Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KALIAN EGOIS DAN KEJAM


__ADS_3

Happy Reading


Mobil yang dikendarai Nathan kini berbelok kesebuah mansion yang sudah lima tahun ini belum pernah dia datangi, jika dulu mansion ini menjadi tempatnya berpulang kini seperti tempat asing. Penjaga yang melihat kedatangan Nathan segera membuka gerbang menjulang tinggi.


Segera Nathan memarkirkan mobilnya di depan pintu utama mansion, dia segera keluar dan melangkah lebar masuk kedalam. Tampak suasana yang sepi dan hanya beberapa maid yang sedang beristirahat.


"Tuan Muda." Sapa maid yang baru saja membereskan gelas dan piring dari arah kolam renang.


"Mama di mana, Bi?" Tanya Nathan.


"Nyonya sedang di dapur." Jawab maid sopan.


Nathan melangkah menuju dapur bersama maid yang memang ingin membawa piring kotor kewastafel, tapi langkah Nathan terhenti saat melihat Mama Alice tengah berbincang dengan Mama Bintang melalui sambungan telfon, bagaimana Nathan tahu karena dia mendengar nama Mama Bintang dan Mikayla di sebut.


"Aku tutup dulu telfonnya ya, Nathan datang." Ucap Alice kepada Bintang tetapi pandangannya masih terkunci kearah Nathan.


Alice segera meletakkan ponselnya dan berlari kearah Nathan, Nathan yang memang sangat merindukan Mamanya memeluk tubuh wanita yang sudah rela merusak tubuh dan menahan sakit demi melahirkannya kedunia.


"Nathan / Mama, maaf." Ucapnya mereka bersamaan.


Kinan yang tadi meninggalkan Alice untuk berganti pakaian, menatap kaget dan penuh haru kearah dapur. Dia juga ikut menghambur kearah keduanya, "Kakak!" Seru Kinan yang kini sudah menangis.


"Hey! jangan menangis." Ucap Nathan yang sudah melerai pelukannya.


"Hiks, Kinan sangat senang kakak mau pulang." Jawab Kinan jujur.


"Maaf, Kinan juga minta maaf kepada Mama karena Nathan tidak pulang bahkan saat Mama sakit." Ucap Nathan dengan tulus.

__ADS_1


Siang menuju sore, di sebuah taman yang cukup rindang tengah duduk tiga orang yang saling berhadapan. Dengan di temani segelas air dingin dan juga beberapa makanan kecil untuk camilan, semilir angin yang berhembus menggoyangkan dedaunan dan benda ringan yang ada di sekitar taman.


"Nath." Panggil Mama Alice pelan.


"Ya, Ma." Jawab Nathan yang masih menatap intes Alice di depannya.


"Ada yang ingin, Mama bicarakan penting denganmu." Ucap Alice pelan.


"Nathan juga." Jawab Nathan yang di mana Alice sudah tahu arah pembicaraannya.


"Jika begitu, Nathan duluan saja." Kata Alice dengan tersenyum tipis.


"Mama dulu saja, Nathan akan mengatakan setelah Mama selesai." Tolak Nathan halus.


Alice tampak ragu, Kinan yang tahu jika sang Mama takut sampai Nathan kembali marah kepadanya hanya mampu menggenggam tangan Alice yang berada di bawah meja. Alice menoleh kearah Kinan seakan meminta pendapat apakah harus mengatakannya sekarang.


Kinan yang melihat keraguan dari Alice menganggukkan kepalanya, "Bagaimanapun, kakak harus tahu." Ucap Kinan pelan.


Alice mengangkat pandangannya hingga kedua matanya menatap mata Nathan, dengan menghembuskan nafas pelan Alice siap untuk mengatakan kebenaran lima tahun terakhir. "Sayang, maafkan Mama dan Ayah karena sudah ikut menyembunyikan Mikayla darimu."


"Makhsudnya?" Tanya Nathan bingung lebih ketidakrasa percayaan.


Alice memainkan jemarinya di bawah meja, "Selama ini kami tahu jika Mikayla masih hidup, dia di bawa keluar negeri oleh Luis untuk melakukan pengobatan dan operasi lagi. Selama ini kami tahu kabar Mikayla, bahkan saat Mikayla menyelesaikan sekolahnya dan juga mengenyam bangku kuliah di Amerika. Meskipun kami juga tahu, kamu terpuruk atas kehilangan Mikayla tetapi kami tutup mata dengan keadaanmu. Karena kami berfikir dengan menyembunyikan Mikayla darimu adalah pilihan terbaik." Jelas Mama Alice pelan.


Kedua mata Nathan bergetar, bahkan ujung bibirnya berkedut seakan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. "Sejak awal?" Tanya Nathan dengan suaa bergetar.


Alice mengangguk, "Ya, sejak awal." Tegasnya.

__ADS_1


Suara tawa sumbang terdengar, Nathan tertawa tetapi kedua matanya mengeluarkan air mata. "Aku tidak percaya jika keluargaku, orang tuaku sendiri begitu egois dan kejam terhadap anaknya sendiri. Bahkan saat tahu jika aku hampir mati bunuh diri untuk ikut dengan Mikayla karena aku berfikir jika istriku benar-benar meninggal dunia." Ucap Nathan dengan penuh emosi.


"Kak." Lerai Kinan agar Nathan tidak melukai Mama Alice.


"Dan kamu! Kamu juga tahu semuanya sejak awal?" Cecar Nathan dengan penuh emosi kearah Kinan adiknya.


"Maaf." Jawab Kinan lirih.


Nathan tertawa tidak percaya dengan kebenaran yang baru saja dia ketahui, "Hahaha, jadi selama ini hanya aku saja yang tidak mengetahuinya. Aku seperti orang bodoh dan idiot selama ini karena memikirkan perasaan kalian semua! Aku setiap malam hampir tidak dapat tidur karena merasa bersalah kepada kalian terlebih Mikayla, tetapi kalian hidup dengan tenang selama ini.." Seru Nathan kepada Alice dan Kinan.


"Nathan, bukan begitu. Kami juga memikirkanmu tetapi kami juga tidak ingin kamu menyakini Mikayla lagi, dia baru masa pemulihan kami hanya takut ...."


"Takut aku menyakitinya lagi? Hahaha padahal kalian tahu bagaimana Nathan menyesal dan ingin menebus semuanya! Semua luka yang pernah Nathan berikan kepadanya, tetapi ... kalian membuat pria lain yang berada di sampingnya selama ini, kalian memberi kesempatan kepada pria lain dibandingkan aku suaminya dan anak kalian!" Seru Nathan memotong ucapan Mama Alice.


Alice menggelengkan kepalanya cepat, melihat Alice yang menangis membuat Kinan tidak tega. "Kakak! Kita semua salah di sini bukan hanya kedua orang tua kita juga kedua orang tua Mika, KITA kak termasuk kakak. Jika kakak sejak awal memutuskan hubungan dengan Laura dan mencoba menerima Mika dikehidupan kakak semua juga tidak akan terjadi." Sentak Kinan dengan menggebrak meja.


Nathan membuang pandangannya kesembarang arah, setiap berdebat dengan Kinan seperti berdebat dengan Mika. Dia selalu kalah dengan telak karena apa yang mereka ucapkan benar adanya, jika saja waktu dapat diputar mungkinkah Nathan tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


"Kak, kita semua sayang dengan kakak dan Mika. Kita juga diposisi serba salah kak, jika kakak berada di posisi Mama dan Ayah mungkin kakak akan melakukan hal yang sama. Jika kakak berada di posisi Kak Luis juga akan melakukan hal yang sama melindungi adiknya dari pasangan yang tidak menghargai adiknya, bayangkan jika kelak Kinan mengalami apa yang Mika alami, apa kakak hanya akan melihat saja tanpa bertindak apapun? Apa hati kaka tidak sakit dan marah?" Lanjut Kinan yang sudah menangis.


Nathan hanya diam seribu bahasa, Alice menarik Kinan agar duduk lagi. Dia memeluk Kinan dan menenangkan hati anak gadisnya, Alice kemudian melihat kearah Nathan yang masih terdiam tetapi terlihat jelas gurat kemarahan, kecewa, penyesalan semua bercampur menjadi satu.


"Nathan, kami benar-benar meminta maaf. Saat ini Mikayla sudah kembali dan Mama juga sudah tahu jika kalian sudah bertemu." Ucap Alice dengan lembut.


Nathan masih diam, dia seakan enggan untuk berbincang dengan emosi yang meledak-ledak bahkan hari ini hatinya seperti naik rollercoaster yang naik, turu, dan dijungkir balikkan.


"Nathan pergi dulu." Ucap Nathan yang bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan dua wanita yang berarti dalam hidupnya di kursi taman.

__ADS_1


"Nathan! Kakak!" Seru Alice dan Kinan yang menatap punggung Nathan semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.


Di sebuah warung makan, seorang gadis tengah menatap penuh dendam pada sepasang kekasih yang kini telah kembali bertemu. "Karena kalian hidupku hancur!" Ucapnya dalam hati.


__ADS_2