
Happy Reading πΉπΉ
Mikayla kini duduk dengan melihat berbagai macam makanan cepat saji yang sudah di tata rapi oleh Nathan.
Dia memandang bingung karena pantangan baginya memakan makanan cepat saji, bahkan makanan segar yang di masak juga tidak semuanya dapat dia makan.
"Kakak pesan semua ini?" Tanya Mika yang mendongak menatap Nathan.
"Makanlah, di kulkas hanya ada air putih saja. Biasanya Mama yang mengirim masakan jika aku menginap di apartemen." Jawab Nathan dengan menyodorkan sebuah chese burger.
Mikayla hanya menatap bungkusan di depannya dengan berkedip cepat, Nathan yang sadar dengan kebingungan gadis yang duduk di depannya menatap heran.
"Apa kamu tidak suka?" Tanya Nathan kembali.
"Emm ... Aku belum pernah memakannya." Jawab Mika jujur.
Satu detik, dua detik, hingga lima detik kemudian tawa Nathan pecah mendengar jawaban Mika dengan polos.
"Aduh, perutku. Kamu belum pernah makan makanan seperti ini? Wah, kamu memang lain." Ucap Nathan dengan sisa tawanya.
Nathan membuka burger miliknya dan mulai memakannya, sedangkan Mika hanya diam dia berdoa dalam hati diberikan umur panjang.
"Tuhan, berikan aku umur panjang setelah memakan ini."
Selepas makan malam, kini keduanya tengah kembali berdebat di dalam kamar. Baik Mikayla dan Nathan tidak ada yang mengalah untuk tidur di sofa.
"Pokoknya Mika tidak mau, titik tanpa koma." Ucapnya.
"Aku juga tidak mau, kamu yang tidur di sofa." Jawab Nathan menolak dengan tegas.
"Kakak saja yang tidur di sofa, kakak laki-laki tentu harus mengalah kepada wanita." Kata Mika membawa gender.
"Mana ada seperti itu, yang ada anak kecil hatus menurut dengan orang yang lebih tua." Nathan membalas dengan membawa usia.
"Dimana-mana seorang kakak hatus mengalah, apalagi kakak sudah menjadi suami Mika." Cecar Mika mengingatkan status Nathan sekarang.
"Jika tidak ada yang mau tidur di sofa yasudah tidur di ranjang, lihat ranjangnya juga luas seperti lapangan sepak bola." Lanjut Mika dengan menoleh ke arah tempat tidur.
Nathan mengikuti gerakan Mika, memang tempat tidur di kamar utama lebih luas di bandingkan kamar sebelah.
"Jangan bermimpi bocah, akku tidak akan pernah satu ranjang denganmu dan menyentuhmu." Ucap Nathan yang berjalan mengambil bantal dari atas kasur.
Dia melemparkan bantal berwarna abu-abu tersebut di atas sofa yang cukup luas dan empuk, sedangkan Mika hanya diam dengan wajah datar tetapi dalam hatinya bersedih.
__ADS_1
"Cepat tidur! Aku tidak ingin masuk sekolah terlambat besok pagi." Nathan berkata dengan memejamkan kedua matanya.
Mika hanya diam tetapi kakinya melangkah menuju tempat tidur, dia merebahkan tubuhnya dengan memunggungi Nathan.
Menenggelamkan tubuh rampingnya di balik selimut tebal dan Nathan mematikan lampu utama sehingga menyisakan lampu tidur dengan cahaya temaram.
Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas malam, tanpa keduanya ketahui belum ada yang memejamkan mata. Mengarungi mimpi indah hari ini, keduanya berkecamuk dengan pikiran dan hatinya masing-masing.
...ππ...
Waktu berjalan begitu cepat, mentari tela bangun dari peraduannya. Muncul perlahan menyinari kota membuat masyarakat sudah sibuk dengan aktivitas mereka.
Tetapi tidak dengan dua remaja yang masih terlelap dalam tidurnya, meskipun di luar apartemen sudah ramai, sinar mentari berhasil masuk melalui celah-celah ventilasi dan gorden yang tidak tertutup dengan sempurna.
Tidak mengganggu dua remaja yang tidur dengan nyenyak, hingga suara dering ponsel mengganggu keduanya.
Baik Mika dan Nathan sama-sama mematikan panggilan yang masuk dengan mata terpejam, seolah enggan untuk membuka, dan memulai harinya.
Panggilan tetap terus masuh hingga keduanya bersamaan mengangkatnya dengan malas.
"Hallo." Ucap keduanya bersamaan.
"Nathan / Mika hari ini ujian kenapa belum datang ke sekolah!"
"Apa!" Serunya bersamaan.
Nathan dan Mika lantas saling melihat dan sedetik kemudian langsung melemparkan ponsel mereka ke sembarang arah untuk berlari kekamar mandi.
"Minggir, kau mandi di kamar sebelah!" Nathan berkata dengan menarik Mika kebelakang.
"Tidak, Mika duluan yang mandi." Mika memegang pinggiran pintu kamar mandi mempertahankan posisinya.
"Bocil aku sudah terlambat." Sungut Nathan dengan tidak sabar.
" Memangnya hanya kakak saja, kita satu sekolahan!" Jawab Mika tidak kalah kesal.
"Aku dulu yang mandi atau kita mandi bersama." Nathan memberikan dua pilihan kepada Mika.
"Mandi bersama." Jawab Mika dengan cepat.
Nathan terperangah sesaat hingga suara pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam membuyarkannya.
Nathan mengacak rambutnya frustasi dan memutuskan untuk mengalah dengan Mika, dia melangkah menuju kamar sebelah yang sudah dia siapkan untuk Mika.
__ADS_1
Sedangkan di sebrang telfon dua orang dapat mendengar dengan jelas perdebatan sepasang suami istri.
Kinanti terkikik geli mendengar perdebatan yang menurutnya romantis seperti novel-novel anak sekolahan, "Astaga, apa kakakku seganas itu dengan Mika?" Ucap Kinan tersenyum mesum.
Berbeda dengan Kinan. Laura terbakar api cemburu, kedua matanya sudah berkaca-kaca karena mendengar percakapan di sebrang telfon.
"Jadi mereka satu kamar. Ini tidak bisa aku biarkan, akan aku tunjukkan jika Nathan hanya mencintaiku" Ucap Laura pelan dengan mengepalkan sebelah tangan kanannya.
Tanpa Laura sadari, seseorang mendengarkan ucapan Laura sejak datang di atas roftop sekolah. Dia hanya mengayunkan kakinya ke depan dan kebelakang.
Hingga Laura memutuskan panggilannya dan berjalan meninggalkan roftop, orang tersebut hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Laura.
Tap!
"Menarik." Ucapnya setelah meloncat dari tempat persembunyianya.
Laura yang berjalan melewati koridor sekolahan tidak sengaja bertemu dengan Kinan yang tengah senyum-senyum sendiri.
"Kinan." Sapa Laura ramah.
Senyum Kinan langsung surut dan berganti wajah datar, "Pagi." Sapanya mengingat jika Laira kakak kelas.
"Nathan kenapa belum berangkat sekolah ya? Apa dia masih sibuk?" Tanya Laura basa basi.
Kinan hanya memutar bolanya malas, "Cih, sok polos." Umpatnya dalam hati. Namun, sedetik kemudian dia memiliki ide cemerlang baginya.
"Kak Nathan akan berangkat sebentar lagi, biasalah Kak Laura pasti tahu bagaimana pengantin baru." Jawab Kinan dengan seyum menggoda.
Laura menahan emosinya, "A-aku tidak tahu." Ucap Laura dengan tersenyum kaku.
"Ih, tidak mungkin Kinan beri tahu. Mungkin Kak Nathan sedang kelelahan karena sekarang Kak Nathan dan Mika tinggal berdua saja." Kinan semakin menuangkan bengsin di dalam hati Laura.
Laura kaget bukan main, karena Nathan tidak membicarakan hal itu kepadanya.
"Ups! Maaf ya Kak, seharusnya aku tidak membicarakan Kak Nathan dengan istrinya. Pasti Kak Laura sedih karena sekarang jom blo." Lanjut Kinan dengan wajah di buat sedih.
Laura mengigit bibir bawah bagian dalam, ingin sekali dia memaki Kinan tetapi dia masih sadar dan ingat jika gadis yang tengah membuatnya marah adalah adik dari kekasihnya.
"Benarkah, aku tidak tahu. Yasudah aku pergi ke kelas dulu, semoga ujianmu berhasil ya Kinan." Jawab Laura dengan tersenyum kaku.
Laura berjalan menjauh dari Kinan dengan cepat sedangkan Kinan acuh dan meneruskan langkahnya yang akan turun di lantai dua.
...πΎπΎ...
__ADS_1