
Happy Reading 🌹🌹
"Apa sangat pahit, jangan di makan jika begitu. Kita sarapan saja di luar." Ucap Dad Jackson dengan menyingkirkan piring di depan Mikayla.
"Tidak, Dad. Ini sangat enak makanya Mikayla sampai menangis." Jawab Mika dengan suara serak.
Mom Bintang dan Dad Jackson hanya diam dengan memandang Mikayla yang kembali melanjutkan sarapannya.
Tenggorokan Mikayla terasa tercekat, dengan susah payah Mika menelan setiap suapan dari sarapannya pagi ini.
"Jangan di paksa jika tidak enak, Mika." Ucap Mom Bintang dengan mendekatkan air minum kearah Mika.
Mikayla hanya mengangguk, dia mengusap air mata yang terus keluar dari mata indahnya.
"Maaf, Mom ... Dad." Kata Mika yang kini sudah habis memakan sarapannya.
"Maafkan kami, baby." Jawab Dad Jackson pelan.
Mika meminum air putih yang sudah di siapkan oleh Mom Bintang hingga tandas, segera Mika pamit kepada orang tuanya untuk berangkat kuliah.
Mom Bintang dan Dad Jackson hanya mampu menatap punggung putri satu-satunya dengan sendu.
"Apa kita tidak terlalu kejam kepada mereka, Hon?" Tanya Mom Bintang yang kini sudah menangis.
"Kita harus pelan-pelan mengembalikan ingatan Mika, Honey." Jawab Dad Jackson yang membawa sang istri kedalam pelukannya.
"Seandainya kita tidak menyetujui permintaan Luis, mungkin mereka sudah hidup bahagia." Ucap Mom Bintang yang kini mulai terisak.
Dad Jackson mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih sayang, "Jangan menyalahkan Luis, ini juga salah kita karena kita egois memisahkan keduanya dengan paksa. Meskipun kita tahu bagaimana terpuruknya Kenan dan tersiksanya Mikayla waktu itu." Jawab Dad Jackson sendu.
"Maaf, aku terbawa emosi." Kata Mom Bintang karena sempat menyalahkan Luis.
"Tidak apa-apa, jadi sekarang kita tebus dengan perlahan agar keduanya kembali bersama." Jawab Dad Jackson dengan tersenyum tipis.
Mom Bintang mengangguk dalam pelukan sang suami, sedangkan Mikayla kini sudah duduk di dalam mobil dengan di stir oleh orang kepercayaan Luis.
Mobil berwarna hitam kini sudah berbaur di jalan raya dengan mobil lainnya, Mika yang masih ingin menangis mencoba menenangkan hatinya.
Dia menghirup udara panjang dan menghembuskan secara perlahan agar emosinya stabil.
Perasaan rindu kepada Nathan semakin menyiksa setiap detiknya, meskipun keduanya berjauhan bahkan tidak pernah bertemu.
__ADS_1
Menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, kini mobil yang di tumpangi Mikayla telah berhenti di depan universitas ternama.
"Non, kita sudah sampai. Nanti akan saya jemput saat pulang kuliah." Ucap sang sopir.
"Terima kasih, Pak." Jawab Mikayla yang mulai membuka pintu penumpang dan menutupnya.
Sang sopir masih tetap di sana untuk menunggu Mikayla benar-benar masuk kedalam kampus. Dia mengeluarkan gawai dan memotretnya untuk memberikan laporan kepada Luis.
Setelah memastikan Mikayla telah masuk, barulah sopir kembali melajukan mobilnya ke mansion Anderson.
Mikayla yang sudah memburuk moodnya, kini berjalan dengan gontai. Dia tampak lesu memikirkan kisah cintanya, rumah tangganya, dan juga statusnya.
Hingga tanpa sadar Mikayla menabrak sesuatu yang membuatnya mengaduh dan mundur beberapa langkah.
"Aduh! Astaga, jika jalan pakai ma-"
Ucapan Mikayla terhenti saat melihat pria yang sudah berdiri di depannya, tampak keduanya saling menatap cukup lama hingga pria tersebut membuka bibirnya.
"Apa kamu sengaja menabrakku?" Tanya Nathan dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celana.
Mikayla yang mendengarnya mendelik kesal, "Dasar kepedean banget jadi cowok, kakak saja yang tidak melihat jalan. Sudah tau ini jalan umum kenapa malah berhenti di situ." Jawab Mika dengan sewot.
"Hey, bagaimana bisa tidak melihat jalan. Lihat sepatuku menginjak rumput di pinggir jalan jadi ini salahmu, pasti kamu sengaja menabrakku. Apa kamu ingin memelukku?" Ucap Nathan yang menyangkal segala tuduhkan Mikayla.
"Mesum? Aku bahkan tidak menyentuhmu, akan aku beri tahu apa itu mesum." Jawab Nathan yang kini berjalan kedepan membuat Mika sedikit mundur.
Dengan cepat tangan kanan Nathan meraih pinggang ramping istri yang sudah lama dia nantikan di dalam mimpi tetapi Tuhan berkehendak lain, nyatanya wanita itu sangat nyata di depan mata kepalanya sendiri bahkan bisa di sentuh setiap saat.
Mikayla yang kaget secara spontan memegang kerah jas yang tengah di kenakan oleh Nathan.
Dengan cepat Nathan menarik tubuh Mikayla yang hampir jatuh, sehingga kini keduanya berpelukan.
Mika yang masih shock terdiam dalam pelukan Nathan, terdengar debaran jantung Nathan yang begitu keras menusuk Indra pendengarannya.
Deg
Deg
Deg
Mika yang mulai tersadar dan ingin menjauh dari Nathan tidak bisa lepas begitu saja, Nathan yang awalnya hanya menggunakan satu tangan kini menjadi dua tangan.
__ADS_1
Pelukan yang awalnya tidak begitu erat, kini semakin erat.
"I Miss you," Ucap Nathan pelan.
Kedua mata Mikayla sudah berkaca-kaca bahkan kini pelupuk matanya sudah menganak sungai yang siap di tumpahkan kapan saja.
Nathan mengeratkan pelukannya, dia sangat bahagia sungguh bahagia karena dapat memeluk istrinya kembali.
"Le-lepaskan aku." Kata Mikayla dengan menggerakkan tubuhnya.
"Lima menit, beri waktu lima menit saja." Jawab Nathan yang kini memiringkan kepalanya tepat di atas kepala Mikayla.
Dia mencium aroma harum dari shampo yang di gunakan oleh Mikayla dengan dalam, sudah lama sekali Nathan tidak mencium aroma buah dari produk mandi istrinya.
Jika di fikir, agak aneh gadis seusianya menyukai aroma buah. Karena yang biasa Nathan ketahui para wanita menyukai harus bunga dan vanilla.
Mikayla yang risih karena menjadi pusat perhatian para mahasiswa lainnya, segera menginjak kaki Nathan dengan keras hingga pelukan Nathan benar-benar terurai.
"AW!" Seru Nathan dengan meloncat-loncat pelan akibat terasa pedih punggung kakinya.
"Sukurin! Jangan peluk wanita dengan sembarangan, dasar pria mesum tidak tahu di untung! Beruntung aku sudah terlambat jika tidak sudah habis kau." Ucap Mikayla dengan berkacak pinggang.
Segera Mikayla berlalu dari hadapan Nathan begitu saja tanpa memperdulikan pria itu kesakitan akibat ulahnya atau tidak.
Nathan yang melihat tidak ada perubahan sari istrinya merasa sangat senang, "Ternyata kamu masih bar-bar." Kata Nathan pelan.
Nathan terus memandangi punggung Mikayla hingga menjauh, sesekali dia melihat Mikayla yang menoleh kearahnya.
Dengan senyum lebar dan melambaikan tangan, Nathan berikan kepada Mikayla. Namun, bukan senyum yang Nathan dapatkan melainkan acungan jari tengah dari Mika.
Sontak saja membuat Nathan menahan tawanya, karena begitulah dia dan Mikayla. Bagaikan kucing dan anjing jika bersama.
"Hey, bro! Bagaimana?" Tanya Zaki yang baru saja tiba hingga mengagetkan Nathan.
"Bagaimana apanya?" Ucap Nathan yang kini sudah merubah raut wajahnya.
Zaki hanya memutar bolanya malas, " Tentu saja istrimu, apa dia mengenalimu?" Jawab Zaki yang penasaran.
"Aku ada tugas untukmu." Bukannya menjawab Nathan memberikan tugas kepada Zaki.
"Apa lagi? Masih kurangkah informasi dariku tentang Mikayla?" Tanya Zaki frustasi.
__ADS_1
Bagaimana tidak frustasi, Zaki menjadi korban kekejaman Nathan akibat Mikayla tidak kunjung membalas pesan tetapi status ponselnya online.