
Happy Reading
Kini Nathan dan Laura pergi berbelanja, Nathan membelikan apa saja yang Laura inginkan masalah
harga tidak pernah di pusingkan olehnya.
“Kita masuk ke toko aksesoris, yuk!” Ajak Laura yang langsung menggandeng Nathan ke salah satu
toko aksesoris.
Nathan melepas genggaman Laura, beruntung Laura kurang t peduli kepada Nathan saat di hadapkan
dengan shopping. Sama halnya dengan Laura, Nathan memang tidak terlalu
memperhatikan Laura.
Dia berjalan menyusuri etalase kecil di sudut, dia tertarik pada salah satu aksesoris ponsel
berbentuk hati. Nathan segera memannggil pelayan yang paling dekat dengannya.
“Bisakah aku melihat
ini?” Tanya Nathan pelan.
Pelayan
mengangguk tersenyum, dia segera mengambilkan aksesoris yang diminta oleh
Nathan. Nathan melihat sejenak keistimewaan benda kecil itu.
“Ini untuk apa?
Ini bukan gantungan ponsel karena tidak ada talinya.” Ucap Nathan membolak
balikkan benda kecil itu.
“Itu aksesoris
stiker ponsel, Mas. Ini tinggal di tempelkan saja di ponsel pada bagian
belakang atau depan, ini adalah benda coupel atau pasangan. Jadi saat kedua
ponsel yang sudah ditempeli oleh stiker ini berdekatan maka akan
berkedip-kedip.” Jelas pelayan toko dengan pelan.
“Aku mau
sepasang,” Ucap Nathan dengan cepat.
“Baik, akan saya
bungkus. Bisa di bayar ke kasir.” Jawab pelayan toko.
“Bisakah aku
bawa sekarang, ada kekasihku. Aku tidak ingin dia tahu.” Kata Nathan kepada
penjaga.
Penjaga melihat
Laura yang tengah sibuk memilik japit rambut, “Baiklah, tapi langsung di bayar
ya, Mas.” Jawab pelayan mengarahkan kearah kasir.
Nathan segera
membar di kasir dengan sesekali melihat kearah Laura, beruntung Laura sibuk
memilih aksesoris di sana.
Laura berjalan
mendekat kearah kasir dengan keranjang kecil yang sudah terisi beberapa
aksesoris, “Sudah selesai, apa ada yang ingin kamu beli lagi?” Tanya Nathan
pada Laura.
“Sudah ini saja,
lucu gak?” Ucap Laura menunjukkan beberapa aksesoris rambut.
Nathan
mengangguk dan menyerahkan keranjang kecil kepada kasir, kini keduanya berjalan
menuju parkiran mobil.
Perlahan mobil
Nathan bergerak meninggalkan area mall, hari sudah sore banyak kendaraan umum,
dan pribadi tumpah ruah di jalan raya.
“Sayang, kita
mampir di sana. Sepertinya sedang ada bazar makanan.” Tunjuk Laura pada Nathan.
“Kamu seharusnya
tidak makan sembarangan, bukannkah penyakit jantung memiliki banyak pantangan?”
Jawab Nathan melihat kearah Laura dengan heran.
“Sesekali tidak
apa-apakan, sayang.” Bujuk Laura kepada kekasihnya.
Nathan diam,
akhirnya dia membelokkan mobilnya di pertigaan agar dapat menyebrang ke sisi
jalan yang tengah terdapat bazar makanan.
Di mall, Mikayla
__ADS_1
dan Dean tengah asyik bermain game di wahana bermain. Keduanya tampak tengah
mengendarai motor-motoran yang terhubung pada sebuah layar lebar.
Mikayla dan Dean
tertawa riang memainkan satu persatu game yang ada, “Wah aku punya banyak
ticket.” Ucap Mikayla senang.
Dean hanya
tersenyum dengan meneguk air minumnya, “Lain kali aku harus ajak Kak Nathan
bermain di sini, tiket sebanyak ini kira-kira dapat apa ya Kak?” Kata Mikayla
yang membuat Dean sedikit tertegun.
“Ya, lain kali
ajak Nathan ke sini. Kita bisa bermain bertiga atau berempat tentunya dengan
Kinan.” Jawab Dean lembut.
“Benar, gadis
cengeng dan menyebalkan itu.” Ucap Mikayla kala mengingat perdebatannya dengan
Kinan tempo lalu.
Dean hanya
tertawa mendengarkannya, berada di persahabatan kedua gadis tersebut membuat
hari-hari Dean lebih berwarna dan penuh dengan kejutan karena dua pribadi yang
berbeda.
“Selamat sore,
ada yang bisa saya bantu.” Ucap penjaga loket hadiah.
“Mbak tiket
sebanyak ini dapat apa ya?” Tanya Mikayla menaruh semua tiket yang ada dalam
genggamannya dengan susah payah.
“Saya hitung
dulu ya,” jawab pennjaga loket yang segera memasukkan kepala tiket ke sebuah
mesin penghitung tiket.
Cukup lama
Mikayla dann Dean menununggu hingga pejaga loket memberikan secarik kertas yang
keluar dari mesin tersebut, “Totalnya ada seribu empat ratus tiga puluh dua,
bisa di tukar sesuai nominal tiket yang berada di depan hadian.” Jelas penjaga
Mika menutup
mulutnya tidak percaya, Deanpun juga tercengang mendengar jumlah tiketnya.
“Serius mbak, apa mesinnya tidak salah menghitung?” Tanya Dean memastiakan.
“Sudah benar,
Mas.” Jawab penjaga loket dengan tersenyum.
“Wah! Mbak aku
mau boneka beruang warna putih itu satu dan juga gelang ini tiga.” Tunjuk Mika
pada etalase.
Segera pelayan mengambil
dan memasukkan boneka beruang ke dalam plastik, juga tiga gelang berwarnna
hitam dengan gantungan kecil di bawahnya.
“Topi itu, aku
mau topi. Apa sisa tiketnya cukup?” Dean menunjuk pada salah satu topi hitam.
“Cukup,” jawab
penjaga toko.
“Topinya satu
jika begitu.” Kata Mika dengan di angguki penjaga.
Setelah selesai
menukarkan hadiah, keduanya lantas berjalan meninggalkan wahana bermain di
dalam mall.
“Setelah ini
kamu mau ke mana?” Tanya Dean kepada Mikayla.
“Pulang.” Jawab
Mika apa adanya.
“Baiklah, ayo
aku antar.”
“Tidak perlu,
Kak. Aku tadi berangkat naik bis kota dan ingin pulang naik bis juga.” Tolak
__ADS_1
Mikayla lembut.
“Bis? Kamu naik
bis?” Beo Dean dengan rasa tidak percaya.
Mikayla
mengangguk, “Iya, lebih asik dari yang aku lihat. Kakak mau ikut aku pulang
naik bis?” Tawar Mikayla pada Dean.
Dean terdiam
sejenak, seumur hidup dia tidak pernah naik bis kecuali tamasya saat sekolah.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari dia selalu naik mobil.
Melihat diamnya
Dean, Mikayla hanya tersenyum. “Jika begitu Mika balik dulu ya kak. Ini untuk
kakak satu dan yang lainnya untuk Kinan.” Ucap Mikayla lagi.
Dean menerima
sebuah gelang dari hasil bermain mereka, dia menatap sejenak gelang yang
terbuat dari tali tersebut. Sedangkan Mikayla sudah berjalan cukup jauh
darinya.
“Mika! Tunggu
aku,” Teriak Dean dengan tersenyum lebar.
Mikayla menoleh
dan berhenti, kini keduanya berjalan menu halte bis yang jaraknya tidak jauh
dari mall kota. Dean tampak sangat bahagia ternyata gelang yang Mika pilih
untuk mereka bertiga (Mika, Kinan, dan Dean) itu berarti Nathan tidak akan
pernah memilikinya.
Sebuah bis kota
berhenti tepat di hadapan keduanya, mereka masuk dengan beberapa penumpang.
Karena waktu menunjukka jam pulang kerja membuat bis kota itu cepat penuh.
Dengan sigap,
Dean menarik Mika untuk duduk di salah satu kursi bis yang tersisa. “Kakak
bagaimana?” Tanya Mika menegadahkan kepalanya menghadap Dean.
“Aku berdiri di
sini saja, takut jika ada orang jahat.” Jawab Dean tersenyum lembut.
Mikayla membalas
senyum Deann, “Terima kasih,”
Dean memegang
handel bis yang ada di dalam agar tidak terjatuh, dia menlindungi Mikayla jika
sewaktu-waktu banyak penumpang yang baru masuk.
Selama di
perjalanan, kedua mata Deann tidak lepas dari pergelangan tangan Mika. Dia
menatap gelang yang sama saat ini dia kenakan,
“Wah, sepertinya
sedang ada bazar.” Ucap Mika menunjuk kesalah satu arah.
Dean melemparkan
pandangannya keluar jendela, hingga bis berhenti karena lampu merah. Mikayla
tertegun dengan pemandangan di depannya.
Dia melihat
Nathan dan Laura yang tengah berada di bazar makanan, Laura menyuapi Nathan
makanan. Hingga keduanya saling berhadapan.
Mikayla melihat
Laura berjinjit dan itu sangat pas dengan wajah Nathan, meskipun tidak
melihatnya secara langsung sudah di pastikan jika keduanya berciuman di depan
umum.
Bis berjalan,
pandangan Mika yang awalnya diluar jendela kini menuduk. Kedua bahunya bergetar
dan tangan kanannya menutup pulutnya agar tidak bersuara.
Dean yang
melihat semuaya, lantas memakaikan topi kepada Mikayla dan sedikit menariknya
hingga ke bawah agar tidak ada yang tahu jika Mika tengah menangis.
Mikayla menangis
selama di perjalanan, hatinya sangat sakit melihat keduanya bahkann berciuman
__ADS_1
di depan umum.