Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
PAMAN LUIS


__ADS_3

Happy Reading


"Selamat, Mika, semoga dengan hadirnya anak kalian membuat hubungan kalian semakin rukun dan langgeng," ucap Dean.


Mika tersenyum menatap Dean, wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Nathan - suaminya. Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk Mika berkata jujur mengenai keadaan dirinya. Terlihat Mika berulang kali menarik napas panjang untuk menetralkan perasaannya.


Setelah merasa sudah bisa menguasai, wanita itu mulai membuka suaranya perlahan. Namun, sebelum memulai dia meletakkan bayinya di samping kanan badannya. Pandangannya menatap Nathan dan Dean secara bergantian.


"Ada apa denganmu, Sayang? Apakah ada yang hendak kamu sampaikan?" tanya Nathan.


"Aku ingin jujur pada kalian berdua, tetapi aku mohon jangan marah dan tersinggung akan semua ceritaku itu!" pinta Mika.


"Selama itu tidak mengurangi kasih sayang. Kami tidak akan marah, Sayang!" jawab Nathan.


"Bicaralah!" balas Dean.


Mika menarik napas panjang. Wanita itu terlihat berat untuk memulai sebuah cerita. Mungkin ini terlalu berat dan berresiko jika dia berkata jujur. Namun, Mika sudah berniat akan mengungkap segalanya.


"Huft huu, dengankan apa yang aku katakan dan ini tidak akan aku ulangi ungkap semuanya pada kalian. Karena ini terlalu berat," papar Mika.


"Ketahuilah, selama ini aku tidak amnesia. Jadi semua kisah hidupku sebelum kejadian itu semua masih aku ingat. Maaf jika selama itu aku diam tidak mengatakan pada kalian. Aku minta maaf!" kata Mika dengan nada pelan.


Nathan terlihat tersenyum, begitu pun dengan yang lain. Bahkan Dean pun sudah tidak bisa berkata lagi akan kenyataan yang dilakukan Mika selama ini. Dengan keterbukaan yang dilayangkan Mika membuat Dean yakin jika wanita yang dia cintai itu ternyata begitu mencintai suaminya.


Sedangkan keluarga yang lain merasa terkejut dengan pengakuan Mika, mereka tidak menyangka akan seperti itu rasa yang dimiliki oleh gadis itu hingga saat ini lahiran. Mereka menahan napas ketika Mika bercerita mengenai semua kisah hidupnya sambil membayangkan apa saja yang dialami oleh wanita itu.

__ADS_1


Nathan terlihat sendu, sepertinya lelaki itu ingat akan perlakuannya pada masa lalu pada sang istri. Masa yang suram bagi pernikahan mereka. Tiba-tiba Nathan meraih jemari lentik Mika dan membawanya dalam pelukan.


"Maafkan aku, Sayang!" lirihnya.


Mika mengulas senyum tipis. Wanita itu begitu memuja suaminya tanpa syarat. Nathan semakin terrenyuh dengan kejujuran istrinya, lelaki itu sama sekali tidak marah dengan kebohongan istrinya itu. Justru Nathan sangat berterima kasih atas kebohongan itu.


"Terima kasih untuk kebohonganmu, Sayang! Aku sangat bersyukur akan hal itu," ucap Nathan tulus.


Dean yang melihat sepasang suami istri itu semakin sadar bila mereka berdua saling mencintai. Dengan berat hati, lelaki itu berusaha memupus rasanya pada Mika. Dean tidak ingin menjadi pihak ketiga yang akhirnya dapat menghancurkan kebahagiaan orang yang dicintainya.


"Aku rasa sudah waktunya aku untuk undur diri. Aku pamit pulang, semoga kalian selalu bahagia!" pamit Dean.


Kemudian lelaki itu pun menjabat tangan Nathan dengan tulus lalu berganti jemari Mika. Setelah semua dia pamiti, akhirnya langkah Dean pun mulai meninggalkan kamar bersalin milik Mika. Kini Dean benar-benar iklas lahir batin dan berjalan meninggalkan tempat itu tanpa melihat ke belakang lagi. Kini kakinya sudah mantap meninggalkan cintanya pada Mika untuk menatap masa depan.


Sementara Luis yang sejak tadi hanya berdiri diam duduk elegan di sofa, kini terlihat mulai bergerak dan berjalan mendekat pada bangsal adiknya. Wajah yang dingin dan datar masih dia tampilkan untuk sang adik meskipun Mika melengkungkan bibirnya sempurna.


"Hai, Jagoan, bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Luis.


Tangan yang kekar meraih bayi merah itu masuk ke dalam pelukannya. Meskipun Luis tidak pernah menggendong bayi, tetapi dari cara dia mengambil bayi sepertinya lelaki itu sudah biasa melakukan kegiatan itu. Mika termangu akan cara sang kakak mengambil dan menggendong bayinya hingga timbul sebuah tanya..


"Apakah Kak Luis pernah menggendong bayi merah? Bagaimana begitu luwes dan lihai?" lirih Mika.


"Entahlah, Sayang. Aku saja yang jadi ayahnya tidak seluwes itu, sepertinya aku harus belajar pada Kak Luis," ucap Nathan yang mendengar ucapan Mika.


"Jangan-jangan ... ?"

__ADS_1


"Jangan macam-macam pikiran kalian itu. Aku tidak seperti apaa yang kalian perkirakan. Kerahuilah, banyak anak miskin dan terlantar diluaran sana yang tertampung di beberapa panti asuhan. Mereka masih butuh kasih sayang kita," papar Luis.


Pembicaraan semakin seru, tetapi harus terhenti kala seorang suster memasuki ruangan tersebut. Dengan semua alat kesehatan yang dia bawa, suster tersebut harus mengecek kondisi Mika paska melahirkan.


"Mari Mbak, saya akan memeriksa tensi darah dan lainnya!" ucap suster itu.


Mika pun menuruti semua arahan sang Suster. Kemudian Nathan berjalan mendekati posisi istrinya. Lelaki itu melihat semua cara kerja suster itu, sesekali dia melempar sebuah tanya dan dijawab dengan baik juga sopan oleh perawat itu.


"Kapan istri saya bisa pulang, Sus?" tanya Nathan.


"Setelah saya menunjukan hasil laporan ini ke dokter yang bertanggung jawab dan di periksa maka bisa jadi besok istri Anda bisa pulang, Tuan!" jawab Suster itu.


Luis yang menimang bayi merah itu terlihat asyik. Ujung jarinya memutari seluruh indera yang ada di wajah bayi itu. Mulai dari kedua mata dengan bulu nya yang hitam dan lentik, kemudian turun ke hidung yang menjulang. Dan berakhir di bibir yang kesemuanya seakan milik Mika ada pada wajah bayi mungil itu.


Luis terpana dengan mahkluk kecil yang ada dalam gendongannya tersebut. Pandangannya beralih pada wajah cantik adiknya. Bibirnya bergumam tidak jelas. Nathan yang melihat perilaku kakak iparnya menjadi gemas.


"Gantian gendongnya lah, Kak!" pinta Nathan.


Namun, Luis bergeming. Lelaki itu seakan tidak mendengar apa yang dipinta oleh Nathan. Bahkan Luis begitu tenggelam akan sosok yang sempurna pada bayi merah itu hingga cairan hangat terasa mengalir pada perutnya. Secara reflek bayi itu seakan hendak terlempar begitu saja. Untung Nathan gegas meraih tubuh putranya, mungkin jika terlambat bayi tersebut akan terbang ke udara.


"Hai, itu masih bernyawa. Hati-hati dong, Kak!" dengus Mika.


"****, apa ini, Mika?" tanya Luis sambil menyentuh kemejanya yang terluhat basah.


Melihat adanya pulau yang membentuk pada kemeja kakak iparnya membuat Nathan tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian tangis si bayi yang akhirnya menghentikan tawa lelaki itu. Dengan pelan bayi tersebut ditidurkan Nathan pada box khusus bayi. Lalu dengan gerak cekatan popoknya diganti oleh Nathan.

__ADS_1


"Kamu sungguh suami yang hebat, Nathan!" batin Mika sambil melengkungkan bibir merahnya.


__ADS_2