
Happy Reading 🌹🌹
Malam semakin larut, jalan raya tak nampak sepi justru semakin ramai karena banyak anak muda mencari kesenangan di malam hari.
Cafe dengan alunan musik dan segelas kopi di tengah mereka berkumpul dengan teman-teman maupun orang terkasih, dentuman musik yang menggema keras membuat siapapun ingin bergoyang di bawah lampu disko sekedar melepas penat.
Berbeda dengan sepasang suami istri yang kini sudah ada di depan unit apartemen, Nathan segera membuka kunci otomatis.
Mika melihat nomor demi nomor yang ditekan oleh Nathan, dia sedikit terpaku karena nomor yang di masukkan adalah hari kelahirannya.
"Kamu pasti familiar dengan nomor inikan? Aku sengaja mengganti sandi dengan angka kelahiran mu, karena bagiku. Lahirnya kamu di bumi ini adalah suatu anugrah dalam kehidupanku Mika." Ucap Nathan yang kini menatap kearah Mikayla.
Mika membalas tatapan Nathan yang sendu dengan lembut, "Terima kasih."
Satu kalimat yang hanya mampu Mikayla katakan untuk saat ini. Nathan tersenyum lembut dan kemudian mendorong pintu apartemen.
"Ayo masuk!" Ajak Nathan yang membukakan pintu lebar-lebar untuk Mikayla.
Dengan jantung berdegup kencang, Mika mulai melangkahkan kakinya perlahan. Kepalanya melongok kedalam untuk melihat isi apartemen.
Perlahan Mika berjalan masuk hingga Nathan dapat masuk dan segera membawa barang belanjaannya ke dapur.
Mikayla mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, ingin rasanya dia menangis karena tidak ada satupun perabotan yang dia ingat di ganti oleh Natha.
Perlahan Mika berjalan dan menyusuri ruangan televisi yang tidak ada skat dengan dapur, jemari lentiknya mengelus sofa yang warnanya masih bagus dan terawat.
Nathan terus memperhatikan Mika sesekali dengan menaruh barang belanjaan di dalam lemari pendingin, kini Mika terhenti pada salah satu figura besar yang sebelumnya tidak pernah ada di sana.
Sebuah foto pernikahan, kedua mata Mikayla memanas melihat foto tersebut. Mengingat ekspresi Nathan yang datar sedangkan dirinya tersenyum lebar, perumpamaan bagaikan air dan api.
Mikayla yang sangat bahagia dengan pernikahan mereka sejak awal sedangkan Nathan yang memadamkan api cinta dalam hatinya secara perlahan.
"Apa yang kamu lihat, sayang?" Tanya Nathan yang membuat Mika tersadar dan menghapus air matanya dengan kasar.
"O-oh, ini foto pernikahan kita?" Tanya Mika yang tidak menjawab pertanyaan Nathan.
Nathan tersenyum manis, "Cantikkan?" Tanya Nathan lembut.
__ADS_1
Mika mengangguk kaku, sedangkan Nathan tanpa banyak bicara sudah mengenakan apron setelah melepas jasnya.
"Kakak mau masak?" Tanya Mika yang kini berjalan mendekat kearah dapur.
"Iya, kamu tunggu saja." Jawab Nathan yang mulai memarinasi ikan salmon.
Kening Mikayla berkerut dalam karena terakhir dia ingat jika Nathan menggosokkan sebutir telur mata sapi.
"Biar Mika saja, Mika bisa memasak." Tawar Mikayla kepada Natha.
"Kenapa? Aku bisa memasak sekarang sayang, aku tidak akan membuat telur mata sapi gosong seperti dulu lagi. Apa kamu ingat, saat kamu sakit aku berusaha membuat sarapan untukmu tetapi aku mengacaukannya malah memberimu sebuah arang yang di sebut telur mata sapi." Tolak Nathan yang sedikit menceritakan masa lalu mereka berharap Mikayla dapat mengingatnya.
"Benarkah? Kakak seburuk itu dalam memasak? Pasti sudah aku buang di bak sampah." Ucap Mika yang menutupi rasa bersalahnya.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, kamu memakannya saat aku sudah berangkat sekolah. Meskipun aku menyuruhmu untuk membuangnya." Kata Nathan yang membuat Mikayla terdiam seribu bahasa.
Nathan segera memberikan lada dan garap di atas daging salmon, kemudian dia mulai memanasi margarine di atas teflon yang cukup panas.
Clas
Dengan telaten Nathan memasak steak ikan salmon untuk mereka berdua, "Sayang, bisakah kamu membuat salad sayur seperti biasanya?" Tanya Nathan tanpa melihat kearah Mikayla.
"Bisa." Jawab Mika dengan cepat.
"Bahan-bahannya sudah aku susun di dalam kulkas, tinggal kamu ambil saja apa yang kamu butuhkan." Ucap Nathan dengan membalik ikan salmon di atas penggorengan.
Mika segera berjalan menuju lemari pendingin, dia mengambil beberapa jenis sayuran yang biasanya memang untuk salad.
Dengan cepat dan cekatan, Mika membuat salad sayur untuk makan malam mereka. Sedangkan Nathan yang sudah selesai memanggang ikan salmon kini menatanya di dalam piring cantik dengan hiasan saus tomat.
Suara gemericik air air wastafel terdengar, Mikayla sebelum memotong-motong sayur mencuci semua bahan-bahan hingga bersih.
Nathan yang melihat rambut Mika dari samping merasa terharu, dia masih belum percaya jika istrinya masih hidup dan kini berada di depan matanya.
Dengan cepat, Mikayla memotong sayuran dan memberi dressing untuk salad sayur.
"Sudah selesai." Ucap Mika dengan girang.
__ADS_1
Mika yang merasa di tatap menolehkan kepalanya kearah Nathan, tampak Nathan bersandar di meja dengan bersedekap dada.
Tatapan Nathan membuat Mikayla salah tingkah, segera Mika berjalan menuju meja makan dengan membawa salad sayur yang sudah dia buat.
"Segera duduk, Kak." Ucap Mika yang membuat Nathan tersadar.
Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan, dengan makan malam mereka masing-masing.
"Akan aku ambilkan minum sebentar." Ucap Nathan yang kembali bangkit dari duduknya.
Mika hanya mengangguk tetapi dengan cepat dia meletakkan salad sayur ke sisi piring milik Nathan dan juga miliknya.
Nathan kembali dengan dua gelas air putih ditangannya, dia menaruh untuk Mika dan dirinya.
"Selamat makan." Ucap Nathan dan Mika bersamaan.
Hingga tawa pelan terdengar berada di aparten kecil tersebut, keduanya sangat menikmati acara makan malam dadakan hari ini.
Mika tidak menyangka jika Nathan pandai memasak, sedangkan Nathan masih ingat rasa salad sayur yang selalu dibuat oleh Mikayla untuknya.
Entah untuk sarapan dan makan malam, rasanya tidak pernah berubah.
"Bagaimana masakanku, apakah kamu suka?" Tanya Nathan dengan mata berbinar cerah.
Mika mengangguk dengan cepat, "Sangat, sangat enak Kak. Apa kakak kursus memasak?" Kata Mikayla dengan memasukkan potongan ikan salmon kembali.
"Yah, meski hanya sebentar." Jawab Nathan jujur.
"Kenapa? Kakak bisa menyewa maid atau siapin untuk memasakkan makanan kakak." Tanya Mikayla yang sejak tadi sangat penasaran.
"Karena aku menyesal setelah membuat telur mata sapi gosong, bahkan kamu rela memakannya saat aku tidak ada di apartemen. Hal itu membuatku belajar memasak dan selalu membayangkan kamu dapat merasakan masakanku, sayang." Jawab Nathan panjang lebar.
Ucapan Nathan membuat sudut hati Mikayla tersentuh, dia tidak menyangka jika banyak sekali perubahan Nathan setelah kepergiannya.
"Apa aku harus jujur saja jika tidak amnesia, tapi bagaimana dengan Kak Luis. Dia pasti kecewa jika aku berbohong selama ini." Gumam Mika dalam hati.
Mika hanya tertunduk dan merenung, selama ini Mikayla hidup di bawah peraturan Luis. Sejak bangun tidur hingga waktu tidur semua sudah di jadwal oleh Luis.
__ADS_1