
Happy Reading 🌹🌹
Nathan memacu mobilnya dengan cepat, jantungnya berdegup dengan kencang, kedua tangannya terasa gemetar, kedua kakinya seakan tidak terasa menginjak gas mobil.
"Ayolah angkat telfonnya Mika!" Seru Nathan dengan nada frustasi.
Nathan begitu takut terjadi sesuatu kepada istri kecilnya, dia terus menghubungi nomor Mikayla hingga satu panggilan telfon masuk dari Kinan.
"Hallo. Kalian di mana?" Tanya Nathan dengan cepat.
Terdengar suara isakan tangis di sebrang telfon membuat Nathan semakin tidak karuan perasaannya, "Kakak, kakak cepat datang ke rumah sakit X. Mika ... Hiks Mika tengah kritis di dalam." Jawab Kinan dengan suara serak dan terbata.
Dengan cepat Nathan mengerem mobilnya, "A-apa?" Beo Nathan dengan air mata yang sudah menetes.
"Mika ...."
Kinan tidak melanjutkan ucapannya hanya terdengar suara isakan tangis di sebrang telfon.
"Tunggu kakak!" Jawab Nathan yang kembali melajukan mobilnya lebih cepat.
Dengan serampangan, Nathan memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit. Dengan cepat dia keluar dan berlari ke dalam.
Beruntung di sana dia melihat Dean, Dean juga segera menghampiri Nathan. "Cepat ikuti aku!" Ucap Dean yang langsung berlari menuju ruangan Mikayla.
Nathan mengikuti Dean dari belakang, tidak ada rasa cemburu di dalam hatinya. Yang ada adalah Mikayla dan Mikayla.
Hingga kini langkah Nathan melemah saat Dean berhenti di depan ruangan operasi, dia menatap nanar lampu yang tengah menyala merah.
"Mika." Panggil Nathan lirih.
Luis dan Langit yang baru menyadari kedatangan Nathan lantas langsung berdiri, Nathan tercekat memandang kedua kakak Mikayla.
Buk!
Satu hantaman keras dari Luis meluncur bebas menghajar wajah Nathan hingga Nathan terjatuh di atas lantai.
Lucas langsung menduduki tubuh Nathan dengan tangan kirinya memegang kerah pakaian olahraga Nathan.
Kembali Luis menghajar Nathan tanpa perlawanan, "Dasar baji*ngan! Kau pria brengse*k dan bod*oh yang pernah aku temui Nathan!" Maki Luis dengan kembali menghajar wajah tampan Nathan.
Langit yang sudah melihat Nathan tidak berdaya segera menarik Luis untuk menjauh, "Lepaskan! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" Seru Lucas yang mencoba lepas dari cekalan Langit.
"Hentikan, Lucas! Dia sudah menyadari kesalahannya karena tidak membalasmu, jangan cepat menghabisi nyawanya dengan mudah!" Jawab Langit yang memberi kode kepada Dean untuk membantu Nathan.
__ADS_1
"Awas kau bareng*sek! Aku akan membunuh kalian jika sampai Mikayla kenapa-kenapa!" Seru Lucas lagi dengan kaki yang mencoba menendang Nathan.
Dean membantu Nathan yang terkapar di atas ubin, terlihat wajahnya yang lebam juga sudut bibir berdarah akibat sobekan.
"Ayo, Nathan." Ucap Dean yang membantu Nathan Berdiri.
"Mika." Kata Nathan dengan menangis.
Dean memapah Nathan untuk duduk di kursi tunggu bersama yang lainnya, Lucas menatap penuh permusuhan kearah Nathan.
Hingga suara derap langkah menuju kerah mereka, "Mika!" Teriak Bintang yang sudah berderai air mata.
Dengan cepat Lucas berdiri dan memeluk tubuh Mamanya, "Mikayla, putriku...." Tangis Bintang kembali pecah.
Semua orang di sana menangis dalam diam, hanya suara Bintang yang terdengar begitu menyayat hati.
"Aaaa... Mikayla." Panggil Bintang dalam tangisnya.
"Mama tenanglah, Mika akan baik-baik saja." Ucap Luis menenangkan Mama Bintang.
Jackson yang berada tidak jauh dari sang istri hanya mampu mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menghajar Nathan tetapi sudah melihat Nathan babak belur dia urungkan.
Kembali suara derap langkah menghampiri, Kinan berlari bersama kedua orang tuanya. Ya, Kinan setelah menghubungi Nathan kemudian menghubungi orang tua mereka.
"Mama tenanglah." Ucap Kenan kepada istrinya.
Kenan yang melihat Nathan lantas langsung berjalan menghampiri, "Berdiri." Ucap Kenan pelan tapi penuh penekanan.
Nathan berdiri sesuai perintah sang ayah dan dengan cepat Kenan menampar Nathan dengan keras hingga membuat semuanya kaget.
"A! Ayah," Seru Kinan dan Alice.
Kenan menulikan telinganya, dia kembali menghajar Nathan dengan tangannya sendiri meskipun dia dapat melihat luka yang memenuhi wajah sang anak.
"Ayah! Hentikan, Kinan mohon jangan memukul kakak lagi." Ucap Kinan yang memeluk tubuh Nathan di atas lantai rumah sakit.
Kenan meraup wajahnya kasar, "Ayah sudah memperingatkanmu Nathan Wijayakusuma! Apa kamu tidak mengerti atau memang kamu bod*oh!" Ucap Kenan dengan keras.
Tidak ada yang ikut campur permasalahan keluarga Wijayakusuma, mereka marah kepada Nathan tetapi lebih mengkhawatirkan Mikayla yang tengah berjuang di dalam.
Kinan membantu Nathan untuk duduk, Kinan menangis karena kedua orang yang dia sayang harus bertengkar seperti hari ini.
"Maaf ayah." Jawab Nathan pelan dengan terbatuk.
__ADS_1
"Simpan kata maafmu untuk Mikayla!" Tegas Kenan yang langsung membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Kakak." Panggil Kinan dengan menangis.
Nathan menggenggam tangan adiknya lembut, dia memberikan senyum meskipun tipis dengan menahan rasa sakit.
"Tidak apa-apa, ini salah kakak." Ucap Nathan dengan lembut.
Semua orang menunggu dalam diam, Kristal hanya mampu menangis dalam diam di pelukan Jackson.
Sedangkan Alice, berdoa di dalam hatinya agar sang menantu baik-baik saja.
"Sayang maafkan aku, aku berjanji akan merubah sikapku. Aku mendintaimu Mikayla sangat, sangat mencintaimu." Ucap Nathan dari dalam hatinya.
Kurang lebih satu jam lamanya pintu ruang operasi tertutup rapat, hingga pintu terbuka terlihat dokter dengan mengenakan pakaian steril beserta master juga penutup rambut keluar.
Semuanya segera berdiri, dokter memberikan kode agar tidak ada yang bertanya.
"Tuan dan Nyonya, pasien mengalami gagal jantung. Kami sudah berusaha agar jantung pasien tetap bekerja tetapi semua di luar kuasa kami. Keluarga bisa melihat sebelum jenazah kami pindahkan." Ucap dokter dengan pelan dan penuh kehati-hatian.
"TIDAK! MIKAYLA!"
Perempuan yang ada di luar langsung pingsan karena sangat shock menerima kenyataan yang ada, membuat para pria mau tidak mau harus mengurus Alice, Bintang, dan Kinan.
Nathan langsung berlari menerobos dokter dan keluarganya, dia masuk ke dalam ruang operasi yang masih belum selesai dibersihkan.
Terlihat wajah pucat gadis yang dia cintai terbujur kaku di atas meja operasi, air matanya sudah luruh entah sejak kapan.
"Mika?" Panggil Nathan pelan.
Tidak ada respon dari Mikayla, Nathan menangis dengan menatap wajah sang istri.
"Mika, sayang. Aku di sini." Ucap Nathan lagi.
Nathan langsung memeluk tubuh yang tidak bernyawa tersebut, "Maaf, sayang maafkan aku. Aku pria bodoh yang menyia-nyiakanmu. Sayang bangunlah, aku tahu kamu hanya membohongiku iyakan?" Nathan kembali berkata.
Nathan mengguncang kedua pundak Mikayla, "Bangun Mika, aku perintahkan untuk bangun! " Lanjut Nathan lagi.
Tidak ada respon dari Mikayla, "Tidak Mika, jangan tinggalkan aku... jangan hukum aku seperti ini Mika... Maafkan aku sayang maafkan aku." Nathan kembali memeluk tubuh Mikayla.
Tanpa sadar di sudut mata Mikayla menetes air mata, Lucas yang masuk langsung menarik Nathan untuk menjauh.
"Lepaskan!" Sentak Nathan kepada Lucas.
__ADS_1