
Happy Reading πΉπΉ
Seorang gadis tengah berlari dengan terburu-buru, meskipun sudah memakai kacamata tetapi dia tetap menabrak orang yang berjalan kearahnya yang juga tengah memainkan gawainya.
Suara ponsel dan tas berjatuhan di atas tanah. Kacamata gadis itu terjatuh dibarengi dengan cepol rambutnya lepas sehingga rambut panjang tergerai.
Dean yang akan marah karena dia sedang terburu-buru mengurungkan niat nya, sepasang bola mata bening yang sudah menganak sungai dengan memelas menatap kearahnya.
Bulu mata lentik, garis alis yang tegas, hidung cukup mancung, tapi berbeda dengan tubuh gadis berparas ayu itu berbanding terbalik dengan wajahnya.
"Ma-maaf Dean." Ucapnya terbata takut karena Dean terkenal tidak segan bersikap kasar dengan orang yang tidak dia kenal.
Tidak ada jawaban dari bibir Dean, gadis di depannya bingung. Hingga tangannya terayun di depan Dean agar Dean segera sadar.
"Dean." Ucapnya lembut dengan menyentuh pundak Dean dengan telunjuk tangannya.
"O-oh, ekhm ... Apa kamu tidak punya mata, huh! Sudah pakai kacamata masih saja menabrak orang, jika sampai aku lecet akan aku laporkan kamu ke polisi." Sentak Dean dengan kedua matanya yang melotot.
Mendengar suara Dean yang menggelegar membuat gadis itu meringsut mundur sedikit karena takut, Dean yang sadar dengan tindakannya segera berdehem.
"Lain kali hati-hati, maaf aku juga sedang terburu-buru. Ini kacamatamu, agak retak ... Tulis saja nomor ponselmu aku akan menggantinya." Ucap Dean dengan menyodorkan kacamata serta ponselnya.
Dengan takut-takut gadis itu hanya mengambil kacamatanya saja, "Terima kasih, Dean. Tidak perlu akan aku ganti sendiri. Sebelumnya aku minta maaf karena aku dikejar waktu." Ucapnya.
__ADS_1
Keduanya lantas berdiri, saat gadis itu akan pergi dengan reflek Dean mencekal tangan besar itu.
"Darimana kamu tahu namaku? Apa kita pernah bertemu?" Cecar Dean dengan cepat.
Gadis itu menundukkan kepalanya dalam, dia mengangguk.
"Dulu kita satu sekolahan, Dean. Namaku Rara." Jawabnya.
"Rara?" Beo Dean.
"Rara Prasetyo." Jawabnya lagi.
Dean terpaku, otaknya berfikir apakah dia memiliki teman bernama Rara.
"Rara ... Prasetyo." Gumam Dean.
Deg!
Jantung Dean berdetak dengan cepat, kedua matanya berkaca-kaca karena dia ingat siapa Rara.
Dean yang baru sadar dari lamunannya bingung mencari keberadaan Rara yang sudah hilang entah dimana, dengan cepat Dean menghubungi sekertaris kepercayaannya.
Ponsel berbunyi dua kali langsung diangkat oleh seseorang di sebrang sana.
__ADS_1
"Cari semua informasi tentang Rara Prasetyo dari lulus sekolah hingga detik ini, cepat!" Ucap Dean yang selalu tidak sabaran seperti biasanya.
"Baik, Tuan. Akan saya usahakan." Jawab sang sekertaris di sebrang.
Dean segera menutup panggilannya, dia mengguyar rambut dengan kasar.
"Rara." Bibir Dean terus bergumam nama Rara.
Di sisi lain, Rara kini dengan nafas senin-kamis sudah berdiri di sebuah rumah mewah meski tidak semewah mansion yang sampai saat ini dia tinggali bersama sang suami. Dengan tangan gemetar Rara menekan bel rumah tersebut.
Hingga pintu perlahan terbuka yang langsung membuat Rara menundukkan kepalanya dalam.
"Ma-maaf terlambat, Ma." Ucapnya.
"Sudah berulang kali jangan panggil aku Mama, sungguh sial sekali anakku menikah denganmu. Cepat masuk dan bersihkan semuanya, aku harus pergi arisan. Saat aku pulang kamu harus sudah pergi dengan rumah yang bersih." Ucap seorang wanita paruh baya.
Rara dengan cepat mengangguk, ibu mertuanya berjalan keluar dengan sengaja menabrak pundak Rara hingga gadis itu menggeser sedikit dari posisinya.
...πΉπΉ...
HALO SEMUANYA MAAF UNTUK NOVEL LANGIT BELUM LANJUT KARENA AUTOR BANYAK KESIBUKAN DI REAL LIFE YANG TIDAK BISA TERHINDARKAN.
BONCAP UNTUK DEAN KARENA DEAN AKAN IKUT EVENT, MOHON DOA DAN DUKUNGANNYA TEMAN-TEMAN ππ
__ADS_1