
Happy Reading
"Kak." Panggil Mika dengan suara serak khas bangun tidur.
Nathan yang tengah tiduran sembari menonton televisi menundukkan kepalanya sedikit, "Kamu sudah bangun, sayang?" Tanya Nathan lembut.
Mikayla mengangguk, "Jam berapa sekarang?" Tanya Mikayla kembali.
"Jam delapan malam," jawab Nathan dengan memandang jam dinding yang berada di dalam kamar hotel.
"Astaga! Aku terlambat, malam ini aku harus segera terbang ke New Zeland kak." ucap Mikayla panik.
Kening Nathan berkerut dalam. "New Zeland?" Beonya.
"Iya, Mika dan Kinan akan berlibur di sana untuk beberapa hari." Jelas Mika dengan mencari baju ganti di dalam kopernya.
"Tidak perlu, Kinan tidak akan datang sayang." Kata Nathan menghentikan gerakan Mika.
Mikayla menoleh dengan tatapan penuh tanya, "Kinan pergi ke amerika untuk magang dan yah, acara liburan hanya kedok untuk mengajakmu bulan madu." Jelas Nathan jujur.
"Bulan madu?" Beo Mika yang kemudian membelalakkan kedua matanya.
Nathan tersenyum dengan cerah bahkan kedua alisnya sudah naik turun, membuat Mikayla melempar pakaiannya kearah Nathan.
"Mesum!" Serunya.
Nathan tergelak, "Ayolah sayang, kita memadu kasih di tempat yang indah dan hanya ada kita berdua." Ucapnya yang membuat Mikayla bergidik ngeri.
"Lebih baik Mikayla pulang." Jawab Mika yang membuat Nathan merajuk.
"Ayo sayang, sekali saja." Ucap Nathan yang kini sudah menempel kearah Mikayla membuat Mika risik karena Nathan seperti kucing yang tengah mengeluskan kepalanya di kaki.
"Kakak, Mika tidak minat." Jawab Mikayla jujur.
"Yah, padahal aku sudah menyiapkan semuanya." Jawab Nathan lesu.
"Jika begitu, besok bagaiimana?" Tanya Nathan lagi.
"Kak."
"Besok besok besoknya lagi?" Kata Nathan lagi.
Mikayla hanya menghela nafasnya pelan, dia berdiri dari duduknya dengan di ikuti Nathan. "Lalu bagaimana jika kita berciuman?" Tanya Nathan dengan wajah cerah.
"Ekm, ketika suasananya cocok." Jawab Mika malu setengah mati karena pertanyaan Nathan yang begitu frontal.
"Lalu kapan kita akan tidur?" Tanya Nathan kembali dengan tersenyum.
"Ketika... ketika kakak lelah dan sesuai waktu tidur masing-masing." Jawab Mikayla dengan canggung.
"Waktu masing-masing?" Beo Nathan.
"Ya, waktu masing-masing." Jawab Mika yang mulai berjalan mundur karena Nathan perlahan bergerak maju kearahnya.
__ADS_1
"A-apa yang kakak bayangkan?" Tanya Mika terbata.
"Hal yang sama seperti kamu bayangkan, sayang." Jawab Nathan dengan tersenyum pernuh arti.
"Astaga! Kakak, apa kakak selalu mengaitkan hal dewasa setiap saat?" Tanya Mikayla dengan mengedarkan padangannya kesembarang arah.
"Tentu saja." Jawab Nathan yang langsung menarik Mika dan langsung mencium bibirnya.
Dengan penuh kelembutan Nathan melakukannya, dia sudah tidak tahan untuk menunggu persetujuan Mikayla. Mika yang awalnya menghindar akhirnya jatuh dalam pesona sang suami, mereka kembali melakukan hal seperti hari itu, kegiatan yang penuh dengan keringat, dan hasrat.
Hubungan Mika dan Nathan semakin dekat bahkan sangat dekat, mereka sudah tinggal dalam satu apartemen lagi. Mikayla menuruti saran dari Kinan adik iparnya, seperti saat ini Mika setelah memuntahkan sarapannya dia bergegas untuk berangkat kuliah.
"Sayang, hari ini aku ada tugas kelompok dengan teman-teman di cafe biasanya." Ucap Mika sebelum keluar dari dalam mobil.
Mikayla lantas mencium pipi sang suami dan di balas dengan kecupan lembut di bibirnya, segera Mika keluar dan ternayta teman-temannya sudah menunggu di dekat gerbang. Suara sorakan di tujukan kepada Mika karena Nathan belum berganti mobil, masih menggunakan mobil yang kacanya transparan.
Waktu berjalan dengan cepat, kini Mikayla tengah berada di cafe berlajar bersama teman-temannya. Mereka tampak sangat serius seperti biasanya karena mengingat dosen mata kuliah tersebut sangatlah pelit dalam memberi nilai.
Sebuah mobil baru saja datang di cafe, terlihat pria jangkung yang baru saja keluar dari dalam mobil. Seseorang menatap punggung Nathan yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang sama sekali dari pandangan matanya, lalu beralih ke deretan lain yang paling heboh karena baru saja mendapat asupan makanan dan minuman dari Nathan.
Perempuan berpakaian serba hitam itu pun mengarahkan kamera telepon selular miliknya ke arah sekelompok orang yang tengah berdiskusi itu. Setelah puas mengambil foto dari beberapa arah, gadis misterius itu mengecek satu per satu foto yang baru saja diambilnya sambil tersenyum sinis.
"Sebentar lagi, cantik! Sebentar lagi!" Gadis itu mendesis, tatapan matanya nyalang, terlihat begitu mengerikan
Gadis itu lalu kembali mengawasi kelompok lelaki dan perempuan itu sampai akhirnya kelompok itu buyar. Gadis itu menatap lekat wajah Mikayla Wijakusuma. Garis wajah gadis itu terlihat jelas, rahangnya mengatup erat.
Wajah gadis itu semakin menegang, ketika melihat sesosok pria berwajah tampan yang sangat dia kenali kembali masuk ke dalam cafe sambil menunjukkan wajahnya yang semringah saat matanya menangkap sosok yang dicarinya.
"Sudah selesai, Sayang?" Pria itu bertanya pada seorang perempuan sambil memeluk pinggangnya ketika mereka berdua sudah berdiri berdampingan.
"E-eh, iya, sudah, Kak." Gadis itu tergagap menjawab pertanyaan pria itu, wajah gadis itu memerah karena malu.
"Eh, kok manggil kakak, sih, Sayang. Biasanya manggil sayang. Kamu malu, ya," goda pria itu.
Wajah sang wanita semakin memerah karena malu, terlebih karena beberapa orang temannya mulai mencolek lengan dan tangannya untuk menggodanya yang membuat kepalanya semakin tertunduk malu
Melihat wanitanya tersipu malu, pria itu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang wanita halalnya sambil sesekali mengusap lembut surai hitam milik istri tersayangnya yang selalu dia jaga tersebut.
__ADS_1
"Kak Nathan, sudah, dong. Jangan bikin Mika malu di depan teman- teman Mika," ujar Mika sambil memasang wajah cemberut.
"Eh, Mika, jangan seperti itulah. Masa malu karena suamimu mesra seperti itu, harusnya kau bersyukur, Mika. Ah, kenapa juga kamu yang diromantisi, kok malah aku yang meleleh seperti ini," goda temannya.
Mendengar gurauan dari temannya, Mika hanya memasang tampang kecut dengan senyuman masam yang samar di bibirnya sementara di sampingnya sang suami malah tersenyum bahagia.
"Tuh, 'kan, Sayang. Dengar itu kata temanz temanmu, harusnya kamu bersyukur karena aku berani menunjukkan kasih sayang dan cintaku kepadamu di depan orang lain," ujar Nathan.
"Betul sekali, Mika. Kalau seorang lelaki sampai berani menunjukkan cinta dan juga perhatiannya di depan umum, itu artinya dia benar- benar tergila- gila pada dirimu dan siap berkorban untukmu meski harus mengorbankan nyawanya sekalipun," kata teman Mika lainnya yang kemudian menoleh ke arah Nathan. "Benar seperti itu, bukan, Kak Nathan?"
"Benar sekali. Aku bahkan rela mati hanya agar Mikayla-ku tetap hidup, aku tidak akan sanggup melihatnya meninggalkan aku sendiri di dunia ini. Jadi, lebih baik memilih meninggalkan dia di sini dan melihat dia bahagia dengan orang lain sepeninggalku daripada dia pergi terlebih dahulu meninggalkan aku," sahut Nathan serius.
Mikayla tersentak mendengar pernyataan suaminya, Nathan. Matanya menatap sang lelaki halal tak berkedip sedikit pun tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat itu. Hatinya merasa berbunga mendengar hal itu, tetapi di sisi lain, hatinya pun merasa perih mendengar jawaban suaminya.
"Ooh, so sweet. Aduh, jadi pengen punya suami kaya Kak Nathan, deh," gurau teman Mika yang.
"Oo, jangan, tidak boleh. Nathan Wijayakusuma hanya ditakdirkan untuk Mikayla Wijayakusuma seorang bukan untuk gadis yang lain, mengerti," tegas Nathan.
"Iya, paham. Maksudnya bukan Kak Nathan tapi pria yang punya sifat seperti kakak. Memanjakan istri, begitu, Kak." Teman Mika itu kembali menjelaskan.
Mendengar gurauan kecil di antara suami dan teman- temannya itu membuat wajah Mika semakin memerah dan memanas. Bahkan tidak hanya wajahnya saja yang memanas, sekujur tubuhnya pun kini ikut memanas dan mulai berkeringat.
"Kakak, sudah, yuk, kita pulang saja sekarang. Aku ingin istirahat di rumah, sudah lelah rasanya." Mika menggandeng lengan suaminya lalu berpaling ke arah teman- temannya sebelum akhirnya dia kembali membuka suaranya.
"Teman- teman, kami pulang dulu, ya. Kalian hati- hati di jalan," pamit Mika.
"Oke, Mika, Kak Nathan. Selamat istirahat, kalian berdua hati- hati di jalan juga ya," ucap teman- teman Mika. "Oh, ya, Kak Nathan, Mika terima kasih untuk aneka kue dan minumannya."
Nathan tersenyum sambil mengacungkan jari jempol kanannya ke arah kerumunan teman- teman sekantor Mika, kemudian melambaikan tangan kanannya untuk berpamitan.
Nathan menggandeng tangan Mika dengan mesra, mereka berdua bermaksud menyeberang jalan menuju ke mobil Nathan yang kebetulan di parkir di seberang jalan, ketika tiba- tiba terdengar dering suara telepon genggam Nathan.
Pria itu berusaha mengabaikannya, tetapi telepn genggam itu terus berbuni tiada henti seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan wajah menahan kesal, Nathan melepas genggaman tangannya dari Mika dan merogoh saku dalam jasnya untuk mengambil telepon genggamnya.
"Halo," sapa Nathan begitu panggilan telepon masuk itu dia angkat.
"Selamat siang, Pak Nathan. Maaf saya mengganggu waktu bapak, saya hanya ingin memberitahukan bahwa sore ini bapak ada janji temu dengan klien di kantor jam empat lewat tiga puluh menit," kata lawan bicaranya yang ternyata adalah sekretarisnya.
"Ah, iya. Tidak mengapa, terima kasih sudah diingatkan. Ini saya mau mengantarkan istri saya pulang dulu, baru setelah itu saya akan kembali ke kantor," ucap Nathan.
"Baik, Pak," jawab sang sekretaris.
"Tolong kamu ... ." Nathan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba- tiba saja dia merasa perasaannya tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu yang besar kepada dia dan Mika, istrinya.
Nathan celingak celinguk mencari istrinya yamg sudah menghilang dari sisinya. Wajah lelaki itu terlihat sangat tegang dan kebingungan, sementara tangan kanannya masih memegang telepon genggam yang belum dia matikan.
"Mika! Mika! Di mana kamu, Sayang!" Nathan berteriak memanggil nama istrinya, pria itu tidak memedulikan tatapan mata beberapa orang yang menatapnya aneh.
"Mika! Sayang! Di mana kamu?" Nathan kembali memanggil istrinya sambil berlari ke sana ke mari mencari sosok istrinya berada.
Nathan teru mencari sosok Mika yang tiba- tiba saja menghilang dari sisinya. Pria itu merasa begitu khawatir pada Mika karena tahu jika istrinya itu tengah menderita amnesia. Nathan masih mencari istrinya ketika dia mendengar suara deru mobil yamg sangat keras sehingga membuatnya dan beberapa orang yang ada di sekitarnya langsung berpaling untuk melihat apa yamg terjadi.
Mata Nathan terbelalak kaget saat melihat ada sebuah mobil berwarna merah metalik sedang melaju dari arah kiri dengan kecepatan yang sangat tinggi. Karena kecepatannya yang di luar batas, mobil itu terlihat oleng beberapa kali.
__ADS_1
Mata terbelalak semakin lebar saat dia melihat sosok yang sangat dia kenal yang saat itu tengah dia cari ternyata sudah berada di tengah jalan. Entah apa yang menggerakkan kedua kaki Nathan yang jelas beberapa menit kemudian terdengar sebuah suara yang sangat nyaring.