Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
BUNGKUS COKLAT MILIK LANGIT


__ADS_3

Happy Reading


Mikayla berjalan menuju ruangan Langit dengan percaya diri, terserah orang ingin berfikir tentang dirinya bagaimana. Karena sejatinya, yang tau bagaimana usaha kita hanya diri kita sendiri tidak perlu pengakuan dari orang lain.


Mikayla tampak menyapa sekertaris dari Sky yang sudah datang lebih awal, "Pagi, Kak." Sapanya.


"Pagi, Non. Apa anda ingin kopi atau teh hangat?" Jawab sekertaris pria yang sudah tau siapa Mikayla.


"Tidak, kak. terima kasih." Tolak Mikayla halus.


Mikayla dan sekertaris kembali melanjutkan aktivitas masing-masing, Mika segera membuka pintu kantor Langit yang tampak berantakan. Membuat Mika hanya menghela nafas panjang, segera Mika meletakkan kardus yang dia bawa di atas sofa dan melepas sepatunya.


Mika segera membersihkan ruang kerja Langit yang juga menjadi ruang kerjanya. Dia mulai menata dokumen-dokumen yang berserakan, dan juga membuang sampah sisa minuman dan makanan instan. Hal ini membuat Mikayla berkerut dalam, dia terus memunguti banyak bungkus makanan yang selama ini di benci oleh Langit.


"Sejak kapan, Kak Langit suka makanan seperti ini?" Gumam Mikayla pelan.


Mikayla mengumpulkan banyak bungkus coklat, permen, dan makanan instan lainnya. Mikayla tahu jika Langit sangat menjaga apapun yang dia konsumsi tetapi kini bertolak belakang.


Mikayla berjalan keluar dari ruangannya menuju meja sekertaris, "Kak, dimana ruang penyimpanan alat bersihnya?" Tanya Mikayla sopan.


"Itu di ruangan paling ujung dan sebelahnya pantry." Jawab sang sekertaris.


"Makasih," kata Mikayla yang kemudian berjalan menuju ruang penyimpanan alat kebersihan.


Sekertaris Sky yang melihat Mikayla bertelanjang kaki hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Kenapa anak-anak orang kaya sangat aneh." Ucapnya pelan.


Mikayla kembali membawa banyak peralatan kebersihan, mulai dari sapu, kain pel, lap meja, dan juga pembersih kaca. Sekertaris Sky yang melihat Mikayla masuk ke dalam ruangan Langit dengan alat permbersihan tersebut segera berdiri dengan cepat.


"Nona!" Panggilnya dengan suara keras.


Mikayla yang akan masuk menoleh ke belakang, "Ada apa, kak?" Tanyanya.


"Itu semua untuk apa?" Tanya sang sekertaris kembali.

__ADS_1


"Membersihkan ruangan. Ruangan Kak Langit sangat kotor, jadi Mika bersihkan." Jawab Mikayla polos dan jujur.


"Oh My God! Non, jangan membersihakan ruangan Pak Langit nanti dia marah, hentikan dan kembalikan ke tempat semula." Cegah sekertaris yang kini berjalan dengan cepat kearah Mika.


Mika tentu saja tidak ingin apa yang dia kerjakan menjadi sia-sia, sungguh konyol siapa yang mau bekerja di ruangan kotor seperti ruangan Langit. "Tidak akan, kakak kembali saja bekerja. Mika tidak bisa bekerja di ruangan yang kotor." Ucap Mika dengan mempertahankan gagang sapu dan pelnya.


"Jangan, Nona. Pak Langit akan sangat marah nanti, OB saja tidak di perkenankan masuk kedalam ruangannya," Kata sekertaris yang tengah mencoba merebut sapu dan pel dari tangan Mika.


"Maka dari itu, karena Mika bukan OB makanya biarkan Mika bersihkan!" Ucap Mika dengan menarik dengan kuat hingga membuat sang sekertaris maju beberapa langkah kedepan bersamaan dengan Mika yang terjerembab di pantai.


"Ma-maaf, Nona." Ucapnya dengan ketakutan.


Mika menatap dengan kesal kearah sekertaris pamannya, "Sudah pergilah Kak," usir Mika lagi.


"Tapi, Non." Sang sekertaris tampak ragu untuk tidak mencegah Mikayla.


Akhinya Mikayla memenangkan pertarungan sengit pagi ini, dia menyapu, mengepel, bahkan mengelap semua perabitan di ruangan Langit. Hingga tidak terasa sudah tiga jam lamanya dia membersihkan ruangan minimalis itu, "Kenapa Kak Langit belum datang." Ucapnya dengan melihat jam dinding.


Hingga dia sedikit mengangkat kepalanya karena mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Langit yang kini hanya berdiri di depan pintu ruang kerjanya.


"Kenapa baru datang, Kak? Ini sudah sangat siang." Ucap Mika yang kini sudah duduk dengan benar.


"Siapa yang membersihkan ruanganku?" Tanya Langit dengan suara dingin.


"Aku." Jawab Mika dengan menatap wajah Langit polos.


Langit menoleh menatap kesal kearah saudaranya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Kemana bungkus-bungkus coklatnya?" Tanya Langit yang masih dingin.


"Tentu saja Mika buang," Kata Mikayla yang menatap Langit dengan heran.


"Apa? Di mana kamu membuangnya!" Sentak Langit membuat Mikayla kaget.


"Mungkin masih di depan pintu ruang penyimpanan alat bersih jika belum di ambil oleh OB." Jawab Mikayla sedikit takut kepada Langit saat ini.

__ADS_1


langit segera berlari menuju tempat penyimpanan alat kebersihkan, berutnung sekantong plastik sampah masih berada di sana membuat Langit segera membuka plastik sampah tersebut. Dia tidak memperdulikan jas mahalnya yang kotor, dia mengambil hampir semua bungkus coklat yang dia miliki di dalam ruangannya.


Sekertaris Sky dan Sky yang memandangnya dari kejauhan hanya menatapnya sedih, melihat mata Langit yang memerah menahan tangis dengan membawa masuk bungkus coklat di tangannya ke dalam pantri untuk di cuci di dalam wastafel.


Mikayla berdiri di ambang pintu dengan menyaksikan semua yang di lakukan Langit, Sky menepuk pundak keponakannya pelan "Lain kali lebih berhati-hati Mika." Ucapnya.


Mikayla hanya mengangguk, sedangkan Sky meneruskan langkahnya menuju ruang kerja. Langit langsung masuk dan duduk di kursinya, dia tidak mengatakan apapun lagi kepada Mika padahal Langit sudah siap untuk meledakkan amarahnya.


"Kakak marah?" Tanya Mika yang kini duduk di sofa.


Langit tidak menjawab ucapan Mikayla, karena hampir gila rasanya Langit jika sampai kehilangan semua bungkus-bungkus coklat tersebut.


"Kak, maaf." Ucap Mika lagi.


"Lain kali jangan menyentuh barangku." Jawab Langit tanpa melihat kearah Mikayla.


"Iya, Kak. Lagipula itu hanya sampah makanya Mikayla bersihkan." Kata Mika yang membuat Langit kembali tersulut emosi.


"Itu mungkin hanya sampah di matamu dan mata orang lain, tetapi itu sampah yang berharga untukku. Bahkan itu jauh lebih berharga dibandingkan nyawaku Mika, camkan itu!"


Setelah mengatakan semua itu, Langit berjalan keluar dengan menutup pintu secara keras. Mikayla yang tidak tahu apa makhsud dari ucapan kakaknya hanya tercengang melihat reaksinya.


Waktu berjalan begitu cepat, Langit tidak kembali keruang kerjanya, Mika yang menghandel semua pekerjaan langit. Lelah? tentu saja sangat lelah, bahkan Mika makan siang terlambat.


"Ayo, Paman antar pulang." Ajak Sky kepada Mika.


"Tidak, Paman. Mika ingin pulang sendiri naik bis. Sudah lama banget rasanya tidak bebas dari Kak Luis," tolak Mikayla dengan tersenyum kearah Sky.


"Kamu yakin?" Tanya Sky yang masih ragu.


"Tentu saja, Mika tinggal berjalan di halte dekat kantor." Ucapnya.


Sky mengcak rambut Mikayla dengan gemas, dia jadi teringat istrinya dulu sebelum menikah dengannya juga sering pulang pergi naik bis umum. "Baiklah, jika begitu hati-hati, Paman pulang dulu." Kata Sky yang di angguki Mikayla.

__ADS_1


__ADS_2