Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
CEMBURU TANPA DISADARI


__ADS_3

Happy Reading


Langit yang cerah berganti redup, awan berwarna hitam bergelayut manja di langit dengan kawan-kawannya. Mentari yang masih ingin mengantarkan sinar senja terhalang. Mikayla yang duduk menunggu di salah satu bangku depan sekolahan mendongakkan kepalanya menatap langit yang gelap.


"Mau turun hujan." Ucapnya pelan.


Mikayla memutuskan untuk menunggu Nathan pulang, dia menunggu di salah satu bangku yang biasanya digunakan para siswa untuk menunggu bis kota. Sesekali dia bersenandung dengan mengayukan kedua kakinya secara bergantian.


Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. "Kelas dua belas sebentar lagi pulang," Ucap Mika kembali.


Benar saja, dering bel sekolah berbunyi nyaring hingga terdengar sampai di depan gerbang, kebetulan pengeras suara bel juga berada di dekat pos satpam.


Mikayla masih duduk dengan tenang, sembari memandangi gerbang sekolah menunggu mobil Nathan keluar, segera dia mengirim pesan singkat kepada Nathan agar dia mengetahui keberadaannya.


"Aku menunggu di depan gerbang sekolah, Kak."


Pesan terkirim tetapi belum di baca oleh Nathan, Mikayla dengan santai kembali duduk. Sayup-sayup terdengar suara tawa anak-anak SMA yang tengah bergurau. Dia melihat beberapa anak kelas dua belas yang mulai berdatangan menunggu bis kota.


"Hey, apa yang kalian bicarakan tadi serius? Laura memiliki penyakit jantung?" Tanya seorang siswi.


Mikayla yang mendengarkannya mulai memasang telinganya selebar gajah, dia berhenti bermain-main dengan kedua kakinya.


"Benar, dia datang ke kelas untuk menemui Nathan dan dadanya sakit padahal sudah minnum obat jantung. Begitu tadi dia bilang." Jawab siswa lainnya.


"Kasian banget gak sih, masih muda tapi sudah penyakitan. Aku tidak yakin Nathan akan bersamanya atau keluarga Nathan menerimanya." Ucap salah satu dari mereka.


Mikayla hanya tersenyum getir, benar apa yang mereka katakan. Mana ada pria yang ingin hidup bersama wanita penyakitan seperti dia, mengenai Laura yang memiliki penyakit jantung Mikayla akan menyelidikinya.


"Tapi, Nathan kelihatannya sangat menyayangi Laura. Buktinya sejak dulu mereka tidak terlihat bertengkar dan selalu baik-baik saja." Timpal lainnya.


"Yah, mungkin hanya Nathan yang akan menerima Laura secara mereka berpacaran sejak kelas dua. Masa tiba-tiba putus karena tahu kekasihnya ternyata penyakitan." Kata yang lain dengan di iringi gelak tawa.


Tidak lama kemudian, bis kota berhenti tepat di depann para siswa yang tengah membicarakan Laura dan Nathan. Mereka segera bergiliran masuk ke dalam bis, hingga suara klakson mengagetkan Mikayla.


"Non, mau masuk gak?" Tanya sang sopir.


Mikayla menggeleng, yang kemudian pintu bis tertutup, dan mulai meninggalkan SMA elit tersebut. Bennar tidak semua siswa di SMA elit itu adalah orang-orang kaya melainkan juga para siswa yang mendapatkan beasiswa atas prestasinya.

__ADS_1


Gemuruh langit mulai terdengar, tapi sampai detik ini mobil Nathan belum juga muncul. Mikayla kembali mengecek ponselnya. Namun, nihil karena tidak ada balasan apapun dari Nathan padahal pesan sudah terbaca.


Mikayla kembali menelfon ponsel Nathan tetapi tidak aktif, hal itu tentu saja membuat kening Mikayla mengkerut dalam. "Kenapa tidak aktif, apa ponsel Kak Nathan kehabisan daya sehingga tidak sempat membalas pesanku?" Ucap Mika pelan.


"Baiklah akan aku tunggu." Lanjut Mikayla kembali.


Gadis polos tersebut memutuskan mennunggu suaminya keluar gerbang sekolah, langit gelap sudah mulai menangis. Mengguyur kota sore itu, satu tetes turun membasahi bumi yang kemudian di susul oleh tetesan lainnya sehingga hujan deras.


Mikayla memundurkan kedua kaki yang masih mengenakan sepatuh putih tersebut karena air hujan mengenai dirinnya, dia berkedip-kedip memandangi langit yang terus bergemuruh "Sepertinya akan lama turun hujannya," Ucap Mikayla dengan menadah air hujann yang menetes melalui atap tempat menunggu bis.


*


*


*


Di kelas, setelah para siswa keluar menyisakan Nathan dan Dean. Nathan berjalan dan mengunci pintu kelas dari dalam membuat Dean bingunng.


"Kenapa di kunci? Jika ingin bertanya tinggal tanya saja." Ucap Dean dengan nada yang tidak suka.


"Aku tidak ingin ada yang mengganggu pembicaraan kita," jawab Nathan dingin.


"Apa hubunganmu dengan Mikayla?" Tanya Nathan dingin nan datar.


Dean menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis terukir di wajahnya yang tampan.


"Kenapa kamu ingin tahu urusan pribadiku?" Ucap Dean yang berjalann ke salah satu meja dan menjatuhkan bobot tubuhnya.


"Tinggal jawab saja, apa hubunnganmu dengan Mikayla!" Kata Nathan dengan nada tertahan.


"Menurutmu?" Tanya Dean menantang kesabaran Nathan.


Nathan mengepalkan kedua tangannnya, pandangannya berkilat marah memandang Dean yang tampak acuh dan santai duduk di atas meja teman kelasnya.


"Jauhi, Mika. Aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengannya." Jawab Nathan penuh dengan penekanan.


"Tidak akan, kamu siapanya Mikayla melaranngku untuk mendekatinya? Huh, atau jangan-jangan kamu menyikai Mika? Ingat bro, kamu sudah memiliki Laura jika ingin memiliki Mikayla maka lepaskan Laura. Karena kita tidak dapat menggenggam dua wanita dalam satu tangan." Ucap Dean yang membuat Nathan terdiam di tempat.

__ADS_1


Dean bangkit dan mengambil tas punggungnya, dia berjalan menepuk pundak Nathan, dan mendekatkan bibirnya ke telinga Nathan.


"Aku tau semuanya."


Dean langsung berjalan meninggalkan Nathan yang melebarkan kedua matanya seakan kaget mendengar perkataan sahabatnya, terdengar pintu terbuka dan tertutup dengan cepat.


Laura yang menunggu di depan kelas Nathan menatap heran ke arah Dean, pasalnya pria tersebut berwajah lebih dingin dari biasanya saat keluar kelas. Laura menatap punggung Dean bingung,


"Sayang, ada apa dengan Dean?" Tanya Laura yang masuk ke dalam kelas Nathan.


"Aku ke kamar mandi sebentar," Ucap Nathan berjalan melalui Laura begitu saja tanpa menjawab maupun menatap wajahnya.


Laura semakin bingung dan heran melihatnya, dia hanya melihat punggung Nathan yang keluar dari kelas. Dengan wajah cemberut Laura berjalan menuju meja kekasihnya.


Melihat ponsel Nathan tergeletak begitu saja di atas tas hitam, membuat Laura menoleh ke arah luar memastikan jika Nathan belum kembali. Menyalakan ponsel Nathan dengan hati-hati, berutnung ponsel Nathan tidak di kunci sama halnya saat Mikayla merebutnya tempo hari dengan mudah mengobrak-abrik isi ponsel Nathan.


Ada satu pesan baru masuk, terlihat nama Mikayla di sana. Laura segera membukanya, dia sangat penasaran bagaimana isi chat Nathan dan Mikayla yang berstatus istri tersebut.


Mimik wajah Laura berubah-ubah menunjukkan perasaannya saat membaca pesan pasangan suami istri tersebut, marah, remeh, dan datar. Dia memencet tombol power untuk mematikan ponsel Nathan dan segera menaruhnya kembali.


Bertepatan saat Laura ingin mengembalikan ponsel, Nathan masuk ke dalam kelas. Dengan gugup Laura berdiri "K-kamu sudah selesai? Ayo pulang." Ucap Laura gugup.


Nathan menatap curiga, dia mengambil ponselnya ternyata mati. Nathan lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Ayo." Ajak Nathan.


Laura tersenyum dan menggandeng lengan Nathan dengan riang, mereka berjalan meninggalkan kelas dua belas, dan berjalan menuruni anak tangga dengan berbincang ringan.


"Sayang, kita mampir makan dulu di cafe yang dulu kamu ajak aku di deretann butik-butik itu ya?" Kata Laura dengan suara manjanya.


"Boleh, kebetulan aku juga lapar," Jawab Nathan lembut.


Hujan deras mengguyur bumi saat mereka keluar dari gedung sekolahan, dengan cepat Nathan berlari dan di ikuti Laura di belakangnya menuju mobil Nathann yang cukup jauh dari gedunng kelasnya. Nathan masuk ke dalam dan tidak lama kemudiann di susul Laura masuk ke dalam mobil juga.


Tampak keduanya cukup basah kuyup karena berlari dari gedung sekolah menuju parkiran mobil siswa, "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Nathan kepada Laura.


"Tidak apa-apa, hanya basah saja rambutku." Jawab Laura dengan mengeringkan pakaiannya menggunakan tisu.

__ADS_1


Nathan terdiam, dia melihat Laura yang masih sibuk mengeringkan pakaian, dann rambutnnya yang basah. Seolah menepis prasangka buruk, Nathan segera menyalakan mesin mobilnya dan berjalan meninggalkan sekolah.


Di dalam mobil, Nathan dapat melihat dengan jelas pemandagan yang sangat tidak dia sukai. Melihat Mikayla berdiri bersama Dean di tempat meunggu bis kota.


__ADS_2