
Happy Reading 🌹🌹
Kini semua siswa segera membubarkan diri untuk pulang kerumah masing-masing setelah saling mengucapkan selamat.
"Sayang, kita jalan-jalan dulu yuk!" Ajak Laura dengan bergelayut manja di lengan Nathan.
"Lain kali saja." Tolak Nathan.
Laura berdiri dengan wajah kesal, "Kamu ingin segera pulang untuk bertemu Mika? Iyakan!" Ucap Laura keras sehingga membuat beberapa teman-temannya mendengar.
"Laura." Tegur Nathan dengan menatap tajam kearah wanita yang berstatus kekasihnya itu.
"Kamu jahat, Nath! Aku sedang berjuang hidup kamu malah asik bersama wanita lain." Laura kembali berkata dengan keras bahkan kini memukul dada Nathan.
Nathan tentu saja kaget dan tidak habis pikir kenapa dengan Laura.
Sedangkan Laura berlaku pergi dari restoran tersebut dengan air mata buaya.
"Lihat saja Mika, diantara kita siapa yang akan menangis darah." Ucap Laura dari dalam hatinya.
Nathan lantas segera berlari untuk mengejar Laura, mengingat hari juga sudah malam dia tidak bisa membiarkan kekasihnya pulang seorang diri.
"Laura!" Seru Nathan agar kekasihnya berhenti
Laura terus berjalan tetapi bibirnya melengkung sempurna, hingga pergelangannya di cekal membuat tubuh ya sedikit berputar ke belakang.
"Apa lagi, sudah sana pergi." Usir Laura dengan wajah sedih.
"Apa yang kamu katakan, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu Laura. Ingat, Mikayla itu istriku." Kata Nathan dengan menatap tajam nan dingin kearah Laura.
"Istri?" Beo Laura tersenyum getir.
__ADS_1
Hati Laura berdenyut nyeri karena kali ini Nathan berkata dengan sadar saat dia sudah jatuh cinta dengan Mikayla.
Nathan meraup wajahnya dengan kasar, Laura menyentak cekalan tangan Nathan dan menatap penuh kebencian.
"Istri? Jika dia istrimu maka tinggalkan aku!" Seru Laura dengan memegang dadanya.
"Laura ...."
Nathan begitu khawatir jika Laura kembali kambuh, pada akhirnya Laura menangis dalam pelukan sang kekasih.
"Kamu jahat Nath, segera ceraikan Mika. Aku tidak kuat jika harus memikirkan kalian tinggal satu atap setiap hari." Kata Laura jujur.
"Maaf, tidak bisa Laura. Aku dan Mikayla tidak akan pernah bercerai karena sesuatu alasan yang tidak dapat aku ceritakan padamu." Jawab Nathan lembut.
"Sesuatu apa itu? Kamu hanya mengatakan sesuatu yang tidak dapat kamu ceritakan kepadaku, Mikayla memiliki segalanya Nath. Keluarga yang harmonis, kakak yang selalu ada untuknya, dan kamu ... Kamu kekasihku yang sekarang cinta kepadanya." Ucap Laura yang kini mendorong Nathan hingga selangkah mundur.
Sebuah taxi berhenti di dekat keduanya, Laura segera pergi meninggalkan Nathan mengunakan taxi tersebut.
Di dalam mobil, Nathan hanya menyetir dalam keheningan karena teman-temannya diam tidak ada yang bersuara.
Hingga akhirnya kini Nathan sudah selesai mengantarkan teman-temannya dengan selamat satu per satu di rumah mereka.
Segera mobilnya kembali melaju memecah keheningan malam, dia berkendara menuju apartemennya karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Cukup lama Nathan berkeliling kota hari ini, akhirnya dia telah sampai di basement apartemennya. Segera dia keluar agar dapat segera beristirahat.
Segera Nathan keluar dari dalam mobil, langkahnya terhenti saat teringat sesuatu. Dia menoleh sedikit ke belakang.
Nathan mengurungkan niatannya untuk masuk ke dalam lift, dia melangkah lebar keluar basement menuju satu tempat.
Langkahnya terhenti di sebuah benda berbentuk bulat dengan tinggi selutut orang dewasa. Nathan segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yaitu kotak bekal makan siang dari Mikayala.
__ADS_1
Dia membuka kotak makan dan menatap sejenak mie goreng yang baru tersentuh sedikit sekali.
Dengan wajah datar tanpa emosi, Nathan membuang semua mie goreng itu ke dalam tong sampah. Terlihat mie goreng yang sudah dingin dan membentuk kotak seperti tempat makannya.
Dari kejauhan tampak Mikayla terpaku menatap semuanya, pandangan dingin, dan datar tanpa emosi sama halnya Nathan.
Keduanya saling mengunci pandangan tanpa ada satu patah kata yang keluar.
*
*
*
Suara gemericik air terdengar dari wastafel yang tengah menyala, dua tangan indah dengan busa yang tebal bergerak lincah mengusap sesuatu.
Dengan cepat dan keras, Mikayla menggosok tempat makan yang biasa di gunakan oleh Nathan.
Percayalah, semua di lakukan oleh Mikayla adalah menyalurkan perasaan sedihnya. Padahal masakannya mau asin, hambar, dan tidak jelas selalu habis di makan oleh Nathan atau justru di buang seperti hari ini?
Pikirannya berkecamuk, apakah selama ini Nathan hanya menyenangkan hatinya saja tidak pernah protes dengan rasa masakannya.
Mika mengigit bibir dalamnya, tetapi bibirnya bergetar menahan gejolak yang sudah keluar dari kedua mata indahnya.
Dia menangis dengan mencuci piring malam ini. Sedangkan di dalam kamar, Nathan sudah merebahkan tubuhnya dengan pikiran yang penat.
Pintu kamar utama terbuka, lampu utama masih menyala tetapi penghuninya sudah terlelap dalam mimpi.
Mikayla segera melangkahkan kakinya yang selalu mengenakan sandal berbulu setiap di dalam apartemen.
Lampu utama di matikan dan dia segera naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di sisi lain dari Nathan. Tampak keduanya saling memunggungi malam ini.
__ADS_1