
Happy Reading 🌹🌹
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Dean kepada Mika.
"Mika ingin istirahat." Jawab Mika yang melipat meja makan di atas tempat tidurnya.
Dean segera membantu dan beranjak menjauh dari Mika, dia lebih memilih keluar ruangan karena ingin memberi Mika ruang.
Mendengar pintu tertutup, Mika segera memecahkan tangisannya. Kenapa selalu ada Laura bahkan di saat Nathan sudah tau penyakitnya, tetapi dia tetap berada di sisi Laura.
Mikayla menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut rumah sakit, dia menangis seorang diri di dalam ruanga.
Sedangkan Kinan yang berjalan dari kejauhan tampak berlari dengan membawa kantong plastik.
"Kak Dean kenapa di luar, bagaimana dengan Mika?" Tanya Kinan heran.
Dean hanya menarik pergelangan tangan Kinan untuk duduk di ruang tunggu, Kinan yang bingung hanya diam menatap pria tampan di sampingnya.
"Ada apa?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir Kinan.
"Mika sedang istirahat." Jawab Dean singkat.
Kinan menaikkan sebelah alisnya, dia tahu jika Dean berbohong tetapi tidak ambil pusing.
"Oh, yasudah kakak makan dulu. Aku tadi beli gado-gado di kantin rumah sakit." Ucap Kinan yang membuat Dean mual tiba-tiba.
"Jauhkan yang namanya gado-gado dariku!" Ucap Dean dengan wajah yang menahan mual.
"Kenapa sih kak, kakak tidak alergi gado-gadokan? Ini kesukaan Mikayla juga, aku beli dua." Kata Kinan dengan menunjukkan dua bungkus gado-gado dihadapan Dean.
Dean lantas segera berlari masuk ke dalam ruangan Mika, Mika yang kaget karena pintu kamar mandi di tutup dengan cepat dan terdengar suara muntah seorang pria.
Kinan yang panik juga ikut berlari menyusul, "Kak, kakak baik-baik saja kan?" Seru Mika dengan menggedor pintu kamar mandi.
Kinan menoleh kearah brangkar Mika, dia menyincingkan kedua matanya karena melihat wajah sembab kakak iparnya.
"Kenapa, siapa yang membuatmu menangis?" Cecar Kinan dengan emosi.
Mikayla menangis dengan memeluk tubuh Kinanti, Kinan yang masih belum mendapatkan jawabannya belum terima.
__ADS_1
"Katakan, siapa yang membuatmu menangis? Apa suami bodohmu itu dan kekasihnya?" Cecar Kinan lagi.
"Dia juga kakakmu bodoh." Jawab Mika dalam tangisnya.
"Oh, benar juga. Tapi saat dia bodoh adalah suamimu." Ucap Kinan yang membuat Mika merengut kesal.
"Aku lapar." Kata Mikayla dengan melepaskan pelukannya.
"Bagaimana bisa kamu lapar, bukankah tadi Kak Nathan datang ke sini bersama Laura?" Tanya Kinanti heran.
Suara pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Dean yang keluar dengan wajah basah kuyup.
"Apa?" Tanya Dean yang bingung karena pandangan dua wanita tertuju kearahnya.
"Itu salah satu pelaku yang menghabiskan makan siang ku," tunjuk Mikayla kearah Dean dan mengadu kepada Kinan.
Kinan yang mengetahuinya lantas melotot kearah Dean, Dean hanya terperangah melihat kelakuan Mikayla.
"A-apa? Wah, pelakunya adalah Nathan yang pertama x. Bagaimana bisa saat aku menyuapimu tetapi masuk ke dalam mulutnya." Jawab Dean membela dirinya.
Kinan yang awalnya heran mulai paham setelah Dean menjelaskan kejadian yang dia lewatkan hari ini.
Mikayla hanya menatap paper bag dengan pandangan sedih, itu makanan yang di bawakan oleh Nathan.
Kinan segera mengambil dan menyiapkan ya untuk Mika, "Cepat makan, akan aku temani." Ucap Kinan yang pada akhirnya keduanya makan satu piring berdua.
Meskipun Mika tampak enggan untuk makan, tetapi dia harus tetap makan agar dapat segera pulang, dan kembali bertarung dengan Laura.
Di sisi lain, Nathan berjalan dengan cepat. Melangkah keluar dari rumah sakit dengan di ikuti Laura yang tampak kesusahan di belakangnya.
"Sayang!" Panggil Laura yang seakan Nathan tuli tidak mendengarnya.
Hingga kini keduanya telah sampai di parkiran depan rumah sakit, "Berhenti." Seru Laura lagi dengan nafas naik turun.
Gerakan Nathan yang tengah memegang handel mobil lantas terhenti tanpa menoleh kearah Laura, Laura berjalan dengan pincang kearah kekasihnya tersebut.
"Apa kamu akan terus mengabaikan ku? Kenapa denganmu, kenapa kamu selalu marah saat Dean berdekatan dengan Mikayla? Bukankah kamu bilang akan menceraikan ya satu tahun lagi, lalu sekarang kamu mulai jatuh cinta dengannya. Iya!" Ucap Laura mengeluarkan suara hatinya yang sudah tidak dapat dia tahan sejak di dalam ruangan.
Deg
__ADS_1
Perasaan itu kembali lagi, terakhir kali sebelum tahu Mikayla memiliki sakit jantung adalah perkataan Mika yang mengingatkan tentang perceraian.
"Aku tidak akan menceraikan ya." Kata Nathan dengan menoleh kearah Laura.
"Apa?" Ucap Laura lirih dengan wajah kaget.
Kedua mata Laura tampak berkaca-kaca, dia tidak ingin habis manis sepah dibuang. Meskipun pada kenyataannya Nathan tidak pernah melakukan hal-hal aneh kepadanya.
Laura menggeleng dengan menatap Nathan tidak percaya, "Semudah itu kamu berkata, lalu bagaimana denganku! Kamu ingin menjalani hubungan dengan dua wanita sekaligus, aku tidak mau! Aku tidak berbagi cinta dengan wanita lain!" Laura kembali berkata dengan berderai air mata.
Nathan membuang pandangannya ke arah lain, dia paling tidak bisa melihat Laura menangis di depannya.
"Ada alasan yang tidak dapat aku jelaskan kepadamu, Laura." Jawab Nathan jujur.
"Semua tidak butuh alasan Nath, kamu sudah jatuh cinta dengan Mikayla!" Seru Laura yang akhirnya keluar juga dari bibirnya sendiri.
Padahal Laura memang sudah menyadari sejak lama, dia berusaha mati-matian agar tidak pernah cemburu dengan Mika hingga akhirnya kelepasan dalam berucap
Semuanya sudah sia-sia, karena di dalam ruangan Laura yang ingin bermain drama harus berujung melihat drama boys before flower versi Nathan dan Dean di depan matanya sendiri.
Nathan lantas dengan cepat menoleh kearah Laura, "Apa benar, aku sudah jatuh cinta kepada Mika?" Tanya Nathan bodoh.
Plak
"Tentu saja bodoh dan apa yang kamu rasakan itu namanya cemburu, kamu cemburu saat Kak Dean berdekatan dengan Mikayla. Hatimu terasa panas, marah, dan ingin membawa Mikayla pergi sejauh mungkin dari hadapan pria manapun."
Ucap seorang gadis yang baru saja datang memukul kepala kakaknya, Kinan. Ya Kinan bergegas berlari dari dalam ruangan Mika saat dia melihat Nathan berdebat dengan Laura di parkiran.
"Kin, kamu mau ke mana!" Seru Mika yang melihat Kinan berlari tanpa berpamitan.
"Menghajar orang bodoh!" Jawabnya tak kalah seru.
Mikayla yang mendengar jawaban Kinan hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Ada-ada saja." Ucapnya.
"Memang ada." Jawab Dean yang berdiri tidak jauh dari jendela ruangan.
Dean juga menyaksikan apa yang tengah Kinan lihat sekilas tadi. Dia ingin Kinan melakukan sesuatu sebagai rasa kesalnya kepada Nathan.
"Pukul kepalanya dengan keras atau tendang pantatnya, Kinan." Gumam Dean dari dalam hati.
__ADS_1