Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
APAKAH AKU SUDAH SIAP BERTEMU DENGANNYA?


__ADS_3

Happy Reading


"Ayo, Mika." Ajak Dean kepada gadis yang masih duduk dengan tenang di kursinya.


Mikayla yang mendengar ajakan Dean sedikit kaget, dengan susah payah dia membuka seat belt sehingga Dean membantunya. "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dean kepada Mika karena melihat tangan gadis tersebut gemetar dan dingin.


"Ti-tidak apa-apa kak." Jawab Mikayla berbohong.


"Kenapa tanganmu gemetar dan dingin, apa kamu kelaparan?" Tanya Dean dengan menatap intes kedua mata Mikayla.


Mikayla dengan cepat mengangguk kaku dan menunjukkan deretan gigi putihnya, "Benar, Mika ... Mika sangat  lapar, ayo Kak sebelum Mika pingsan." Jawab Mika yang langsung membuka pintu mobil dan keluar.


Dean yang melihatnya hanya mampu menatap dalam diam, dia juga segera keluar dan keduanya berjalan masuk ke dalam cafe tersebut. Mikayla mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, tidak ada yang berubah dari tata letak mejanya hanya beberapa aksesoris ruangan yang mulai di ganti.


Pelayan yang melihat kedatangan keduanya segera menyambut dengan ramah, "Selamat siang, untuk berapa orang?" Tanya pelayan sopan.


"Untuk dua orang." Jawab Dean singkat.


"Mari ikuti saya," ucap pelayan yang berjalan di depan keduanya.


Mikayla dan Dean mengikuti pelayan dari belakang, mereka mendapatkan meja dari dekat jendela dengan pemandangan jalan raya, "Ini buku menunya." Ucap pelayan yang menyodorkan buku menu kepada keduanya.


"Kami pesan salad, spagetti bolognise, dan jus jeruk masing-masing dua." Kata Dean dengan menyerahkan buku menunya.


Mikayla mengangguk dengan tersenyum, pelayan segera mencatata, dan membawa kembali buku menunya. Sedangkan Mikayla dan Dean kini berbincang ringan.


"Mika, pekan ini akan ada ulang tahun SMA apa kamu mau datang?" Tanya Dean kepada Mika.


"Ulang tahun SMA? Tapi Mika tidak lulus dari sekolah itu," jawab Mikayla tertawa pelan.


"Benar, tapi tidak apa-apa. Kamu berangkat bersamaku dan menjadi pasanganku. Bagaimana?" Ucap Dean kembali.

__ADS_1


"Tapi Kak, Mikayla tidak enak." Kata Mika yang mencoba menolah ajakan Dean.


"Tidak apa-apa, di sana akan ada pembagian beasiswa untuk siswa berprestasi juga aku rasa kamu akan menjadi salah satu tamu undangan karena ayahmu menjadi salah satu donaturnya." Jelas Dean kepada Mikayla.


Mika tampak berfikir keras, dia menggit bibir dalamnya karena dia tahu sekeras apapaun untuk menghindar dari Nathan pasti akan ada moment di mana mereka bertemu. "Tuhan, apa ini sudah waktunya?" Ucap Mika dari dalam hati.


Dean yang melihat keraguan Mikayla, memberanikan diri menggenggam tangan gadis tersebut yang berada di atas meja. Mika memandang kedua mata Dean dengan penuh keraguan dan ketahukat, "Mika percayalah, tidak akan ada apa-apa. Aku akan melindungimu jika sampai ada yang mencelakaimu lagi." Kata Dean yang berfikir jika Mikayla masih teringat tentang Laura.


"Baiklah, kak." Jawab Mika yang pada akhirnya sedikit yakin.


Dean ttersenyum hangat, "Bagaimana jika kita memakai baju couple, mungkin warna yang senada. Bagaimana menurutmu?" Tanya Dean mencoba mengalihkan topik yang kurang nyaman bagi Mika.


"Couple? Nanti teman-teman SMA mengira jika kita pasangan." Jawab Mikayla dengan wajah bingung.


Dean tertawa pelan, "Apa benda coule harus di gunakan oleh pasangan saja, kitakan sahabat. Apa kamu tidak rindu dengan Kinan." Ucap Dean yang menekan perasaan cintanya kepada Mika.


"Kenapa kita tidak mengajak Kinan juga, sepertinya akan seru. Sudah lama sekali tidak bertemu Kinan." Kata Mikayla dengan wajah antusias.


"Kak, tapi bagaimana jika Kinan marah? Kinan tidak tahu jika Mika masih hidup." Ucap Mika yang kini wajahnya murung.


"Kinan tahu jika kamu masih hidup, hanya saja dia menunggumu untuk mengatakannya sendiri." Jawab Dean lembut.


Mikayla menundukkan kepalanya dalam, dia sangat bersalah karena selama ini mengabaikan orang-orang yang menyayanginya termasuk Kinan, Bahkan sudah lima tahun mereka tidak menjalin komunikasi, karena Mikayla berfikir jika Kinan lebih baik tahu bahwa dirinya telah mati.


Dean mengelus punggung tangan Mikayla penuh perasaan, dia mencoba menenangkan perasaan Mikayla yang mungkin sedang sedih memikirkan Kinan. "Tidak apa-apa, lebih baik terlambat untuk jujur daripada tidak pernah sama sekali." Ucap Dean kembali.


Mikayla mengangkat pandangannya, dia mengangguk pelan meskipun dia bingung bagaimana harus bereaksi jika bertemu Kinan terlebih Nathan. Mikayla belum merencanakan pertemuan mereka secepat ini,


"Permisi, pesanannya." Ucap pelayan cafe yang membuat Dean melepaskan tangannya dari tangan Mikayla.


Pelayan dengan cepat dan berhati-hati menyajikan setiap menu yang di pesan oleh Dean, "Jika ada rasa yang kurang, bisa langsung panggil kami." Ucap pelayan lagi.

__ADS_1


Mikayla mengangguk dan tersenyum, "Terima kasih." Jawabnya.


Pelayan yang memberikan service tersebut membalas senyuman Mikayla, "Selamat menikmati." Ucap sang pelayan.


Mikayla dan Dean memulai makan siang yang terlambat, Dean mengunyah makanannya sembari sesekali melihat kearah Mikayla yang tampak menikmati makan siangnya.


"Apakah enak?" Tanya Dean dengan tersenyum.


"Sangat enak, sepertinya koki di sini tidak ganti." Jawab Mikayla dengan tersenyum lebar.


"Koki? Apa sebelumnya kamu pernah datang ke sini?" Tanya Dean dengan heran.


Mikayla yang tersadar lantas menghentikan gerakan tangannya, "Eh makhsud Mika, rasa ini sangat familiar seperti di restoran Amerika. Jadi Mikayla sedikit teringat masakan koki di sana." Jawab Mikayla yang tersenyum kaku.


Dean mengangguk, "Hem, mungkin koki di sini lulusan luar negeri karena bisa memberikan rasa masakan yang sama." Ucap Dean yang kembali meneruskan makan siangnya.


Mikayka menghela nafas lega karena Dean mudah percaya dengan kebohongannya, dengan sedikit tergesa Mika memakan salad sayur dan spagettinya hingga membuat Mikayla tersedak.


"Minumlah." Ucap Dean dengan menyodorkan gelasnya.


Mikayla dengan cepat menerima satu gelas jus jerusk tersebut, "Uhuk ... uhuk ... Mikayla ke toilet dulu kak. Mikayla sudah selesai makannya." Pamit Mikayla kepada Dean.


"Baiklah, kakak akan membayar dan kita pulang." Jawab Dean sebelum Mikayla pergi.


Mikayla segera berlari dengan membawa tasnya, sedangkan Dean melanjutkan makan siangnya sembari menunggu Mikayla keluar dari kamar mandi. Karena setelah ini dia harus kembali ke perusahaan untuk membantu sang ayah.


Di sisi lain, Nathan kini tengah melajukan mobilnya menembus kemacetan di siang hari. Pikirannya tidak tenang dengan pesan dan juga foto yang di kirimkan oleh Zaki, meskipun Nathan percaya jika wanita itu bukanlah Mikayla tetap saja membuat pikiran Nathan tidak tenang.


Hingga tanpa di sadari kini mobil Nathan sudah melaju dengan jauh dari perusahaan dan berhenti di cafe yang sama, di mana Mikayla dan Dean tengah makan siang setelah dari butik. Sejenak Nathan memandang bangunan di depannya, "Kenapa aku bisa sampai di sini, aku tidak ada rencana pergi di cafe ini." Gumam Nathan pelan,


Nathan tampak masih duduk tenang di dalam mobilnya, setiap mengingat moment bersama Mika bagaikan sebuah sayatan di hatinya. Dia menghindari tempat-tempat yang membuat Mikayla terluka salah satunya adalah cafe yang kini berada tepat di depannya.

__ADS_1


__ADS_2