
Happy Reading
Mendengar suara Laura hanya di tanggapi dengan mimik wajah muntah oleh keduanya, "Seharusnya kamu biarkan aku menjambak atau mencakarnya meski hanya sekali." Ucap Kinan dengan wajah di tekuk.
"Memangnya kamu pikir aku tidak ingin membantingnya?" Jawab Mika yang di akhiri tawa oleh keduanya.
Nathan hanya menoleh ke arah Mika hingga tubuh gadis itu hilang dari pandangannya menuruni anak tangga, "Sayang." Panggil Laura yang sudah bergelayut manja.
"Aku duan ya, Nath." Pamit Dean yang langsung berlari kecil menuruni anak tangga.
Dean melihat sekita mencari dua gadis yang baru saja turun hingga senyumnya merekah, dia berlari kearah keduanya yang tengah berjalan bergandengan tangan berdua.
"Woi, ghibah apa?" Ucap Dean dengan merangkul pundak kedua gadis tersebut.
"His, berisik!" Seru Kinan menatap Dean kesal.
Sedangkan Mikayla tetap santai meski mengusap telinganya sebentar, Nathan yang melihat pemandangan tersebut hanya terdiam di lantai dua. Laura yang mengikuti arah pandang kekasihnya membuat otak liciknya bekerja.
"Lihatlah, bagaimana mungkin ada istri yang dengan bebas di rangkul-rangkul oleh pria lain. Apalagi itu sahabatmu sendiri, Dean."
"Ups, atau jangan-jangan mereka menjalin hubungan di belakangmu sayang? Atau salah satu dari mereka ada yang saling suka?" Lanjut Laura tanpa bercermin perbuatannya.
Nathan yang tidak suka dengan ucapan Laura lantas melepaskan rangkulan tangan kekasihnya tersebut, "Jika begitu apa bedanya aku dengan Mika? Aku juga mau saja di sentuh oleh wanita lain yang bukan istriku. Dan kamu juga secara terang-terangan selalu menyentuhku di depan Mika hari ini, aku tidak suka dengan perbuatan kasarmu yang menuangkan minuman di kepala Mika hari ini." Jawab Nathan panjang lebar membuat Laura kaget dan takut.
"Bu-bukan begitu makhsudku, Sayang. Aku dan kamu sudah lama menjalin kasih sedangkan kamu dan Mika karena di jodohkan. Aku reflek berbuat seperti itu karena Mika menghina aku." Ucap Laura dengan wajah memelas dan berkaca-kaca.
"Sudahlah, Laura. Kamu paling tahu aku membenci sikapmu yang kasar dan semena-mena, terlebih lagi kamu membuat-buat ucapan di depan siswa lainnya seakan Mika wanita perebut pria lain. Kamu juga harus tau, Mika juga korban di perjodohan ini bukan hanya kita, bukan hanya kamu." Nathan berkata dengan menggebu kepada Laura bahkan dia sudah tidak perduli jika Laura menangis seperti tadi pagi.
"Tapi, Nath-"
__ADS_1
"Sudah cukup perdebatan kita hari ini, aku lelah. Aku akan pulang duluan," Nathan memotong ucapan Laura dan langsung berjalan meninggalkan kekasihnya tersebut.
Laura mengigit bibir bawahnya kesal, memandang punggung Nathan dengan tajam, kedua tangannya mengepal erat. Dengan cepat dia menoleh ke arah tiga orang yang tengah tertawa di depan gerbang, "Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, Mika!" Geram Laura dalam hatinya.
"Mika, ayo pulang bersamaku." Ajak Kinan kepada kakak iparnya.
Mika menggeleng, "Tidak, aku naik bis saja." Tolak Mikayla.
"Bis? Kamu naik bis?" Tanya Dean dan Kinan bersamaan dengan wajah tidak percaya.
Mikayla sedikit mundur, "Kenapa?" Tanya Mika kembali dengan penasaran.
"Nath- , bukan makhsudku di mana sopir keluargamu?" Tanya Kinan yang hampir kelepasan tetapi dengan cepat memotong ucapannya karena ada Dean.
"Di rumah, aku hanya ingin mencari suasana baru." Jawab Mikayla apa adanya.
"Mulai hari ini aku akan mengantar dan menjemputmu, aku akan mengambil mobil sebentar." Ucap Dean yang langkahnya terhenti karena Nathan di belakangnya.
Mikayla mengikuti langkah Nathan , sesekali dia menaap ke arah belakang seakan meminta jawaban tetapi kedua manusia yang terbengong ditempatnya juga tidak paham. Nathan dengan penuh emosi langsung membuka pintu mobil dan mendorong Mika kasar.
"Aww," Mika merintih karena kepalanya sempat terbentur pinggir pintu.
Nathan tidak menggubrisnya, dia langsung menutup pintu dengan kencang dan berjalan menuju pintu bagian kemudi. Mikayla menatapnya bingung, tapi segera dia memasang seat beltnya sebelum terjadi sesuatu hal yang lain.
Suara mesin mobil terdengar menyala dan dengan cepat mobil bergerak meninggalkan parkiran sekolah swasta elit tersebut, mobil sedan yang berjalan dengan kecepatan sedang perlahan kecepatannya naik karena mereka melewati jalan tol sehingga tidak ada hambatan.
Jantung Mikayla berdegup dengan cepat, dia memegang handel yang berada di atas dengan kedua tangannya. Merapalkan doa semoga semua sampai dengan selamat, sedangkan Nathan yang melihat Mika tidak mengatakan apapun semakin kesal.
Mobil sedan melaju kencang sampai keluar dari jalan tol, Mikayla yang sudah tidak sanggup menahan jantungnya langsung terjatuh lemas di kursi. Nathan yang melihatnya langsung mengerem dengan mendadak sehingga menimbulkan bunyi decitan ban.
__ADS_1
Nathan menghela nafas panjang, kedua tangannya mencengkram kuat stir mobilnya. Dia tidak tahu kenapa sangat marah karena Mikayla tidak menjelaskan apapun kepadanya, sebenarnya juga penjelasan apa yang di inginkan oleh Nathan.
"Bangun." Ucap Nathan dingin.
Tidak ada jawaban dari Mika, gadis itu tetap masih terpejam tidak bergerak sedikitpun. Nathan menoleh dan menggoyangkan tubuh istrinya, "Mika, bangun!" Ucapnya kembali.
Nathan pias karena Mikayla tidak merespon justru tubuhnya semakin ambruk di dalam mobil, "Mika jangan bercanda!" Seru Nathan panik.
Nathan langsung meneruskan perjalanannya, beruntung ada vila keluarganya berada di dekat perbatasan. Nathan melewati jalan tol untuk mencari tempat sejuk agar dia dan Mika dapat berbicara empat mata dengan nyaman tetapi apa yang dia perbuat membuat Mika menjadi pingsan.
Menempuh perjalanan sepuluh menit dengan kecepatan maxsimal, mobil sedan akhirnya sampai di sebuah vila yang tidak begitu besar. Seorang penjaga tergopoh-gopoh membuka gerbang vila yang baisanya di sewakan untuk orang lain.
Karena keadaan tidak memungkinkan untuk membawa Mikayla menuju vila untuk keluarga utama, dengan cepat Nathan menggendong Mikayla dengan cara bridal style. Penjaga yang bingung segera mengikuti langkah tuannya.
"Siapakan kamar utama." Ucap Nathan dengan cepat.
Penjaga lantas membukakan pintu kamar utama, Nathan langsung merebahkan tubuh Mikayla yang lemas tampak wajah yang pucat pasi. Nathan bingung jika dia menelfon dokter keluarga maka akan ketahuan jika dia sudah membuat Mikayla celaka.
"Den, pakai minyak kayu putih. Di usap-usapkan di telapak tangan dan kaki, juga di beri sedikit di depan hidung teman aden." Ucap penjaga yang memahami situasi jika gadis cantik yang tergolek lemah di atas ranjang tengah pingsan.
"Di mana Bi Jum?" Tanya Nathan.
"Sebentar lagi datang, Den. Bi Jum biasa pulang dulu mengurus suaminya yang sedang sakit." Jawab penjaga vila jujur.
Nathan membuka sepatu dan melepas kaos kaki Mikayla, mulai membalurkan minyak kayu putih di telapak kaki istrinya dengan lembut dan telaten. Kembali menutupnya dengan kaos kaki karena kaki Mikayla sedingin es. Kini beralih ke tangan yang lembut, rasanya baru saja tangan itu memegang pipinya.
Nathan menggosok-gosok telapak tangan Mikayla secara bergantian dan memberikan minyak kayu putih di dekat hidung Mika, juga kedua didi kepala Mikayla.
"Maafkan aku, Mikayla." Ucap Nathan pelan.
__ADS_1
Nathan mengecek nafas Mikayla dan juga menempelkan detak jantung Mika, tetapi keningnya berkerut karena detak jantung Mika terdengar aneh. "Ah, aku tidak boleh berfikir aneh-aneh. Ini karena aku terlalu bersemangat untuk menjadi dokter." Ucap Nathan kembali dengan lirih.