Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
APA BENAR, AKU SUDAH JATUH CINTA KEPADANYA


__ADS_3

Happy Reading


Mikayla yang merasa terganggu dengan suara Nathan, menggeliatkan tubuhnya hingga memunggungi Nathan. Mikayla yang ingin kembali tidur menggerak-gerakkan kepalanya, "Kenapa keras," Ucapnya dalam hati.


Mika meraba dengan mata terpejam, tampak sesuatu yang panjang, keras, berurat. Kening Mikayla berkerut dalam memikirkan apa yang tengah dia tiduri hingga merasa ada sesuatu yang berat menimpa perutnya.


Agak lama dia berfikir hingga kedua matanya membuka lebar saat tangannya di genggam oleh benda yang dia raba. "Aaa ...."


Mikayla terjatuh dari atas tempat tidur dengan wajah kaget, sama halnya dengan Mika. Nathan juga kaget karena ulah istrinya.


"A-apa yang sedang kamu lakukan!" Ucap Mikayla terbata kepada Nathan yang bertelanjang dada.


"Aku tidak melakukan apapun." Jawab Nathan jujur.


"Ta-ta ... tapi kenapa kamu tidak mengenakan pakaian dan satu lagi kenapa kamu bisa tidur di atas ranjang denganku?" Cecar Mikayla tergagap.


Nathan melihat kearah dirinya sendiri, benar saja Mikayla kaget karena situasinya memang membuat orang salah paham. Dengan santai Nathan meringsut turun dan membantu Mikayla bangun dari atas ubin.


Mikayla justru mundur karena pikirannya sedang tidak singkron, akhirnya Nathan mengalah, "Semalam kamu demam tinggi dan aku sudah mengompresmu, bukannya turun tapi demammu semakin naik hingga aku melakukan metode skin to skin." Jelas Nathan pelan.


Mendengar ucapan Nathan, lantas membuat Mikayla menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Dia melihat ternyata pakaian yang dikenakan masih utuh tidak terlepas dari tempatnya.


Nathan hanya mengehla nafas panjang dan bangkit menuju kamar mandi, "Jangan berfikiran aneh-aneh, aku hanya ingin membantumu," ucap Nathan sebelum menutup pintu kamar mandi.


Mikayla hany menatap pintu kamar mandi dengan diam, dia segera bangkit untuk duduk di atas kasur. Hingga pintu kamar mandi kembali terbuka, "Apa yang kakak perlukan?" Tanya Mikayla pelan.


"Tidak ada." Jawab Nathan acuh dan berlalu dari hadapan Mika.


Nathan membuka kulkas untuk mengecek apa ada yang dapat di masak untuk Mikayla, sayangnya kosong hanya tersisa telur ayam dan itu hanya dua butir. Sejenak Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seumur hidup dia belum pernah memasak.

__ADS_1


Mikayla yang berada di dalam kamar segera keluar saat mendengar sesuatu yang heboh di luar kamar utama, terlihat Nathan memegang tutup panci dan juga spatula. Terdengar beberapa kalimat umpatan yang keluar dari mulut Nathan karena merasa kesal.


"Hey, telur. Diam jangan meletup-letup!" Ucapnya dengan mengarahkan spatula kearah penggorengan.


Mikayla yang melihatnya hanya terkekeh geli, memang terkadang saat kita menggoreng telur mata sapi bagian bawah sedikit meletup-letup. Mika melihat usaha Nathan dalam memasak hingga akhirnya dia keluar dari persembunyian karena melihat asap yang mengepul.


"Astaga, Kakak. Jangan menyalakan kompor terlalu besar saat menggoreng telur!" Ucap Mikayla dengan mematikan kompornya cepat.


Dengan dada naik turun Nathan hanya mampu menatap nanar telur yang sudah berwarna hitam legam, "Maaf, aku hanya ingin membuatkanmu sarapan." Kata Nathan seperti mau menangis.


Mikayla menghela nafasnya pelan, "Kita sarapan di luar saja, Kak. Segera bersiaplah untuk sekolah hari ini TO terakhirkan? Mika akan membereskan dapur." Jawab Mikayla lembut.


Nathan menyerahkan spatula dan penutup panci, dia berjalan gontai meninggalkan area dapur dan Mika. Segera Mika memindahkan telur hitam itu di piring dan menyimpannya, dia membersihkan kekacuan yang dibuat oleh Nathan pagi ini.


*


*


*


"Nasi uduk?" Beo Nathan.


Mikayla mengangguk, segera Nathan mencari penjual nasi uduk pagi ini sebelum ebrangkat ke sekolah. Beruntung tidak jauhd ari sekolahan mereka ada penjual nasi uduk yang sudah buka segera Nathan menepikan mobilnya.


Mereka segera memesan nasi uduk dan beberapa lauk, kali ini Mikayla juga sarapan nasi uduk karena perutnya benar-benar terasa sangat lapar. Segera mereka memakan nasi dengan lauk ayam goreng dan juga teh hangat, tidak membutuhkan waktu lama sarapan mereka habis.


"Kak, Mika pulang naik taxi ya." Ucap Mikayla kepada Nathan.


Nathan mengeluarkan satu kartu atm dan diserahkan kepada Mikayla, Mika yang menatapnya bingung karena dia juga memiliki kartu atm sendiri, "Untuk apa kak?" Tanya Mika

__ADS_1


"Untuk kamu berbelanja, selama ini aku tidak memberimu nafkah, Jadi gunakan ini sebaik mungkin, mungkin di dalam tidak begitu banyak uangnya tetapi itu hasil aku memenangkan beberpa perlombaan basket tiga tahun ini." Jelas Nathan pelan.


Mikayla terasa terharu, dia menerima dengan senang hati. Mikayla berfikir jika Nathan akan memberinya uang belanja dari pemberian orang tua tetapi hasil pertandingan basket.


"Tapi, Mika sudah diberi uang oleh Papa dan Mama Alice." Ucap Mika jujur.


"Tidak apa-apa, ini dari aku." Kata Nathan lembut.


Melihat istrinya yang ingin menangis segera Nathan memeluknya, "Jangan menangis, maaf belum bisa memberi banyak." Ucap Nathan lagi,


Mikayla menganggukkan kepalanya dalam dekapan sang suami, "Aku bahagia, meskipun tidak banyak tetapi ini hasiil perjuangan kakak dalam pertandingan basket. Tapi, memang pertandingan basket dapat hadiah uang?" Suasana yang awalnya sendu kini berubah jadi komedi karena pertanyaan polos Mika.


Tawa Nathan terdengar keras, dia tidak percaya dengan perntanyaan yang keluar dari Mikayla. Dengan gemas dia menangkup kedua pipi istrinya, "Dapat hadiah meskipun nominalnya kecil." Jawab Nathan lembut.


Mikayla berkedip-kedip lucu dengan bibir yang mengerucut akibat perbuatan Nathan, dia menganggukkan kepalanya paham. Nathan segera melepaskan tangkupannya dan mengelus pucuk kepala Mikayla.


"Aku akan membayar makanan kita dulu." Ucap Nathan yang berjalan menuju kembali kearah penjual nasi uduk karena tidak ada kasir.


Mikayla dengan hati bahagia menanti Nathan yang tengah membayar sarapan mereka, kini Nathan menemani Mikayla menunggu taxi. Hingga sebuah taxi berhenti di depan mereka, Nathan dengan cepat membuka pintu taxi dan membantu Mikayla masuk kedalam taxi.


"Sukses ya kak." Kata Mika lembut.


"Iya, hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai apartemen." Jawab Nathan.


Mikyala mengangguk dan segera taxi melaju meninggalkan Nathan yang masih berdiri di tempatnya, Nathan memegang dadanya yang berdebar-debar sejak semalam. "Apa benar, aku sudah jatuh cinta kepadanya." Ucap Nathan tersenyum tipis.


Saat memeluk Mikayla, Nathan merasakan jantungnya berdebar tidak menentu. Debaran yang berbeda, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya terhadap lawan jenis termasuk Laura. Dia teringat pertanyaan Dean tempo hari mengenai makanan kesukaan Laura.


Bukan menjawab makanan kesukaan kekasihnya melainkan makanan kesukaan Mikayla sang istri. Dia marah tanpa sebab setiap melihat Mikayla bersama Dean, hatinya sangat panas jika melihat Mikayla menoleh selain kepadanya.

__ADS_1


Itu sebabnya, Nathan terjaga sepanjang malam untuk menjaga Mikayla sekaligus memastikan perasaannya. Apakah selama ini dia cinta kepada Laura? Atau cinta kepada gadis yang baru saja hadir di dalam hidupnya?


Dari kejauhan seseorang memandangnya dengan penuh kebencian, dia mengepalkan kedua tangannya penuh amarah. "Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Ucap orang tersebut.


__ADS_2