Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
JANGAN JADI WANITA MURAHAN


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mentari pagi telah bangun dari peraduannya, banyak orang sudah banyak bersiap bahkan sudah melakukan aktivitas seperti biasanya.


Sama halnya di dalam sebuah apartemen, Mikayla kini tengah bersiap untuk berangkat sekolah seperti biasanya begitupun dengan Nathan.


Meski kelas dua belas sudah selesai melakukan ujian sekolah tetapi mereka tetap harus berangkat meskipun hanya setengah hari.


Nathan yang tengah mengenakan dasinya hanya menatap dalam Mikayla yang sudah mengacuhkannya sejak semalam.


Benar, sejak kejadian tadi malam saat Mika melihatnya membuang bekal makan siangnya.


Mikayla berjalan melalui Nathan begitu saja tanpa ingin melihat ataupun menyapanya, dia berjalan keluar kamar utama, dan segera duduk di depan pintu apartemen mengenakan kaos kaki juga sepatu.


Nathan mengikutinya, dia berfikir jika Mikayla sudah menyiapkan bekal untuk ya seperti hari-hari biasa.


"Di mana bekalku?" Tanya Nathan kepada Mikayla yang kini sudah berdiri.


"Tong sampah." Jawab Mika yang langsung keluar apartemen begitu saja.


Nathan hanya menatap pintu apartemen yang perlahan mulai tertutup, hingga bayangan Mikayla sudah telah menghilang dari pandangannya.


Mikayla berdiri di depan gedung apartemen menunggu taxi online yang sudah dia pesan di pagi buta, tidak membutuhkan waktu lama sebuah taxi berwarna biru sudah sampai di depannya.


Segera dia masuk dan taxi melaju meninggalkan area apartemen, sedangkan Nathan menghela nafas panjang. Dia juga segera meninggalkan apartemen untuk pergi sekolah.


Tidak membutuhkan waktu lama, taxi yang di tumpangi Mikayla kini telah sampai di depan gerbang sekolahannya. Dia segera membayar menggunakan barcode sebelum keluar.


Dengan melangkah pelan, Mikayla berjalan menuju gedung kelasnya. Sepanjang perjalanan dia hanya diam seperti biasanya karena jujur saja dia tidak pandai bergaul.


Teman satu-satunya hanya Kinanti, sedangkan teman sekelasnya hanya sekedar saling menyapa sebagai sopan santun.


Tetapi, kali ini Mikayla merasa tidak nyaman. Banyak para siswa siswi yang memandang kearahnya dengan pandangan yang memandangnya remeh.


Sesekali melihat dua atau tiga orang berbisik dengan menatap sinis kearahnya, Mikayla hanya acuh saja dia tetap berjalan menuju lantai dua setelah sampai di gedung kelasnya.


Sepanjang itu pula dia hanya menatap bingung bahkan dia bercermin menggunakan ponselnya apakah ada yang aneh dengan tampilannya.


"Tidak ada yang aneh, tetap cantik seperti biasanya." Ucap Mika pelan.


Dari kejauhan Kinan berjalan mendekatinya dengan wajah riang, "Mika!" Serunya.


Mikayla hanya tersenyum simpul dan berjalan mendekat pula kearah sang sahabat, keduanya berjalan menuju kelas dengan obrolan ringan.


"Minggu depan kita sudah ulangan kenaikan kelas, huh! Rasanya deg-degan." Ucap Kinan yang kini sudah duduk di bangkunya sendiri.

__ADS_1


Mikayla hanya tersenyum, "Makanya belajar, kamu belajar hanya saat ulangan. Memangnya dalam semalam semua materi pelajaran dapat kamu ingat?" Jawab Mika yang di akhiri kekehan pelan.


Kinan hanya mengerucutkan bibirnya, "Aku paling benci belajar, bukankah ujian terlalu kejam? Dia memberikan ujian baru pelajaran." Kata Kinan dengan menopang dagunya.


"Benar, ujian sangat kejam." Ucap Mika penuh dengan makna.


*


*


*


Di sekolah Luis.


"Luis!" Seru Mega kepada teman kelasnya.


Luis yang tengah mengobrol dengan Langit menoleh ke sumber suara, terlihat gadis yang manis dan sederhana tengah berdiri tidak jauh dari mereka.


"Ada apa?" Tanya Luis datar.


"Bukankah ini kembaranmu?" Tanya Mega dengan menyodorkan ponselnya.


Luis segera menerima ponsel Mega yang sederhana itu, terlihat sebuah berita di platform sekolah Mikayla yang di kelola oleh anggota OSIS.


Langit yang melihat saudaranya terdiam lantas juga merebut ponsel Mega, raut wajah keduanya sudah berubah mendung.


Brak!


Dengan keras Langit membanting ponsel Mega hingga tidak berbentuk lagi, Mega hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua mata yang membulat sempurna.


"Brengsek! Akan aku hajar mereka saat ini juga!" Geram Langit dengan kilatan amarah.


"Tahan! Akan aku buat perhitungan jika sampai terjadi sesuatu kepada Mikayla." Tahan Luis dengan mencengkram lengan Langit.


"Apa kau gila! Mereka itu pasangan suami istri, bagaimana bisa Mikayla di sebut wanita mura*han!" Seru Langit yang membuat satu teman kelasnya shock.


"Aku sudah memiliki orang lain untuk mengumpulkan bukti, jangan gegabah. Wanita itu bermain dengan rapi maka kita juga harus lebih rapi lagi ... Dan kalian, jangan sampai ucapan kami keluar dari kelas ataupun sekolah ini. Akan aku potong lidah kalian jika sampai bocor." Jawab Luis dengan wajah datar tapi tatapannya tajam membuat banyak orang menelan ludahnya dengan kasar.


"Apa kalian dengar!" Seru Luis kembali.


"Baik." Jawab mereka serentak.


Luis tersenyum sinis dengan amarah yang bergemuruh di dalam dadanya, darah Jackson mantan mafia mengalir lebih kental kepada Luis dibandingkan Mikayla.


Luis segera melangkah keluar kelas dengan di ikuti beberapa temannya.

__ADS_1


Langit memunguti ponsel yang tidak sadar dia rusak, "Maaf, Mega. Nanti akan aku ganti ponselmu dan aku kirim ke rumahmu." Ucap Langit dengan menyerahkan batangan ponsel yang sudah tidak ada layarnya.


Mega mengangguk cepat, Langit segera keluar kelas mengikuti Luis yang sudah lebih dahulu keluar.


*


*


*


Bunyi bel istirahat berbunyi nyaring.


"Baiklah kita akhiri pelajaran untuk hari ini, selamat siang." Ucap guru mengakhiri pembelajaran.


"Terima kasih, Bu." Jawab semua siswa kelas Mikayla.


Selepas guru keluar kelas para siswa baru ramai, suaranya memenuhi lorong maupun kelas.


"Kamu yang namanya Mikayla?" Tanya sekelompok gadis yang lebih dewasa dari Mika.


Mika dan Kinan yang tengah mengobrol lantas menoleh ke sumber suara, Mika hafal salah satu dari mereka yaitu Susi.


"Ada apa?" Tanya Mika datar nan dingin.


Ketua geng itu hanya tersenyum sinis, "Aku kira kamu gadis baik-baik ternyata tidak lebih dari gadis mura*han."


Mendengarkan ucapan kakak kelasnya membuat wajah Mikayla berubah cepat, "Jaga mulutmu! Aku bahkan tidak kenal denganmu jadi jangan seolah kamu kenal denganku meskipun kita satu sekolahan." Jawab Mikayla dengan menggebrak meja dan berdiri.


"Wah ... Wah ... Lihatlah teman-teman, kamu itu sudah salah tapi nyolot! Seharusnya kamu tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan Laura dan Nathan. Apa kamu tidak malu menjadi perebut kekasih orang!" Sentak kakak kelas dengan berkacak pinggang.


Mikayla hanya tersenyum miring, "Darimana kalian tahu aku orang ketiga atau orang keempat? Kenapa tiba-tiba kalian menjadi manusia paling tahu tentang hidupku!" Jawab Mikayla dengan sinis.


Kakak kelas mengeluarkan ponselnya dan di tunjukkan di hadapan Mikayla, di mana ada sebuah artikel di platform sekolahannya. Kaget? Tentu saja, padahal Mikayla sudah banyak mengalah untuk Laura tetapi wanita itu semakin menjadi.


"Ck, benar-benar benalu." Ucap Mikayla yang membuat semua orang bingung.


"Aku peringatkan kamu untuk terakhir kali, jauhi Nathan dan cari pria lain. Apa kamu tidak kasihan kepada Laura, dia tengah berjuang hidup karena sakit jantung. Jadi, lupakan mimpimu untuk memiliki Nathan." Kata kakak kelas yang kemudian berlalu dari hadapan Mikayla dan Kinan.


Kinan yang melihat wajah Mikayla mengeras hanya berharap cemas, "Mika." Panggil Kinan pelan.


"Kamu juga sudah tahu?" Tanya Mika dingin tanpa melihat kearah Kinan.


"Mi-mika, a-aku ...."


"Sampah." Ucap Mikayla yang langsung berlalu dari hadapan Kinan.

__ADS_1


Melihat kepergian Mikayla dengan kemarahan membuat Kinan panik, "Mika! Tunggu!" Serunya.


__ADS_2