Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
PREPARE


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mikayla tengah berkemas untuk pergi ke Korea.


Ya, beberapa hari ini hidupnya tampak tenang tapi hampa karena Nathan tidak mengganggu dan menempel kepadanya.


Tapi, di sudut hati Mika dia sangat rindu Nathan. Dia ingin mencium bau keringat Nathan meskipun bikin orang pingsan.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Mikayla, dia segera beranjak dari tempatnya untuk membuka kunci kamar.


"Ada apa, Mom?" Tanya Mika.


"Mom hanya ingin membantumu, apa masih ada yang bisa Mom bantu?" Tanya Mom Bintang yang berjalan masuk ke dalam kamar Mika.


"Hanya tinggal menata pakaian saja, Mom." Jawab Mikayla jujur.


Mom Bintang mengangguk, tapi alisnya terangkat satu sat melihat tiga koper yang Mikayla buka.


"Sayang, kenapa banyak sekali? Apa kamu berencana lebih lama tinggal di Korea?" Tanya Mom Bintang heran.


"Emm, Mika dan Kinan berencana akan pergi ke New Zealand setelah acara pernikahan anak dari Paman Gabriel." Jawab Mikayla kikuk.


Mom Bintang hanya ber oh ria saja, dia tidak menanyakan lebih jauh karena Nathan sudah meminta izin untuk mengajak bulan madu tapi berkedok liburan.


Mengingat hal itu membuat Mom Bintang tertawa pelan membuat Mika bingung.


"Mom tidak apa-apakan?" Tanyanya khawatir.


"Tidak apa-apa, kenapa sayang?" Tanya mom Bintang lembut.


"Mom kenapa tertawa sendiri? Apa Mom sakit?" Cecar Mika menatap lekat wajah ibunya.


"Oh, tidak. Mom hanya ingat film lucu yang Mom lihat tadi." Bohong Mom Bintang kepada Mika.


"Astaga, aku kira Mom sakit. Jangan terlalu banyak menonton film kartun Mom. Perbanyak lihat berita saja." Jelas Mika dengan menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Ayo cepat selesaikan, besok kita harus segera berangkat agar tidak terlalu lelah saat di Korea." Ucap Mom Bintang yang diangguki oleh Mika.


Mom Bintang dan Mika bekerjasama memasukkan semua pakaian yang akan Mika kenakan saat di Korea dan liburan bersama Kinan.


Cukup banyak karena tiga koper besar yang di bawa, dua koper berisi pakaian, dan satu koper berisi barang-barang seperti sepatu, tas, make up, serta yang lainnya.


"Mom, apa Kak Luis akan datang?" Tanya Mika sembari meletakkan koper di sudut ruangan.


"Mom tidak tahu, jika pekerjaan dapat di handel oleh sekertaris kakakmu maka dia pasti datang." Jawab Mom Bintang yang kini sudah duduk di sisi ranjang Mika.


"Kasian, Kak Luis. Harus bekerja lebih keras lagi agar perusahaan dapat berkembang pesat dan tidak mengalami kebangkrutan lagi." Ucap Mika lirih.


Mom Bintang mengelus surai hitam sang putri dengan lembut, "Maafkan kami, karena kamu harus mengorbankan masa depanmu dulu." Jawab Mom Bintang sendu.


Mika terdiam sesaat, "Justru aku yang terima kasih, Mom. Karena kesempatan yang kalian berikan kini membuat salah satu mimpiku menjadi kenyataan yaitu dicintai oleh Kak Nathan." Ucap Mikayla dalam hati.


Mika menoleh kearah Mom Bintang dengan tersenyum lembut, "Memang apa yang Mika lakukan dulu, apa Mika sangat bodoh sampai mengorbankan masa depan Mika?" Tanya Mika yang masih bermain dengan dramanya sendiri.


Mom Bintang hanya mampu tersenyum sedih, " Tidak perlu kamu ingat jika tidak ingin mengingat, sayang. Apapun yang terjadi dulu biarkan semua berlalu seiring berjalannya waktu." Jawab Mom Bintang yang membuat Mika memeluk tubuhnya.


*


*


*


Tampak sebuah kamar yang luas dan maskulin seperti menggambarkan penghuni kamarnya.


Tidak banyak hiasan hanya beberapa foto pernikahannya dengan gadis yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.


Nathan mondar mandir seperti gosokan setrika dengan menggigit jemarinya pelan, sesekali dia menoleh kearah ponselnya yang masih tetap padam.


"Kenapa dia tidak menghubungiku?"


"Seharusnya dia rindu padaku bukan, sekedar menanyakan kabar juga tidak pernah."

__ADS_1


"Apa dia sedang dekat dengan pria lain? tidak ... Tidak ... Apa kurangnya aku, selain good looking juga good rekening."


Nathan berbicara pada dirinya sendiri dan menjawab sendiri pula, terlihat kedua tangan Nathan mengacak rambut belakangnya yang tidak gatal.


Namun, terasa menjengkelkan karena memikirkan wanita yang dia cintai tidak mencari ya sedikitpun.


Padahal Nathan sengaja menghil dari keseharian Mika sesuai saran dari Kinan.


Tetapi apa yang terjadi, justru dia yang menjadi gila dan tidak fokus dalam melakukan apapun. Pikirannya melayang sedang apa yang di lakukan istrinya, Nathan seperti seorang musafir cinta yang hanya mampu menatap nomor istrinya tetapi tidak berani untuk menghubunginya.


Nathan segera keluar dari kamar setelah mengambil gawainya dari atas kasur, dengan langkah lebarnya dia berjalan menuju kamar Kinan.


Suara pintu yang terbuka dengan kasar mengagetkan Kinan yang tengah mempersiapkan barang bawaannya.


"Kakak!" Seru Kinan setelah menenangkan deguban jantungnya.


"Bagaimana ini, Mika tidak menghubungiku sama sekali. Kamu berbicara apa dengan Mika hingga dia betah berlama-lama tidak komunikasi denganku." Cecar Nathan dengan menggebu-gebu.


"Tunggu saja, Mika juga akan menghubungi Kakak." Jawab Kinan enteng.


"Sudah hampir satu Minggu, Kinan Wijayakusuma." Ucap Nathan penuh penekanan.


"Baru juga satu Minggu, Kak. Kakak dan Mika tidak komunikasi selama lima tahun saja juga sama-sama masih hidup dan bis bertemu lagi." Kata Kinan dengan wajah mengejek.


Nathan mendengus kesal, "Lalu bagaimana ini, Kakak sudah tidak tahan untuk bertemu dengannya. Lagipula, kemana kamu mempersiapkan bulan madu kami?" Cecar Nathan dengan sebal.


"New Zealand." Jawab Kinan singkat dengan menutup koper miliknya.


"Kenapa tidak ke Amerika saja, bisa sekalian mengantarkan kamu magang disana." Tanya Nathan heran.


Kinan hanya menghela nafas panjang, "Tidak! Jangan sampai ada orang tahu jika Kinan keluarga dari Wijayakusuma." Tolak Kinan dengan cepat.


"Lagipula kamu juga aneh, magang saja sampai keluar negeri. Apa kamu masih mengharapkan Luis?" Tanya Nathan pada sang adik.


"Hey! Apa hubungannya masa depanku dengan Kak Luis, itu tidak benar sama sekali. Kinan benar-benar ingin menata masa depan Kinan sendiri bukan karena seorang pria melainkan keluarga." Sentak Kinan dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Oh, sudah semakin berani kamu rupanya ya!"


Nathan menarik Kinan dan mulai menggelitik Kinan seperti saat mereka masih kecil dulu, Nathan bukan tidak peduli dengan Kinan hanya saja dia tidak ingin lebih tampak menyedihkan di mata Kinan dan keluarganya.


__ADS_2