Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KAMU HANYA MIKAYLAKU


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Seminggu kemudian,


Nathan tengah berada di dalam kantornya dengan secarik kertas di tangan kanannya. Terlihat kedua bola matanya dengan cepat membaca kata demi kata di dalam kertas tersebut.


Terlihat bibir Nathan yang bergetar karena menahan rasa haru dan bahagia yang bergejolak dalam hatinya, benar apa yang dia pikirkan.


Jika gadis yang dia lihat adalah Mikayla istrinya, istrinya masih hidup. Sedangkan mayat yang diatas namakan Mikayla selama ini memiliki identitas lain.


Namun, Nathan tidak langsung berlari untuk mengejar Mimayla. Justru dia merosot di atas lantai ruang kerjanya dengan menangis tersedu-sedu.


"Sayang, maafkan aku." Ucapnya dalam tangis.


Natha hanya mampu menangis saat ini, banyak hal yang dia sesali di masa lalu. Hatinya juga sakit karena mendapati kenyataan, jika Mikayla tidak dapat mengingat dirinya.


"Maafkan aku, Mika. Maafkan aku." Racau Nathan.


Kenan yang akan masuk mengurungkan niat nya, dia melihat bagaimana rapuhnya sang putra saat ini.


Tega? Tentu saja tidak, Kenan dan yang lainnya tidak pernah tega melihat Nathan serapuh saat ini. Hanya saja, mereka harus menahan semua rasa itu sampai pertemuan keduanya terjadi secara alami.


Kenan langsung menutup pintu dan mengintruksi agar ruangan hari ini hening sekaligus tidak mengganggu Nathan.


Kenan memberikan ruang untuk Nathan sampai anaknya tenang dan dapat berfikir dengan jernih.


Segera Kenan menghubungi Jackson untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya.


"Jack, Nathan sudah mengetahui semuanya." Ucap Kenan to the point.


"Aku tahu, lambat laun pasti akan ketahuan. Tetapi, masalahnya Mikayla lupa ingatan terlebih soal Nathan." Jawab Jackson jujur.


"Aku yakin, Mikayla akan mengingat Nathan jika mereka benar-benar berjodoh. Lalu, bagaimana rencanamu selanjutnya?" Tanya Kenan kepada Jackson.

__ADS_1


"Aku hanya membiarkannya mengalir seperti air, jika Mikayla mampu mengingat Nathan dan memaafkannya maka dengan senang hati aku menerima keputusan Mika apakah kembali atau meninggalkan Nathan." Jelas Jackson dengan sungguh-sungguh.


"Tentu, aku juga akan menunggu akhir kisah mereka. Cukup selama ini aku melihat istriku bersedih, Jack. Bagaimanapun istriku sangat menyayangi Nathan dan Mikayla." Ucap Kenan.


"Yah, istri kita sangat menyayangi anak-anak kita. Bahkan, Bintang tidak memarahi Nathan saat kejadian dulu hingga detik ini." Timpal Jackson yang di angguki Kenan di sebrang telfon.


"Kamu benar." Jawab Kenan pelan.


"Kita lihat saja mereka dari kejauhan yang pasti jangan sampai Luis tahu, kamu tahu sendiri seperti apa Luis kepada Mikayla. Bahkan aku saja tidak cukup berani untuk mengusik anak itu." Kata Jackson jujur.


"Hahaha, padahal keturunanmu. Baiklah, aku akan mengabarimu jika ada sesuatu yang penting." Jawab Kenan dengan tawanya.


Cukup lama Nathan menangis, hingga alarm di ponselnya berbunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dengan cepat Nathan mengusap air matanya kasar.


Dia mengontrol nafasnya agar tidak kembali menangis, "Baiklah, hari ini perjuanganmu Nath!" Ucapnya dengan penuh keyakinan.


Nathan segera berjalan keluar dengan melipat kertas dan di masukkan kedalam saku jasnya. Dia menelan tombol lift yang akan membawanya kebasement perusahaan.


Dengan cepat lihat terbuka, Nathan segera masuk. Hingga lift kini telah sampai di basement, Nathan meminta kunci salah satu mobil perusahaan terbaru yang sangat asing bagi orang lain maupun karyawan.


Jantung Nathan berdebar dengan kencang dan cepat, dia tidak menyangka jika istrinya masih hidup. Tuhan begitu baik baginya, karena Nathan masih mendapatkan kesempatan untuk berjuang kembali merebut Mikayla.


Di sisi lain, Mikayla yang sudah satu Minggu ini terus di awasi oleh Nathan selalu merasa cemas.


Meskipun Nathan mengawasinya dari kejauhan entah pagi, siang, maupun sore hari. Tetap saja Mikayla takut jika sewaktu-waktu Nathan datang kembali kepadanya.


"Mika, ayo makan siang!" Ucap Langit yang mengagetkan Mika dari belakang.


"Astaga! Ish, kakak bisa tidak sih tidak mengagetkanku." Jawab Mikayla dengan kesal.


"Kakak sudah memanggilmu sejak tadi, lagian kamu ngintip siapa sih? Apa kamu punya cengcengan baru di perusahaan ini?" Kata Langit yang tengah melihat kearah jalan raya.


"Cengcengan? Apa itu?" Tanya Mikayla heran.

__ADS_1


"Gebetan." Jawab Langit singkat.


Mikayla hanya mendengus kesal, "Bagaimana bisa punya gebetan, jika aku saja sudah memiliki suami." Omel Mika pelan.


"Hah, apa yang kamu katakan tadi?" Tanya Langit yang ingin mendengar lebih jelas.


"Tidak ada, ayo cepat masuk!" Jawab Mika berbohong.


Mikayla dan Langit berjalan menuju cafetaria perusahaan Gandratama, banyak pasang mata yang terlihat iri dan kagum secara bersamaan kearah mereka.


Banyak yang beranggapan jika keduanya adalah sepasang kekasih, tetapi pegawai lama tahu jika keduanya hanya saudara karena ibu mereka kakak beradik.


Tanpa Mikayla sadari, Nathan sudah berada di depan perusahaan Gandratama sejak satu jam lalu.


Nathan sengaja mengganti mobilnya dengan mobil perusahaan agar Mikayla tidak mencurigainya akibat menjadi stalker.


"Aku ingin berlari dan memelukmu dan mengatakan jika aku mencintaimu. Kamu adalah tujuan hidupku sayang." Ucap Nathan dalam hati.


Nathan terus melihat kemana Mikayla dan Langit pergi, beruntung jika cafetaria perusahaan Gandratama berada di lantai satu dan dekat dengan jendela sehingga memudahkan Nathan untuk mengawasi Mikayla dari kejauhan.


Nathan menghubungi sekertaris ayahnya sembari menunggu Mikayla selesai beristirahat.


"Halo, Tuan Natha." jawab sangat sekertaris.


"Apa perusahaan Wijayakusuma dapat bekerjasama dengan perusahaan Gandratama?" Tanya Nathan to the point.


"Tentu saja sangat bisa Tuan, kita bisa menawarkan investasi di perusahaan tersebut." Jelas sang sekertaris.


"Bagus, siapkan semua berkasnya. Besok kita akan dapat ke perusahaan Gandratama." Ucap Nathan yang langsung mematikan sambungan telfonnya.


Nathan masih terus mengunci pandanganya kearah gadis yang sesekali tertawa di depan Langit.


Namun, Nathan tidak suka meskipun tahu jika mereka bersaudara. Dia mendelik kesal kepada para pria di sana.

__ADS_1


"Kamu Mikaylaku, hanya Mikaylaku." Ucap Nathan yang melihat banyak pasang mata pria melihat kearah sang istri dengan tatapan memuja.


"Hais, kenapa kamu semakin cantik sayang! Lihatlah pria-pria itu ingin aku colok saja mata mereka." Gerutu Nathan di dalam mobil.


__ADS_2