Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
AYAH YANG JOROK


__ADS_3

Mohon maaf atas ketidaknyamanan jika lima bab terakhir kacau πŸ™ autor tidak akan membaca komentar sebelum autor selesai update bab ya πŸ™ jujur autor berterima kasih dengan teman-teman yang memberi masukan, autor bahkan sesekali terinspirasi alur cerita dari komentar teman-teman. Hanya saja, autor jika dipaksa untuk alur cepat yang ada malah stuck ide dan besoknya malas nulis karena bingung apalagi yang mau ditulis 😭😭😭 ini mau lanjut kisahnya Kinan atau Mikayla? Jujur udah selesai si Mika konfliknya πŸ₯ΉπŸ₯Ή padahal masih sepanjang jalan kenangan, gimana keduanya sama-sama berjuang untuk hidup. Tapi gapapa, autor meminta maaf sebesar-besarnya kepada teman-teman yang kecewa dan kurang puas dengan cerita yang autor bawakan πŸ™πŸ˜­


Happy Reading 🌹🌹


"Besok sudah bisa pulang, Pak." Jawab seorang perawat.


Nathan hanya menatap kearah Mika yang hanya di balas oleh senyuman cantiknya, hingga perawat undur diri Hadi ruangan Mika dan bayinya.


"Kenapa istriku bisa tahu besok pulang, apa selama aku koma Mikayla dapat menerawang masadepan?" Gumam Nathan yang hanya menggaruk pelipisnya pelan.


Seperti hari-hari sebelumnya, Nathan dengan setia menemani Mikayla di rumah sakit. Hingga tak terasa pagi menjelang, suasana rumah sakit yang tidak pernah sepi hanya saja saat malam hari lebih tenang dan tidak riuh seperti pagi hingga sore hari.


Nathan terbangun dari tidurnya setelah mendengar sayup-sayup suara orang lain bersama istrinya, keningnya berkerut dalam dengan menatap kearah berangkat sang istri.


Terlihat dokter tengah mengobrol dengan Mika dan undur diri, "Sudah bangun?" Tanya Mika lembut.


Nathan mendudukkan tubuhnya agar dapat mengumpulkan nyawa, "Ada apa sayang, kenapa dokter datang ke sini?" Tanya Nathan dengan suara serak dan tidak membalas pertanyaan Mikayla.


"Tadi dokter hanya mengecekku dan juga kondisi putra kita." Jawab Mika lembut.


Nathan hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja, Mika yang melihat sang suami masih digelayuti rasa kantuk merasa lucu sekaligus kasihan.


Karena setelah dia melahirkan, Nathan tidak pernah meninggalkannya seorang diri.


"Segera cuci muka, sayang. Sebentar lagi Kak Luis datang." Kata Mikayla kembali.


Nathan masih setia hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjalankan perintah dari istrinya.


Justru Nathan kembali menidurkan tubuhnya di atas sofa, baru malam kemarin baik Nathan dan Mika tidak dapat tidur karena anak mereka yang terus menangis di malam hari.


Hal itu sangat menguji kesabaran Nathan yang setipis tisu di belah dua, keluarganya hanya menjenguk sesekali karena terlalu sibuk dengan urusan mereka.

__ADS_1


Dari para Ayah yang sibuk menghandle perusahaan dan para Mama yang membantu suaminya bekerja.


Beruntung, teman-teman Mikayla mau menjaga secara bergiliran dengannya saat semua orang sibuk meskipun sangat menantikan kelahiran dan juga menunggunya untuk segera terbangun dari koma.


Tidak berselang lama, pintu ruangan Mika diketuk dari arah luar. Membuat Mika bersuara dari dalam untuk mempersilahkan orang tersebut masuk.


"Masuk!" Ucapnya.


Pintu ruangan bergerak kearah dalam, sepatu pantofel yang licin terlihat tak lupa celana kain yang senantiasa orang itu kenakan.


"Kakak, cepat sekali datang?" Tanya Mika yang tersenyum melihat kehadiran Luis


"Benarkah? Ini sudah pukul delapan." Jawab Luis dengan melihat jam tangannya dan membalas senyuman sang adik.


"Masih pagi, bahkan belum ada satu jam dokter keluar dari kamar." Jelas Mikayla yang kini menyerahkan putranya kepada Luis.


"Mungkin karena aku sudah tidak sabar bertemu dengan keponakanku yang jagoan ini." Ucap Luis dengan menimang putra Nathan.


Luis mengikuti arah pandang sang adik, tampak pria tampan yang biasanya selalu rapi dan wangi kini sangat kacau.


Celana pendek berbahan jeans dan juga kaos rumah, tidak lupa rambut Nathan yang berdiri seperti singa saat bangun tidur tak luput dari pandangan Luis.


Luis hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Beruntung kamu melihat Nathan seperti itu setelah melahirkan, kakak tidak bisa membayangkan bagaimana wajah tampan ponakanku akan ternodai seperti suamimu saat ini." Kata Luis yang kini berjalan kearah sofa mendekati Nathan.


Luis menendang pelan kaki Nathan yang terulur di atas lantai, sedangkan pantat keatas di atas sofa dengan posisi berbaring miring.


"Hey! Bangun ....".Ucap Luis pelan yang masih menyenggol Kaki Nathan.


Nathan hanya mengangkat kedua kakinya di atas sofa dan tetap melanjutkan tidurnya, Mikayla yang tengah berkemas hanya tertawa pelan.


"Hey! Bangun!" Seru Luis yang membuat bayi merah dalam gendongannya tersebut menangis melengking hingga memenuhi kamar rawat yang luas tersebut.

__ADS_1


Tangisan anaknya bagaikan alarm di otak Nathan, seketika dia langsung bangun dengan wajah panik.


"Ke-kenapa lagi, sayang? Apa anak kita haus, atau ngompol, atau be*rak, atau apa?" Cecar Nathan dengan cepat.


Luis melindungi sang ponakan dari Nathan, "Cepat basuh wajahmu dan segera pulang." Ucap Luis dengan menenangkan ponakannya.


"A-ah, sudah datang...." jawab Nathan tersenyum kikuk.


"Kau sedang tidak mimpi, cepat sama atau kami pulang lebih dulu." Ancam Luis yang masih menenangkan sang ponakan.


"Berikan putraku, semua ini karenamu dia jadi menangis lagi. Padahal tangisannya sedang di isi sumber daya untuk nanti malam." Cebik Nathan kesal.


Luis menjauh dan menghalangi Nathan untuk mengambil bayi tampan dalam gendongannya, "Menjauh kamu, kau Ayah yang sangat jorok! Banyak kuman, apa kamu mau anakmu ini sakit." Cecar Luis dengan memunggungi Nathan


Nathan hanya memutar bolanya malas, "Sudah sayang, segera mandi kami akan menunggu di sini." Ucap Mika lembut dengan memberi paper bag yang di bawa Luis hari ini kepada sang suami.


"Baiklah, tunggu Ayah ya jagoan." Jawab Nathan kepada putranya yang masih di halangi oleh Luis


Nathan memajang wajah kesal tapi datar, segera dia melangkah masuk ke dalam kamarandi untuk bebersih diri.


"Mika susuin dulu, Kak." Kata Mika kepada Luis.


Dengan berat hati, Luis memberikan bayi merah itu kepada Mikayla. Segera Mika mencoba beri teraksi kepada bayi yang masih menangis dengan membuka dua kancing pakaiannya.


Luis duduk dengan menonton televisi tanpa melirik sedikitpun kearah Mika yang juga memunggunginya.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, sedangkan di dalam ruangan hanya ada suara televisi yang tengah menyiarkan harga saham luar negeri.


Hingga tidak berselang lama, Nathan keluar dengan pakaian bersih dan baru. Buru-buru pria itu melangkah mendekat kearah Mika dan mencium keningnya kemudian barulah mencium pipi putranya yang tampak sudah tertidur dengan nyenyak dalam gendongan sang istri.


"Ayo, pulang jagoan!" Ucap Nathan yang kini menggendong anaknya.

__ADS_1


Mika tersenyum sedangkan Luis mematikan televisi dan bangkit dari duduknya, "Kau saja yang menyetir biar aku yang menggendongnya." Ucap Luis yang langsung membuat raut wajah Nathan sedingin es kutub Utara


__ADS_2