
Happy Reading 🌹🌹
"Mika, kamu yakin akan pulang sendiri?" Tanya Luis dengan berjalan mendekat.
"Benar, Kak. Mika berani kok, lagipula nanti akan di jemput Kak Dean." Jawab Mika yang sibuk memastikan barang bawaannya agar tidak tertinggal.
"Hem, baiklah. Langsung pulang kakak akan mengabari Mommy dan Daddy." Ucap Luis dengan mengeluarkan gawainya.
"Jangan kak, jangan beritahu Mommy dan Daddy. Biarkan Mika memberik kejutan untuk mereka." Cegah Mika dengan cepat.
"Baiklah, jika sudah siap segera turun. Kakak akan mengantarkanmu ke bandara." Kata Luis menuruti permintaan sang adik.
Mika mengangguk, "Mika akan ganti pakaian dulu." Jawabnya.
Segera Luis keluar dari kamar adiknya, sedangkan Mikayla berganti pakaian yang nyaman selama melakukan perjalanan udara.
Diperlukan sekitar 21 jam 32 menit menit untuk terbang dari Amerika Serikat ke Indonesia dengan menggunakan pesawat terbang.
Segera Mikayla membawa tas dan juga satu koper yang masih tersisa di dalam kamarnya, dengan susah payah dia membawa koper besar tersebut.
Sekarang Mikayla dapat hidup seperti manusia normal pada umumnya, meskipun memang harus menjaga agar tidak terlalu lelah.
5 tahun yang lalu, memang benar apa yang di katakan oleh dokter. Di dalam ruang operasi sedang berjalan operasi kecil agar dapat membawa Mikayla terbang berobat di luar negeri.
Terkait dengan detak jantung Mika yang berhenti memang di sengaja oleh dokter sesuai permintaan Luis, memang resiko yang sangat besar akibat detak jantung yang di hentikan beberapa menit oleh sang dokter.
Maka dari itu, Luis dengan cepat masuk ke dalam ruang operasi untuk membawa Nathan keluar agar Dokter dan perawat bisa melakukan tindakan selanjutnya.
Beruntung, Luis menyeret Nathan dengan bantuan Dean dan tidak memperbolehkannya masuk kembali ke dalam ruang operasi.
Sekarang gadis yang dulu sekarang sudah kembali ceria, meskipun keceriaannya tidak 100% tetapi dua keluarga tetap menyembunyikan keberadaannya kepada Nathan.
"Kakak, bantu Mika!" Seru Mika dengan menyeret koper miliknya.
"Ck, bocah! Jangan membawa barang terlalu banyak, bisa-bisa patah tulangmu." Jawab Luis kesal.
Mika hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya, segera dia masuk ke dalam mobil bersama Luis.
Mobil BMW hitam mulai berjalan meninggalkan mansion keluarga Anderson yang berada di Amerika.
Dengan kecepatan sedang Luis menyetir mobil menuju bandara ibu kota, Mikayla menatap pemandangan di luar sebelum dia benar-benar meninggalkan negara yang menjadi tempat berobatnya selama ini.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil BMW hitam berhenti tepat di depan pintu bandara, Luis dan Mikayla keluar bersama, Mikayla membuka pintu belakang untuk mengeluarkan koper-koper miliknya sedangkan Luis mengambil trolly agar Mika mudah membawa barang bawaannya.
"Kaka, Mika pergi dulu. Jaga kesehatan kakak, jangan terlalu menyiksa diri dalam bekerja." Pamit Mikayla dengan memeluk tubuh Luis.
"Hem, kamu segera kabari kakak jika sudah sampai di tanah air." Jawab Luis mengelus surai hitam adiknya.
"Siap! Mika masuk dulu ya." Ucap Mika dengan mencium pipi Luis dengan cepat.
Segera Mika mendorong troli yang sudah di penuhi dengan kopernya, dia melambaikan tangan kearah Luis sebelum benar-benar masuk untuk check in.
Luis dengan tenang menatap kepergian adiknya, "Semoga kalian tidak bertemu dengan cepat." Gumam Luis dalam hati.
Mikayla masuk setelah koper-kopernya lolos dengan selamat, dia berjalan dengan jantung berdebar-debar menuju pesawatnya.
Sesekali Mikayla merem*at pakaiannya akibat telapak tangan yang berkeringat. Kini Mikayla sudah duduk di dalam pesawat yang akan membawanya kembali di mana banyak cerita yang dia buat di sana.
*
*
*
Sebuah pesawat baru saja mendarat dari penerbangan Amerika Serikat, penumpang berbondong-bondong menuruni anak tangga yang sudah di sediakan oleh maskapai penerbangan.
Sejenak, Mikayla berdiri di tengah lapangan dengan menghirup udara siang hari di Indonesia.
"Aku rindu negaraku." Ucap Mika dengan tersenyum tipis.
Dengan cepat Mikayla berjalan menyusul para penumpang yang hampir tidak terlihat di depannya, dengan langkah ringan dan riang dia berjalan menuju tempat pengambilan koper.
Dengan sabar, Mikayla menunggu koper-koper miliknya lewat. Kini trolly miliknya sudah penuh dengan barang bawaannya.
Mikayla berjalan dengan sesekali kepalanya menoleh mencari keberadaan Dean, "Kenapa tidak ada, apa Kak Dean tidak jadi menjemputku?" Ucap Mikayla lirih.
Mika berdiri di dekat papan informasi penerbangan dengan memainkan gawainya, sedangkan dari kejauhan seorang pria tengah menatap Mikayla dengan penuh kebahagiaan.
Kedua mata pria itu seakan berbinar menatap gadis yang memakai celana panjang bernama putih senada warna sepatu, juga Coat panjang berwana cream, juga masker hitam yang dikenakannya.
"Kenapa tidak diangkat sih." Gerutu Mika dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Hey!" Panggil Dean dari kejauhan.
Mika yang merasa di panggil menoleh ke sumber suara, terlihat pria tampan yang masih lengkap mengenakan jas kerja dan sedikit rambut yang seakan acak-acakan.
"Kak Dean!" Ucap Mikayla dengan riang.
Segera keduanya berjalan mendekat dan memeluk satu sama lain, "Mika rindu, kenapa pulang tidak pamit?" Kata Mikayla manja seperti seorang adik.
"Memangnya kamu mau mengantarku pulang?" Goda Dean dengan mengacak rambut Mikayla.
"Bukan begitu, hanya saja kakak terlalu jahat pulang tanpa pamitan." Jawab Mikayla dengan menatap wajah Dean.
Dean yang di tatap dengan mata kucing menjadi malu sendiri, "Ekhm, cepat bawa kopermu. Kita pulang," Ucap Dean yang membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Berat Kak, lihatlah aku tidak punya tenaga. Bahkan trolly ini tidak bergerak sama sekali." Kata Mikayla dengan tubuhnya yang sedikit menggantung di trolly.
Sontak saja hal itu membuat Dean menahan tawanya, dia mengambil ponsel dan segera memotret kelakuan Mikayla.
"Dasar, bagaimana ceritanya trolly ini dapat berjalan sampai di sini jika tidak kamu dorong?" Tanya Dean dengan terkekeh pelan.
"Trollynya menggelinding sendiri, lihatlah diakan punya empat roda." Jawab Mikayla menunjukkan roda bagian belakang.
Dean semakin tertawa mendengar alasan dari wanita yang selama ini dia jaga, "Terserah kamu saja, ayo cepat pulang." Ucap Dean yang kini mendorong trolly milik Mikayla.
Mikayla dengan tersenyum lebar berjalan beriringan dengan Dean, "Jika begini aku tidak capek." Kelakar Mika.
"Baiklah, kamu harus membayarku mahal karena sudah menjadi porter untukmu Nona." Jawab Dean dengan di berikan acungan jempol oleh Mikayla.
"Siap, tunggu sebentar!" Kata Mikayla yang langsung berjalan masuk ke area swalayan kecil di dalam bandara.
Dean dengan tenang menunggunya, apa yang akan di lakukan gadis tersebut. Apakah Mikayla akan membelikannya swalayan itu atas nama Dean?
Ternyata dugaan Dean salah, Mikayla keluar dengan membawa tiga botol minuman dengan rasa yang sama. Hal ini membuat Dean tertawa terpingkal karena tidak habis pikir tingkah laku Mikayla.
__ADS_1