
Happy Reading
Bruak! Tidaaakkkkk!
Semua mata mendadak memandang ke arah suara tumbukkan yang sangat keras itu. Namun, mereka semua seakan terpaku di tempat masing masing, hingga suara decit mobil yang nyaring membuyarkan kebekuan itu.
Mereka saling bertanya satu sama lain, belum mengetahui dan menyadari sepenuhnya apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu. Mereka baru sadar saat mendengar suara teriakan seorang wanita yang terdengar begitu menyayat hati.
"Nathaaaaan! Nathan, bangun, Nathan! Jangan tinggalkan aku, Sayang! Bangun, Nathan! Buka matamu!" Mika menjerit sejadinya, air matanya bercucuran membasahi kedua belah pipinya, beberapa
di antara tetesan air mata itu malah ada yang menetes ke kepala Nathan yang terluka sangat parah.
"Tolong! Tolong saya! Tolong! Tolong panggilkan ambulans untuk suami saya!" Mika berteriak meminta tolong pada orang- orang sekitarnya
Beberapa orang teman Mika yang masih berada di cafe itu terkejut mendengar suara dentuman keras yang disusul dengan teriakan kencang Mika meminta pertolongan. Dengan sigap mereka berlari menuju ke arah suara Mika dan mereka sempat membeku di tempat saat mata mereka bertubrukan dengan Mika dan Nathan.
"Ya ampun, Mika! Kamu tidak apa- apa, 'kan?" Salah satu teman Mika berseru kaget lalu berpaling ke belakang.
"Rio! Farhan! Kristi! Telepon ambulans minta untuk secepatnya datang kemari! Cepat, waktu kita tidak banyak!" Rinda memerintahkan teman- temannya yang lain.
"Iya, iya." Teman- teman Mika menyahut secara bersamaan.
Serentak mereka menelepon rumah sakit- rumah sakit terdekat untuk meminta bantuan ambulans, sementara Mika yang masih menangis terus ditenangkan oleh Rinda.
"Sudah, Mika. Jangan menangis lagi, teman- teman yang lain sudah berusaha semampu mereka. Mudah- mudahan Kak Nathan bisa cepat mendapatkan pertolongan dan kita tidak terlambat." Rinda menghibur sahabatnya.
Mika tidak mampu berkata apa- apa kecuali menangis dan terus menangis. Kurang lebih satu menit berlalu, tetapi pertolongan pertolongan belum datang juga. Mika sudah merasa putus asa, dalam keputusasaannya dia mulai menggumam tentang sesuatu
__ADS_1
"Kak, aku minta maaf kalau selama ini aku telah menyembunyikan sebuah kenyataan dari kakak. Sebenarnya aku berencana untuk mengatakannya nanti di saat kakak berulang tahun. Tapi, dengan adanya kejadian seperti ini aku tidak tahu apakah aku bisa mengatakannya nanti," lirih Mika.
"Sssh, sudah, Mik. Sudah, tidak usah berburuk sangka pada Sang Pencipta, berdoalah agar Allah memberikan jalan yang terbaik untuk suamimu, Mika. Untuk kejutan yang kamu maksudkan, kamu bisa menyimpannya untuk nanti. Berharaplah agar suamimu tidak apa- apa, Sayang," ucap Rinda tak kalah lirih.
"Aku pun berharap seperti itu, Rin. Tapi, aku takut ... bagaimana jika ternyata apa yang kuharapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi dan aku kehilangan suamiku. Bagaimana, Rin," resah Mika
Tangis Mika kembali pecah setelah mengatakan hal itu, dia tidak peduli lagi dengam rasa malu. Dia bahkan tidak peduli lagi dengan tatapan iba orang- orang yang mengerumuninya.
Mika bahkan tidak memedulikan pakaian dan celananya yang sudah berubah warna menjadi semerah darah yang terus mengucur dari luka yang ada di kepala Nathan.
Entah sudah berapa lama Mika menangis, ketika terdengar raungan sirene ambulans yang semakin mendekat. Mika bahkan tidak menyadari sama sekali ketika tubuh lemah Nathan dan tubuhnya sama- sama dibaringkan di brankar di dalam ambulans dan mendapatkan pertolongan pertama dari para petugas medis.
"Ayo, kita ikuti mobil ambulans itu. Mika pasti akan memerlukan bantuan kita di rumah sakit nantinya," tandas Rinda.
Keempat orang itu pun bergegas masuk ke dalam mobil masing- masing dan langsung mengikuti mobil ambulans yang sudah melaju terlebih dahulu. Tak kurang dari tiga puluh menit, mereka semua pun tiba di Rumah Sakit Sejahtera. Mobil ambulans yang membawa Mika dan Nathan langsung berhenti di depan Instalasi Gawat Darurat.
Para petugas medis pun berlarian dari dalam ruang IGD kemudian memindahkan Nathan dan Mika dengan cekatan ke dalam ruang IGD agar langsung mendapatkan penanganan serius. Kurang lebih dua puluh menit Rinda dan ketiga orang temannya itu menunggu di depan ruang IGD untuk mendapatkan kepastian tentang kedua teman mereka.
"Kami, Dok. Bagaimana keadaan keluarga kami, Pak dokter?" tanya Rinda mewakili teman- temannya.
Dokter yang memakai kartu identitas bernama Andreas itu pun menjelaskan keadaan Nathan yang mengalami koma karena benturan keras di kepalanya dan Mika yang telah hamil enam belas minggu. Keempat teman Rinda saling bertukar pandang satu sama lain, ada duka, suka dan rasa haru di sana.
"Ibu Mika kami pindahkan di ruang rawat inap dan besok sudah bisa pulang jika tidak ada kelainan apa pun pada janin yang beliau kandung. Sementara untuk Pak Nathan akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk pengawasan lebih," ucap dokter Andreas. "Jika menginginkan, kalian bisa melihat kondisi Pak Nathan tetapi secara bergantian, ya."
Dokter Andreas mempersilakan Rinda dan teman- temannya untuk masuk bergantian karena kondisi Nathan yang tidak memungkinkan, sementara Mika akam dipindahkan ke kamar rawat inap untuk mengobservasi apakah janinnya mengalami gangguan atau tidak paska kejadian tersebut.
"Mika, hamil?" Lirih Rinda.
__ADS_1
"Iya, semoga bayinya tidak apa-apa." Jawab Rio dengan merangkul pundak Rinda.
"Astaga, kenapa semua menjadi kacau seperti ini. Kita harus menghubungi keluarga Mikayla dan suaminya." Ucap Rinda panik.
"Ponsel, mana ponsel Mika?" Tanya Andreas tak kalah panik.
Rinda segera membuka tas Mika yang di bawakan oleh teman-temannya, beruntung ponsel Mika tidak di beri kata sandi sehingg Rinda dengan mudah mengaksesnya. Dia membuka bagian panggilan dan tertera nama MOMMY di sana segera dia menekan untuk menghubunginya.
Sembilan bulan kemudian ...
Tak terasa waktu terus berlalu, selama sembilan bulan lamanya Mika bolak balik ke rumah sakit untuk menemani suaminya yang masih belum sadarkan diri hingga saat ini dan memeriksakan kandungannya yang semakin hari semakin membesar.
Beruntung ada teman-teman seperti Rinda, Rio, Farhan, dan Kristi yang selalu siap menemani dan membantunya. Tak jarang Rio dan Farhan membantunya menjaga Nathan di rumah sakit, sedangkan Rinda dan Kristi menemaninya kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan diri dan kandungannya.
Hari ini, Mika bermaksud menjenguk Nathan di rumah sakit ditemani oleh Rinda dan Kristi yang sudah berada di apartemennya sejak beberapa minggu lalu. Sejak kontrol kehamilan terakhir dan diberitahu mengenai hari perkiraan kelahiran Mika, kedua sahabatnya itu memutuskan untuk menemaninya di apartemen, hal itu tentu saja membuat Mika merasa sangat senang sekali
"Mika, ayo, kita berangkat ke rumah sakit," ajak Rinda sambil mengetuk pintu kamar Mika.
Tidak ada jawaban, Rinda kembali mengetuk pintu kamar tersebut tetapi masih tetap tidak ada jawaban. Dengan rasa ingin tahu, Rinda mencoba membuka pintu kamar Mika dan mendapati sahabatnya itu tengah merintih kesakitan.
Melihat hal itu, Rinda gegas berlari mendatangi Mika dan menanyakan ada apa. Mika menjawab perutnya terasa sangat sakit, tetapi berbeda dengan rasa sakit yang biasanya. Mendengar jawaban Mika, Rinda pun gegas keluar dari kamar dan berteriak.
"Kristi! Bantu aku cepat. Mika sepertinya sudah waktunya melahirkan!"
Mendengar suara teriakan Rinda, Kristi gegas berlari ke kamar Mika. Dibantu oleh Rinda, mereka berdua membopong Mika menuju ke mobil. Rinda bergegas menyalakan mesin mobilnya sementara Kristi sigap menyambar tas perlengakapan dan peralatan melahirkan milik Mika.
Setelah semua berada di dalam mobil, Rinda gegas melajukan mobilnya ke Rumah Sakit Sejahtera. Sesampainya di sana, Mika segera ditangani oleh dokter kandungannya yang dengan cekatan meminta para suster jaga menyiapkan ruang operasi untuk melaksanakan operasi sesar bagi Mika.
__ADS_1
Seluruh keluarga Mika dan Nathan langsung di hubungi oleh Rinda mengabarkan jika Mikayla akan melahirkan, meskipun ada mereka tetapi support dari keluarga sangat di butuhkan oleh Mikayla mengingat Nathan yang masih setia memejamkan kedua matanya.
Begitu mendapatkan kabar, segera keluarga Anderson dan Wijayakusuma berangkat menuru rumah sakit. Mereka juga mengabari Luis dan Kinan mengenai kelahiran anak Mikayla meskipun entah kapan mereka akan datang yang terpenting mereka sudah mengabari terlebih dahulu.