Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KELAKUAN NATHAN


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Waktu berlalu, hubungan Mika dan Nathan masih tarik ulur.


Mika masih mendiamkan Nathan, sedangkan Nathan terus mengekori Mika kemanapun gadis itu berada.


Seperti saat ini, Mika yang tengah bersiap untuk belajar kelompok karena proyek harus sabar menghadapi rengekan Nathan.


"Sayang, kamu mau pergi kemana?" Tanya Nathan yang sejak tadi menunggu di ruang tamu karena Mika tidak membukakan pintu kamarnya.


"Pergi." Jawab Mika singkat.


"Iya, pergi kemana dengan siapa lalu pulang jam berapa?" Nathan memborbardir banyak pertanyaan kepada Mika.


"Terserah Mikalah." Jawab Mika yang membuat Nathan wajahnya berubah masam.


"Kenapa begitu, kita suami istri jadi kemanapun kamu pergi aku berhak tau." Ucap Nathan yang di angguki oleh kepala pelayan.


Mikayla menatap tajam kepala pelayan yang langsung pergi dari ruang tamu setelah membersihkan guci.


Beberapa hari suasana di mansion Anderson sangat berbeda akibat perdebatan lucu sepasang suami istri yang lama berpisah.


Membuat semua orang terhibur, kadang gemas, lucu, dan kesal.


"Kakak lebih baik bekerja cari uang, daripada selalu menggangguku." Kata Mika mengusir secara halus.


"Kamu mengusirku? Sayang, bagaimana bisa kamu cepat ingat lagi denganku jika aku selalu tidak ada di sisimu." Jawab Nathan yang membuat Mika ingin muntah.


"Sangat menggelikan, jangan berkata seperti itu lagi." Sungut Mika yang membuat Nathan mengerucutkan bibirnya sebal.


"Apa aku jedotkan saja kepalaku dan berkata ingat semuanya begitu, aku juga tidak betah lama-lama berbohong di depan Kak Nathan." Gumam Mikayla dalam hati.


"Ya sudah, ayo aku antar saja." Nathan akhirnya mengalah.


"Tapi janji jangan menunggu Mika." Kata Mika sebelum mengiyakan permintaan Nathan.


Nathan hanya diam berfikir, membuat Mika menghela nafas panjang.


"Kak, Mika punya kehidupan sendiri juga dengan teman-teman Mika. Kakak juga punya tanggung jawab di perusahaan, belum kerjasama yang kakak lakukan dengan Paman Sky. Kapan kakak akan ikut mengurusnya, aku dan Kak Langit juga capek menuruti permintaan Kakak yang aneh itu." Geram Mika mengeluarkan keluh kesahnya kepada Nathan.

__ADS_1


"Kenapa aneh, perusahaan kami hanya meminta agar Mika yang mendampingi kakak saat turun kelapangan." Kata Nathan dengan serius.


"Bilang saja, kakak tidak ingin Mika bersantai di kantorkan?" Tanya Mikayla dengan menyipitkan kedua matanya.


Nathan hanya berdehem, "Lagipula apa serunya di dalam kantor, huh membosankan. Lebih baik kita turun kelapangan di temani istri tersayang." Ucap Nathan mencebik kesal.


Sebenarnya bukan itu, tetapi Nathan cemburu karena Mika terlalu dekat dengan Langit. Meskipun dia tahu jika Langit adalah sepupunya, tetap saja Nathan tidak bisa mentolerir hal tersebut.


"Terserah, kakak saja." Kata Mika yang tidak ingin berdebat lebih lama dengan suaminya.


Mika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia sudah terlambat datang.


"Kak, sudah dulu ya. Mika sudah terlambat." Ucap Mika yang langsung berlari kecil meninggalkan Nathan begitu saja.


Nathan yang akan berbicara dia urungkan karena istrinya sudah masuk ke dalam mobil, "Wah, bisa-bisanya dia meninggalkanku." Ucap Nathan tidak percaya.


Dengan langkah lebar, Nathan berjalan menuju mobilnya. Dia akan menyusul istrinya, dengan cepat mobil yang dikendarai Nathan melaju meninggalkan area mansion Anderson.


Sedangkan kini Mikayla telah sampai di salah satu cafe belajar di tengah kota, dia segera keluar dari mobil karena sudah terlambat, dan merasa sungkan dengan teman-temannya.


Mika mengedarkan pandangannya begitu masuk kedalam cafe, seorang teman melambaikan tangannya agar Mikayla tahu posisi mereka.


Mika membalas lambaian itu dengan senyuman, dengan cepat Mika berjalan kearah teman-temannya yang sudah berkumpul.


"Tidak apa-apa, kami memakluminya." Jawab temannya dengan lembut.


Mika hanya tersenyum kaku, segera Mika mengkondisikan dirinya agar selaras dengan kinerja teman-temannya. Dia segera mengeluarkan laptop, buku, dan alat tulis lainnya.


Mika dan teman-temannya mengerjakan tugas kelompok yang harus segera di selesaikan.


Mereka tampak sibuk membuka artikel demi artikel untuk tambahan bahan kajian.


Hingga seorang waiters datang membuyarkan pikiran mereka.


"Pesanan atas nama Mikayla." Ucapnya.


Mika dan yang lainnya saling menatap, "Saya tidak pesan apa-apa mbak." Jawab Mika jujur.


Waiters tersebut tersenyum ramah, "Ini pesanan dari suami Anda, beliau menitipkan pesan agar Anda dan teman-teman sukses untuk tugasnya karena beliau ada urusan kantor sebentar." Jelas waiters yang membuat Mika terbatuk.

__ADS_1


Sedangkan rekan-rekannya merasa gemas, bahkan mereka ada yang mengigit lengan sebelahnya.


"Astaga, meleleh aku deck deck!" Ucap salah satunya.


"Saya taruh di sini ya, Mbak. Karena mejanya sudah penuh dengan buku." Ucap waiters kembali.


Mika menggangguk kaku sebelum waiters undur diri, "So sweet sekali suamimu, Mika! Dia suamimu tapi aku yang meleleh." Kelakar temannya dengan menggoyangkan kedua pundaknya.


Mika hanya tersenyum saja mendengar ucapan teman-temannya, "Mereka tidak tau saja apa yang harus aku lalui satu tahun dalam pernikahan." Ucap Mika dalam hati.


Seperti biasanya, Nathan seperti anak itik yang selalu mengikuti Mikayla.


Dia ikut masuk ke dalam cafe belajar, dia duduk dengan jarak jauh dan sibuk memandangi punggung sang istri.


Jika pria selalu menggerutu dan bosan saat menunggu wanita, berbeda dengan Nathan. Dia sangat betah berlama-lama menunggu istrinya belajar, belanja, nonton film, dan lainnya.


Hingga ketenangannya terusik saat ponselnya bergetar, Nathan mengacuhkannya tetapi sangat menggangu.


"Ada apa, Ayah?" Tanya Nathan setelah menerima telfon dari Kenan.


"Hey! Apa kamu tidak niat bekerja, bagaimana bisa jadwal Ayah berantakan seperti ini. Cepat ke kantor atau Ayah pecat!" Murka Kenan di sebrang telfon.


"Ada sekertaris Ayah, anakmu ini sedang berusaha membujung ibu dari cucumu kelak Ayah." Jawab Nathan tanpa dosa.


"Nathan Wijayakusuma. Sekarang juga datang ke kantor!" Teriak Kenan di ujung telfon hingga membuat Nathan menjauhkan ponsel dari telinganya.


Segera Nathan mematikan telfon tersebut sebelum Kenan kembali berteriak.


Dia bangkit dari kursi dan berjalan kearah etalase yang berisi berbagai macam kue.


"Mbak, Saya mau pesan kui dari ujung sana sampai sana masing-masing satu dan juga minuman untuk sepuluh orang yang cocok dengan suasana hari ini." Ucap Nathan yang membuat pelayan spicles.


"Mbak! Dengar saya?" Ucap Nathan lagi dengan mengetukkan black card di atas meja kasir.


"O-oh, ba-baik Tuan. A-apa Anda yakin memesan semua kue ini?" Tanya kasir kembali.


"Tentu, antarakan di meja paling ujung. Di sana ada istriku, sampaikan jika suaminya akan ke kantor karena ada hal yang mendesak." Ucap Nathan yang di angguki pelayan.


Segera Nathan menyodorkan kartu black card kepada kasir cafe, Nathan segera melangkah keluar begitu selesai memberikan jajanan untuk sang istri.

__ADS_1


Dari kejauhan seseorang menatap penuh kebencian dan dendam kearah Nathan, dia mengikuti setiap gerak gerik Nathan dari keluar cafe hingga masuk kedalam mobil.


"Jangan harap kamu akan bahagia." Ucapnya pelan dengan mere*mas kaleng minuman yang ada di tangannya.


__ADS_2