Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
DESA PENGASINGAN


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Suara bising ibu kota sudah mulai terdengar riuh bersamaan sang surya yang mulai menampakkan diri keluar dari tempat peraduannya.


Kini Luis sudah duduk di dalam mobil dengan diantar oleh sopir keluarga, dia memenuhi janjinya kepada Bi Jum di mana dia akan membebaskan Laura yang sudah mencelakai adiknya dengan sengaja.


Sama halnya dengan Luis, Bi Jum juga sudah di jemput oleh orang suruhan keluarga Anderson.


Tidak membutuhkan waktu lama, Bi Jum telah sampai terlebih dahulu sebelum Luis.


Orang suruhan keluarga Anderson segera berjalan masuk kedalam kantor polisi setelah memarkirkan mobilnya.


"Mari masuk." Ucapnya sopan.


Bi Jum berjalan mengikuti pria yang mengenakan jas hitam tersebut dengan patuh.


Tampak beberapa polisi yang menyambut orang Anderson.


"Silahkan duduk dulu." Ucap polisi.


Bi Jum dan orang suruhan Anderson duduk di kursi dan berhadapan dengan meja polisi yang biasanya untuk menulis laporan saat mengintrogasi pelaku kejahatan.


Hingga polisi datang dengan membawa Laura yang berjalan di sampingnya, Bi Jum yang melihat anaknya segera menghambur kearahnya.


"Ibuk ... Laura." Ucap mereka secara bersamaan.


"Laura takut buk," kata Laura dengan menangis sesenggukan.


"Tenang, kita akan pulang." Jawab Bi Jum menenangkan anaknya.


Laura hanya mengangguk karena dia tidak pernah membayangkan sebelumnya, di kehidupannya akan masuk dalam bui.


Hingga tidak berselang lama, Luis juga telah sampai di depan kantor polisi. Dengan langkah kebar dan jiwa intimidasi ya, dia berjalan masuk kedalam hingga membuat hawa kantor berubah.


Bi Jum yang melihat kedatangan Luis segera melerai pelukannya dan menyapa dengan sopan.


Laura yang mendapatkan tatapan dingin tapi menghunus hanya mampu bersembunyi di belakang tubuh ibunya.


"Mari, Tuan." Ucap polisi kepada Luis

__ADS_1


Luis melangkahkan kakinya lebar menuju kursi yang berada satu baru dengan yang di duduki Bi Jum.


Bi Jum menarik Laura untuk duduk di sampingnya.


"Jadi, bagaimana Tuan?" Tanya sang polisi.


"Saya akan mencabut laporan atas nama Mikayla." Jawab Luis dengan tegas dan ekspresi datar.


Laura menoleh kearah Luis dengan kedua mata yang terbuka lebar seakan tidak percaya semudah itu Luis melepaskannya.


"Apa, Anda sudah yakin?" tanya polisi kembali.


Luis mengangguk, "Segera tangani prosesnya dengan cepat." Ucap Luis.


Polisi dengan cepat menyelesaikan proses pencabutan laporan atas tindakan menyenangkan yang melibatkan Laura sebagai tersangka utama.


Kini semua proses sudah selesai, Luis dan Bi Jum saling berjabat tangan sebelum benar-benar berpisah.


"Terima kasih, Den. Bibi benar-benar berterima kasih." Jawab Bi Sum tulus.


"Sama-sama, Bi. Ingat perjanjian kita." Ucap Luis dengan tegas.


"Baik." Kata Bi Jum.


"Cepat, atau kamu mau masuk penjara lagi." Lanjut Bi Jum.


Dengan wajah di tekuk, Laura meminta maaf kepada Luis meskipun tidak ada jawaban dari Luis.


"Aku minta maaf." Ucap Laura ketus.


Luis hanya menatapnya datar, dia langsung meninggalkan Bi Jum dan Laura tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.


Laura menatap kesal kearah Luis yang kini tengah masuk ke dalam mobil, berbeda halnya dengan Bi Jum. Dia merasa teramat bersalah karena perbuatan Laura membuat Luis kehilangan saudaranya.


"Mari ikuti, kami." Ucap utusan keluarga Anderson hingga mengagetkan Bi Jum dan Laura.


Bi Jum hanya mengikuti saja sedangkan Laura masih menahan rasa penasarannya perjanjian apa yang sudah di buat oleh Ibunya dan Luis.


Perlahan mobil berwarna hitam bergerak meninggalkan area kantor polisi, selama di perjalanan hanya ada keheningan tidak ada yang membuka suara.

__ADS_1


Sudah empat jam lamanya mobil belum berhenti, Laura yang ketiduran karena saat di dalam penjara tidak dapat tidur menatap bingung kearah luar jendela karena dia merasa tempatnya sangat asing.


"Kita di mana, buk?" Tanya Laura dengan suara serak.


Bi Jum hanya menggeleng sebagai jawabannya karena dia sendiri juga sangat asing dengan tempat tersebut.


Hingga mobil berhenti di sebuah rumah yang cukup layak dan sederhana. Terdapat teras dan juga sedikit halaman di depannya.


"Silahkan turun." Ucapnya.


Bi Jum dan Laura turun pandangannya tertuju pada pria paruh baya yang tengah duduk di atas kursi roda.


"Bapak? Tapi, ini ... Sebenarnya ini tempat siapa kenapa kami dibawa kemari?" Cecar Laura kepada orang suruhan Anderson.


"Sesuai perjanjian yang di lakukan, Anda sekeluarga tidak boleh keluar dari desa ini selamanya. Terutama untuk Anda, Nona Laura. Anda tidak diperbolehkan kembali di ibu kota dan sudah masuk daftar blacklist di perusahaan besar serta universitas yang berada di kota, sehingga semua aktivitas Anda dan keluarga hanya boleh di satu desa ini." Jelas orang suruhan keluarga Anderson dengan tegas dan lugas.


"Apa...." Lirih Laura kaget.


Laura menatap kearah ibunya dengan pandangan yang menuntut jawaban, "Apa yang di katakan dia benar, Buk?" Tanya Laura.


"Benar, mulai detik ini kamu tidak di perbolehkan kembali kekota. Kita akan hidup di desa dengan tenang." Jawab Bi Sum tegas.


Laura menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak, Buk! Bagaimana mungkin Laura hidup di desa! Laura mau kembali ke kota buk, Laura harus mengejar cita-cita Laura." Seru Laura kepada ibunya .


Bi Jum reflek menampar Laura yang sungguh sudah berbuat di luar batas, sejak lama Bi Jum mencoba sabar dengan semua tingkah laku putrinya tetapi sampai detik ini tidak ada perubahan justru semakin menjadi.


Tiada guna pintar dalam akademik tetapi dalam tata krama nol besar.


"Diam Laura, sudah cukup ibuk dan bapak menuruti kemauanmu selama ini sekarang kamu menuruti kemauan kami. Kita akan hidup di desa dan bekerja di sini." Jawab Bi Jum dengan tegas.


Orang suruhan yang melihat perdebatan di depannya hanya diam tidak merespon apapun, "Jika kalian sudah paham maka kami pergi." Ucapnya.


"Sampaikan rasa terima kasih kami kepada keluarga Anderson dan Wijayakusuma." Kata Bi Jum sungguh-sungguh yang di angguki oleh orang tersebut sebelum mobil berjalan meninggalkan Bi Jum dan Laura.


Sejak saat itu kehidupan Laura berubah drastis, dia yang biasanya selalu di mudahkan dalam segala hal baik oleh orang tuanya maupun Nathan kini harus berusaha sendiri.


Laura tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena jarak universitas kebanyakan di kota, sedangkan ruang geraknya selalu di awasi dan di batasi oleh Luis.


Hingga, Laura berakhir kerja di kedai makanan yang berada di desa tersebut. Desa pengasingan yang di pilih Luis dekat dengan pertambangan sehingga banyak pekerja yang selalu makan siang di warung sekitar desa.

__ADS_1


Hingga, Laura yang memanglah suka bertandang di sosial media SMAnya dulu tidak sengaja melihat postingan yang dikirim oleh Zaki.


Dengan penuh amarah dan dendam, Laura bertekad akan membalas semuanya kepada Nathan dan Mikayla. Karena keluarga merekalah yang membuat Laura hidup susah.


__ADS_2