
Happy Reading 🌹🌹
Nathan mengendarai mobilnya menuju mansion Wijayakusuma, siulan-siulan kecil dia senandungkan dengan sesekali bercermin di kaca spion tengah.
Jemarinya mengetuk-ngetuk stir mobil, "Aku harus menggunakan strategi yang pas agar Mika mau pergi liburan eh salah bulan madu." Ucapnya pelan dengan wajah yang sangat bahagia.
Menempuh perjalanan yang cukup lama, kini mobil yang di kendarai oleh Nathan telah memasuki area mansion. Dia segera keluar begitu memarkirkan mobil di garasi.
"Mama!" Seru Nathan begitu masuk ke dalam mansion.
"Nyonya ada di taman belakang, Tuan Muda." Jawab seorang maid.
"Makasih." Jawab Nathan yang membuat maid tersebut terpaku di tempatnya.
Notabennya, Nathan yang sudah lama tidak pulang dan juga jarang mengucapkan terima kasih membuat maid tersebut kaget.
Alice dan Kinan yang tengah membersihkan taman, di kagetkan kehadiran Nathan yang datang dengan tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanya Alice lembut.
"Kenapa kakak sudah pulang?" Tanya Kinan setelah Mamanya bertanya.
Nathan yang datang langsung memeluk tubuh Alice dari belakang sontak melepaskan pelukannya.
"Nathan butuh bantuan." Jawabnya dengan bibir yang melengkung sempurna.
"Sepertinya aku tidak berminat, Ma." Kata Kinan yang sudah menatap curiga kearah sang kakak.
"Mama juga." Jawab Alice satu suara dengan putrinya.
"Ma... Ini demi persatuan dan kesatuan bangsa setanah air!" Ucap Nathan dengan mengepalkan tangan kanannya di depan dada.
Kinan hanya memutar bolanya malas sedangkan Alice menahan tawanya.
"Pasti berhubungan dengan Mika." Kata Kinan yang di angguki oleh Nathan.
"Benar sekali, tolong kakak hanya kamu dan Mama yang bisa membantu." Jawab Nathan penuh harap.
Kinan terdiam sesaat, tapi sesuatu terlintas hingga membuat dia tersenyum sembari menatap Nathan.
"Ada syaratnya." Kata Kinan yang membuat Nathan merasa was-was.
"Apa?" Tanya Nathan.
"Tergantung dari misinya, jika ringan cukup dekatkan aku dengan Kak Luis." Jawab Kinan yang membuat Nathan mendelik kesal.
"Memangnya tidak ada pria lain, kenapa harus Luis. Kakak akan kenalkan kamu dengan anak pejabat, profesor, konglomerat, camat, lurah, kang cireng, atau penjual seblak kesukaanmh... Tinggal pilih." Cecar Nathan dengan menyebutkan semua profesi yang terlintas di pikirannya.
__ADS_1
"Kalau tidak mau yasudah, kakak sendiri tahu bukan Mika sangat percaya denganku." Jawab Kinan dengan senyum mengejek kearah sang kakak.
Nathan yang mendengarnya mencebik tidak suka, "Baiklah, tapi kakak tidak janji jika Luis menyukaimu." Nathan akhirnya mengalah hingga Kinan tersenyum penuh kemenangan.
Alice yang sejak tadi hanya menyimak percakapan kedua anaknya baru sadar jika Kinan mulai tertarik dengan lawan jenis dan tidak lain adalah Luis kakak dari menantunya.
"Apa aku jodohkan saja mereka?" Gumam Alice dalam hati.
"Kinan akan bersih-bersih dulu baru kita bicara, Kak." Kata Kinan yang sudah berdiri.
"Jangan lama-lama atau perjanjian kita batal.' Jawab Nathan yang hanya dibalas senyuman oleh Kinan.
"Yasudah, ayo masuk semua. Mama akan siapkan makan siang, dan kamu Nathan segera ganti pakaianmu." Kata Alice yang di angguki kedua anaknya.
Ketiganya kini berjalan beriringan kembali masuk ke mansion, Alice yang langsung menuju dapur sedangkan Nathan dan Kinan menuju kamar mereka masing-masing.
Dengan cekatan, Alice menyiapkan menu makan siang untuk mereka. Maid sudah memasak beberapa lauk hingga Alice tinggal memasak sayuran saja.
Tidak membutuhkan waktu lama, menu makan siang sudah tersaji dengan apik di atas meja makan.
"Tolong panggilkan anak-anak untuk segera turun." Ucap Alice kepada maid.
"Baik, Nyonya." Jawabnya.
Maid segera menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua, baru setengah jalan Kinan dan Nathan sudah keluar kamar.
Kebiasaan mereka saat makan hanya diam untuk menghargai rezeki yang sudah di dapatkan.
Hingga tidak berselang lama, acara makan siang mereka telah usai. Kini Nathan dan Kinan sudah duduk di teras belakang dengan segelas jus dingin dan beberapa potong buah yang tertata apik di sebuah mangkuk berukuran sedang.
"Langsung pada intinya, Kak." Ucap Kinan dengan bersedekap dada.
Nathan hanya mencebik karena melihat gaya adiknya tersebut, "Aku ingin mengajak Mika liburan." Jawab Nathan yang membuat kedua alis Kinan naik.
"Ya tinggal bilang saja, Kak. Toh hanya liburan kakak bisa beralasan agar Mika tidak jenuh dengan rutinitasnya." Jelas Kinan
"Bulan madu berkedok liburan!" Ucap Nathan pelan penuh dengan penekanan.
"Bulan madu?" Beo Kinan yang kemudian tertawa.
"Dasar gila!" Sungut Nathan kepada Kinan.
"Aduh perutku, bagaimana bisa bulan madu. Bukanya kalian sudah melakukannya di apartemen, itu sudah sangat terlambat kak." Jawab Kinan yang masih tertawa dengan memegangi perut ratanya.
Suara timpukan terdengar diantara tawa Kinan, Nathan memukul adiknya dengan majalah yang berada di bawah meja.
"Tidak ada kata terlambat untuk itu, cepat beri saran atau lebih baik kamu yang membujuk Mika." Ucap Nathan dengan bersedekap dada sembari menatap Kinan tajam.
__ADS_1
Kinan hanya mengerucutkan bibirnya dengan mengusap kepalanya.
"Ini misi yang berat, jadi aku ingin kakak membelikanku tas keluaran terbaru." Kata Kinan yang masih memasang wajah masam.
"Deal." Jawab Nathan cepat.
Kinan langsung merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponselnya, Nathan hanya diam mengamati apa yang akan di lakukan adiknya tersebut.
Terlihat Kinan menempelkan gawai di telinga kanannya.
"Mikaaa!!" Seru Kinan yang membuat Nathan terjingkat kaget.
"----"
"Apa yang sedang kamu lakukan, Mika?"
"----"
"Begini, aku ingin membicarakan hal yang penting denganmu. Apa kita dapat bertemu hari ini?"
"----"
"Oh, begitu. Jika begitu besok bisa?"
"----"
Nathan menyenggol kaki Kinan karena adiknya tidak bergerak cepat, bibir, dan wajahnya sudah bergerak memberi kode kepada Kinan.
"Oke, besok setelah pulang kuliah ya. See you!"
Kinan langsung mematikan ponselnya begitu mendapatkan jawaban dari Mika.
"Bagaimana? Kenapa kamu tidak memaksa bertemu hari ini." Cecar Nathan dengan tidak sabaran.
"Mika masih belajar, Kak. Besok setelah kami selesai kuliah baru bertemu." Jelas Kinan dengan memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.
Nathan berdecih pelan, "Kelamaan, harusnya kamu sat set dalam melakukan apapun!" Gerutu Nathan dengan sebal.
"Jika begitu kenapa tidak kakak coba sendiri saja!" Teriak Kinan yang kesabarannya sudah habis menghadapi sikap bucin kakaknya.
"Jika aku bisa, aku sudah melakukannya sejak tadi." Jawab Nathan yang sama-sama menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
Kinan berdiri dengan kasar, dia sangat kesal dengan Nathan karena selalu tidak sabaran jika berhubungan dengan Mikayla.
"Dasar bucin gendheng!" Ucap Kinan sembari berjalan menuju kamarnya hingga menyisakan Nathan seorang diri yang duduk di teras belakang.
Sedangkan Nathan hanya mendengus kesal dengan memakan buah yang berada di mangkok, Alice yang melihat kedua anaknya berdebat hanya menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Lelah sekali melihat dua anak yang selalu bertengkar." Ucapnya pelan