
Happy Reading
Sedangkan di dalam apartemen, Laura terus menempel kepada Nathan tidak memperbolehkan Nathan beranjak sedikitpun dari sisinya. Dia terus merengek ingin melihat tempat tinggal Nathan dan Mikayla, Nathan tidak bisa menolaknya karena Laura akan kambuh saat memikirkan hal berat.
“Ini kamar siapa? Kenapa kosong?” Tanya Laura heran.
“Itu seharusnya kamar Mika, tetapi dia tidak mau jadi kami satu kamar.” Jawab Nathan jujur
Jantung Laura bedetak dengan cepat, “Ka-kalian satu kamar?” Ucap Laura meyakinkan pendengarannya tidak salah.
“Iya, tetapi kami tidur terpisah. Aku di sofa dan Mika di ranjang.” Jelas Nathan.
Helaan nafas lega Laura begitu nyata, “Bisakah kamu saja yang pindah kamar, sayang. Aku takut terjadi sesuatu kepada kalian jika berada di dalam satu ruangan.” Ucap Laura berjalan kearah Nathan yang tengah berada di dapur.
“Akan aku coba bicarakan dengan Mika, sudah dua hari dia tidak pulang ke apartemen.” Jawab Nathan yang mulai ingat tentang Mika.
“Apa? Dua hari … wah, sudah aku duga selain kasar dia juga liar.” Ucap Laura mengompori Nathan.
Nathan hanya diam, dia memikirkan keberadaan Mikayla. Segera dia berjalan mendekati lemari televise untuk mengambil gawainya. Laura yang melihatnya segera menghalangi, “Eh, sayang. Tidak perlu kamu telfon Mika. Kamu ingin menelfonnya bukan? Biarkan saja dulu, mungkin dia juga kaget karena menikah muda.” Kata Laura membuat Nathan berfikir lagi.
“Aku akan menghubungi Mommy Bintang dulu, aku takut terjadi apa-apa dengan Mikayla.” Jawab Nathan.
“Ih, sudah aku bilang. Mika pasti dijaga oleh Luis, Mika masih memiliki kakak yang bisa menjaganya, Nath. Awh … dadaku.” Laura menghentikan ucapannya dengan memegangi dadanya.
Nathan panik dan mengurungkan niatannya menghubungi ibu mertuanya, dia segera membawa Laura untuk duduk di sofa. “Ayo kita ke dokter.” Ajak Nathan
“Tidak perlu, sayang. Sudah biasa seperti ini hanya saja aku selalu menahannya saat berada di depanmu.” Tolak Laura dengan suara lemah.
“Apa kamu yakin?” Tanya Nathan kembali.
“Benar, aku hanya butuh kamu ada di sisiku.” Jawab Laura manja.
Nathan merangkul pundak Laura, memberikan tepukan pelan agar menenangkan perasaan kekasihnya.
“Sayang, setelah lulus kamu ingin kuliah di mana?” Tanya Laura yang menggenggam tangan Nathan dengan erat.
“Aku ingin sekolah jurusan kedokteran, kalau kamu bagaimana?” Kata Nathan lembut.
__ADS_1
Laura menyandarkan kepalanya dipundak Nathan, “Aku juga ingin sekali menjadi dokter, tetapi kamu tahu. Bagaimana bisa gadis penyakitan sepertiku menjadi dokter.” Jawab Laura dengan nada sedih.
Nathan mengelus pucuk kepala Laura lembut, “Biarkan aku menjadi dokter untukmu.” Ucap Nathan sungguh-sungguh.
Laura menegakkan duduknya dan menoleh kearah kekasihnya, “Benarkah! Aku sangat senang sekali dirawat olehmu. Jika saja kamu tidak menikah, mungkin kita bisa menjalani bahtera rumah tangga. Bangun dan tidur selalu melihat wajahmu.” Kata Laura dengan air mata yang sudah menetes.
“Jangan bersedih, setelah satu tahun pernikahanku dengan Mika. Aku akan menceraikannya dan kita bisa menikah,” Jawab Nathan yang membuat Laura begitu gembira.
“Satu tahun? Tidak apa-apa aku akan menunggumu sayang, satu tahun bukan waktu yang lama.” Ucap Laura tersenyum dengan ceria.
“Iya.” Jawab Nathan ragu.
“Apa kamu benar-benar mencintaiku, Nath. Kamu tahu aku hanya gadis penyakitan yang mungkin tidak memiliki umur panjang?” Laura berkata dengan wajah dan nada sendu.
“Jangan bersedih, aku yakin kamu akan sembuh.” Jawab Nathan.
Bruk!
Suara kantung kresek terjatuh membuat dua orang yang tengah berbicara serius dengan saling menatap mengalihkan atensinya, Nathan terperanjat kaget, dan langsung berdiri dari duduknya.
“Mika.” Ucap Nathan lirih,
Satu tamparan dilayangkan kepada Laura dengan keras, terlihat betapa perasnya tamparan itu karena melukai ujung bibir Laura.
“MIKA!” Sentak Nathan.
“Itu untuk wanita yang sudah lancang berduaan dengan suami orang, dan kamu!”
Mikayla melayangkan dua tamparan di pipi Nathan tidak kalah kerasnya\, “Kamu pria breng*sek yang dengan sadar membawa wanita lain kedalam apartemen tanpa izin seorang istri dan apa katamu\, ingin menceraikanku dalam waktu satu tahu. Cih\, jangan mimpi kalian bahkan aku bisa membuat hidupmu dan kekasih mura*hanmu ini menderita!” Teriak Mikayla dengan lantang sehingga menggema diruang tengah.
Nathan menatap dalam kedua mata Mikayla, tidak ada keraguan di dalamnya. Semua yang dikatakan oleh Mikayla sungguh-sungguh. Jantung Mikayla berdetak dengan cepat dan iramanya kacau, baru saja dia memasuki masa pemulihan kini harus kembali berpacu.
Mikayla lantas langsung menarik kerah Laura dan menyeretnya dengan paksa keluar dari apartemen, “Ah, tolong Nathan!” Ucap Laura dengan memegangi dadanya.
“Mika, Mikayla!” Ucap Nathan mencoba menghentikan Mikayla.
Mikayla dengan cepat membuka pintu apartemen dan menghempaskan tubuh Laura hingga terjerembab di atas lantai, “Sekali lagi kamu menginjakkan kakimu diapartemen ini, aku patahkan sampai tulang rusukmu.” Ancam Mikayla yang membuat Laura gemetar.
__ADS_1
Nathan membelalakkan kedua matanya, dia menatap tidak percaya kearah Mikayla. Suara pintu tertutup dengan nyaring dan cepat.
Mikayla melewati tubuh Nathan begitu saja dengan memunguti kembali barang belanjaannya, Nathan masih bergeming di tempatnya. Dia melihat Mikayla mengusap air matanya dengan cepat sambil mengambil beberapa buah dan sayuran yang berserakan di atas lantai.
Dengan kasar, Mika menaruh semua barang belanjaannya di atas nakas. Berjalan masuk menuju kamar utama di ikuti oleh Nathan. Nathan mencekal pergelangan tangan Mika tetapi Mika hempaskan.
Nathan tidak menyerah, dia menggapai kembali pergelangan tangan Mika. “Berhenti,” ucap Nathan. Mika menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Nathan.
“Darimana saja kamu selama dua hari ini?” Tanya Nathan yang masih mencekal pergelangan Mikayla.
Mikayla hanya tersenyum sinis, dia memutar tubuhnya sehingga cekalan itu lepas. Ditatapnya dengan intens dan dalam mata Nathan. “Untuk apa kakak tau, bukankah suamiku ini asyik memadu kasih di dalam apartemen dengan wanita lain.” Jawab Mika dengan sarkas.
Mendengar ucapan Mika membuat amarah Nathan tersulut, “Apa kamu fikir aku pria mura*han, Laura hanya ingin melihat tempat tinggal kita.” Ucapnya dengan nada tinggi.
“Ingin melihat kemudian ingin menggantikan posisiku? Merajut mimpi dan cita-cita kalian berdua, merencanakan masa depanmu tanpa aku!” Teriak Mikayla dengan kedua mata yang sudah berkacaa-kaca.
“Mika, bukan seperti itu. Maafkan aku, tolong pahami keadaanku. Laura tengah sakit keras dan aku tidak bisa meninggalkannya saat ini.” Nathan berkata dengan wajah memohon dan suara lembut.
Tawa sumbang terdengar di kamar utama, “Apa, mengerti kalian? Lalu siapa yang akan mengerti diriku! Apa aku harus menerima dengan lapang dada di saat suamiku berencana menceraikanku, menjandakanku demi wanita lain!” Seru Mikayla dengan air mata yang sudah mulai menetes.
Jantung Nathan berdegup nyeri, hatinya sangat sakit melihat air mata istrinya. Tangannya tergerak untuk mengusap air mata yang masih meleleh mengenai wajah cantik Mikayla tapi Mikayla mundur satu langkah.
“Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu.” Ucapnya dingin dengan pandangan tajam kepada Nathan.
“Mika, a-aku….”
“Kita buat peranjian, jika dalam satu tahun kakak tidak bisa mencintaiku maka aku akan pergi dengan senang hati. Namun, jika dalam satu tahun ini kakak mencintaiku kakak harus meninggalkan Laura.” Lanjut Mika memberikan penawaran.
Nathan menggeleng tidak percaya, “Mika, Laura memiliki penyakit jantung. Bagaimana bisa dalam satu tahun dia bisa sembuh, bagaimana pula jika dia kambuh?” Jawab Nathan yang membuat Mika merasa jengkel.
“Apa aku harus sakit jantung dulu baru kakak tidak akan meninggalkanku?” Tanya Mika kembali.
Kedua bola mata Nathan bergetar mendengar pertanyaa Mikayla, dia tidak percaya Mika memiliki pemikiran sependek itu.
“Tidak, Mika.” Jawab Nathan dengan tertunduk.
Mikayla menghirup nafas panjang dan mengusap air matanya dengan kasar, “Kita akhiri pembicaraan ini, segeralah kakak bersiap-siap. Aku ingin jalan-jalan ke taman.” Ucap Mika yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Nathan menatap sedih pintu kamar mandi yang baru saja tertutup, air matanya metes tanpa aba-aba. “Kenapa hatiku sangat sakit saat kamu berbicara seperti itu Mika? Apa kamu berencana meninggalkanku selamanya?” Gumam Nathan dengan memegang dadanya.