Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
HADIAH


__ADS_3

Happy Reading


Kini Nathan dan Laura pergi berbelanja, Nathan membelikan apa saja yang Laura inginkan masalah


harga tidak pernah di pusingkan olehnya.


“Kita masuk ke toko aksesoris, yuk!” Ajak Laura yang langsung menggandeng Nathan ke salah satu


toko aksesoris.


Nathan melepas genggaman Laura, beruntung Laura kurang t peduli kepada Nathan saat di hadapkan


dengan shopping. Sama halnya dengan Laura, Nathan memang tidak terlalu


memperhatikan Laura.


Dia berjalan menyusuri etalase kecil di sudut, dia tertarik pada salah satu aksesoris ponsel


berbentuk hati. Nathan segera memannggil pelayan yang paling dekat dengannya.


“Bisakah aku melihat


ini?” Tanya Nathan pelan.


Pelayan


mengangguk tersenyum, dia segera mengambilkan aksesoris yang diminta oleh


Nathan. Nathan melihat sejenak keistimewaan benda kecil itu.


“Ini untuk apa?


Ini bukan gantungan ponsel karena tidak ada talinya.” Ucap Nathan membolak


balikkan benda kecil itu.


“Itu aksesoris


stiker ponsel, Mas. Ini tinggal di tempelkan saja di ponsel pada bagian


belakang atau depan, ini adalah benda coupel atau pasangan. Jadi saat kedua


ponsel yang sudah ditempeli oleh stiker ini berdekatan maka akan


berkedip-kedip.” Jelas pelayan toko dengan pelan.


“Aku mau


sepasang,” Ucap Nathan dengan cepat.


“Baik, akan saya


bungkus. Bisa di bayar ke kasir.” Jawab pelayan toko.


“Bisakah aku


bawa sekarang, ada kekasihku. Aku tidak ingin dia tahu.” Kata Nathan kepada


penjaga.


Penjaga melihat


Laura yang tengah sibuk memilik japit rambut, “Baiklah, tapi langsung di bayar


ya, Mas.” Jawab pelayan mengarahkan kearah kasir.


Nathan segera


membar di kasir dengan sesekali melihat kearah Laura, beruntung Laura sibuk


memilih aksesoris di sana.


Laura berjalan


mendekat kearah kasir dengan keranjang kecil yang sudah terisi beberapa


aksesoris, “Sudah selesai, apa ada yang ingin kamu beli lagi?” Tanya Nathan


pada Laura.


“Sudah ini saja,


lucu gak?” Ucap Laura menunjukkan beberapa aksesoris rambut.


Nathan


mengangguk dan menyerahkan keranjang kecil kepada kasir, kini keduanya berjalan


menuju parkiran mobil.


Perlahan mobil


Nathan bergerak meninggalkan area mall, hari sudah sore banyak kendaraan umum,


dan pribadi tumpah ruah di jalan raya.


“Sayang, kita


mampir di sana. Sepertinya sedang ada bazar makanan.” Tunjuk Laura pada Nathan.


“Kamu seharusnya


tidak makan sembarangan, bukannkah penyakit jantung memiliki banyak pantangan?”


Jawab Nathan melihat kearah Laura dengan heran.


“Sesekali tidak


apa-apakan, sayang.” Bujuk Laura kepada kekasihnya.


Nathan diam,


akhirnya dia membelokkan mobilnya di pertigaan agar dapat menyebrang ke sisi


jalan yang tengah terdapat bazar makanan.


Di mall, Mikayla

__ADS_1


dan Dean tengah asyik bermain game di wahana bermain. Keduanya tampak tengah


mengendarai motor-motoran yang terhubung pada sebuah layar lebar.


Mikayla dan Dean


tertawa riang memainkan satu persatu game yang ada, “Wah aku punya banyak


ticket.” Ucap Mikayla senang.


Dean hanya


tersenyum dengan meneguk air minumnya, “Lain kali aku harus ajak Kak Nathan


bermain di sini, tiket sebanyak ini kira-kira dapat apa ya Kak?” Kata Mikayla


yang membuat Dean sedikit tertegun.


“Ya, lain kali


ajak Nathan ke sini. Kita bisa bermain bertiga atau berempat tentunya dengan


Kinan.” Jawab Dean lembut.


“Benar, gadis


cengeng dan menyebalkan itu.” Ucap Mikayla kala mengingat perdebatannya dengan


Kinan tempo lalu.


Dean hanya


tertawa mendengarkannya, berada di persahabatan kedua gadis tersebut membuat


hari-hari Dean lebih berwarna dan penuh dengan kejutan karena dua pribadi yang


berbeda.


“Selamat sore,


ada yang bisa saya bantu.” Ucap penjaga loket hadiah.


“Mbak tiket


sebanyak ini dapat apa ya?” Tanya Mikayla menaruh semua tiket yang ada dalam


genggamannya dengan susah payah.


“Saya hitung


dulu ya,” jawab pennjaga loket yang segera memasukkan kepala tiket ke sebuah


mesin penghitung tiket.


Cukup lama


Mikayla dann Dean menununggu hingga pejaga loket memberikan secarik kertas yang


keluar dari mesin tersebut, “Totalnya ada seribu empat ratus tiga puluh dua,


bisa di tukar sesuai nominal tiket yang berada di depan hadian.” Jelas penjaga


Mika menutup


mulutnya tidak percaya, Deanpun juga tercengang mendengar jumlah tiketnya.


“Serius mbak, apa mesinnya tidak salah menghitung?” Tanya Dean memastiakan.


“Sudah benar,


Mas.” Jawab penjaga loket dengan tersenyum.


“Wah! Mbak aku


mau boneka beruang warna putih itu satu dan juga gelang ini tiga.” Tunjuk Mika


pada etalase.


Segera pelayan mengambil


dan memasukkan boneka beruang ke dalam plastik, juga tiga gelang berwarnna


hitam dengan gantungan kecil di bawahnya.


“Topi itu, aku


mau topi. Apa sisa tiketnya cukup?” Dean menunjuk pada salah satu topi hitam.


“Cukup,” jawab


penjaga toko.


“Topinya satu


jika begitu.” Kata Mika dengan di angguki penjaga.


Setelah selesai


menukarkan hadiah, keduanya lantas berjalan meninggalkan wahana bermain di


dalam mall.


“Setelah ini


kamu mau ke mana?” Tanya Dean kepada Mikayla.


“Pulang.” Jawab


Mika apa adanya.


“Baiklah, ayo


aku antar.”


“Tidak perlu,


Kak. Aku tadi berangkat naik bis kota dan ingin pulang naik bis juga.” Tolak

__ADS_1


Mikayla lembut.


“Bis? Kamu naik


bis?” Beo Dean dengan rasa tidak percaya.


Mikayla


mengangguk, “Iya, lebih asik dari yang aku lihat. Kakak mau ikut aku pulang


naik bis?” Tawar Mikayla pada Dean.


Dean terdiam


sejenak, seumur hidup dia tidak pernah naik bis kecuali tamasya saat sekolah.


Tetapi dalam kehidupan sehari-hari dia selalu naik mobil.


Melihat diamnya


Dean, Mikayla hanya tersenyum. “Jika begitu Mika balik dulu ya kak. Ini untuk


kakak satu dan yang lainnya untuk Kinan.” Ucap Mikayla lagi.


Dean menerima


sebuah gelang dari hasil bermain mereka, dia menatap sejenak gelang yang


terbuat dari tali tersebut. Sedangkan Mikayla sudah berjalan cukup jauh


darinya.


“Mika! Tunggu


aku,” Teriak Dean dengan tersenyum lebar.


Mikayla menoleh


dan berhenti, kini keduanya berjalan menu halte bis yang jaraknya tidak jauh


dari mall kota. Dean tampak sangat bahagia ternyata gelang yang Mika pilih


untuk mereka bertiga (Mika, Kinan, dan Dean) itu berarti Nathan tidak akan


pernah memilikinya.


Sebuah bis kota


berhenti tepat di hadapan keduanya, mereka masuk dengan beberapa penumpang.


Karena waktu menunjukka jam pulang kerja membuat bis kota itu cepat penuh.


Dengan sigap,


Dean menarik Mika untuk duduk di salah satu kursi bis yang tersisa. “Kakak


bagaimana?” Tanya Mika menegadahkan kepalanya menghadap Dean.


“Aku berdiri di


sini saja, takut jika ada orang jahat.” Jawab Dean tersenyum lembut.


Mikayla membalas


senyum Deann, “Terima kasih,”


Dean memegang


handel bis yang ada di dalam agar tidak terjatuh, dia menlindungi Mikayla jika


sewaktu-waktu banyak penumpang yang baru masuk.


Selama di


perjalanan, kedua mata Deann tidak lepas dari pergelangan tangan Mika. Dia


menatap gelang yang sama saat ini dia kenakan,


“Wah, sepertinya


sedang ada bazar.” Ucap Mika menunjuk kesalah satu arah.


Dean melemparkan


pandangannya keluar jendela, hingga bis berhenti karena lampu merah. Mikayla


tertegun dengan pemandangan di depannya.


Dia melihat


Nathan dan Laura yang tengah berada di bazar makanan, Laura menyuapi Nathan


makanan. Hingga keduanya saling berhadapan.


Mikayla melihat


Laura berjinjit dan itu sangat pas dengan wajah Nathan, meskipun tidak


melihatnya secara langsung sudah di pastikan jika keduanya berciuman di depan


umum.


Bis berjalan,


pandangan Mika yang awalnya diluar jendela kini menuduk. Kedua bahunya bergetar


dan tangan kanannya menutup pulutnya agar tidak bersuara.


Dean yang


melihat semuaya, lantas memakaikan topi kepada Mikayla dan sedikit menariknya


hingga ke bawah agar tidak ada yang tahu jika Mika tengah menangis.


Mikayla menangis


selama di perjalanan, hatinya sangat sakit melihat keduanya bahkann berciuman

__ADS_1


di depan umum.


__ADS_2