
Happy Reading
Nathan akhirnya memutuskan untuk makan siang di cafe tersebut, dia berjalan keluar dan masuk ke dalam cafe. Saat akan berjalan menuju meja yang sudah dia pilih langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Dean.
"Dean / Nathan." Ucap mereka kaget.
"Kamu makan siang di sini?" Tanya Nathan berbasa-basi.
"Iya, tapi aku sudah selesai." Jawab Dean jujur.
Nathan yang melihat ada dua gelas dan empat piring di atas meja mengerti, "Wah, kamu sudah tidak jomblo lagi." Goda Nathan dengan tersenyum selayaknya mereka saat SMA dulu.
"O-oh, iya." Jawab Dean terbata.
"Di mana kekasihmu, sekali-sekali ajaklah berkumpul bersama kami. Beberapa hari lagi ada acara di sekolah, datanglah bersamanya." Ucap Nathan yang masih saja menggoda Dean karena telinga Dean yang memerah.
"Tentu saja, aku sudah membicarakannya dengan kekasihku. Kita akan bertemu di acara sekolahan," Jawab Dean dengan tersenyum penuh makna.
"Kami tunggu!" Kata Nathan dengan menepuk pundak Dean dan langsung berlalu dari hadapannya.
Dean menghela nafas pelan, ingin sekali dia menghajar Nathan saat ini karena lima tahun lalu dia tidak memiliki kesempatan untuk memukulnya akibat Luis yang sudah menghajar Nathan membabi buta.
Segera Dean melangkah menuju kasir yang berada di dekat pintu keluar, Nathan yang sudah duduk dan memesan makanan hanya memandang punggung Dean dari kejauhan.
Dean menoleh ke belakang mencari sosok Nathan dan melambaikan tangan, segera dia keluar dengan perasaan cemas. Dean baru ingat jika Mikayla masih berada di dalam kamar mandi, "Apa secepat ini mereka akan bertemu?" Gumam Dean pelan dengan menggigit kuku ibu jarinya.
Dengan perasaan cemas, Dean masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Segera dia mengirim pesan ke ponsel Mikayla agar dapat menghindari Nathan. Dean hanya takut jika Nathan akan tahu sedangkan memori Mikayla memblok informasi tentang Nathan di masa lalunya oleh karena itu, Mikayla tidak tahu siapa Nathan sampai detik ini.
__ADS_1
Mikayla yang tengah membenarkan make upnya, segera membuka ponsel ketika bergetar. "Kenapa Kak Dean mengirim pesan, apa aku terlalu lama." Ucap Mikayla pelan.
Segera Mika menekan pesan baru tersebut yang berisi "Mikayla apakah masih lama? Aku sudah menunggumu di dalam mobil, jika selesai segeralah kemari tanpa menoleh ke belakang. Ingat jangan menoleh kebelakang."
Kening Mikayla berkerut dalam, tetapi Mikayla tidak ingin ambil pusing. Dia hanya membalas iya kepada Dean agar tidak khawatir, segera Mikayla memasukkan ponsel kedalam tasnya dan segera keluar dari dalam toilet.
Nathan yang tengah menunggu pesanannya, tidak sengaja menatap pungggung Mikayla yang tengah berjalan keluar dari cafe. Pandangannya terkunci pada tubuh Mika, dia tidak melepaskan pandangannya bahkan hingga Mikayla membuka pintu mobil membuat Nathan yang berfikir jika itu Mikayla dia menggeleng dan tersenyum getir.
"Astaga, aku hanya terlalu rindu kepada istriku." Ucap Nathan pelan.
Sedangkan Mikayla kini sudah duduk dan mengenakan seat beltnya, Dean dengan cepat menjalankan mobilnya untuk segera pergi dari cafe sebelum Nathan menyadari keberadaan Mikayla.
"Kakak, ada apa?" Tanya Mikayla heran.
"Oh tidak apa-apa, kakak harus segera kembali kekantor jadi agak terburu-buru. Maaf ya." Jawab Dean yang masih fokus menyetir.
"Jika begitu, turunkan Mika di halte bis saja. Mika bisa pulang naik bis kak." Ucap Mika yang tidak enak hati.
Mikayla yang mendengar ucapan Dean hanya tertawa, "Kakak ini ada-ada saja, mana mungkin Kak Luis membunuh orang." Ucap Mika yang masih tertawa.
"Kamu tidak tahu saja Mika, kakakmu mengerikan daripada Daddymu!" Jerit Dean dalam hatinya.
Kini mobil yang dikendarai oleh Dean telah sampai di mansion Anderson, "Terima kasih kak, sudah antar Mika." Ucap Mika setelah melepas seat beltnya.
"Aku juga terima kasih sudah menemaniku hari ini, maaf tidak bisa mampir." Jawab Dean lembut.
Mikayla mengangguk, "Tidak apa-apa, kakak juga sibuk. Kakak hati-hati," kata Mikayla yang kini sudah keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Dean membunyikan klakson mobilnya sebelum benar-benar pergi dari hadapan Mika, Mika hanya menatap mobil Dean dengan melambaikan tangan. Setelah mobil Dean tidak tampak lagi, wajah Mikayla berubah murung.
Mikayla tahu alasan kenapa Dean menyuruhnya agar tidak menoleh ke belakang, karena Mika melihat Nathan yang juga berada di cafe yang sama. Sejenak Mika mengeluarkan ponselnya, dia membuka dan menatap foto Nathan yang dia ambil secara diam-diam sebelum benar-benar pergi dari cafe.
"Kenapa kakak jadi tambah kurus dan pandangan itu, aku tidak suka melihat kakak sedih." Ucap Mikayla pelan sembari meraba layar ponselnya.
Dengan cepat Mikayla mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua mata cantiknya. Hingga mendengar namanya di panggil membuat Mikayla harus bersikap baik-baik saja.
"Sayang, kenapa tidak segera masuk kedalam rumah?" Tanya Mommy Bintang yang kini sudah berada di belakangnya.
Mika segera memutar tubuhnya, "Oh, tadi Mika menunggu mobil Kak Dean sampai benar-benar pergi." Jawab Mika yang tidak sepenuhnya berbohong.
Mommy Bintang hanya tersenyum dan merangkul pundak sang putri, "Ayo masuk!" ajaknya, Mikayla membalas rangkulang ibunya dengan manja.
"Kamu bahagia banget hari ini, apa kamu senang bisa berjalan-jalan?" Tanya Mommy Bintang kepada Mika.
"Tentu saja senang, Mom. Mika dan Kak Dean berbelanja pakaian kerja di butik dan juga makan makanan enak di cafe dekat sana." Jawab Mikayla riang.
"Sykurlah, Mommy harap kamu selalu bahagia Mikayla." Kata Mommy Bintang dengan sendu.
"Mom jangan menatap Mika seperti itu, Mika akan selalu bahagia bersama kalian." Jawab Mika yang kini sudah memeluk tubuh Mommy Bintang.
Mommy Bintang menepuk punggung Mika dengan penuh kasih sayang, namun kesedihannya tidak bisa dia sembunyikan. Mengingat rumah tangga Mika dan Nathan yang sampai detik ini tidak ada perceraian, padahal mereka sudah mengusahakan untuk Mika bercerai dari Nathan.
Namun, gagal. Karena Alice mempertahankan hubungan keduanya, dia sangat yakin jika kesuanya suatu saat akan memiliki jalinan cinta yang kuat memang perjalanan cinta mereka yang harus sesuai takdri dari Tuhan.
"Mommy menangis?" Tanya Mika yang kini melerai pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan, Mom. Mom hanya sedih saja karena Mom takut kehilangan Mika lagi." Jawab Mommy Bintang dengan tersenyum simpul.
Jemari lentik Mikayla mengusap air mata yang membasahi wajah ibunya, "Jangan khawatir Mom, Mika di sini." Ucap Mika dengan penuh kasih sayang kepada ibunya.