
Happy Reading
Setelah semua berada di dalam mobil, Rinda gegas melajukan mobilnya ke Rumah Sakit Sejahtera. Sesampainya di sana, Mika segera ditangani oleh dokter kandungannya yang dengan cekatan meminta para suster jaga menyiapkan ruang operasi untuk melaksanakan operasi sesar bagi Mika.
Rinda meminta Kristi untuk memberitahu Rio dan Farhan yang tengah menjaga Nathan di ruang ICU, bahwa saat itu Mika tengah berjuang mempertaruhkan nyawa di meja operasi untuk melahirkan bayinya.
Kristi menawarkan diri untuk bergantian menjaga Nathan apabila Rio dan Farhan ingin mengetahui keadaan Mika dan juga bayinya.
"Farhan, kamu duluan saja ke ruang operasi poli bersalin, biar aku menemani Kristi di sini sampai kau kembali lagi ke mari," perintah Rio.
"Oke, Yo. Aku mendatangi Rinda dulu, ya. Sekalian ijin ke kantin untuk beli sarapan, kamu mau pergi ke kantin sendiri atau mau nitip ke aku, Yo?" ujar Farhan.
"Aku nanti saja, Han. Kau makan pagilah terlebih dahulu," jawab Rio.
Farhan pun berpamitan pada Kristi dan berlalu menuju ke kantin terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi ke poli bersalin untuk mendatangi Rinda yang tengah menunggui Mika selesai operasi sesar. Farhan yang sedang berjalan menghampiri Rinda pun gegas berlari mendatangi saat dia melihat ada seorang perawat keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan saudara kami Ibu Mika, Sus? Apakah beliau sudah melahirkan dan bagaimana dengan bayinya? Mereka berdua selamat, 'kan?" Farhan memberondong suster tersebut dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Sang perawat jaga yang diberondong dengan pertanyaan oleh Farhan hanya tersenyum tipis, dia membiarkan Farhan tenang terlebih dahulu baru menjawab pertanyaan pemuda tampan tersebut.
"Alhamdulillah, Ibu Mika sudah melahirkan seorang putra, Pak, Bu. Mereka berdua dalam keadaan baik- baik saja, saat ini kami tengah mengobservasi beliau sebentar paska operasi apakah ada gangguan atau tidak dengan jantung beliau mengingat beliau memiliki kelainan bawaan pada jantung sejak masih kecil. Nanti setelah kami yakin tidak ada apa- apa dengan beliau, kami akan memindahkan beliau ke kamar rawat biasa," jelas perawat tersebut panjang lebar.
"Syukurlah, Sus. Mudah- mudahan tidak terjadi apa- apa pada Mika dan bayinya," ucap Farhan, pemuda itu lalu meletakkan bobot tubuhnya di kursi yang ada di belakangnya kemudian menggumamkan sesuatu, "andai saja Kak Nathan sadar, dia pasti akan merasa sangat bahagia dengan berita kelahiran putranya."
"Ya, Han dan Mika ... Mika tidak akan pernah merasakan penderitaan seperti ini selamanya. Kasihan dia, Han. Oh, ya apakah ada berita dari dokter yang merawat Kak Nathan? Rasanya aku tidak tega melihat Kak Nathan dan Mika seperti ini lebih lama lagi, Han," lirih Rinda
Farhan menghela napas dalam dan berat, dia dan Rio sendiri sebenarnya merasakan hal yang sama dengan Rinda dan Kristi. Mereka tidak tega jika melihat sahabat mereka terus menerus menderita seperti ini.
__ADS_1
Hampir setengah hari mereka berdua menjaga Mika di ruang perawatan paska operasi untuk observasi lebih lanjut, ketika telepon genggam Farhan berbunyi. Pemuda itu mengambil telepon selularnya dari dalam saku jaketnya, melirik sebentar untuk melihat siapa yang meneleponnya.
"Han, kamu masih ada di ruang bersalin dengan Rindakah? Aku dan Kristi mau ke sana melihat Mika," ucap lawan bicara Farhan yang ternyata adalah Rio begitu panggilannya diterima oleh Farhan.
"Ya, Yo. Aku masih di depan ruang operasi bersama dengan Rinda. Kau dan Kristi mau ke sinikah? Oke, aku tunggu, setelah itu aku dan Rinda akan kembali ke tempat Kak Nathan. Oke, Yo," jawab Farhan mengakhiri panggilan suaranya.
"Rio dan Kristi mau gantian ke sini, ya, Han?" Rinda bertanya
Farhan hanya mengangguk dan tak lama setelahnya Rio dan Kristi sampai di tempat dan bersamaan dengan itu seorang suster jaga mengabarkan bahwa Mika dan bayinya akan dipindahkan ke kamar.
Tak lama berselang, keluarlah sebuah brankar berisi Mika dan buah hatinya didorong keluar dari ruang operasi menuju ke kamar rawat. Keempat temannya yang melihat pun otomatis mengikuti brankar tersebut.
Malam harinya, Rio dan Farhan mendapat berita jika Nathan akan dipindahkan ke kamar rawat bersama dengan Mika dan putra mereka malam itu juga dengan harapan Nathan akan segera sadar dari komanya.
"Semoga saja cara ini bisa membawa kebaikkan untuk keluarga mereka, ya," harap Kristi yang diaminkan oleh teman temannya yang lain.
Sementara itu, di tempat lain ...
"Sepertinya aku harus ke rumah sakit guna memastikan keadaan Mika. Jika dia mati itu lebih baik, tetapi jika hidup maka harus segera mati!" batin Laura sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Perjalanan menuju rumah sakit dimana Mika dirawat terbilang sangat lancar. Setelah memarkirkan kendaraannya, Laura bergegas menuju lobi dan mencari informasi letak kamar Mika. Setelah dapat segera dia melangkah menuju ke arah tersebut.
Laura tidak mengalami kesulitan dalam mencari ruang rawat inap ibu melahirkan. Namun, bola mata Laura seketika membola kala mendapati dua sosok aparat yang berdiri di depan pintu kamar Mika. Laura mencoba mengalihkan perhatian dengan sedikit penyamaran. Rambutnya dimasukan dalam topi yang dia kenakan.
Laura sempat mendengar suara Mika menjawab pertanyaan pihak berwajib. Suara yang sangat dia hapal itu milik Mika. Tapak tangan Laura mengepal sempurna hingga buku jarinya memutih. Kemudian dia segera berbalik badan. Namun, saat hendak berbalik tubuhnya menabrak seorang suster yang mbawa beberapa file dan akibat tabrakan itu identitasnya terbongkar.
"Hai, Laura! Jangan lari, berhenti!" teriak suara bariton pihak berwajib.
__ADS_1
Laura tidak mengindahkan perintah pihak berwajib yang meneriaki dirinya. Wanita itu masih terus berlari menuju tempat parkir. Namun, pihak berwajib sudah mengepung wilayah tersebut. Maka tidak ada pilihan lain bagi Laura untuk kembali ke tempat parkir.
Sementara di dalam kamar Mika, tampak dua orang petugas segera berpamitan untuk membantu rekannya dalam menangkap Laura.
"Maaf, kami harus segera mengejar tersangka. Rupanya dia sempat datang dan mendengar sedikit percakapan kita."
"Siapa?"
"Laura, pasti dialah, Mika!" jawab Luis dingin.
Mika terdiam, wanita itu menjadi bergidik saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu hingga dia harus sesar. Namun, Mika berusaha untuk melupakan semua yang pernah terjadi. Hanya satu yang ada dalam hatinya, dia harus segera mengungkap kebenaran akan keadaan dirinya.
"Kami permisi dulu, Tuan Luis. Semoga adik Anda segera sehat dan dapat beraktifitas!" kata petugas tersebut.
"Terima kasih, Bapak berdua. Mari saya antar!" ajak Luis.
Kemudian mereka pun beranjak meninggalkan ruangan Mika. Luis ikut mengejar Laura. Sementara Laura masih terus berlari tanpa menoleh kebelakang lagi. Wanita itu berlari tanpa memedulikan jalan, Laura langsung saja menyeberang karena dia merasa panik ketika mendengar suara letusan senjata api dari pihak berwajib.
Tiba-tiba sebuah truk bermuatan pasir melaju dengan kencang dari arah kanan Laura. Kecepatannya yang sangat tinggi menjadi susah dikendalikan, apalagi kebetulan jalan itu sedikit menurun sehingga menambah laju truk itu. Berulang kali suara klakson sudah dibunyikan oleh sopir tersebut. Namun, Laura malah menghadang truk itu.
"Hai, minggir! Rem kami blong," teriak sopir tersebut.
Laura tidak memedulikan semua teriakan orang yang ada disekitarnya. Truk itu terus melaju di jalanan menurun dan terjadilah sebuah tabrakan. Tubuh Laura terhempas sejauh dua meter. Darah keluar dari hidung dan telinganya. Laura meninggal di tempat.
Sementara di kamar rawat Mika dan Nathan, keduanya saling berpandangan. Ada rasa yang lega terpancar dari kedua pasang mata. Nathan tersenyum menatap sendu pada istrinya tetapi Mika justru manatap jengah dengan melihat cara pandang suaminya. Disaat keduanya masih saling tatap, tiba-tiba ada suara yang mengucapkan salam. Secara serentak kepala sepasang suami istri itu tertuju ke arah pintu masuk yang kebetulan tidak tertutup rapat.
"Dean!" ucap Nathan dan Mika secara bersamaan.
__ADS_1
"Hai!" sapa Dean kikuk.