Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
DRAMA MEJA RIAS


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mikayla keluar dari kamar dengan handuk putih yang menutupi rambutnya, sedangkan dia sudah mengenakan pakaian lengkap saat keluar.


"Apa yang kakak lakukan?" Tanya Mikayla dengan heran.


"Di mana figur animeku." Jawab Nathan menaham geram.


"Oh, patung-patung mini itu. Aku taruh di dalam laci meja." Tunjuk Mikayla pada salah satu meja kecil samping tempat tidur.


Dengan cepat Nathan berjalan ke arah meja dan membuka laci, dia bernafas dengan lega karena figur anime miliknya termasuk langka, dan hasil pelelangan.


"Awas saja jika kau merusaknya." Kata Nathan dengan mengeluarkan semua figure anime dari dalam laci.


Mikayla langsung berlari kecil dengaj cepat, merentangkan kedua katannya di depan kotak tempat dia menaruh skincare.


"Apa yang mau kakak lakukan dengan barang-barangku?" Tanya Mika dengan menatap tajam Nathan.


"Menyingkir, ini tempat figure anime milikku. Taruh saja di dalam kamar mandi atau buang benda tak berguna milikmu itu." Jawab Nathan yang sedikit menyikut tibuh Mika.


"Aku akan memindahkannya, setelah kakak memberiku meja rias di kamar ini." Ucap Mika memberikan penawaran.


"Makanya pindah saja di kamar sebelah." Jawab Nathan dengan malas.


"Huh, tidak akan. Jika kakak tidak menyediakan meja rias maka jangan harap figure anime milik Kakak akan selamat hari ini." Ancam Mika dengan menyenggol sedikit pedang yang berada di salah satu patung kecil tersebut.


Nathan langsung mundur, "Kamu akan menangis jika tau harga mainan ini, huh." Sungut Nathan.


"Makanya cepat pindahkan meja rias kedalam kamar ini." Kata Mika mencebik kesal.


Nathan akhirnya mengalah, dia menaruh figure anime di atas kasur, dan melangkah menjauh dari Mika.


Langkahnya terhenti dan menoleh ke belakang, "Kenapa kau hanya diam, cepat ikuti aku. Kamu pikir aku bisa memindahkannya seorang diri." Cecar Nathan dengan nada kesal.


"Aku?" Ucap Mika yang menujuk kedirinya sendiri.


"Siapa lagi manusia di kamar ini selain kita." Kata Nathan dengan malas.


Mika berkedip cepat sekana mencerna kalimat Nathan, seumur hidup dia belum pernah mengangkat benda berat.


"Pasti bisa, Mika. Cayoo ...." Mika berkata pelan menyemangati dirinya.


Segera dia melangkah keluar kamar untuk mengikuti Nathan yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

__ADS_1


Tampak sebuah kamar dengan nuansa putih, hanya beberapa furniture yang memperlihatkan jika ini adalah kamar seorang gadis.


"Hey! Cepat, jangan melamun. Atau kamu berubah pikiran untuk tidur di kamar ini?" Tanya Nathan.


Mikayla segera menggeleng cepat, dia mengambil bangku yang berada di bawah meja rias.


"Ternyata ringan." Ucap Mika dengan riang.


Tok


Tok


Tok


"Nona, itu kursi dan ini mejanya." Kata Nathan sembari mengetuk meja rias berwarna putih dengan beberapa ukiran sebagai hiasannya.


"Kelihatannya berat." Gumanya pelan yang masih bisa di dengar oleh Nathan.



"Jika seringan kapas maka akan aku tiup dari sini."


Akhirnya Nathan dan Mika mengangkat meja rias dari dua sisi yang berbeda, tampak wajah keduanya memerah karena ternyata meja rias itu memang berat.


"Astaga kenapa berat sekali." Jerit keduanya dari dalan hati.


Keduanya ngos-ngosan, tapi keduanya tidak ada yang mengatakan apapun. Hingga Nathan memiliki ide, segera dia menyeret karpet yang berada di ruang televisi.


"Ayo bantu aku untuk menaruh karpet ini di bawah meja." Ucap Nathan kepada Mika.


Mika mengangguk, Nathan mengangkat satu persatu sisi meja rias sedangkan Mika yang memasukkan karpet berbulu hitam.


"Sekarang kita tarik ujung karpet ini ke arah kamar utama." Ucap Nathan lagi.


Keduanya menarik dengan sekuat tenaga, memang masih berat tetapi tidak menyiksa saat pertama tadi.


Beruntung apartemenya teemasuk apartemen minimalis sehingga jarak dua kamar tidaklah jauh, Mika yang merasakan dadanya nyeri hanya mampu menahannya.


Hingga kini sudah berada di dalam kamar, keduanya berhenti dengan tetesan keringat yang mulai membasahi wajah, dan tubuh.


Nathan mengangkat setiap sisi meja dan Mika mengambil karpet berbulu tersebut, merasa pandangannya sedikit berkunang-kunang.


Mika segera berlari ke dalam kamar mandi, menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan menekan dadanya lagi memberikan gerakan memutar seperti biasanya.

__ADS_1


Nathan yang melitnya heran, tapi dia acuh dan mulai memindah alat kecantikan Mika di atas meja rias. Agar dia dapat menata kembali, figure anime miliknya.


...🐌🐌...


"Kenapa kamu lama sekali di dalam kamar mandi, apa kamu pingsan?" Cecar Nathan begitu melihat Mikayla keluar dengan wajah yang agak pucat.


"Pingsan karena tidak kakak beri makan." Jawab Mika mencebik kesal.


"Ah, lupa. Aku sekarang memiliki beban hidup." Ucapnya tanpa filter.


Mika hanya menghela nafas panjang, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan suaminya.


"Beban hidup yang cantik jelita." Timpal Mika dengan mengibaskan rambut panjangnya.


Nathan hanya memutar bolanya malas, dia memainkan gawainya untuk memesan makan malam mereka. Tidak terasa jika matahari mulai tenggelam akibat bergulat dengan meja rias.


Keduanya duduk di sofa sambil menonton televisi, Nathan duduk di sofa sedangkan Mikayla di atas lantai yang di landasi karpet cukup tebal. Nanthan sesekali melirik karena gadis itu cukup tenang.


Padahal Mikayla tengah berfikir apa yang tengah Nathan bahas bersama Laura di dalam pesan, karena sejak Nathan memesan makanan online dia tidak melepaskan gawainya.


Hingga bel apartemen berbunyi, "Bukan pintunya sana." Perintah Nathan.


"Kakak saja sana, memang kakak tidak lihat dramanya masih belum selesai." Jawab Mika menolak.


Dengan berdecak, Nathan lantas bangkit dari duduknya. Mika menoleh ternyata ponselnya tidak di bawa, gadis itu menoleh ke arah ponsel yang layarnya sudah gelap.


Namun, beberapa saat kemudian menyala bersamaan sebuah pesan singkat. Tertera kelas nama Laura di sana.


Membaca pesan yang di kirim Laura membuat Mika serasa mual, Nathan yang memergoki aksi istrinya segera menegur.


"Jangan suka mengintip, nanti matamu bintitan." Ucap Nathan seraya berjalan mendekat.


"Memangnya aku melihat orang telanjang," kata Mika dengan wajah di tekuk kesal.


"Tidak perlu kepo isi chatku dengan Laura, ingat aku sampai kapanpun tidak akan meninggalkannya." Nathan kembali menekankan status Mika di hatinya.


"Hanya wanita dan pria gila yang terus melanjutkan perselingkuhan padahal jelas-jelas istri sahnya sudah tahu." Timpal Mika yang menutupi rasa sakit hatinya.


"Kami tidak berselingkuh," ucap Nathan tidak terima.


"Benarkah? Lalu apa sebutan yang pantas untuk kalian? Laura sudah jelas-jelas tahu kakak menikah denganku, dan lihat dia bahkan chat suamiku dengan kalimat yang tidak pantas untuk pria beristri." Cecar Mika dengan bersedekap dada.


Nathan tertegun sesaat, "Kamu tahu apapun tentang kami, Mika. Kamu yang datang di tengah-tengah hubungan kami jadi jaga ucapanmu." Jawab Nathan dengan nada dingin dan menekan.

__ADS_1


...🐾🐾...



__ADS_2