
Happy Reading
Waktu berlalu, hari ini masuk sekolah seperti biasanya tetapi baik Nathan maupun Mikayla tidak ada yang berangkat sekolah. Nathan melarang Mikayla untuk berangkat sekolah sampai benar-benar pulih, padahal Dokter Joy sudah menyarankan jika bisa pulang dan beristirahat di rumah.
Mikayla yang tengah duduk di atas brangkar hanya dapat melirik sebal kearah Nathan, baginya tidur di ranjang pesakitan sudah hal yang sangat memuakkan untuknya sejak kecil.
Tapi, orang yang tengah di tatap sinis hanya acuh tak acuh saja. Dia duduk dengan tenang sembari memainkan gawainya, bertukar pasan dengan Laura yang sejak semalam memborbardir pesan dan juga telfon pada Nathan.
"Mainan hp teros!" Seru Mikayla dengan mengerucutkan bibirnya.
Nathan hanya melirik yang kemudian memasukkan gawainya ke dalam saku celana, "Kamu butuh apa?" Tanya Nathan yang berjalan kearahnya.
"Aku bosan!" Jawab Mikanya jujur.
"Oke." Kata Nathan yang membuat Mikayla bingung.
Nathan kembali berjalan dengan mengetikkan sesuatu pada ponselnya, Mikayla hanya mampu memutar bolanya malas. Dia merebahkan tubuhnya dengan memunggungi Nathan, Nathan hanya menatap datar punggung istrinya datar.
Di sisi lain, Kinanti yang tengah boring di dalam kelas dia menatap ponselnya dengan malas saat ponselnya menyala. Tertera nama Nathan, tetapi segera dia menegakkan duduknya karena membaca pesan yang muncul di jendela apung.
"Segera datang ke rumah sakit temani Mika."
Kinanti tentu saja merasa panik karena baru mengetahui jika Mikayla masuk ke rumah sakit, tanpa berkata apapun. Kinan segera mengambil ransel dan berlari keluar kelas dengan teman-temannya yang menatap bingung.
Dean yang baru saja kembali dari kantin dengan Laura, diacuhkan begitu saja oleh Kinanti saat melewatinya. Dean menoleh kearah adik dari sahabatnya itu dengan perasaan heran.
"Kenapa dengannya?" Tanya Dean yang masih melihat kepergian Kinan.
Laura hanya menoleh sekilas, "Oh, Mika masuk rumah sakit." Jawab Laura enteng.
Dean langsung menatap Laura dengan wajah kaget, sedangkan Laura berlalu begitu saja dari hadapan Dean sembari berkata "Nanti saja kita jenguk, tidak perlu khawatir ada Nathan."
__ADS_1
Dean melanjutkan perjalanannya menuju kelas, beruntung karena persiapan ujian sehingga sekolahnya tidak sampai sore hanya siang saja dengan fokus mata pelajaran yang akan di ujikan.
Di sisi lain, Kinan membuka pagar sekolah sendiri karena satpam sekolah sedang tidak berjaga di posnya, dia menghentikan sebuah taxi yang memang mudah di dapat di sekitar sekolahannya.
"Pak ke rumah sakit!" Seru Kinan cepat.
Segera mobil taxi itu bergerak meninggalkan sekolah elit itu untuk menuju rumah sakit yang di tuju oleh Kinan, selama di perjalanan Kinan terus menghubungi sang kakak yang hanya mendapatkan penolakan.
"Akan aku banting ponselnya jika ketemu nanti." Gerutu Kinan dengan wajah di tekuk.
Tidak membutuhkan waktu lama mobil taxi yang di tumpangi Kinanti sudah sampai di depan rumah sakit, segera Kinan membayar taxi dan keluar berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Karena Nathan tidak mengangkat telfonnya, dia akhirnya berjalan menuju ruang informasi.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya petuugas rumah sakit.
"Mbak, saya ingin bertanya. Ruang rawat atas nama Mikayla Anderson di mana?" Tanya Kinan sopan.
"Dengan siapa? Karena jam besuk masih satu jam lagi." jawab petugas.
"Saya adiknya, dia kakak ipar saya." Jelas Kinanti.
"Saya sudah menghubungi kakak saya, suami Mika tetapi tidak di angkat, percayalah padaku." Ucap Kinan kembali dengan wajah memelas.
"Tunggu sebentar, akan saya cek terlebih dahulu." Ucap petugas yang mulai mencarikan di mana ruangan Mikayla berada.
Dengan perasaan cemas akhirnya Mikayla menunggu sejenak sampai petugas memberitahukannya, menunggu sekitar lima menit kini Mikayla bergegas menuju ruangan kakak iparnya tersebut.
Mikayla yang tidur menghadap pitu masuk tentu saja kaget dengan kedatangan Kinan yang langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, "Kinan." Panggil Mika dengan bangun dari tidurnya.
Kinan yang merasa namanya di panggil lantas menoleh kearah sumber suara, "Mika!" Seru Kinan yang berlari memeluk tubuh sahabat sekaligus kakak ipar.
Mikayla hanya mampu menerima pelukan erat dari Kinan, hingga suara yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Aku akan pergi keluar sebentar, kamu jaga Mikayla." Ucap Nathan yang berjalan kearah keduanya.
__ADS_1
Kinan melepaskan pelukannya dan menatap sebal kearah Nathan, "Pergi saja, kakak juga tidak di butuhkan di sini," jawab Kinanti sengit.
Nathan hanya memasang wajah datarnya saja dan mengalihkan padangannya kepada Mika, "Aku pergi keluar sebentar ya, jika membutuhkan sesuatu biarkan Kinantii yang membantu." Ucap Nathan dengan lembut.
Mikayla mengangguk, "Memang, kakak mau ke mana?" Tanya Mika yang penasaran.
Nathan hanya diam, "Hanya pulang sebentar ke mansion, karena Ayah menyuruhku pulang sejak beberapa pekan lalu." Jawab Nathan yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Ada apa kak? Apa Mama sakit?" Tanya Mikayla cemas.
"Tidak, hanya ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengan ayah. Sudah, aku pergi dulu ya dan kamu Kinan. Jaga Mikayla dengan benar." Jawab Nathan yang langsung pergi meninggalkan ruang perawatan.
Kinan dan Mika hanya melihat pintu ruangan yang mulai tertutup, "Kinan, tidak terjadi apa-apakan dengan Ayah dan Mama Alice?" Tanya Mikayla yang belum yakin dengan ucapan Nathan.
"Tidak ada apa-apa, Mika. Percaya saja, mungkin hanya obrolan antara ayah dan anak." Jawab Kinanti menenangkan Mikayla.
"Oh, iya. Hari ini ada catatan materi tambahan dan juga kisi-kisi untuk kenaikan kelas setelah kelas dua belas ujian sekolah. Aku meminjamkannya padamu," Ucap Kinanti lagi dengan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.
"Aku sampai lupa, Kak Nathan pekan depan sudah ujian sekolah dan kita sebentar lagi akan naik kelas!" Kata Mikayla dengan wajah gembira.
"Benar, dan kita segera lulus. Kemudian masuk universitas! Aku sudah tidak sabar menantikan itu tiba," Timpal Kinanti dengan kedua tangannya bertautan dengan tangan Mika.
Kedua gadis itu tampak riang membicarakan masa depan masing-masing, "Kak Luis kira-kira kuliah di mana, Mika?" Tanya Kinanti tiba-tiba.
"Entahlah, mungki ke luar negeri." Jawab Mikayla dengan menghendikkan kedua bahunya.
"Yah, jauh banget." Keluh Kinan.
"Kenapa? Kamu masih mau mengejar Kak Luis?" Tanya Mikayla menatap wajah sahabatnya.
"Siapa tau di masa depan, Kak Luis melihatku sebagai gadis." Jawab Kinan dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Mikayla hanya menepuk pundak Kinan, "Menurutku, kamu harus mencari pria lain saja. Sepertinya tidak asik jika orang tuaku menjadi besan orang tuamu lagi." Ucap Mikayla dengan di akhiri tawanya.
Kinan hanya mencebik kesal dengan menahan tawanya, benar juga. Jika di bayangkan saat dia menikah dengan Luis pasti lucu karena orang tuanya berbesan lagi dengan orang tua Mikayla. Memikirkannya saja sudah membuat Kinan dan Mika tertawa apalagi menjadi kenyataan.