
Happy Reading
“Sayang, coba kamu rasakan telur gulung ini.” Ucap Laura menyuapi Nathan.
Nathan ingin menolak tetapi melihat wajah penuh harap Laura membuatnya tidak tega, dia segera membuka mulutnya sehinngga Laura dapat menyuapinya.
“Aw!”
Karena telur gulung menggunnakan lidi yang kecil sehingga sedikit lentur, saat Nathan melepaskan gigitannya tidak sengaja saos yang masih ada pada telur mengenai matanya.
Dengan cepat Laura berjinjin untuk membersihkan saos yang ada di bawah mata kekasihnya, sehingga wajah mereka sejajar.
“Maaf, sayang. Apakah sakit?” Tanya Laura khawatir.
“Tidak, aku hanya kaget saja.” Jawab Nathan jujur.
Keduanya tidak sadar jika di dalam bis tengah ada seseorang yang sakit hati melihatnya, bahkan salah paham karena mereka bukanlah berciuman melainkan membersihkan noda saos.
“Sudah hampir malam, ayo aku antar pulang.” Ajak Nathan kembali.
Laura mengangguk, “Ayo, aku juga sudah lelah.” Jawab Laura yang berjalan beriringan dengan Nathan.
Seperti biasa, Nathan menganntarkan laura hanya sampai di depan rumahnya. Segera Nathan kembali menjalankan mobilnya untuk pulang ke apartemen. Seharusnya hari ini dia sudah berada di mansion utama, tetapi Nathan enggan unntuk berdebat dengan orang tuanya terkait Mikayla.
Laura menunggu hingga mobil Nathan bennar-benar pergi, sejenak dia menoleh kearah rumah mewah tersebut dengan mencebik kesal, "Sepertinya Dean belum pulang," ucapnya yang langsung melangkah pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nathan telah sampai di apartemen. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju lift untuk naik ke unit apartemennya.
Nathan membuka pintu apartemennya dan segera masuk, dia ingin memastikan apakah Mikayla telah pulang atau masih bermain dengan Dean di luar.
Helaan nafas lega terdengar, Nathan masuk ke dalam kamar utama ternyata Mika sudah tertidur pulas. Dengan langkah pelan Nathan berjalan untuk memastikan keadaan Mikayla, lebih tepatnya dia ingin menatap wajah sang istri.
__ADS_1
Dia menatap wajah tenang namun terkesan pucat, kening Nathan berkerut karena terakir dia melihat Mikayla di mall tampak wajah segar. Tangan kanan Nathan terulur memegang dahi Mika, ternyata demam.
"Kenapa bisa sakit, tadi baik-baik saja." Gumam Nathan pelan.
Dengan cepat Nathan menaruh tasnya ke atas lantai dan juga mengeluarkan beberapa barang belanjaan yang dia masukkan ke dalam saku celana. Segera dia mendekatkan wajahnya kewajah Mika, memastikan apakah Mika masih bernafas.
"Hari sudah malam, bagaimana bisa aku meninggalkan dia sendirian untuk ke apotik." Ucap Nathan bingung.
Nathan kemudian beranjak untuk mengambil air hangat dan juga handuk, malam ini dia akan mengompres agar demam Mikayla turun. Namun, langkah Nathan terhenti saat kakinya menginjak sesuatu.
"Obat apa ini?" Ucapnya pelan, karena keadaan Mikayla lebih penting Nathan hanya menendang obat yang tidak diketahui namanya hingga masuk ke dalam kolong meja.
Segera Nathan mengambil baskom yang di isi air dan handuk kecil, dia juga membuatkan teh madu hangat jika sewaktu-waktu Mikayla terbangun. Dengan telaten Nathan mengompres dahi Mikayla, dia menyingkirkan anak rambut istrinya.
"Kenapa semakin panas, apa ACnya kurang dingin?" Tanya Nathan pada dirinya sendiri.
Nathan tampak bingung karena baru kali ini dia merawat orang sakit, "Apa aku menghubungi Dean untuk bertanya kepada Ibunya, tidak ... tidak ... yang ada Dean justru datang ke apartemen." Gerutu Nathan mengurungkan niatannya.
Tawa hambar dengan gerakan menggeleng pelan dari Nathan, "Konyol, bukankah ini untuk orang kedinginan." Kata Nathan dengan sedikit kesal.
Nathan kembali menjelajahi internet, tetapi hanya kembusan nafas kasar yang keluar dari Nathan. Dia melihat kearah Mikayla yang mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung.
Dia termenung sejenak, "Apa aku lakukan skin to skin, jika dilogika mungkin suhu panas Mikayla bisa transfer ketubuhku." Gumamnya dalam hati.
Nathan berfikir kembali, bukankah jika tidur tanpa persetujuan sang wanita berarti dia mesum? "Baiklah, aku tidak mesum. Ini demi kesehatan dan rasa sosial antar manusia!" Ucap Nathan kembali.
Nathan lantas membuka semua pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek saja, membiarkan bagian atas terbuka menunjukkan dada bidang dan perut yang cukup berbentuk roti sobek meskiput tidak begitu jelas.
Dia masuk ke dalam selimut bersama Mika, menarik tubuh istrinya agar lebih dekat dengannya. Nathan memeluk Mikayla dengan erat. Sebelum ikut bergabung dengan Mika, dia sudah mematikan AC sehingga hawa panas segera menyergapnya.
Mikayla yang terlalu lemas hanya mampu menerima semua perlakuan Nathan kepadanya, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan suaminya.
__ADS_1
Satu jam yang lalu, Mikayla berjalan kaki dari halte bis menuju apartemen dimana mereka tinggal dengan di antar oleh Dean. Mika yang sudah merasa tubuhnya tidak baik-baik saja hanya mampu menahannya sampai apartemen.
"Sampai di sini saja, Kak. Terima kasih sudah mengantar Mika." Ucap Mika yang menghentikan langkahnya di depan gedung apartemen.
Dean mengangguk, "Baiklah, segeralah masuk aku akan pergi saat kamu sudah naik lift." Jawab Dean dnegan lembut.
Mikayla segera masuk ke dalam lift, di dalam lift Mika memegang dadanya yang terasa nyeri. Dengan susah payah dia berjalan menuju unit apartemennya, dengan cepat dia masuk ke kamar utama dan membuka kunci laci yang berada di samping tempat tidurnya.
Banyak botol yang tersusun rapi di dalam laci, semua itu adalah obat yang diberikan dokter untuknya. Dari luar tampak sama yang membedakan hanya warna bungkusnya obat. Segera dia membuka obat dengan tangan gemetar hebat.
Seakan sudah biasa, Mikayla langsung memasukkan obat berukuran cukup besar ke dalam mulutnya. Beunrung di dalam kamar selalu tersedia air putih sehingga membuat Mikayla tidak perlu susah payah kembali berjalan menuju dapur.
Dengan nafas seperti lari maraton Mika menangkupkan kepalanya di pinggir kasur, cukup lama dia terduduk di atas lantai hingga jantungnya merasa kembali normal. Mikayla segera mengunci kembali laci nakas itu dan menyembunyikan kunci di kolong meja.
Nathan dan Mikayla tidur saling berpelukan hingga pagi menjelang, keduanya tampak tertidur pulas seakan lelah menjalani hari-harinya. Dering ponsel mengganggu tidur Natha, dengan perlahan dia terbangun dengan Mika yang memeluk tubuhnya.
Seulas senyum terbit dari bibir Nathan, dia menatap wajah sang istri yang ternyata bukan hanya cantik tetapi lucu. Kegiatan itu harus rusak karena ponselnya kembali berbunyi, dengan hati-hati Nathan mengambil ponsel yang tidak jauh dari tempatnya agar tidak mengganggu Mikayla.
Tertera nama Luis di ponselnya, segera Nathan menolak panggilan tersebut. Bukan Luis jika sampai keinginannya tidak tercapai, dia kembali menghubungi Nathan kembali membuat pria itu mendengus kesal.
"Ada apa?" Tanya Nathan to the point.
"Di mana Mika, kenapa sejak semalam tidak mengangkat telfonku." Jawab Luis cepat.
"Mika sedang tidur dan kamu mengganggu kami." Ucap Nathan dengan kesal.
Luis yang berada di sebrang telfon membulatkan kedua matanya dengan sempurna, "Apa yang kamu lakukan dengan adikku!" Teriak Luis menggelegar hingga membuat Nathan menjauhkan ponselnya.
Nathan mengulum tawanya karena selalu senang memancing kemarahan Luis entah di lapangan basket maupun saat ini, "Ya terserah aku dong, aku sudah sah menjadi suaminya. Sudahkah aku tutup telfonnya, semoga pagimu menyenangkan."
Sambungan telfon langsung terputus begitu saja, bahkan tidak menunggu Luis untuk menjawab. Nathan sudah membayangkan mungkin Luis melempar ponselnya di tembok atau dia memakinya di sana.
__ADS_1