Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
APA KAKAK INGIN PUNYA ANAK DENGANKU?


__ADS_3

Happy Reading


Nathan melajukan mobilnya menuju apartemen, dia mengendarai dengan cukup pelan sembari berfikir ingin membawakan makanan apa untuk Mikayla. Tetapi, di dalam benaknya hanya satu yaitu Mikayla begitu gemar memakan gado-gado, salad, dan beberapa sayuran yang tidak berbumbu lainnya.


"Apa aku masakkan saja?" Ucap Nathan pelan.


Mobil yang dikendarai Nathan berbelok ke sebuah swalayan yang jaraknya tidak jauh dari apartemen, segera Nathan keluar, dan segera berjalan masuk ke dalam swalayan.


Nathan mengambil sebuah troly berukuran sedang, dengan mengenakan sragam sekolah dia segera menyusuri setiap rak yang berada di dalam swalayan. Mengambil semua yang sekiranya enak dan menarik di matanya, dari berbagai jenis sayuran, buah-buahan, ikan, daging, tidak lupa coklat, snack, dan juga berbagai minuman.


Hingga tanpa terasa jika troly yang di bawa Nathan telah penuh seperti anakan Gunung Krakatau, "Masih kurang tidak ya, apa aku memborong satu swalayan saja." Ucapnya pelan.


"Astaga! Anak muda, jika kamu memborong isi swalayan ini kami tidak bisa berbelanja." Semprot seorang ibu-ibu yang menepuk pundak Nathan dari belakang dengan keras.


Nathan terjingkat kaget karenanya, "Hanya bercanda." Ucap Nathan datar.


"Kamu belanja bulanan di suruh Ibumu, kenapa memakai troly yang kecil. Bahkan kamu berjalan tidak terlihat," kata ibu-ibu tersebut melihat belanjaan Nathan.


Nathan hanya mampu tersenyum malu dengan menggaruk pelipisnya pelan, "Aku berbelanja untuk istriku karena dia sedang sakit." Jawab Nathan yang membuat beberapa ibu-ibu berada di sekitarnya kaget.


"Kamu sudah menikah? Astaga, seharusnya kalian tidak berbuat nekat." Ucap ibu-ibu tersebut.


Kening Nathan berkerut dalam karena tidak paham makhsud perkataan itu, hingga seorang ibu-ibu menyodorkan satu kotak susu bergambar seorang wanita tengah hamil. Natha menerimanya dengan wajah bingung.


"Kamu lupa membelikan susu untuk istrimu, Nak." Timpal seorang ibu lainnya.


"Jangan lupa beli vitamin dan juga periksa ke dokter kandungan, ingat jangan membuat istrimu susah." Ucap ibu-ibu yang menepuk Nathan.


Nathan baru paham apa yang di makhsud oleh ibu-ibu tersebut, "Terima kasih," Jawab Nathan yang langsung menaruh susu ibu hamil ke dalam  troly dan berjalan menjauh dari beberapa ibu-ibu tersebut.


Sesampainya di kasir, Nathan segera mengeluarkkan semua barang belanjaannya. Menunggu kurang lebih sepuluh menit, barulah Nathan membayar barang belanjaan empat kantong platik besar.


Dengan susah payah, Nathan membawa semua belanjaannya menuju mobil. Dia menaruh di bagian kursi penumpang dengan posisi berjejer. Segera Nathan menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankan perlahan meninggalkan area swalayan menuju apartemen.


Hanya tujuh menit, kini Nathan telah menghentikan mobilnya di basement. Segera Nathan berjalan menuju lift dengan empat kantong belanjaannya yang masing-masing tangan membawa dua kantong.


Mikayla yang tengah menonton televisi segera mengalihkan atensinya karena mendengar seseorang menekan pin pintu apartemen, perlahan pintu terbuka terlihat suaminya masuk dengan menyeset sesuatu yang membuat Mika penasaran.

__ADS_1


"Kakak bawa apa?" Tanya Mika yang mengagetkan Nathan.


"Astaga! kamu membuatku kaget," kata Nathan dengan memegang dadanya yang beretak lebih cepat.


Mikayla hanya menunjukkan senyum pepsodentnya, "Maaf, sini Mika bantu!" Ucap Mikayla membawa dua kantong belanjaan yang cukup berat.


"Wah, kakak belanja seberapa banyak. Ini sangat berat sekali," kata Mikayla dengan menaruh kepalanya di tumpukan belanjaan itu.


"Kamu sudah makan?" Nathan tidak menjawab melainkan melempar pertanyaan.


"Sudah." Jawab Mikayla jujur.


"Tadi pagi dengan nasi uduk?" Tanya Nathan kembali.


"Bukan, dengan telur." Jawab Mikayla lagi.


Alis Nathan naik sebelah, "Telurnya tadi pagi hanya sisa dua, satu pecah dan aku buang di wastafel. Satunnya ...."


"Satunya Mikayla makan," potong Mika dengan tersenyum.


Nathan tertegun mendengar ucapan Mikayla, "A-apa katamu?" Tanya Nathan untuk memastikan pendengarannya.


Nathan berjalan mendekat wastafel memastikan, ternyata benar. Bahkan tampak sangat bersih tidak bersisa. Ada perasaan bahagia yang membuncah dan meletup-letup di dalam hatinya.


"Baiklah, aku akan memasakkanmu lagi." Ucap Nathan dengan semangat.


Mendengar itu Mikayla kelabakan, "Ti-tidak perlu kak, biar Mika saja yang memasak. Kakak istirahat saja," Tolak Mikayla dengan cepat.


"Tenang ... tenang ... kali ini tidak akan gosong lagi, aku sudah belajar memasak tadi pagi." Kata Nathan yang kini berjalan dengan mendorong Mika menuju sofa televisi.


"Be-belajar." Beo Mika terbata.


"Iya tadi pagi bukankah aku sudah belajar memasak telur, kini aku akan memasakan yang lainnya. Mungkin aku memiliki bakat terpendam sebagai seorang koki." Nathan berkata dengan mangut-mangut tersenyum.


Mikayla hanya dapat pasrah dan menatap punggung Nathan dengan harap-harap cemas, bagaimana tidak cemas jika menggoreng telur sudah gosong dan rasanya manis, benar Nathan yang tidak pernah memasak tidak bisa membedakan antara gula dan garam.


Dia hanya mampu melihat Nathan yang tengah semangat mengeluarkan semua barang belanjaannya, bahkan Mikayla kaget karena barang-barang itu sangatlah banyak, hingga tatapannya terkunci pada sesuatu yang membuatnya langsung mengalihkan pandangannya kearah televisi.

__ADS_1


Mikayla benar-benar membiarkan Nathan memasak di dapurnya, meskipun telinganya sesekali mendengarkan teriakan maupun umpatan dari Nathan. Mika yang selalu ingin mendekat selalu di larang oleh Nathan, "Duduk saja! Percaya padaku, semua baik-baik saja." Ucap Nathan cepat.


Tentu saja Mikayla hanya menurut, sedangkan Nathan sesekali menggerutu karena dia sedang memasak steik, dan salad hasil belajar dari youtube.


"Mana merica dan mana ketumbar, astaga! Kenapa bentunya sama," Ucap Nathan frustasi.


Nathan menoleh ke belakang, ingin bertanya kepada Mika tetapi dia urungkan. "Tidak ... dia harus terkejut dengan hasil masakanku." Ucap Nathan kembali.


Benar saja, Mikayla begitu terkejut dengan hasil masakan Nathan. Terlihat dua steik yang berwarna cukup gelap dengan salad yang di potong kecil dan tipis seperti isian bakwan.


Mikayla menatap sejenak pria yang tengah tersenyum dengan bangga, "Bagaimana, tidak seburuk telur tadi pagikan?" Tanya Nathan.


Mikayla hanya mengangguk saja, Nathan segera menarik satu kursi untuk di duduki oleh Mikayla. Dia tampak tertegun sejenak karena Nathan yang mulai berubah sejak tadi pagi, awalnya Mika berfikir mungkin karena di hanya sakit sehingga Nathan perhatiian kepadanya.


"Cepat duduk dan kita mulai makan," Ucap Nathan lagi.


Mikayla tersenyum hangat, dia dengan senang hati duduk di kursi. Keduanya kini duduk saling berhadapan, Nathan bertopang dagu dengan kedua mata yang berbinar menghadap Mikayla.


"Cobalah, berilah nilai." Kata Nathan mendekatkan sedikit piring milik istrinya.


Dengan senang hati Mikayla memotong daging yang sedikit alot tersebut dan di masukkan ke dalam mulutnya, sejenak dia berdoa agar tidak terjadi apa-apa karena mengingat pantangan dari dokter. Mikayla memberikan dua jempol kepada Nathan, dia kembali memasukkan potongan daging dan salad secara bersamaan.


"Apa enak?" Tanya Nathan lagi.


"Enak." Jawab Mikayla cepat.


Tentu saja hati Nathan sangat senang, segera Nathan juga memotong daging yang alot itu. Gerakannya tampak ragu tetapi dia teruskan, Mikayla hanya sesekali meliriknya tetapi mulutnya terus mengunyah makan siangnya.


Nathan tampak ragu memakan masakannya tetapi kata Mikayla enak, dia memasukkan perlahan dan mengunyak, sedikit dan perlahan rasa dari daging itu menyeruak di dalam mulutnya. Hingga hanya kedipan saja yang mampu dia berikan,


Dengan cepat, Nathan menyambar tisu dan memuntahkan makanannya. "Uek, pftt ... pftt ... sangat tidak enak, rasanya bukan seperti ini. Apa aku salah memasukkan antara merica dan ketumbar?" Ucap Nathan menatap kepada Mika dengan wajah sedih.


Mika dengan cepat menelan semua makanannya, "Terima kasih makan siangnya, Kak." Kata Mikayla lembut.


"Ka-kamu menghabiskannya? Cepat muntahkan lagi, lebih baik kita beli saja di restoran." Jawab Nathan dengan cepat.


Mikayla meneguk air minum hingga tandas, "Kak, susu itu untuk apa?" Tanya Mikayla menujuk kearah kardus yang masih teronggok di meja dekat dapur.

__ADS_1


Nathan menoleh, dia merutuki dirinya karena tadi tidak sempat membatalkan pembelian di supermartket.


"Apa kakak ingin punya anak dariku?" Tanya Mikayla kembali yang membuat Nathan tersedak.


__ADS_2