"Bagaimana jika sewaktu-waktu penyakit jantungmu kambuh di saat dia sadar jika dia mencintaimu? Apa kamu setega itu kepadanya? Bukan ... bukan hanya dia tetapi aku, Kak Luis, dan keluarga lainnya. Apa kamu tidak mencintai kami?" Lannjut Kinan dengan suara tersendat-sendat akibat tangisnya.


Mikayla membuang pandangannya kesembarang arah, mengusap air matanya dengan kasar. Mika berjalan mendekat kearah Kinan dan memeluknya "Aku akan umur panjang untuk kalian, bantu aku untuk menjaga rahasia ini." Jawab Mika dengan pelan.


Kinan tidak menngiyakan ataupun menolak, dia memecahkan tangisnya dalam pelukan Mika dengan dada yang sesak terasa terhimpit batu. "Kamu gadis jahat." Racau Kinan di sela tangisnya.


Mika haya menerima cacian dari sahabatnya meskipun terdengar kasar tetapi Mika paham jika itu salah satu pelampiasan kekecewaann Kinanti.


Di luar kamar mandi, Laura segera berlalu karena takut jika sampai di pergoki oleh orang lain. Dia berlari kecil dengan senyum melengkung sempurna, dengan langkah ringan dan riang dia berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga.


"Apa ada Dean di dalam?" Tanya Laura begitu sampai di lantai tiga langsung menuju kelas Nathan.


"Itu," tunjuk temannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu." Ucap Laura bersedekap dada.


"Katakan saja." Jawab Dean tidak berminat.


Laura menaikkan sebelah alisnya dengan menatap lekat wajah tampan Dean, "Kita harus keluar, karena permbicaraan ini penting." Kata Laura dengan wajah datar.


Dean menyandarkan punggungnya dan bersedekap dada, menatap datar wajah gadis penuh sandiwara di hadapannya. "Aku tidak punya banyak waktu." Tolak Dean.

__ADS_1


Laura melihat sekeliling beruntnung teman kelas Dean tidak menghiraukan keduanya, "Apa kamu yakin , ini tentang ... penyakit Mikayla." Ucap Laura berbisik pada kalimat terakir.


Sontak saja membuat kedua mata Dean membulat sempurna, bahkan kedua tangannya sudah mengepal kuat karena menyangkut kesehatan Mikayla. Laura kembali menegakkan tubuhnya dan berlalu dari kelas Dean.


Dean langsung bangkit dan berjalan mengikuti Laura yang mengajaknya berbicara di roftop sekolahan, Dean memasukka kedua tangannya di saku celana sekolah sedangkan Laura bersandar di pinggiran tembok roftop.


"Apa yang kamu tahu tentang, Mika!" Ucap Dean penuh penekanan.


Laura tertawa pelan, "Santai saja Dean, aku tidak akan berbuat macam-macam kepada Mika asal kamu juga tutup mulut dengan semua yang kamu ketahui tentang aku." Jawab Laura yang mulai merubah mimik wajahnya menjadi serius.


Dean tersenyum miring dengan tawa yang membuat bulu kuduk Laura merinding, "Kamu membuat kesepakatan kepadaku?" Tanya Dean tersenyum miring.


Laura menekan rasa takutnya sungguh hawa Dean kali ini langsung berubah. Dia merasa Dean berbeda dan lebih terinntimidasi, "Yah, jika kamu mau. Kamu tahu Dean untuk membuat Mikayla meninggal itu hal yang sangat mudah untukku, penyakit jantung? Hahaha, aku membuat dia kelelahan dan hatinya tertekan sudah mampu mebuat dia mereganng nyawa." Ucap Laura penuh ancaman.


Secara implusif Dean melangkah mendekat ke arah Laura, Laura merasa takut tetapi dia tidak perlihatkan di hadapan Dean. Dengan cepat tangan kannan Dean mencekik leher Laura membuat Laura kaget tetapi masih mempertahankan harga dirinya.


"Kau mau bunuh aku? Bunuh saja, karena di sinni hanya ada kita berdua dan teman kelasmu juga tau jika aku pergi denganmu. Aku tahu kamu mencintai Mika, apa kamu pikir Mika akan sudi berpasangan dengan seorang pembunuh?" Ucap Laura kembali.


Senyum sinis di perlihatkan oleh Dean, dia semakinn memperkuat cekikan di leher Laura membuat wajah laura merah padam karena kehabisan oksigen. Segera Dean melepaskannya dan sedikit mendorong Laura hingga gadis itu terduduk di lantai dengan terbatuk-batuk.


Dean segera berjongkok dan mencengkram rahang Laura hingga menghadap kearahnya, "Aku terima penawaranmu Laura, tapi ingat hal ini. Jika sampai terjadi sesuatu kepada Mikayla maka kamu akan hancur ditanganku." Kata Dean dengan tegas dan tatapan tajam.


Laura hanya menatap kedua mata Dean dengan dada naik turun akibat menghirup oksigen agar memenuhi paru-parunya, wajahnya berpaling ke samping karena Dean melepaskannya dengan kasar dan menepuk-nepuk tangannya seakan jijik memegang Laura.

__ADS_1


"Tentu saja, bahkan kita bisa bekerjasama lebih dari ini Dean. Bagaimana?" Jawab Laura dengan tersenyum melengkung sempurna.



__ADS_2