
Happy Reading 🌹🌹
"Nathan, lihat semua jadwal Ayah jadi kacau."
Baru juga Nathan membuka pintu ruangan kerja Kenan sudah di sembur olehnya.
"Maaf, Ayah. Tapi sudah Nathan siapkan beberapa hari lalu dan Nathan titipkan ke sekertaris Ayah." Jawab Nathan berjalan masuk setelah menutup pintu ruangan CEO.
"Kamu asisten Ayah, otomatis jobdes kalian berbeda. Sekertaris Ayah sudah sibuk dengan jobdes yang harus dia emban." Kata Kenan dengan tajam.
"Tapikan Nathan sudah menitipkan jadwal terbaru Ayah kepada dia." Nathan bersikukuh mempertahankan argumennya.
"Nathan, itu sudah kewajiban mu dalam pekerjaan jika kamu menitipkan kepada orang lain belum tentu pesanmu akan sampai. Karena setiap orang belum tentu merasa medapatkan amanah." Jelas Kenan yang kini sudah menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa hingga berhadapan dengan Nathan.
"Ayah tinggal naikkan saja gajinya." Ketus Nathan.
"Bukan seperti itu cara kerjanya, jika sekertaris Ayah mendapatkan bayaran lebih karena sudah mengemban tugasmu maka untuk apa Ayah memiliki banyak karyawan? Untuk apa Ayah menggaji karyawan yang tidak kompeten contoh sepertimu. Mereka melamar pekerjaan di sini untuk bekerja bukan menjadi atasan." Cecar Kenan dengan menujuk-nunjuk meja kaca di depannya.
Nathan hanya terdiam, dia mencerna dengan logikanya setiap kata yang keluar dari sang Ayah.
"Maaf, Nathan akan perbaiki semuanya." Kata Nathan yang hanya mendapatkan helaan nafas panjang.
"Mulai besok kamu harus berangkat ke kantor seperti biasanya, Nathan." Ucap Kenan dengan tegas.
"Iya."
"Jangan sampai terlambat dan banyak alasan." Ucap Kenan kembali.
"Iya."
__ADS_1
"Kamu pewaris perusahaan Wijayakusuma, jadi banyak hal yang harus kamu pelajari." Lanjut Kenan mempertegas tujuannya dalam mendidik Nathan.
"Iya ... eh, tunggu Ayah." Nathan menjawab hingga sesuatu terlitas dari pikirannya.
"Apa?" Tanya Kenan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Jika aku menjadi CEO jadi aku tidak perlu rajin berangkat bekerjakan? Secara aku adalah pemilik dan pemimpin perusahaan." Kata Nathan yang membuat Kenan mencengkram aspak di tangan kanannya.
"Nathan!" Teriak Kenan yang membuat Nathan langsung lari terbirit-birit dari ruangan CEO.
Sekertaris Kenan yang berada di luar ruangan hanya menggelengkan kepala seperti biasanya, semenjak dia tahu istri Nathan masih hidup dan kini mereka kembali membuat kepribadian Nathan cukup berubah drastis.
Yang biasanya selalu menyendiri, tenggelam dalam pekerjaan, tatapan yang hampa, dingin kepada siapapun. Kini berubah seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainannya kembali.
"Aku akan bekerja mulai besok, untuk hari ini tolong handel pekerjaan Ayah." Ucap Nathan yang di angguki oleh sekretarisnya.
"Ada apa, Tuan?" Tanyanya.
"Emm... Begini, kamukan perempuan. Bagaimana membujuk perempuan agar tidak marah lagi kepada kita?" Tanya Nathan dengan wajah sangat serius.
Kening sekertaris berkerut dalam, "Tergantung setiap perempuan, Tuan." Jawabnya logis.
"Ya, tapi kebanyakan perempuan saja." Ucap Nathan kembali.
"Bisa Tuan berikan uang yang banyak, setiap wanita suka uang." Jawab sekertaris dengan senyum lebar.
"Ish, berbeda. Istriku orang kaya tidak mungkin dia akan senang jika aku beri uang meskipun dapat menimbun tubuhnya." Runtuk Nathan pada ide sekertaris.
"Bunga? Coklat? Barang mewah? Liburan? Bulan madu?" Kata sekertaris menyebutkan satu per satu kebiasaan orang-orang kaya.
__ADS_1
"Bulan madu?" Beo Nathan.
"Eh... Sepertinya bukan Tuan, salah itu. Yang tepat liburan saja." Jelas sekertaris dengan menganggukkan kepalanya mantap.
"Bulan madu berkedok liburan?" Ucap Nathan dengan di akhiri tawa keras karena ide dari sekertaris sangat dia sukai.
Sekertaris hanya tertawa hambar, "Baiklah, aku akan memperbaiki jadwal Ayah yang berantakan. Ingat, selama aku pergi liburan kamu handel juga pekerjaanku." Ucap Nathan kembali yang membuat sang sekertaris menyesal sudah merekomendasikan bulan madu berkedok liburan.
Nathan menepuk pundak sekertaris dua kali dan berjalan meninggalkannya menuju lift dengan wajah dan senyum cerah secerah lampu neon.
Sekertaris hanya terduduk lemas, dia sudah membayangkan pekerjaan yang menghadangnya sebentar lagi.
Kenan yang sejak tadi mengintip segera keluar, "Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Kenan yang mengagetkan sekertarisnya.
"Anu, Tuan... Itu. Tuan Nathan akan pergi bulan madu dengan istrinya." Jelas sekertaris tampak ragu-ragu.
Kenan hanya menghela nafas, "Baiklah, suruh kepala devisi keuangan keruanganku. Tenang saja kali ini akan ada yang membantumu saat Nathan masih sibuk mengejar cinta istrinya." Jawab Kenan yang membuat wajah dan tubuh sekertaris merasa sehat kembali.
"Terima kasih, Tuan." Jawabnya sebelum Kenan meninggalkan meja kerjanya.
Nathan keluar dari dalam lift dengan wajah ceria, bahkan dia bersenandung kecil membuat para karyawan kaget dengan hal tersebut.
Banyak bisik-bisik karyawan yang Nathan dengar tetapi dia acuh dan tidak peduli, yang ada di pikirannya adalah bagaimana membujuk Mika agar mau berangkat bulan madu eh bukan tetapi liburan.
Memikirkan hal tersebut membuat Nathan cekikikan sendiri hingga tanpa sadar dia terjedot pintu kaca perusahaan.
"Astaga, siapa yang menaruh pintu di depan sini." Sungut ya dengan menendang pelan pintu kaca tersebut.
Sontak saja perbuatan Nathan membuat para karyawan geleng-geleng kepala karena itu salah Nathan bukan kacanya.
__ADS_1