
Happy Reading
Nathan dan teman-temannya kini tengah berada di salah satu taman hiburan, ya mereka merayakan hari terakir ujian nasional sebelum berpisah dengan kesibukan masing-masing. Meskipun belum di umumkan kelulusan mereka, tapi mereka sudah sangat yakin akan lulus sekolah.
Terlihat Nathan ikut berbaur dan menikmati kebersamaan dengan teman seperjuangannya, mereka menaiki seluruh wahana yang berada di tempat bermain tersebut.
"Ayo kita coba wahana rumah hantu!" Seru Zaki dari kejauhan.
"Masih siang tidak seru, aku mau naik rollercoaster saja." Jawab salah satu siswa.
"Yang mau ikut tidak apa-apa kita bebas memainkan semua wahana di sini." Ucap Nathan kepada rekan-rekannya.
"Tentu saja, yasudah kita bertemu lagi di parkiran nanti sore jam lima dan segera makan malam." Kata Zaki yang ternyata sudah berada di antara mereka.
"Astaga! Kamu mengagetkan kami, aku rasa tidak perlu main kerumah hantu karena ketua kelas kita sudah seperti hantu." Kata kawan yang selalu humoris di kelas.
Semua tertawa mendengarnya sedangkan Nathan hanya tersenyum simpul, "Yasudah, ingat jam lima ya!" Ucap Zaki mengingatkan teman-teman kelasnya.
Teman-teman sekelas Nathan segera berpencar ke seluruh penjuru wahana bermain yang paling besar di kotanya, "Ayo Nath!" Rangkul Zaki hingga keduanya berjalan menuju wahana rumah hantu.
Nathan hanya mengikuti langkah Zaki dengan beberapa temannya, mereka sesekali berbincang membicarakan masa depan setelah lulus SMA. Kini mereka tengah antri untuk masuk ke dalam wahana seram tersebut, tampak ruangan yang sangat gelap hanya menyisakan beberapa lampu remang-remang berwarna merah di sepanjang pinggiran rumah hantu.
Nathan dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan dengan jantung yang berdebar, mereka berjalan saling merapat dan berpegangan tangan. Tampak wajah-wajah pria tampan berubah pias saat masuk hanya saja tidak terlihat karena ruangan yang gelap dan remang cahaya merah.
"Eh, jangan dorong-dorong dong!" Seru Zaki dengan menikut kawan yang ada di belakang tubuhnya.
"Ih, tadi ada yang seperti mencolekku." Ucap temannya yang semakin mengeratkan pegangannya di lengan Zaki.
Zaki terus menerus menggerakkan bahu dan lengannya agar rekannya itu tidak terlalu kencang mencengkram, sedangkan Nathan yang berada di paling depan masih dengan tenang dan wajah datar berjalan lurus, "Nath, pelan-pelan saja jalannya jangan tinggalkan kami." Ucap Zaki dengan sedikit keras agar rekannya yang ada di belakang menyesuaikan langkah Nathan.
Hingga kini mereka memasuki sebuah ruangan, terdapat brangkar rumah sakit kosong dan suara tangis bayi. Zaki dan yang lainnya semakin bergidik ngeri berbeda dengan Nathan yang terus berjalan dengan sesekali melihat kearah boneka-boneka yang sudah di dandani sedemikian rupa.
Hingga mereka akan mencapai pintu sepotong tubuh manusia jatuh dari ketinggian, membuat mereka berteriak histeris, dan ada yang sampai mengompol.
"Aaaa!!!!" Teriakan menggema dari sekumpulan anak muda laki-laki di dalam rumah hantu.
Nathan yang melihat hanya sebuah manekin di dandani seperti kuntilanak segera menyingkirkan menggunakan sepatunya, dia kembali meneruskan jalannya untuk segera keluar dari rumah hantu yang membosankan menurutnya.
__ADS_1
"Nathan! Tunggu! ayo cepat-cepat!" Seru Zaki dan beberapa kawannya.
Mereka berlari terbirit-birit mengikuti langkah Nathan yang agak jauh dari mereka, cukup lama waktu yang mereka butuhkan di dalam rumah hantu sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Kini mereka sudah keluar dengan dada yang naik-turun dengan hebat.
"Astaga! Aku tidak akan lagi-lagi masuk ke dalam wahana seperti ini." Ucap seorang teman Nathan.
"Benar!" Saut yang lainnya.
"Aku harus pergi ke tempat penjual celana, aku harus berganti." Ucap teman yang memakai kacamata segera berlari dengan menutupi celana bagian depannya.
"Apa dia mengompol? Hahaha," Ucap beberapa rekan yang melihat celana bagian belakang agak basah.
*
*
*
Langit cerah kini berubah menjadi senja, taman bermain yang awalnya sanat ramai mulai berangsur sepi karena hari mulai petang. Kini semua siswa telah berkumpul termasuk Dean yang entah sejak kapan dia bergabung.
"Ayo kita kerestoran, sebelum hari mulai gelap!" Ajak Zaki sang ketua kelas.
Beruntung waktu masih menunjukkan pukul empat lebih sedikit, sehingga mereka tidak terlalu terburu-bburu menuju restora. Menempuh perjalanan yang lebih lama yaitu satu jam karena jalan macet, kini mobil-mobil siswa tersebut satu per satu masuk ke area parkir sebuah restoran mewah.
Pelayan restoran yang melihat Nathan dan Dean segera memberi hormat, ya makan malam kali ini di sponsori oleh kedua orang tua pria yang kini berjalan masuk beriringan. Sebagai rasa syukur karena anak-anak mereka dan yang lainnya sudah berjuang sampai detik ini.
"Semuanya sudah siap, Tuan." Ucap pelayan kepada keduanya.
"Baik, terima kasih." Jawab Nathan
Kini semuanya berjalan menuju satu ruangan yang khusus di siapkan untuk mereka, di sana tidak hanya kelas Nathan dan Dean saja tetapi seluruh kelas dua belas yang lainnya. Salah satunya Laura, benar Nathan tidak mengatakan kepada Mika terkait jamuan makan malam yang diadakan oleh orang tuanya.
Dia merasa tidak begitu penting harus mengatakan kepada Mikayla karena hanya makan malam bersama teman-teman saja bukan berdua dengan Laura. Tampak dari kejauhan Laura berjalan menghampiri Nathan yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Sayang," sapa Laura dengan manja.
Melihat kedatangan Laura sontak teman-teman Nathan pergi menjauh menuju meja yang masih kosong, mereka tidak ingin menjadi obat nyamuk untuk sepasang kekasih tersebut.
__ADS_1
Nathan melepaskan rangkulan tangan Laura, tetapi bukan Laura namanya jika tidak bisa mencari muka di depan umum. Dia kembali menggandeng tangan Nathan menuju salah satu meja yang tersisa dua kursi kosong, sengaja Laura siapkan untuk Nathan.
"Hai, Nath. Terima kasih untuk jamuannya ya." Sapa Susi dengan tulus.
"Ya, sama-sama." Jawab Nathan datar.
Laura duduk dengan jarak yang cukup dekat dengan Nathan, "Laura, lebih baik aku duduk bersama teman-temanku saja. Kamu bisa mengobrol dengan nyaman bersama teman-temanmu sendiri." Ucap Nathan yang kurang nyaman karena di sana di dominasi anak perempuan.
"Kenapa, apa kalian keberatan jika kekasihku duduk di sini?" Tanya Laura kepada teman-teman kelasnya.
"Tidak." Jawab mereka serentak.
Memang benar adanya, mereka tidak ada yang keberatan meskipun bukan Nathan sekaligus yang duduk di kursi itu. Mereka cukup tau diri untuk bersaing dengan Laura tidaklah mungkin, siswi yang cerdas dan juga cantik.
"Dengarkan kata mereka, sudah kamu duduk saja di sini. Kita merayakan hari kebebasan kita setelah ujian." Ucap Laura kepada Nathan.
Nathan hanya mengangguk, dia tidak ingin menimpali Laura. Karena di sana banyak pasang mata dan telinga. Hingga akhirnya mereka mengobrol ringan membicarakan universitas yang akan mereka masuki.
Bersamaan dengan itu, para pelayan masuk dengan mendorong banyak troli berisi makanan, mereka menyajikan dengan cepat tetapi penuh kehati-hatian, menata satu per satu steak daging merah di depan para siswa siswi di meja. Tidak lupa juga ada salad, spagetti, jus, dan anggur.
Benar anggur, usia mereka sudah lebih dari tujuh belas tahuh sehingga sudah legal untuk meminum alkohol kadar rendah. Semua tampak senang dengan menu di hadapannya, segera mereka mulai mengambil garpu dan pisau steak yang ada di salah satu sisi mereka.
Laura yang berwajah senang berganti muram, Nathan menjauhkan piring steak dan menggantinya menjadi salad dengan dua iris daging saja. Susi hanya dapat melirik saja kearah mereka, "Kamu tidak boleh makan daging merah, makan dua potong saja dan perbanyak sayur." Ucap Nathan yang membuat wajah Laura menahan kesal.
Hal itu lantas membuat Susi menahan tawanya, dia mencubit pahanya agar tidak tertawa karena melihat Laura mulai terjebak dalam permainannya sendiri.
"Tapi sayang ...."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus segera sembuh. Karena akhir-akhir ini kamu sering mengeluh dadamu sakit, jadi kamu harus mulai perhatikan makananmu." Potong Nathan tanpa terbantah.
Nathan segera menyusul teman-temannya yang sudah mulai memakan steik tersebut, sesekali Nathan mengobrol dengan teman wanita Laura dan juga teman pria kelas Laura. Meskipun tidak tahu nama mereka tetapi Nathan mencoba berbaur agar tidak hanya fokus kepada Laura.
Setelah selesai makan, kini mereka bersulang dengan beberapa macam minuman. Ada jus, anggur, dan yang lainnya sesuai permintaan teman-temannya. Laura hanya dapat menahan kesal karena dia di beri satu gelas air putih yang di pesankan oleh Nathan.
"Kenapa aku hanya air putih, setidaknya jus tidak apa-apakan?" Tanya Laura dengan wajah kesal.
"Tidak baik, lebih baik minum air putiih dulu dan di jeda beberapa waktu sebelum jus. Kamu baru saja makan salad sayuran juga." Jawab Nathan lembut.
__ADS_1
Akhinya dengan perasaan kesal Laura ikut bersulang dengan air putihnya, mereka menghabiskan waktu mengobrol di dalam restoran mewah tersebut hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Semuanya berpamitan kepada teman-temannya, termasuk Nathan.
"Thank, Nathan dan Dean!" Ucap semuanya.