
Happy Reading
Mikayla bersandar di pintu kamar mandi dengan meremat dadanya, terasa sangat nyeri hingga menghirup oksigen cepat tapi hanya mampu sedikit.
Hatinya begitu sakit mendengar penuturan Nathan, menjajinkan status kepada wanita lain adalah hal yang tidak pernah Mikayla bayangkan. Air mata yang luruh semakin deras “Apa mencintai harus sesakit ini?” Ucapnya dalam hati.
Sedangkan Nathan berjalan gontai menuju sofa, dia menjatuhkan bobot tubuhnya seakan tidak bernyawa. Helaan nafas kasar dihembuskan oleh Nathan dengan menundukkan kepala, “Kenapa jadi rumit seperti ini.” Runtuknya dalam hati.
Mikayla membasuh wajahnya agar terlihat segar, dia menatap dirinya dalam pantulan cermin dengan pandangan sayu. Namun, dengan cepat dia merubah raut wajahnya seakan semua baik-baik saja.
Pintu kamar mandi terbuka, Mika keluar tetapi ekor matanya menangkan Nathan yang duduk di sofa dengan mengenakan pakaian yang sama. Sedangkan kedua wajahnya di tutup dengan telapak tangannya yang besar.
“Kakak tidak mau ke taman denganku?” Tanya Mika yang membuat Nathan mengangkat kepalanya.
“Ekhm, maaf. Aku akan segera ganti baju.” Jawab Nathan yang segera bangkit dari duduknya.
Mikayla hanya diam tidak menjawab, Nathan segera mengambil pakaiannya, dan lekas masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Mika duduk dengan merias dirinya, wajahnya terlihat masih pucat tetapi tertutup oleh polesan make up.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nathan keluar dengan pakaian baru. Dia menatap Mika yang tengah mengucir rambut panjangnya tinggi-tinggi, tampak jelas leher jenjang putih dengan dagu yang cukup runcing.
“Kak, aku akan memotong buah sebentar.” Ucap Mika dengan tersenyum manis.
Nathan mengangguk kaku, hatinya sangat gamang saat ini. Perasaannya tidak menentu setelah bertemu Mikayla hari ini padahal dua hari sebelumnya dia mampu menghilangkan bayangan Mikayla.
Mika di dapur dengan sekuat hatinya bersikap baik-baik saja, dia mulai mencuci, dan memotong buah menjadi potongan-potongan kecil agar dapat dimakan dalam satu kali suap. Menatanya di dalam box berwarna ungu yang dia beli saat berbelanja tadi, juga minuman kaleng dingin, serta air mineral untuknya.
Dia menata dengan rapi di dalam sebuah box yang tahan mempertahankan suhu dingin maupun suhu panas, dengan wajah berseri-seri Mikayla menutup box tersebut, dan berjalan untuk memanggil Nathan.
“Kak” Panggil Mika halus.
Kening Mikayla berkerut saat melihat wajah Nathan yang tampak panik, dia bergegas mengambil kunci mobil dengan terburu-buru. Mikayla yang tidak paham situasi menghadang di depan pintu kamar.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Mika heran.
“Minggir, Mika. Laura masuk rumah sakit.” Jawab Nathan cepat.
“Lalu kenapa? Memang Laura tidak memiliki keluarga, kenapa harus kakak yang ke sana. Jika aku tidak mengizinkan bagaimana?” Cecar Mikayla dengan wajah yang mulai mengeras.
Nathan meraup wajahnya kasar, “Mika, orang tua Laura itu sibuk dia hanya tinggal sendiri dengan pembantunya. Kamu mengizinkan atau tidak, aku akan tetap pergi.” Jelas Nathan dengan cepat.
“Hubungi saja orang tuanya, Laura masih tanggung jawab orang tuanya. Berbeda denganku, aku sudah tanggung jawab kakak meskipun kakak belum mampu secara penuh. Jangan gila kak, Laura seolah-olah jadi wanita yang harus kakak prioritaskan daripada aku yang statusnya lebih tinggi darinya.” Ucap Mikayla dengan tenang tetapi penuh emosi.
Nathan hanya terdiam, dia tertampar dengan ucapan Mikayla. “Jangan egois, Mika.” Kata Nathan yang membuat Mika tersenyum sinis.
“Egois? Siapa yang lebih egois, aku atau kalian? Apa waktu dua hari kalian habiskan bersama kurang, mana ponselmu biar aku saja yang telfonkan orang tuanya.” Mikayla merebut ponsel Nathan dengan cepat.
“Aku tidak memiliki nomor orang tuanya.” Jawab Nathan pelan.
Gerakan jemari Mikayla terhenti dia mendongak menatap wajah suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Selama kalian pacaran belum pernah bertemu orang tua satu sama lain?” Tanya Mikayla penuh selidik.
“Bilang saja pada Kak Laura untuk menelfon orang tuanya saja,” Ucap Mikalya memberikan ponsel Nathan kembali.
Nathan menerima dengan gelagapan karena Mika bukan kasar melainkan tegas, Nathan mencoba menghubungi nomor Laura kembali tetapi nihil. Beberapa panggilan dia coba hingga akhirnya di angkat.
“Apa! Aku akan segera kesana!” Seru Nathan.
“Jangan pergi, kak.” Ucap Mikayla pelan.
Nathan tidak menggubris ucapan Mika, dia mendorong tubuh Mika hingga gadis itu mundur beberapa langkah dari tempatnya.
“Jangan pergi atau kakak akan menyesal seumur hidup!” Seru Mikayla dengan mata berkaca-kaca.
Nathan menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu apartemen, “Ingatlah Mikayla, kita menikah karena perjodohan. Jangan pernah melarangku untuk menemui kekasihku, dia sedang sakit dan membutuhkanku!” Jawab Nathan yang langsung membuka dan keluar dari unit apartemennya cepat.
__ADS_1
“Tapi aku juga sakit, Kak.” Ucap Mikayla pelan hingga luruh di atas lantai dengan lelehan air mata menatap punggung suaminya yang sudah hilang di balik pintu apartemen.
Nathan berlari dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir di basement, masuk, dan menyalakan mesin mobil. Dengan cepat mobil itu melesat meninggalkan apartemen.
“Halo, Susi. Aku baru di jalan.” Nathan menjawab panggilan Susi teman kelas dari Laura.
“Nath, Laura sudah membaik. Saat ini kami berada di taman baru tidak jauh dari apartemenmu,” Jawab Susi di sebrang telfon.
Nathan mengerem mobilnya dengan mendadak, jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya memburu dengan cepat. “Kalian bercanda.” Ucapnya berubah menjadi nada dingin.
“Ma-maaf, Nath. Tapi Laura tidak mau dirawat, dia sudah diberi obat oleh dokter.” Jawab Susi takut.
“Hah, aku akan ke sana.” Ucap Nathan yang langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja.
Nathan memutar mobilnya berlawanan arah, karena Nathan tahu taman yang baru saja di buka dari arah apartemen belok ke kanan sedangkan rumah sakit belok ke kiri. Dia menjalankan mobilnya dengan raut wajah dingin tak terbaca.
“Bagaimana, apa Nathan akan datang?” Tanya Laura dengan cepat.
Susi menghela nafasnya panjang, “Iya, dia sedang berada di jalan saat ini.” Jawabnya dengan menyerahkan ponsel Laura.
Laura tersenyum dengan lebar namun licik dimata Susi, “Aku harap kamu segera sadar Laura.” Doanya dalam hati.
“Jika begitu aku pulang saat Nathan sampai, ya.” Ucap Susi kembali.
“Oke, aku akan menghubungimu lagi.” Jawab Laura dengan memandang remeh kearah Susi.
Sedangkan di apartemen, Mikayla terisak seorang diri. Dia menekuk kedua kaki dan menyembunyikan wajahnya, tubuhnya terguncang dengan hebat. Hingga ponselnya berbunyi, membuat Mika tergerak meraih ponsel yang tidak jauh dari jangkauannya.
Tampak sebuah foto yang membuat Mikayla semakin sakit hati dan marah secara bersamaan, sifat Mommy Bintang lebih dominan dalam dirinya.
“Baiklah, aku ikuti permainanmu akan aku ciptakan neraka paling menyiksa untuk kalian berdua.” Ucap Mikayla lirih tapi tatapannya berkilat penuh amarah.
__ADS_1