
Happy Reading
Kening Mikayla berkerut lembut, kedua matanya perlahan terbuka membiasakan matanya dengan cahaya yang terang. Pandangannya perlahan jelas, dia mengedarkan padangannya keseluruh arah ruangan yang cukup luas.
Terdapat televisi yang menggantung di tembok dan beberapa lukisan pemandangan pegunungan, beberapa guci antik yang terpajang rapi di beberapa sudut ruangan. Gorden berwarna silver yang menutup rapat di salah satu sisi ruangan.
Mikayla yang ingin bangun terasa sedikit berat, keningnya berkerut dalam saat melihat Nathan tertidur di atas perut ratanya dengan menggenggam tangan kirinya erat.
“Pantas saja tidak bisa bernafas dengan lega.” Ucap Mika pelan.
Mika berhati-hati saat menaik turunkan perutnya untuk bernafas agar tidak membangunkan Nathan, di pandangnya lekat-lekat wajah sang suami. Sangat tampan kalimat yang dapat dia definisikan.
Melihat kening Nathan yang berkerut-kerut dengan mata yang akan terbuka membuat Mikayla langsung memejamkan kedua matanya kembali. Benar saja, Nathan terbangun dari tidurnya.
“Astaga, aku ketiduran. Sudah jam berapa ini?” Ucap Nathan pelan.
Nathan mengecek jam lewat ponselnya, terdapat banyak panggilan, dan pesan masuk dari Laura tetapi tidak Nathan hiraukan. Tanpa sadar ibu jari Nathan mengelus punggung tangan Mika.
Nathan meletakkan ponselnya di atas nakas, mengecek suhu tubuh Mikayla. Di usapnya pelan dahi sang istri, "Syukurlah dia tidak demam." Ucap Nathan dengan perasaan lega.
“Cantik.” Gumam Nathan yang masih dapat di dengar oleh Mikayla.
Perlahan elusan tangan Nathan turun hingga ke bibir mungil dan berisi seperti buah cherry, bibir yang dengan tanpa permisi mengambil ciuman pertamanya. Nathan menatap kembali wajah Mika yang damai dalam mimpinya.
Seperti pencuri gadungan, Nathan mendekatkan wajahnya ke wajah Mikayla. Hembusan nafasnya menerpa wajah Mika, Mika yang sadar dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya hanya mampu menggenggam erat selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Cup!
Satu kecupan mendapat di bibir Mikayla, tetapi bukan kecupan melainkan luma*tan lembut yang Mikayla dapatnya.
“Jantungku, tolong jangan meledak!” Jerit Mikayla dalam hati.
__ADS_1
Nathan menyudahi aksinya yang seperti kucing garong hari ini, dia mengusap pelan bibir sensual milik Mikayla dengan lembut. Mekipun hanya melu*at sesaat mampu membangkitkan gejolak dalam tubuh Nathan.
“Bibir ini, bibirmu akan menjadi canduku.” Kata Nathan kembali.
Mendengar suara pintu tertutup sontak membuat kedua mata Mikayla langsung terbuka dengan cepat, tangan kanannya memegang dada yang berdetak begitu cepat. Barulah dia meraba bibir yang baru saja menjadi candu untuk suaminya.
Perlahan namun pasti, senyum lebar tercetak dengan jelas di wajah Mikayla. Dia berguling dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya gemas.
“Astaga, gerah sekali hari ini.” Ucapnya dengan mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
Bagi siapa saja yang melihat pasti akan tertawa mendengar ucapan Mikayla. Bagaimana bisa gerah, di dalam ruangan menggunakan AC, dan saat ini waktu sudah menunjukkan malam hari.
Beginikah orang jatuh cinta? Mudah terbakar saat melihat pasanganya dengan orang lain? Mudah terbakar saat pasangannya menyanjung kita? Kelamaan cinta dapat membakar diri kita menjadi abu hingga tak menyisakan apapun.
Bi Jum yang melihat anak majikannya turun dari lantai dua segera menghampiri, “Makan malamnya sudah siap, Den.” Ucapnya.
“Terima kasih, Bi.” Jawab Nathan yang langsung berjalan menuju meja makan.
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat gerakan Nathan yang akan memasukkan nasi terhenti, dia melihat Mika yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap tengah berjalan ke arahnya.
“Kakak, makan dengan apa?” Tanya Mika penasaran.
“Seperti yang kamu lihat.” Jawab Nathan seadanya.
Mika melihat semua hidangan yang berada di atas meja, tampak asing bagi Mikayla karena dia makan selalu Mommy Bintang yang menyiapkannya langsung.
“Kamu tidak suka?” Tanya Nathan karena melihat Mikayla yang hanya menatap masakan di atas meja.
Mikayla menggeleng, Bi Jum yang masih berada di sana segera menawarkan masakan lain. “Nona ingin makan apa, akan Bi Jum buatkan.” Ucapnya ramah.
Mikayla yang ingin menjawab dia urungkan karena Nathan terlebih dahulu menjawab pertanyaan Bi Jum, “ Tidak perlu, Bi. Biarkan saja dia makan yang ada agar tidak manja.” Ucap Nathan dengan tegas.
__ADS_1
Bi Jum hanya mengangguk saja, dia tidak berani menentang apa yang sudah di ucapkan oleh majikannya. Sedangkan Mikayla hanya menghembuskan nafasnya kasar, dia menatap malas kearah Nathan yang asik sendiri memakan makan malamnya.
“Aku lapar.” Ucap Mikayla dalam hati.
Mika menatap Nathan yang tampak asik melahap beberapa masakan yang di atas meja, hingga suara perut membuat keadaan menjadi hening. Mika hanya mampu melipat bibirnya ke dalam menahan malu.
Dia merutuki perutnya yang tidak melihat situasi dan kondisi saat ini, sedangkan Nathan hanya tersenyum tipis begitu juga Bi Jum yang langsung undur diri karena merasa keadaan yang akward.
“Cepat makan, perutmu sudah berbunyi.” Ucap Nathan dengan mengambilkan beberapa potong daging rendang dipiring kosong milik Mikayla.
Mikayla tampak membolak balik irisan daging yang tidak begitu besar dengan di selimuti rempah-rempah berwarna merah kecoklatan, “I-ini apa?” Tanya Mika dengan wajah khawatir.
“Itu daging rendang, daging sapi yang di masak dengan berbagai rempah-rempah hingga sedikit kering. Makanan khas Padang.” Jawab Nathan menjelaskan.
Mika tampak ragu, dia mencai di google tentang rendang. Bahan apa saja yang di gunakan dalam mengolah, jakun Mika tampak naik turun karena melihat berbagai bumbu yang digunakan.
Terdapat santan, konsumsi makanan bersantan pada penderita jantung perlu dibatasi hal ini dikarenakan proses pengolahan dapat membuat makanan tersebut mengandung kalori tinggi, lemak jenuh, garam maupun kolesterol tinggi.
"Kamu tidak suka daging ya, apa tempe mendoan saja?" Tawar Nathan yang ingat jika Mikayla beberapa kali tampak berfikir saat memakan makanan berbau daging.
Mikayla melihat ke arah piring berisi gorengan berserta beberapa cabai hijau ditelakkan dalam piring kecil, "Itu untuk lauk?" Tanya Mika polos.
"Iya, ini di makan dengan nasi yang masih hangat dan juga sambal kecap sangat mantap." Jawab Nathan mengambilkan satu tempe mendoan untuk Mika.
Mika sekali lagi hanya menelan ludahnya kasar, sudah dua hari ini dia makan daging merah. Jika semalam memakan hamburger dan sekarang makan rendang di tambah gorengan. Semua lemak jenuh dan trans, makanan yang menjadi pantangannya seumur hidup.
"Mika makan dengan sayur saja." Ucapnya.
Mika bangkit dari kursi dan berjalan menuju dapur, mengambil piring baru. Karena piringnya sudah setengah dipenuhi oleh lauk-pauk yang sangat dia hindari. Mikayla mengambil nasi putih dan sayuran saja untuk makan malamnya hari ini, itupun dia mengambil sedikit sayur karena tidak boleh terlalu banyak garam yang dia kosumsi.
Salah satu alasan kenapa Mikayla setiap hari hanya pesan gado-gado saat di sekolah, karena gado-gado berbagai jenis sayuran yang di rebus dan juga telur rebus. Hanya bumbunya saja yang memang lebih terasa dan itu bisa dia singkirkan di sisi piring.
__ADS_1