
Happy Reading
"Nath, pulanglah hari ini. Ingat Mama berulang tahun, sudah cukup selama ini kamu tidak pernah menginjakkan kaki di mansion." Kenan berkata sebelum meninggalkan ruang kerjanya.
"Untuk apa aku pulang, untuk menerima kebencian dari kalian?" Jawab Nathan dingin tanpa menoleh kearah sang ayah.
"Kami tidak membencimu, hanya ....."
"Hanya menyalahkan semuanya kepadaku." Potong Nathan dengan cepat.
Kenan lantas memutar tubuhnya karena posisinya berbicara memunggungi Nathan, "Tidak ada yang menyalahkanmu sepenuhnya, kami juga merasa bersalah. Sudah ayah peringatkan kepadamu sebelumnya Nathan, tidak mungkin ayah membeberkan semuanya dan ikut campur urusan rumah tangga kalian. Seharusnya kamu sebagai penerus Wijayakusuma menggunakan kekuasaanmu seperti Mikayla. Dia menggunakan kekayaan Jackson untuk mencari tahu siapa sebenarnya Laura dan dengan diam bergerak di bantu oleh Dean dan Luis." Ucap Kenan panjang lebar mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Kenapa kalian tidak memberitahu tentang penyakit Mika sejak awal, jika kalian memberi tahuku sejak awal maka aku akan meninggalkan Laura dan tidak akan pernah melakukan kesalahan sebesar ini." Jawab Nathan dengan berteriak kepada Kenan.
"Apa kamu yakin tidak akan berakir seperti ini? Apa kamu dapat menjamin semuanya? Apa kamu tidak pernah berfikir bagaimana takutnya Mikayla jika sampai kamu tahu dia memiliki penyakit jantung? Mikayla memohon kepada kami para orang tua untuk merahasiakan semuanya karena apa! Karena dia tidak ingin di kasihani olehmu Nathan. Dia tidak ingin mendapatkamu dengan menjual kisah sedihnya!" Sentak Kenan yang langsung berlalu dari ruangan CEO
Tubuh Nathan terpaku sesaat, dia sangat membenci dirinya sendiri kenapa tidak bisa menjadi pria yang tegas untuknya dan Mikayla.
"Argh!" Nathan membanting dokumen yang ada di tangannya ke atas lantai dengan berteriak frustasi.
Nathan menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa yang tidak jauh darinya, die memegang peningnya yang selalu berdenyut setiap membahas tentang Mikayla. Hingga akhirnya dia beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari ruangan sang ayah dengan menutup pintu cukup kencang.
Langkah lebar Nathan berjalan menuju lift untuk menuju lantai basement perusahaan, terlihat wajah datar nan dingin dia masuk kedalam lift seorang diri. Tidak membutuhkan waktu lama pintu lift terbuka setelah sampai di lantai basement.
__ADS_1
Nathan berjalan keluar dengan merogoh saku celananya untuk mengambil kunci, dia mennekan tombol kunci, dan membuka pintu mobil. Terdengar suara mesin mobil menyala dan perlahan mobil Nathan bergerak meninggalkan area basement Perusahaan Wijayakusuma.
Dengan kecepatan sedang, Nathan menjalankan mobilnya membelah kemacetan jalan raya di sore hari. Dia mengendarai mobilnya tidak tentu arah, pikiran dan hatinya sangat kacau hari ini. Ingin sekali dia mencaci dirinya sendiri tetapi setiap hari sudah dia lakukan.
Hingga akhirnya mobilnya berheti tidak jauh dari sebuah halte bis, Nantah menungkupkan kepalanya di kedua tangan yang sudah melipat di atas stir mobilnya. "Apa aku datang kemakam saja." Gumam Nathan dalam hati.
Nathan akhirnya menegakkan duduknya, dia menghela nafas panjang, kembali Nathan menyalakan mesin mobilnya. Saat Nathan akan menyebrang untuk masuk ke jalur utama, pandangannya terhenti pada satu gadis yang membuat kedua matanya melebar sempurna.
"Mikayla." Ucapnya lirih.
Gadis dengan mengenakan rok span dan sepatu hak tinggi, mengenakan kemeja polos dan tas jinjing di tangannya. Tampak angin menerpa rambut panjangnya yang tergerai sehingga beberapa kelai rambut menutupi wajahnya.
Air mata Nathan tiba-tiba menetes tanpa mengalihkan atensinya dari wanita yang koni berjalan masuk ke dalam bis bersama karyawan yang lain, bis yang berada di depan mobilnya perlahan bergerak meninggalkan halte bis setelah para penumpang masuk dan duduk di kursinya masing-masing.
Sedangkan di dlam bis, Mikayla kini memasang airphone yang selalu dia bawa beberapa tahun terakhir ini. Dia menikmati perjalanan pulang kerja menuju mansion, meskipun sangat melelahkan tetapi ini salah satu dirinya untuk melepaskan rasa penat setelah seharian bekerja sekaligus untuk nostalgia saat remaja dulu.
Tampa Mikayla sadari, Nathan sudah menyamai kecepatan bis yang di tumpanginya, Nathan sesekali melihat jalan yang ada di depannya tetapi dia juga menatap Mikayla yang tengah membuang pandangannya ke luar jendela bis.
"Mika." Ucap Nathan lagi,
Nathan membuka pintu mobilnya, dia menyetir menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya bergerak untuk menarik perhatian gadis yang dia yakini adalah Mikayla.
"Mikayla!" Seru Nathan.
__ADS_1
Aksi Nathan mendapatkan perhatian dari para penumpang di dalam bis, "Astaga! bukankan itu anak dari pemilik Perusahaan Wijayakusuma!" Seru penumpang wanita yang membuat penumpang lainnya termasuk Mika mengarahkan pandangannya kearah pria yang mengendarai mobil berwarna merah.
"Mika!" Seru Nathan lagi,
Mikayla yang melihatnya tentu saja sangat kaget, lantas Mika membuang pandangannya dari luar jendela. Dia sangat panik dan bingung bagaimana bisa Nathan menemukannya, apakan Kinan memberitahukannya kepada Nathan. Isi pikiran Mikayla berkecamuk dengan hebat, selama di perjalanan Mikayla tidak berani menoleh ke arah luar jendela karena merasa mobil Nathan masih terus mengikutinya.
Hingga bis yang di tumpangi Mikayla kini berhenti di halte dekat mansionnya, Mika mau tidak mau harus turun. Sedangkan Nathan langsung menghentikan mobilnya. Mika segera turun dan berjalan dengan cepat, dia menghindari untuk bertemu Nathan.
Nathan juga tidak tinggal diam, dia segera keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya kencang. Dia berlari kearah Mikayla yang kini berjalan cepat, langkah Nathan dan Mika sangatlah berbeda jauh.
Nathan mencekal lengan Mikayla dan memutar tubuh gadis yang membuatnya gila selama lima thun terakir ini. Dengan cepat Nathan memeluk tubuh gadis yang sangat dia yakini adalah Mikaylanya.
"Mika, sayang. Kamu masih hidup, ini kamukan sungguh kamu. Aku tidak bermimpi ataupun berhalusinasi lagi. Aku sangat merindukanmu sayang, sangat sangat merindukanmu." Ucap Nathan yang sudah menangis,
Mikayla hanya mampu meremat tangan yang mencengkram tas jinjingnya, kedua matanya sudah memanas ingin menumpahkan cairan bening dari mata indahnya. Nathan melerai pelukannya, dia menatap kembali gadis yang hanya diam tanpa membalas pelukannya.
"Kamu kembali." Ucap Nathan lagi.
Mikayla mendorong Nathan hingga mundur satu langkah, "Apa yang Anda lakukan! kenapa memeluk orang dengan sembarangan." Kata Mikayla dengan wajah garang.
Nathan menggeleng dengan cepat, "Kamu jangan bercanda Mika, ini aku suamimu. Sayang kamu boleh membenciku tapi jangan pura-pura tidak mengenalku." Jawab Nathan yang kembali mendekat dengan menggenggam erat salah satu tangan Mikayla.
Mikayla menyentak tangan Nathan, "Anda sangat tidak sopan! Suami? saya belum menikah dan saya hanya memiliki satu kekasih jadi Anda jangan berbicara sembarangan Tuan." Ucap Mikayla dengan menggigit bibir dalamnya.
__ADS_1
Deg!