Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
PERMOHONAN MIKAYLA


__ADS_3

Happy Reading


Nathan tampak gusar di dalam kelas, dia tidak konsentrasi mengerjakan soal ujian dijam terakhir. Sama halnya dengan Dean dia tampak dengan cepat mengerjakan soal ujian tidak peduli benar maupun salah.


“Dean, cepat sekali. Ini baru sepuluh menit ujian di mulai.” Ucap guru pengawas.


“Aduh, saya sudah di ujung. Pak. Permisi.” Jawab Dean dengan memegang perutnya dan berlari keluar kelas.


Sontak perbuatan Dean membuat tawa di kelasnya, guru penjaga hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sedangkan Nathan tidak menghiraukannya, dia tampak buntu mengerjakan soal ujian tetapi ekor matanya menangkap Dean yang berlari menuju gerbang sekolah.


Kening Nathan berkerut dalam, dia heran karena Dean tadi mengatakan jika sudah tidak tahan ingin ke toilet tetapi kenapa …. Nathan langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar kelas setelah menyambar tas punggung.


“Nathan!” Seru guru pengawas yang keluar setengah badan memanggil siswanya.


Nathan berlari dengan cepat menuruni anak tangga, hal itu di lihat oleh Laura yang baru keluar dari kamar mandi membuat Laura dengan segera berlari menyusul kekasihnya.


“Nathan!” Seru Laura yang sudah tidak kuat berlari.


Nathan berhenti dan menoleh ke belakang, terlihat Laura memegang dadanya dengan nafas yang memburu. “Laura!” segera Nathan berlari kearah Laura tepat saat Laura pingsan.


Dengan cepat, Nathan menepuk-nepuk pipi Laura berharap cepat sadar. “Laura, hey! Laura bangun!” Ucap Nathan panik.


Segera Nathan menggendong Laura dnegan cara bridal style menuju ruang medis sekolahannya. Beruntung ada siswi yang masih menjaga, “Laura, kenapa dia?” Tanya Susi cepat.


“Tidak tahu.” Jawab Nathan apa adanya.

__ADS_1


“Kalian habis dari mana, kenapa berkeringat?” Cecar Susi.


“Berlari, di mana minyak kayu putihnya?” Jawab Nathan yang mulai mencari di lemari kotak obat.


“Astaga! Nathan, kamu tidak tahu jika Laura memiliki sakit jantung.” Ucap Susi panik.


Gerakan Nathan terhenti, dia menoleh kearah Susi dengan wajah terkejut. “Penyakit jantung? Se-sejak kapan?” Tanya Nathan terbata.


“Aku tidak tahu sejak kapan Laura memiliki sakit jantung, yang jelas sekarang kamu sudah tahu. Kamu harus bersikap baik dengannya jangan membuat dia berfikir berat dan kelelahan.” Jawab Susi dengan raut wajah khawatir.


Nathan masih terpaku di tempatnya, dia menatap Laura yang masih tidak sadarkan diri. Perasaan khawatir kepada Mikayla menguap begitu saja tergantikan dengan rasa bersalah kepada kekasihnya Laura.


“Tolong jaga Laura sampai sadar, aku harus kembali ke kelas karena hanya menunggu dokter jaga yang sampai sekarang belum kembali.” Ucap Susi kepada Nathan.


Nathan mengangguk, dia kemudian berjalan mendekat kearah Laura. Tatapan Nathan kepada Laura tidak lepas, dia melihat wajah kurus kekasihnya “Apa karena sakit menjadi kamu tampak kurus saat ini, kenapa aku tidak memperhatikannya. Maafkan aku Laura.” Ucap Nathan pelan.


Dean menggaruk kepalanya dengan kasar dan cepat, menoleh ke berbagai arah membaca setiap papan nama di depan ruangan “Di mana sih ruangan Mika,” Gumamnya pelan.


Seseorang berjalan mendekat keaarah Dean dan menepuk pundaknya, “Mencari siapa? Tanyanya  membuat Dean terperanjat kaget.


“Astaga, sus. Saya mencari ruangan atas nama Mikayla Anderson.” Jawab Dean cepat.


“Oh, naik satu lantai lagi nomor kamar 10,” Jelas perawat kepada Dean.


“Terima kasih, sus.” Dean segera naik lift untuk naik ke lantai berikutnya.

__ADS_1


Bagaimana Dean bisa dengan cepat tahu Mikayla karena status Dean yang tidak biasa, sama halnya dengan Nathan, dan Mikayla. Dia salah satu keluarga kaya raya di kota tersebut, seluruh keluarganya adalah dokter, pemilik rumah sakit, dan beberapa yayasan.


Dengan menjentikkan jari dia bisa mencari siapapun selama orang tersebut tidak di lindungi dengan kuat dan ketat, memanglah Dean tidak bisa apa-apa tanpa kekuasaan orang tuanya seperti pada remaja umumnya mereka masih dibawah pengawasan orang tua.


Pintu lift terbuka, segera Dean kelaur dan segera mencari kamar Mikayla. Melihat setiap nomor di pintu ruangan hingga dia berhenti di pintu putih dengan nomor sepuluh. Sedikit mengintip di kaca kecil yang memang terpasang pada setiap pintu.


“Kenapa kosong,” Gumam Dean dalam hati.


Dean memberanikan diri membuka pintu ruangan pelan tanpa menimpulkan suara, sayup-sayup terdengar suara isak tangis di dalam ruangan membuat Dean menghentikan gerakannya dia mendekatkan telinganya agar jelas mendengarnya.


“Kakak, Mika mohon. Jangan beri tahu Kak Nathan soal pernyakit Mika, Mika tidak ingin membuat dia khawatir, jijik, bahkan kasian kepada Mika.” Ucap Mikayla dengan isak tangisnya


“Tidak bisa, Mika. Idemu sejak awal sudah salah dan bodoh, kamu tahu. Kamu hampir kehilangan nyawa karena perbuatanmu!” Seru Luis dengan memegang kedua sisi pundak Mikayla sedikit diguncangkan karena sangat marah.


Mikayla menggeleng, “Mika akan lebih hati-hati kak, Mika hanya ingin membuat Kak Nathan mencintai apa adanya Mika. Bukan karena rasa kasihan jika tahu Mikayla sakit.” Jawab Mikayla kembali dengan air mata yang semakin deras turun dari kedua mata indahnya.


Luis melepaskan cengkramannya, dia meraup wajahnya frustasi. “Apa kamu tidak kasihan denganku? Dengan Mommy dan Daddy, hanya … hanya seorang pria yang tidak kamu tahu perasaannya kepadamu.” Ucap Luis dengan bibir bergetar.


Mikayla luruh di atas lantai dengan memegang kedua kaki Luis, “Mika mohon kak, permintaan terakir Mika. Jika memang Kak Nathan tidak bisa mencintai Mika, Mika akan menyerah dan kembali kepada kalian.” Kata Mikayla memeluk erat kedua kaki sang kakak.


Luis menangis tanpa suara, sedih, dan sakit menjadi satu. Sejak kecil dia yang selalu menjaganya seperti porselen tetapi porselen itu rela tergores disaat tumbuh dewasa.


Segera Luis memutar tubuhnya dan berjongkok, menatap wajah saudara kembarnya dengan seksama. “Jangan menangis, itu membuatku sakit Mika. Kamu hanya saudara yang aku punya, aku tidak akan menghalangi kebahagiaanmu.” Ucap Luis tulus.


Mikayla semakin menangis, “Maafkan aku Luis, maafkan aku.” Kata Mikayla tanpa embel-embel kakak menyebut Luis.

__ADS_1


Luis memeluknya dengan erat, mengelus surai hitam dan bergelombang dengan penuh kasih. “Jangan harap kamu bisa bersama Nathan jika aku sudah muak, Mika.” Ucap Luis dengan pandangan yang berubah dingin tetapi tangannya tetap mengelus surai hitam Mikayla.



__ADS_2